<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625</id><updated>2011-11-27T15:58:36.463-08:00</updated><category term='JURNAL PARAGRAPH'/><category term='NONFIKSI'/><category term='FIKSI ANAK'/><category term='NUKILAN'/><category term='ESAI'/><category term='NOVEL'/><category term='FIKSI DEWASA'/><category term='CERPEN'/><category term='PUISI'/><category term='PROFIL ANGGOTA'/><category term='FIKSI REMAJA'/><category term='BUKU'/><title type='text'>Galeri Karya</title><subtitle type='html'>dunia kata Forum Lingkar Pena Depok</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4774264804272660082</id><published>2010-01-20T16:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T17:18:40.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Haji Bawakaraeng</title><content type='html'>&lt;a href="http://inart.wordpress.com/category/mountain/bawakaraeng-mountain/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1eo92vGWoI/AAAAAAAAAJE/mTvXPTqyOrM/s1600-h/doa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 286px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1eo92vGWoI/AAAAAAAAAJE/mTvXPTqyOrM/s320/doa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428993656436972162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Emil Akbar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Majalah Gong&lt;/span&gt; Edisi: 111/X/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tawaf di Ka’bah, saat itu jamaah yang datang dari berbagai daerah, tengah khusyuk mengitari tugu beton yang pernah dibangun Belanda beberapa waktu silam, sambil mengumandangkan kalimat tauhid dengan tubuh bergoyang laksana ilalang yang menari ditiup angin. Ketika gerombolan itu datang menghujat.&lt;br /&gt;“Syirik!”&lt;br /&gt;“Bukan ajaran Islam.”&lt;br /&gt;“Bubarkan!”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu heran. Ibu sering melarangku pergi ke Malino untuk mengisi liburan semenjak masih SMA sampai sekarang, aku kuliah dan menjadi anak pencinta alam. Paling tidak ibu sering menghalang-halangi niatku dengan berbagai alasan. Padahal di sana aku punya warisan peninggalan ayah, berupa tempat penginapan yang dikelola orang lain. Makanya kerap kali aku berangkat diam-diam. Sepulang dari Malino, ibu pasti tahu dan langsung menghukum dengan cara mendiamkanku beberapa hari. Sejak itu aku tahu ibu tidak pernah ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ibu bertanya apa saja yang kulakukan setiap aku berkunjung ke sana, kulihat wajahnya harap-harap cemas seperti was-was yang tak semestinya. Bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, kuceritakan semuanya termasuk pengalamanku mendaki puncak gunung Bawakaraeng dan kudapati di sana ada ritual haji. Ibu makin panik dan kian hari mengurung diri di dalam kamar. Saat kutanya kenapa? Ibu bungkam seribu bahasa seperti bertingkah yang tidak kumengerti. Tatkala kini berbaring lemah di rumah sakit, barulah ibu mau bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunga, kamu punya seorang kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan kita naik haji, Daeng?” tanya Maniah yang sebenarnya tidak perlu Daeng Tata jawab sebab ia tahu istrinya itu hanya mengeluhkan nasib yang tak pernah bisa simpan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabarlah dulu, Anriku. Bila tiba waktunya, kita pasti akan ke tanah suci. Untuk itu kita jangan putus berdoa,” nasihatnya itu belum mampu meluluhkan hati Maniah yang punya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percuma berdoa tanpa usaha, Daeng. Apa yang bisa diandalkan dari sepetak sawah warisan orangtuamu yang tak seberapa itu. Tak cukup bahkan untuk perut kita. Sayuran dan kadang padi yang kita tanam harganya selalu rendah, tidak pernah naik. Kita tinggal di hamparan gunung yang luas tapi milik kita tidak lebih dari secuil. Dan apa pula yang Daeng bisa lakukan selain bertani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng Tata meredam amarah yang menghantam dada, berusaha maklum akan ucapan istrinya yang begitu tajam menusuk. Barangkali Maniah tidak sadar tengah menyinggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, orangtuanya memang punya banyak tanah. Namun tanah itu dijual murah karena didesak oleh usia mereka untuk naik ke tanah suci sebelum maut menjemput, dan beberapa tanah disita lantaran orangtuanya mengambil pinjaman untuk menambah upah naik haji, sebab uang hasil penjualan tanah belum juga cukup memenuhi ongkos. Juga buat selamatan sebelum dan sesudah naik haji. Harus dilunasi karena sudah menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan untuk membereskan segala hajat yang tertunggak. Beberapa kali Daeng Tata didatangi di dalam mimpi, orangtuanya mengemis memintanya segera membayar utang mereka kepada yang bersangkutan yang memang sering menagih. Padahal sisa tanah yang mereka wariskan adalah biaya hidup Daeng Tata sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, tanah memang seperti tidak ada harganya sebab jarang yang mau beli. Apalagi terletak di daerah puncak. Namun sekarang di tanah itu sudah banyak berdiri Vila, tempat penginapan untuk para pelancong yang berwisata ke Malino yang terkenal dengan air terjun dan udaranya yang sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok saya akan ke atas, Anri. Kamu mau ikut?” bujuknya agak mengalihkan pembicaraan agar perasaan istrinya sedikit lunak, lantaran malam ini lelaki itu membutuhkannya. Ia memegang bahu istrinya pelan yang sedang berbaring membelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Saya tidak percaya lagi, Daeng. Saya capek berangan-angan. Saya tidak mau pahala yang sama dengan naik ke Mekkah di atas gunung Bawakaraeng itu. Apakah Daeng tidak tahu? Banyak yang bilang ibadah ke sana itu keliru.” Maniah menolak secara halus, menggeser pundaknya biar terlepas dari tangan suaminya yang membelai bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tahu apa mereka itu? Mereka tidak tahu apa-apa. Hanya hendak memaksakan ajaran yang katanya murni!” ujarnya seperti mengumpat. Menghempaskan diri karena merasa gagal melelehkan kebekuan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Daeng Tata sangat sulit menakhlukkan tabiat istrinya yang keras hati ketika sedang merajuk. Perempuan yang ia nikahi mati-matian sebab ia punya saingan. Ia rela menghabiskan tanah warisannya yang tersisa buat memenuhi permintaan calon mertuanya yang banyak ulah itu, sebab ada orang lain yang juga hendak melamar. Kepada pemberi yang tertinggi, mereka melepas anak gadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daeng, bagaimana kalau saya ke Makassar mencari kerja?” Tiba-tiba Maniah mengajukan usul yang tentu saja mengejutkan Daeng Tata. I strinya membalikkan badan menatapnya. Berkat pelita minyak yang menyala redup, ia bisa melihat mata istrinya yang berbinar, ada semangat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti waktu gadis dulu. Saya akan bekerja sebagai buruh pabrik dan bakal menabung,” lanjutnya penuh harap, demikian riang seperti mengejar impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anri, kau akan lama di sana nantinya. Dengan begitu kau tega meninggalkan saya sendirian di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa, demi masa depan kita. Kelak bila sudah cukup uang dan pengalaman saya akan mengajakmu serta. Kita buka usaha di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Saya tidak mengijinkanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daeng, tenang saja. Sesekali saya akan menjengukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya bungkam yang bukan hanya diam. Maniah juga sejenak membisu sekedar mencari jawaban yang diinginkannya. Namun air muka Daeng Tata tidak berubah, dan istrinya itu sudah mengerti bahwa ia tidak bakal mendapatkan restu untuk pergi. Sambil kembali membalikkan badan, ia tetap menceracau. Tak mau menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak-kakakku sudah haji semua. Adik lelakiku yang pedagang itu sudah berangkat. Saya saja yang melarat seperti ini,” suaranya lirih menyindir. Namun ia tidak memperoleh tanggapan selain sunyi.&lt;br /&gt;“Besok, naiklah ke atas supaya diberi gelar Haji Bawakaraeng. Teruslah seperti itu, sampai kapan pun, Daeng tidak akan mampu naik haji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maniah diambang putus asa, memadamkan lampu minyak. Tidak peduli lagi dengan suaminya yang malam itu berhasrat bikin anak. Boleh jadi istrinya itu sering uring-uringan lantaran belum melahirkan buah hati. Pernah Daeng Tata dan maniah mendatangi sanro untuk berobat setelah lama menunggu. Namun dukun itu menyurutkan harapan. Katanya, Daeng Tata punya mani yang terlalu panas hingga mematikan indung telur. Lain hari berujar, rahim Maniah telah dingin dan beku. Terakhir menyimpulkan, mereka tidak cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng Tata tidak bisa tidur, memandang nanar gelap yang mengerubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sekarang aku berada di sini untuk menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas gunung Bawakaraeng, angin menampar tubuh ringkih Daeng Tata yang tak goyah, memandang jauh di bawah sana. Bagai di laut, langit merendah begitu dekat sebab puncak bukit itu menjulang seperti hendak menjangkau cakrawala dengan gumpalan mega-mega berarak-arak serupa ombak yang tak surut, bergulung-gulung dengan pekatnya. Tampak megah keemasan pada senja yang bangkit, pertanda malam akan memeluk hari. Dan setiap kali awan itu melintas, bayangannya tampak berkejaran di permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deru angin terus menerpanerpa. Hembusan itu bertiup kencang membuat celana kain dan baju lusuh serta sarung yang tersampir di pundaknya berkibar-kibar ke belakang. Kopiah hitam bertengger di kepalanya yang beruban pun telah pudar serupa dirinya yang digerogoti usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu masih menatap, barangkali nun pada hamparan kota Makassar yang merajalela, tanah daratan yang jauh dari sini dan hidup dengan gemerlap, kelap-kelip yang mengalahkan kedap-kedip bintang yang mulai bermunculan di langit yang sebentar lagi menghitam, seperti perempuan nakal yang main mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tak dekat. Agak ke bawah, di balik hutan yang dihuni halimun, kabut asap tipis nan dingin yang lalu lalang. Aku melangkah mendekatinya dengan kaki kuseret biar berisik supaya ia berpaling, tapi Daeng Tata tetap bergeming hingga aku berada sejajar dengannya. Dingin kian merasuk mungkin sampai tulang, ngilu yang membeku. Aku menggigil seperti digigit oleh dingin, membuat gigiku ingin bergemelutuk dan akan mengeluarkan uap es ketika aku berbicara dan bibirku kini menjadi kelu. Padahal badanku dibungkus jaket tebal bagai berbalut-balut. Aku seperti hendak meringkus diri pada kedua tanganku yang bersilang di atas dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan Daeng Tata yang santai saja menautkan kedua tangannya di belakang punggung karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku yakin telapak tangannya akan berkeringat dan kulitnya bakal meleleh lantaran peluh, tatkala nanti ia ke Makassar yang teriknya garang dengan niat mencari anaknya yang tak pernah menjenguknya beberapa tahun ini, semenjak pertengkaran yang aku pun tahu. Bagai menunaikan hajat ke tanah suci yang tak pernah terwujud karena uangnya tidak pernah cukup dan tiap tahun biayanya selalu naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh lelaki tua di sampingku ini seakan tidak bisa berpisah dari gunung Bawakaraeng yang ia jaga melebihi dari hidupnya. Ia menanam Mahoni dan jati serta pohon jenis lainnya di lereng bukit, dan di lokasi yang pohonnya terbabat di sekitar gunung. Bibitnya ia semai di pekarangan rumahnya. Sebab jasanya itu ia mendapatkan upah tiap bulan dari pemerintah Gowa yang tidak cukup buat makan berhari-hari. Lembaran uang itu ia tabung dalam kaleng biscuit entah berapa tahun, yang telah penuh. Namun jika dikumpulkan dan diikat dengan karet jumlahnya tak seberapa, tidak sebanding dengan jerih payahnya. Aku mengetahuinya sebab ia bermaksud menitipkan segepok uang itu beberapa hari yang lalu kepadaku buat Amiruddin, anaknya. Uang kuliah untuk temanku itu. Dulu memang anaknya adalah temanku tapi setelah aku tahu semuanya, dia bukan lagi temanku. Lebih dari itu. Aku bilang, Amiruddin memiliki usaha yang tidak tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunga, sampaikan salam saya pada Anakku yang masih keras hati. Bilang, saya sangat merindukannya,” ujarnya lembut nan tegas tanpa melepas pandang melihat kota Makassar yang berkilau gemilang serupa lampu senter yang benderang di tengah kegelapan, seperti kumpulan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tata, tahu sendiri sikapnya yang tak mau dengar. Dan aku tidak bisa memaksa,” kataku setelah agak lama terdiam, lantaran aku sibuk menghalau dingin yang kian merayap pada hawa yang mulai senyap. Kulihat pelita di rumah penduduk di kaki dan di pinggang gunung sudah mulai berkeliaran bagai percikan sinar yang menyebar, bak kunang-kunang yang saling menjauh mencari tempat hinggap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bujuk dia sampai mau. Katakan lagi padanya bahwa saya akan minta maaf, kalau perlu saya akan bersujud di kakinya. Akan kutinggalkan semua kebiasaan yang dimatanya adalah dosa. Hanya dia satu-satunya harapanku, Bunga. Harta warisan peninggalan almarhumah istriku yang ingin kususul di tanah suci. Dialah yang dapat mewujudkannya.” Kali ini ia menjenguk mukaku yang hampir beku, menatap asa begitu memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iye, Tata, akan aku usahakan,” ucapku dengan gigi bergeretak. Kendati aku tidak tahu dimana Amiruddin sekarang. Namun aku yakin tidak susah untuk menemukannya. Sebab dia tidak kuliah lagi. Lebih memilih menyeru jalan agama ketimbang menuntut ilmu di fakultas yang katanya tidak dibawa ke akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum menikah karena belum bisa melupakanmu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu mau, Maniah.” Sungai Jene Berang mengalir deras seperti meluap, menenggelamkan bongkahan batu kali yang terserak. Maniah bagai terseret oleh arusnya, telinganya berdengung mendengar ucapan Andi Baso. Pertemuan di tepi sungai di suatu pagi yang hendak beranjak, ketika Maniah usai membasuh diri dan membersihkan cucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah punya Daeng Tata!” jawab Maniah bergetar, agak terperangah. Meraba-raba kemauan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan masalah jika kamu mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maniah menatap lelaki itu begitu lama seperti hendak menemukan keseriusan. Lelaki yang pernah ditolak sebab tak mampu memenuhi permintaan orangtuanya, sehingga Maniah mengubur cintanya dalam-dalam. Pertemuan itu rutin meski tidak setiap pagi dan kadang di tempat berbeda yang tidak diketahui orang lain, saat sepi. Sampai kesalahan itu diperbuat, yang membuat Daeng Tata senang karena tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu hamil, Maniah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tidak mampu berterus terang karena didera dosa. Ia gelap mata. Andi Baso sangat sulit diabaikan. Bukan hanya karena ada hati, melainkan menjanjikan hidup layak dan nantinya bisa naik haji. Lelaki itu telah mapan. Kupingnya sudah terlalu panas mendengar segala gunjingan hina akan hidupnya yang tak kunjung membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maniah merasa tidak dipandang di tengah keluarga dan di setiap pesta yang dikunjunginya. Tidak diperbolehkan berjejer menyambut tamu di ruang depan karena belum haji. Cuma kerap mendapat tempat di dapur dan dianggap serupa asap yang mengepul lalu lenyap tak bersisa dan tak ada yang peduli. Hanya disuruh bantu-bantu memasak. Lantaran malu, ia tak tahan. Ketika kesempatan itu memberi peluang tak mungkin ia tampik kendati meninggalkan aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayi itu anakku, Maniah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Andi Baso. Daeng Tata sangat mengharapkannya. Saya akan menyusulmu nanti setelah saya melahirkan.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng Tata masih menatapku begitu teduh penuh pancaran kasih seperti menganggap aku adalah anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bunga. Mari kita turun. Sepertinya kamu sudah tidak tahan dingin. Teman-temanmu juga sudah lama memanggil. Kamu tahu, Bunga? Kamu mirip istriku waktu muda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tersipu dengan gurauannya. Aku malah makin merasa bersalah. Ah, seandainya Daeng Tata tahu tentang rahasia yang kubawa, titipan pesan dari ibu yang mesti kusampaikan. Mengenai masa lalu yang tak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin mengatakan, istrimu belum mati dan Amiruddin bukan anakmu. Namun mulutku ini tak sampai hati mengutarakan maksud di setiap kesempatan berdua dengannya seperti tercekat di tenggerokan. Padahal besok aku sudah kembali ke Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temanku sudah membereskan segala peralatan camping tak terkecuali sisa-sisa berupa sampah. Memastikan tak ada yang ketinggalan, semuanya ada dalam ransel besar di pundak. Setelah berucap syukur, kami siap turun gunung. Di lembah Ramma, di rumah panggung Daeng Tata, kami akan istirahat. Barangkali sampai pagi meninggalkan hari. Semoga kesempatan terakhir itu tidak aku siasiakan untuk membuka mulut, atau tidak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinjai, 29 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Bawakaraeng yang berarti Mulut Tuhan adalah tempat Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah. Ulama sufi yang paling terkenal di seantero Sulawesi, dipercaya masyarakat bagai ditelan lalu hilang dan muncul di tanah suci. Dari sini awal mula ritual haji Bawakaraeng.&lt;br /&gt;Daeng: Panggilan sayang untuk suami yang berarti kakak.&lt;br /&gt;Anri: panggilan sayang untuk istri yang berarti adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4774264804272660082?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4774264804272660082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/haji-bawakaraeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4774264804272660082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4774264804272660082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/haji-bawakaraeng.html' title='Haji Bawakaraeng'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1eo92vGWoI/AAAAAAAAAJE/mTvXPTqyOrM/s72-c/doa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-1816029901460852190</id><published>2010-01-20T16:39:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T17:05:32.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Calabai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1enlm1Z5AI/AAAAAAAAAI8/bGj8dBsHnAs/s1600-h/bissu-saidi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1enlm1Z5AI/AAAAAAAAAI8/bGj8dBsHnAs/s320/bissu-saidi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428992140339962882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Emil Akbar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juara 2&lt;/span&gt; LMCR LIP ICE-Selsun Golden Award 2007 PT ROHTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewata, aku mencintainya. Kurasakan telaga asmara yang tidak kutemukan pada seorang gadis yang menaruh hati padaku. Maka dari itu, aku tak pantas menjadi seorang bissu. Kesucian telah kunodai. Pantangan pernah kuperbuat. Kodrat dan tradisi sudah kulanggar. Aku tidak mau hidup gila atau mati sia-sia!&lt;br /&gt;Lantas, masih adakah pengampunan di sana?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang luka. Bunga kuncup diselimuti kabut. Embun meretas pada tepian rumput, terinjak basah meruapkan bau tanah. Langkahku gontai di subuh yang buta. Menapaki hutan, pepohonan yang mengggigil. Menuju Sungai Segeri.&lt;br /&gt;Aku tak pernah tahu kalau hidupku menimbulkan petaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang-orang aku ditemukan mengeak di keheningan malam di lego-lego Mak Rappe, sanro di kampung ini. Aku diasuh, dirawat, dididik, dan dibesarkan olehnya. Menemani masa tuanya yang melajang hingga sekarang aku dewasa.&lt;br /&gt;javascript:void(0)&lt;br /&gt;Mak Rappe adalah putri bangsawan bergelar Andi Petta. Dulu di masa mudanya pernah jatuh cinta dengan lelaki dari golongan rakyat jelata. Ia tak bisa menikah dengan belahan jiwanya itu, lantaran keturunannya nanti tidak akan mewarisi darah birunya. Sebab lainnya, lelaki itu lebih memilih menjadi orang suci yang berdarah putih. Menjadi keturunan Dewa di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kini mereka berdampingan. Mak Rappe telah menjabat sebagai Puang Lolo, menyertai Puang Matoa Rala, kekasihnya itu di setiap upacara. Mereka adalah bissu titisan Datu Patoto yang diakui dan disegani oleh segelintir orang di tanah bugis.&lt;br /&gt;Dan aku tak perlu tahu siapa orang tuaku, karena alam begitu setia menyimpan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat dari Madrasah Aliyah aku langsung dikurung di bola arajang, diajarkan adat-istiadat yang telah lama dilupakan orang, ajaran pribumi. Aku magang dalam waktu yang lama, sampai aku bermimpi sebagai penanda aku direstui Dewata untuk menjadi seorang bissu. Dalam mimpiku roh leluhur mendatangiku dengan pakaian serba bercahaya, berkilauan membuat mataku silau. Berbicara dengan basa torilangi yang tidak kumengerti. Meludahi mulutku sebelum pergi ditelan kelam. Ketika aku bangun, Puang Matoa Rala sudah berada di sampingku dan segera memberitahukan pada seluruh penghuni bola arajang bahwa aku sudah siap irreba, ritual yang harus kulalui untuk ditahbiskan menjadi bissu sejati. Kuhindari tatapan Muharram yang menghunjam penuh arti namun sulit kutafsirkan. Ah, Aram, matamu begitu runcing menusuk sanubari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya Mak Rappe datang bersama Mak Rabia dan Maulida. Berlinang air mata ia merasakan kebahagiaan tiada tara sambil menyerahkan harta benda untuk upacara adat ini. Aku diwajibkan berpuasa selama tujuh hari sebagai awal prosesi irreba dan diasingkan di sebuah rakit berbentuk gubuk di tengah danau. Menginap tanpa makan, minum dan bergerak. Di sini aku bertapa, merasakan nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa di hari-hari yang menyedihkan ini, aku butuh kehadiran Maulida, lalu bercerita bahwa aku tidak bahagia dengan semua ini. Bukan ini yang kuinginkan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Semua orang mencemoohku karena aku calabai, laki-laki yang berperangai seperti perempuan. Kata mereka aku pembawa sial, 40 hari 40 malam tidak mendapatkan rezeki serta amal baiknya tidak diterima pahalanya oleh Allah, akan menimpa mereka yang melihatku. Aku jadi bahan olok-olokan, diusir dan dilempari batu di jalanan bagai orang gila. Banyak orang sepertiku dan diperlakukan sama. Bahkan dianggap lebih najis dari anjing, yang layak disiram dengan air comberan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengiringku telah pergi. Di sini aku berkawan sepi dan sunyi ketika malam. Di ruang pengap ini tak ada pagi, siang, dan sore bagiku karena kukatupkan mata. Gelap adalah kehidupanku sebelum cahaya memancar di wajahku. Aku mencoba menyatu dengan semesta, tapi tak bisa. Terlalu banyak peristiwa yang berkelebat di pikiran. Mungkin tulus hatiku belum murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku melakukan semua ini untuk Mak Rappe. Sebagai anak terbuang yang dipungut, sudah sepantasnya aku balas jasa. Besar harapan aku bisa mewarisi kesaktiannya, mempertahankan adat ini sebagai penerus. Agar aku tidak diremehkan. Tujuannya sangat mulia, mengangkat derajatku supaya aku punya siri, harga diri dan kehormatan yang telah tanggal semenjak aku lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, semangatku membuncah mengikuti bimbingan Puang Matoa Rala saat Muharram, keponakannya, tinggal bersamaku di bola arajang. Kedua orang tuanya meninggal di tanah suci Makkah. Puang Matoa Rala kemudian menjadi walinya dan memegang kendali harta warisnya. Kenangan di masa-masa sekolah dulu terulang kembali. Pertemuan-pertemuan rahasia kami tak ada yang tahu. Begitu pula dengan perasaan kami yang saling jatuh cinta. Ia berjanji akan mendampingiku sebagai toboto setelah aku menjelma bissu yang sakti. Diam-diam aku menggunakan naga sikoi, jimat pekasih untuk mempererat hubungan kami. Kuucapkan mantra,&lt;br /&gt;“Tubunna Aram tellengi ritubukku, atinna Aram tellengi riatikku, nyawana Aram tellengi rinyawaku, papujinna Aram rialeku mapada papujinna nyawae ritubue.”&lt;br /&gt;Akan tetapi, semuanya hancur berkeping-keping ketika Puang Matoa Rala mencium kelakuan kami. Rapat digelar. Mereka berembuk tentang hukuman apa yang patut kami terima sebab telah mengotori bola arajang, biar para leluhur tidak murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disepakati Muharram akan dinikahkan dengan Maulida, lalu aku dikucilkan di danau ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muharram dan Maulida adalah temanku sejak kecil. Kami selalu bersama; bersekolah, bermain, dan mengaji. Muharram siap membela jika ada yang mengusiliku. Maulida akan menghiburku ketika tak bisa kutahan tangis yang bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Calabaimi ropale wasetongi anadara...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu para pemuda mengejekku. Dan kedua sahabatku ini senantiasa ada untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari sekolah kami sering berkumpul di rumah Mak Rabia untuk mengaji. Sebelum mengaji, kami diberi tugas masing-masing. Muharram mencari kayu di hutan dan memikulnya di bahu. Aku mengambil air seember di pancuran bambu yang lumayan jauh dari rumah Mak Rabia, dan membawanya dengan cara menjunjung di atas kepala. Sedangkan Maulida menumbuk beras atau tepung di lesung batu di kolong rumah. Kerap kali antara aku dan Maulida berganti tugas. Kadang kala juga ikut mencari ranting kayu di hutan, memungut dahan-dahan pohon yang jatuh kering. Setelah itu kami berwudu, memakai sarung lalu mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alefu riasena… A, alefu riawana… I, alefu dafenna… U, aaa iii uuu! Ba riasena… Ba, ba riawana… Bi, ba dafenna… Bu, baa bii buu&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah mulut mungil kami mengeja huruf-huruf hijaiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Rabia adalah mak Maulida serta makku juga karena kami saudara sesusuan. Ia seorang janda. Suaminya mati hangus terkena lette ketika membajak sawah di hujan yang membadai. Itu sebabnya Maulida tak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya. Aku masuk pesantren Muhammadiyah. Sementara Muharram di sekolah negeri. Persahabatan kami agak renggang sewaktu tumbuh dewasa dan berubah menjadi perasaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam merayap gulita. Nyanyian binatang kelam berirama dengan gemericik air yang dimainkan ikan di sekelilingku. Danau angker ini dikerumuni bakau dan berlumpur. Sangat jelas kudengar letupan mata air yang bergelembung serta jalan kepiting yang merangkak. Ada kodok memimpin keriuhan malam. Sesekali lolongan anjing menimpali, meraung-raung di kejauhan. Barangkali ada babi hutan mengamuk di tengah rimba mengorek-ngorek mencari makan. Ini malam yang terakhir, besok aku dijemput.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, bunyi kecipak air disampan mengusik telingaku. Dadaku berdebar saat seseorang memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangkala aku datang...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meremang bulu romaku. Bukan karena takut. Bukan pula karena leluhur mendatangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa kau ke sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain tanpa jahitan yang membungkus tubuhku tersibak. Rambut panjangku luruh menjuntai sampai ke bahu menghiasi parasku. Cenning rara melingkupi. Matanya menjilati kepolosanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk membuktikan cintaku padamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kekar itu mendekat, ingin menyentuh wajahku. Kutepis dengan gerakan lemah tak bertenaga. Ia berhasil merenggut rambutku membuat mukaku mendongak. Ia milik sahabatku yang kukagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah Aram, Maulida menunggumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salah! Dia menampikku. Aku butuh....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menolak ketika Muharram mengikuti dorongan nalurinya menyelusuri tubuhku yang meremang ini. Aku hanyut terbawa arus perasaan yang lena. Kuresapi kenangan, memasuki lorong waktu. Kami selalu mencuri-curi kesempatan di hari libur, mandi bersama di sungai di balik semak belukar, setelah badannya yang berotot menampung segukku. Sikapnya yang peduli, perhatian, dan rela mendengarkan keluh kesahku, membuahkan perasaan tak terbendung, menyelinap pada dawai hati yang berdebar. Aku menyukai aroma peluhnya sehabis kerja di sawah. Kulitnya yang legam sangat berbeda dengan kulitku yang seputih gading. Kami berpandangan dalam diam waktu itu. Kemudian saling menyentuh tanpa kata-kata. Dan kini, kuteguk kenikmatan yang sama ketika keperkasaannya membobol tubuhku dengan cairan metahnya. Oh Dewata, aku takut mendapat karma. Bayang-bayang siksaan mencambuk hatiku. Cemas tak berujung. Muharram menatapku lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan merantau, ikutlah denganku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Aram. Aku tidak mau lepas dari tanggung jawab. Semoga para makhluk menutup mata saat kita melakukannya. Ini rahasia kita dengan para leluhur, dan aku perlu berbagai ragam ritual untuk memohon ampun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari ia meninggalkanku dengan goresan luka di hatiku. Aku sangat mencintainya. Namun kehidupan dunia tak mengijinkan. Aku berharap, kelak di negeri khayangan Batara Guru merestui hubungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat diriku yang lusuh; kain koyak, rambut awut-awutan, aku disangka telah dimasuki roh makhluk halus. Aku digiring kembali menuju bola arajang. Tiba ketika malam makin larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah panggung beratap rumbia berbentuk segi empat dengan dinding anyaman bambu sudah tampak ramai seperti ada perhelatan. Tiang-tiang penyangga rumah berdiri kokoh dihiasi lampu minyak. Di kolong rumah pagenrang menabuh gendang menghentak-hentak mengiringi langkahku menaiki rumah. Aku disambut dengan suka cita. Dilempari butiran beras disetiap tangga yang kudaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumah, para jennang berkeliaran menyiapkan upacara. Tikar terhampar. Panati mengatur sesajen berupa dupa, minyak bauk, tana bangkala, sokko patanrupa, tiga butir telur, beberapa sisir pisang, ayam masak yang telah dicabut bulunya, diletakkan di lempengan besi berwarna emas berbentuk piring berbagai ukuran. Sebuah anca, pohon buatan yang terbuat dari pucuk ijuk menjuntai, menaungi sesajen itu. Aku duduk pasrah serupa tersangka yang hendak dihakimi. Di hadapanku Puang Matoa Rala bersila membaca kitab kuno dengan basa torilangi. Mengenakan pakaian kebesarannya lengkap dengan topi bertanduk seperti kerbau. Dandanannya menor dengan badik pusaka bersanding di pinggang. Kualihkan pandangan, kulihat Maulida di sudut ruang bermata sayu. Aku yakin Muharram melarikan diri. Cepat atau lambat semua orang akan tahu ia janda perawan. Suatu waktu ia pernah berkata padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangkala, kau yakin dengan jalan hidupmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku cuma bisa pasrah dengan nasibku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak inginkah kau beranak pinak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada maksud. Aku hanya mau mengatakan pernahkah kau jatuh cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ragu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kau mencintai seseorang. Ya, hidup ini memang tidak berpihak. Kita senasib. Aku harus kawin dengan orang yang tidak kucintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi Maulida, lama. Mencoba menerka bilik hatinya yang redup. Ia memberikan isyarat yang tidak kutemukan muaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mattinjak, bernazar selama tiga hari tiga malam untuk bersedia diperlakukan seperti mayat, dimandikan dan dikafani. Kemudian disemayamkan di rakkeang, loteng bagian depan bola arajang. Sebuah guci berisi air doa menggantung di atasku, yang akan dipecahkan nanti setelah malam ketiga sebagai wujud pengesahan. Atap rumah terbuka hingga penglihatanku tembus ke langit penuh bintang gemintang. Aku mati suri. Di bawah sana iringan musik sakral terus dibunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini mimpi? Aku melihat seorang gadis berjalan dalam gelap mengikuti lentera yang ada di hatinya. Melangkah hati-hati seperti berharap tak ada telinga yang terusik atau mata yang terjaga. Mendatangiku yang sedang diterpa kemuliaan cahaya bulan, untuk memenuhi hajatnya. Lalu aku mengendus bau betina jarak tiga ayunan kaki sampai aku tersadar kafanku koyak. Aku bugil. Nafsu binal menggerayangi tubuhku. Ia menggeledah hasratku hingga aku berahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kaulakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu. Aku rela makhotaku kau renggut. Akan kutanam benihmu di rahimku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangkala, kau tak sebanci yang kukira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melesat pergi ibarat angin lalu mengabarkan berita. Menciptakan prahara, guncangan yang terlalu hebat. Kuambil satu keputusan, angkat kaki dari kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, inikah takdirku? Menorehkan sejarah untuk dijadikan pelajaran agar nanti manusia tidak melakukan kesalahan yang sama atau sebagai peringatan? Tak ada gema suara Tuhan membalas. Namun, burung Alo yang hinggap dan bertengger angkuh di pohon bertuah tepat di atasku menjadi jawaban. Burung langka itu yang tidak sembarang orang melihatnya menimbulkan firasat di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah habis kususuri hutan. Tibalah aku di padang ilalang yang bergoyang disapu angin seperti orang tarekat. Sekilas mataku menangkap ada anoa berjingkrak riang, berlari-lari lincah bagai rusa dikejar macan. Di ujung sana sungai Segeri mengalir deras. Aku berjalan terlunta-lunta menerobosi ilalang laksana musafir yang kehausan. Langit tetap biru berawan. Matahari mendaki puncak. Bukit-bukit membatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutanggalkan pakaian lalu berendam. Riak air sungai menyergap kulitku. Menjernihkan sukma. Di kejauhan, sayup-sayup kudengar suara azan mendayu-dayu lantang menyentuh nurani. Masjid itu terlihat menyembul di balik pohon rimba mirip semak-semak. Aku sempat mendalami ilmu agama di sana. Tapi aku tak betah. Para santri sering menghujatku; kaum Luth yang dilaknat Allah! Pedih. Mungkin perih. Salahkah wajahku yang rupawan tapi cantik? Suaraku yang unik? Atau gerakanku yang kemayu? Bukankah itu pemberian-Mu juga? Ah, sepertinya kebahagiaan tak pernah berpihak padaku. Aku tidak diterima di mana pun. Lebih baik aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Celaka! Sala dewi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunuh saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, kita nikmati dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana datangnya, tiga orang pemuda menghampiriku, menyeringai bengis. Aku tak bisa apa-apa. Berteriak pun siapa yang mau dengar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita bermain-main, sayang....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menceburkan diriku berkali-kali membuat aku megap-megap, kehilangan napas. Mencemariku beramai-ramai, berganti-gantian tak puas-puas. Lalu dengan keji, aku dikebiri seperti seorang kasim. Air keruh berubah warna merah. Mereka kabur saat melihat makhluk bersisik mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjepit dilema. Tak ada pilihan. Mulut hewan itu sudah menganga. Gigi taringnya menerkam dan mencabik-cabik tubuhku menjadi remah-remah daging. Tuhan, masih bisa kulihat nama-Mu menjulang ke langit. Setitik cahaya di kalbuku bermukim di bukit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua bulan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukan mayat mengambang di tengah laut, menggembung, membusuk, dan tinggal separuh. Semua warga bertanya-tanya tentang perbuatan kotor apakah yang dilakukan jasad itu semasa hidupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak kita jadi tumbal atas dosa yang pernah kita perbuat,” kata Mak Rappe terisak, terkulai di pundak Puang Matoa Rala selesai upacara nilabuang, menenggelamkan jenasah ke dasar laut. Hati berkabung dibelai duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di sebuah rumah panggung, seorang perempuan duduk di muka jendela menggeraikan rambutnya. Termangu, mata nanar memandang di luar sana. Tak lama berselang, senyum penuh luka tersungging di bibirnya. Ia mengusap-usap perutnya yang berisi janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ana beang....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar istilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewata: para Dewa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Calabai&lt;/span&gt;: asal kata sala baine, bukan perempuan; Waria.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bissu&lt;/span&gt;: pendeta agama bugis kuno pra islam, kebanyakan waria atau putri bangsawan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lego-lego&lt;/span&gt;: beranda rumah panggung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sanro&lt;/span&gt;: dukun&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Puang Matoa&lt;/span&gt;: ketua bissu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Puang Lolo&lt;/span&gt;: wakil ketua bissu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu patoto&lt;/span&gt;: Sang Penentu Takdir&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bola arajang&lt;/span&gt;: rumah penyimpangan pusaka kerajaan, tempat tinggal bissu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Basa torilangi&lt;/span&gt;: bahasa yang digunakan para bissu untuk berkomunikasi dengan Dewa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batara guru&lt;/span&gt;: nenek moyang orang bugis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Toboto&lt;/span&gt;: kekasih bissu sesama jenis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cenning rara&lt;/span&gt;: aura kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lette&lt;/span&gt;: petir&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pagenrang&lt;/span&gt;: penabuh gendang&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jennang&lt;/span&gt;: beberapa wanita tua bukan bissu yang mengatur rumah tangga rumah pusaka&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Panati&lt;/span&gt;: seorang wanita yang mengatur tata upacara adat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minyak bauk&lt;/span&gt;: minyak wangi berwarna merah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tana bangkala&lt;/span&gt;: tanah suci tempat awal turunnya nenek moyang orang bugis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sokko patanrupa&lt;/span&gt;: beras ketan empat warna, merah, kuning, hitam, putih&lt;br /&gt;Anoa: sapi kecil khas sulawesi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sala dewi&lt;/span&gt;: bukan dewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-1816029901460852190?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/1816029901460852190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/calabai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1816029901460852190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1816029901460852190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/calabai.html' title='Calabai'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S1enlm1Z5AI/AAAAAAAAAI8/bGj8dBsHnAs/s72-c/bissu-saidi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4295925851032298969</id><published>2010-01-20T16:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T16:33:05.345-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Titin Baridin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Riza Almanfaluthi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brak!” suara berat dari pintu lapuk yang didorong paksa terdengar. Begitu nyaring bagi si pemuda bermuka pucat yang sedang duduk di sudut dipan  dengan memeluk kedua kakinya rapat-rapat. Mukanya hampir-hampir menelan lahap lututnya. Sarung yang menggulung dirinya tak mampu membuatnya terpisahkan dari dunia nyata. Buktinya ia masih saja mendengar suara pintu itu. Pula suara dari janda tua yang telah renta dengan bau tanah yang cukup menyengat. Miminya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baridin! Baridin! Sudah tiga hari kau masih saja melamun. Apa sih Cung yang kau pikirkan?” Miminya bertanya sambil menengok ke sekeliling ruangan kamar yang begitu berantakan, gelap, dan suram. Sesuram keduanya yang masih saja terjerat dengan kemiskinan absolut sejak bapaknya Baridin yang juragan beras kaya raya jatuh bangkrut sepuluh tahun lalu gara-gara ditipu teman bisnisnya. Setelah itu, bapaknya Baridin mati mengenaskan dengan perut membuncit, darah segar keluar dari mulutnya yang terbuka menganga, mata melotot  mendelik ke atas. Bisik-bisik tetangga mampir ke telinga mereka, bapaknya Baridin mati disantet musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan berubah seratus delapan puluh derajat. Rumah mewahnya dijual. Sawah, pekarangan pun mengalami nasib yang sama.  Emasnya digadaikan yang pada akhirnya tak sanggup untuk ditebus.  Dari hasil gadaian itu sebagian untuk menutupi semua hutangnya. Sebagian lainnya dibelikan gubug reot yang berada di sisi kuburan  seberang kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miminya cuma menjadi tukang cuci. Ia, Baridin, dengan keterpaksaan hanya sanggup jadi kuli panggul di pasar desa. Ia menerima nasib yang digariskan di telapak tangannya. Walaupun awalnya ia tak mau meminggul nasib itu. Tapi apa boleh buat perutnya tidak sanggup untuk bertahan menahan lapar. Sejak saat itu pula Baridin menyendiri bahkan pada miminya. Tertutup dari dunia pergaulan dengan pemuda-pemuda sebayanya. Setiap hari bangun pagi, pergi ke pasar, siang pulang, lalu tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cung, ayo kerja sana, beras kita sudah mau habis,” miminya berkata sambil meletakkan piring seng berisi bubur di dekatnya. Tidak ada jawaban. Wanita tua itu cuma menghela nafas dan segera keluar dari kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baridin mau kawin, Mi.”&lt;br /&gt;Langkah wanita itu terhenti. Segera ia menoleh saat mendengar suara yang baru didengarnya lagi sejak tiga hari lalu itu. Terlihat wajah anaknya mendongak menatap dirinya. Ada selubung harap memenuhi wajahnya yang menghitam terbakar merah matahari. Kembali miminya duduk di sudut lain dari dipan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan siapa?” hanya itu yang terlintas dalam pikirannya untuk menjadi sebuah awal dari rerimbunan pertanyaannya.&lt;br /&gt;“Titin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak Juragan Saeni itu?” tanyanya lagi sambil membayangkan raut wajah gadis yang menjadi kembang desa. Terlihat gerakan kepala ke bawah berulangkali dari anaknya, mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimi cepat saja melamarnya, sekarang juga,” sebuah permintaan yang menyentak.&lt;br /&gt;“Apa Baridin enggak mikir kita ini siapa? Juragan Saeni itu siapa? Juragan tanah, Baridin, juragan tanah. Kita cuma debu bahkan kotoran untuk keluarga mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, pokoknya Mimi lamar dulu saja sekarang. Baridin sudah tidak tahan dengan semuanya.” Baridin tahu dirinya sedang dalam puncak kerinduan. Kerinduan yang ia tahan-tahan selama sebulan ini.  Kerinduan yang muncul sejak pertama kali ia melihat sosok perempuan yang teramat cantik bagi dirinya. Menggoda naluri kelaki-lakiannya. Sangat, sangat menggoda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang, siapa tuh Kang? tanyanya pada Talib, seniornya. Yang ditanya sampai kaget karena biasanya anak  ini tidak berkata sepatah katapun kalau memang tidak perlu untuk dirinya berkata pada dunia.  “Itu Titin, anak orang paling kaya di desa ini. Dia baru saja datang dari Dermayu ikut ibunya, sekarang ia kembali ke bapaknya. Semua istri muda juragan pelit itu  tidak bisa punya anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari Baridin cuma bisa memandang Titin dari kejauhan. Ada sebongkah rasa melesak dari dasar jurang hatinya. Dengan harapan yang semakin melangit. Dan ia terpaksa jatuh ke lembah kenelangsaan tiada berdasar saat tiga hari lalu itu ia menyapa TItin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nok Titin, ayu temen sira Nok.”&lt;br /&gt;Yang diterimanya hanyalah pandangan jijik, “cuih…!”. Lesatan air kental keluar dari mulut Titin. Tidak ke muka Baridin yang setengahnya berwarna merah karena tanda lahir, tapi ke tanah. Tapi itu sudah cukup dimengerti  Baridin. Ia mundur. Tapi tetap dengan lenguhan, “Nok Titin, ayu temen sira Nok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelangsa yang menjadi sengsara. Mengurung diri di kamar tak berjendela, tiga hari tak ke pasar membuatnya semakin menderita. Mulutnya terkunci kepada siapa-siapa. Bahkan sebongkah otak di kepalanya tidak sanggup untuk memikirkan yang lain, cuma Titin satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baridin tidak kasihan sama Mimi? Isin cung…isin,” pipi miminya terlihat menganak sungai dengan air mata.  “Kita itu orang belih gableg. Seharusnya tak perlu mikir macam-macam. Duitnya mana lagi buat lamaran.”&lt;br /&gt;“Sarung Baridin saja,” setelah itu Baridin tidak berkata-kata lagi. Kembali ia mengurung dirinya di balik sarung. Ia nyaman di sana, karena itu hanya dunia satu-satunya yang dimilikinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persangkaannya tepat. Lamarannya ditolak mentah-mentah oleh Juragan Saeni. Sarung anaknya yang dijadikan barang seserahan dilempar ke kakinya.  “Berkaca Bu. Tidak pantas untuk si Titin. Terus mau dikasih makan apa si Titin? Kalau saja suamimu masih hidup saya pasti akan menertawakannya. Najis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakmu jelek minta ampun,” ucap Titin meningkahi.&lt;br /&gt;Sang mimi pulang dengan membawa kehinaan. Herannya ia mau-mau saja memenuhi permintaan Baridin untuk melamar Titin. Tapi ia tak tega melihat kondisi anaknya yang sudah sepekan ini berpesta dengan kesenyapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baridin hanya diam mendengar semua cerita miminya. Isak tangisnya menjadi soundtrack yang memilukan. Tiba-tiba Baridin bangkit. Segera ia makan dengan lahap bubur yang sedari pagi ia belum sentuh. Lalu tanpa menengok pada miminya ia pergi begitu saja dengan sarungnya yang tak sempat terberikan pada pujaan hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Baridin! Baridin! Kemana kau Cung?” teriak sang mimi. Tidak terjawab. Cuma lenguhan, “Nok Titin, ayu temen sira Nok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baridin bergegas pergi ke sebuah bangunan tua jauh dari desanya. Di dalamnya terdapat Makam Ki Buyut Leluhur. Ada makam-makam lainnya yang terletak di luar. Beringin besar dan kokoh menjadi kanopi yang melindungi komplek makam kecil itu dari terpaan sinar matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baridin berniat untuk menuntaskan tekadnya agar tidak sekadar menjadi lenguhan tapi memiliki sepenuhnya diri Titin.  Untuk itu ia akan puasa tiga hari tiga malam. Tanpa makan tanpa minum. Sebelumnya ia mandi di sungai kecil di belakang. Cukup dengan kembang pohon mangga yang berjatuhan di pinggir kali sebagai syarat ritualnya.&lt;br /&gt;Lalu tepat jam satu  malam, sambil menghadap ke arah rumah Titin dan membayangkan wajahnya ia berucap mantera:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Teka idep, teka madep. Teka pangleng, teka puyeng, teka welas, teka asih. Laking pangkon ingsun.  Duduh ngejok-ngejok bumi. Ngejok hatine Titin. Nyen lagi turu. Gageh Tangiah. Nyen wis tangi, madep maring badan ingsun.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baridin gemetar. Jaran guyang pun berputar. Sangat ritmis.  Seirama dengan Titin yang tiba-tiba terbangun dari tidur. “Arghhhhh…” teriak Titin gemetar. Tubuhnya basah dengan keringat dingin. Dalam mimpi tubuhnya limbung terseret putaran arus deras air sungai. Tangannya menggapai-gapai permukaan. Tapi ia tak sanggup untuk melawan. Semakin menjauh dan tenggelam. Ada tarikan kuat dari dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan pagi, seisi rumah Juragan Saeni heboh. Titin tidak terbangun dari ranjangnya. Bukan karena tak mau tapi ia tak sanggup. Tubuhnya lemas lunglai. Wajahnya pucat. Dari mulutnya terdengar ceracau tidak  jelas, tapi sempat terucap nama seseorang. Ceracau itu berhenti saat maghrib jelang. Cukup memberikan waktu kepada penghuni rumah itu untuk beristirahat menjaga Titin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jam satu malam, kembali Titin tersentak. Terbangun duduk. Gemetar.  Ia meningkahi suara Tokek yang terdengar satu-satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tokek!” suara pertama dari reptil  itu membahana.&lt;br /&gt;“Kang Baridin ganteng.”&lt;br /&gt;“Tokek!” &lt;br /&gt;“Kang Baridin sayang.”&lt;br /&gt;“Tokek!”&lt;br /&gt;“Tunggu Nok, Kang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, seiisi rumah terkejut karena Titin sanggup untuk bangun. Tapi bangun hanya untuk mondar mandir antara dapur dan teras rumahnya yang besar. Kadang berjalan pelan, kadang setengah berlari.  Mulutnya tetap menyeracau. Dukun yang datang ke rumah mereka memastikan Titin kena gendam yang amat kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam yang ketiga. Titin kembali terbangun dengan gemetar. Tidak lagi duduk. Kini ia langsung bangkit dengan mata terbuka lebar.. Salah satu kakinya menjejak-jejakan tanah seperti kuda betina yang sedang birahi. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar suara ringkikan. Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang Baridin…! Kang Baridiiiiiin….!” teriaknya kencang. Ia tendang pintu kamar kuat-kuat. Beberapa orang yang berusaha untuk menenangkan dirinya tak mampu untuk menahan kekuatan dahsyat yang ada pada diri Titin. Ia bagaikan banteng ketaton. Meronta, memukul, dan menendang  kesana-kemari. Lalu ia berhasil lari keluar rumah menerobos gelapnya malam.  “Kang Baridin, tunggu Nok Titin, Kang!” teriaknya. Sambil meringkik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu desa geger. Semalaman tidur mereka terganggu. Jalanan dipenuhi tawa mengerikan dan sedu sedan menyayat menuju batas desa. Desa sebelah pun geger. Ada perempuan baru meringkik terus menerus menuju ujung desa ditingkahi lengkingan yang samar, “Kang Baridin, Nok Titin sayang sama Kakang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa sebelahnya lagi geger pula. Berita tentang perempuan yang tetap dengan ceracauannya, tetap dengan ringkikannya, lebih dulu sampai ke warga desa daripada raga Titin. Bahkan beritanya menjadi lebih dahsyat, perempuan berwajah kuda. Mereka berbaris di pinggir jalan hanya untuk melihat tingkah gadis desa yang dulunya terkenal kemana-mana karena kecantikannya yang luar biasa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka kecewa saat melihat Titin datang. Pengharapan mereka melihat sesuatu yang mengejutkan dan mengerikan tak terwujud. Muka Titin tidak muka kuda, tapi suara yang keluar dari mulutnya itulah yang mirip kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titin tetap berlari. Meringkik. Menyeracau. Dan mereka mengikuti Titin sampai ujung desa.  Tiba-tiba Titin berhenti. Warga pun ikut berhenti, menunggu apa yang akan dilakukan olehnya. Titin berbelok ke kanan melalui jalan setapak penuh belukar. Kini warga urung mengikutinya, karena tahu Titin sedang menuju ke komplek makam angker. Tak ada yang berani ke sana selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang Baridin...!” teriak Titin sambil meraup tubuh pemuda yang tergeletak lemah di sudut bangunan makam. Masih ada nafas satu-satu. Matanya membuka. Menatap Titin lekat-lekat. Ia menguatkan diri untuk berkata:  “Nok Titin ayu temen sira Nok.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kang Baridin, Titin cinta sama Kang Baridin. Titin rindu. Titin mau dikawin sama Kang Baridin. Titin tidak mau ditinggal Kakang. Titin sayaaaaaaaang sekali sama Kang Baridin,” suaranya keluar tak mampu berhenti, tapi kini dengan tangis dan tawa yang meledak bergantian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baridin tersenyum. Ringkikan Titin seperti nyanyian merdu ditelinganya. Mati pun ia tak penasaran, walaupun bayang-bayang neraka sudah memberatkan mata . Dan Izrail sudah marah hendak merenggut sisa-sisa kehidupannya. Bahkan saat Juragan Saeni datang mendekat menghunjamkan keris di dadanya, Baridin tersenyum. Tapi senyum itu bagi Juragan Saeni adalah seringai bapaknya Baridin yang ia santet dulu. Bengis penuh kemenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Bahasa Cirebon:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cung&lt;/span&gt;  : Panggilan kepada anak laki-laki &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nok&lt;/span&gt;  : Panggilan kepada gadis/anak perempuan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mimi&lt;/span&gt;  : Ibu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Temen&lt;/span&gt;  : sekali/sangat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Belih gableg&lt;/span&gt; : Tidak berpunya&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Isin&lt;/span&gt;  : Malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedaunan di Ranting Cemara&lt;br /&gt;Pabuaran, 26 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4295925851032298969?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4295925851032298969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/titin-baridin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4295925851032298969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4295925851032298969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/titin-baridin.html' title='Titin Baridin'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2538747636239976946</id><published>2010-01-17T21:47:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T21:49:15.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Rindu Berlumpur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Hafi Zha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Annida&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup seperti putaran waktu yang terus berdetak maju. Tiap yang telah dilewati tak bisa untuk disinggahi kembali. Sekedar membetulkan apa yang keliru atau pun menghapus yang tidak ingin dilanjutkan. Hidup akan terus berjalan hingga waktu berhenti berdetak. Detak yang sangat dekat. Sedekat nafas yang kita hirup dan hembuskan seiring aliran darah dalam tubuh kita. Membawa bulir-bulir oksigen untuk menggantikan noktah-noktah karbondioksida. Seterusnya, tubuh kita akan kembali punya mampu untuk berpikir, berjalan, tertawa, sedih, marah, dan kecewa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..., pikiranku melantur lagi. Selalu saja seperti ini. Buku yang kubuka ternyata tak bisa mengalihkan perhatianku. Kuedarkan pandangan menembus kaca yang tersiram basah hujan. Di luar sana langit belum juga berhenti menjatuhkan bilah-bilah air. Mereka berkejar-kejaran turun dari langit, membasahi tanah. Beberapa anak berlari-larian di bawah mereka. Wajah mereka riang. Sambil bersenandung, mereka berkecipak-kecipak dengan tangan terangkat ke atas. Seperti para penari yang menarikan tarian hujan menyambut kedatangan dewi hujan, pembawa kesuburan kepada para petani. Kuperhatikan ada bayangan wajah orang di kaca yang berembun. Dia tersenyum sembari memiringkan kepalanya yang berbalut kain putih ke kanan. Manis sekali senyumnya. Hei, itu kan aku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memukul-mukul kepalaku. Mencoba bercanda dengan diriku yang belakangan hari terlalu kaku dengan urat saraf yang tegang. Betapa tidak, aku menghadapi masalah keuangan yang pelik. Walaupun aku masih berstatus tanggungan orang tua, tapi aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan mereka. Itu kulakukan sejak aku kuliah. Aku memberikan bimbingan belajar sehabis aku menuntut ilmu. Kesukaanku terhadap dunia menulis ternyata mampu membantuku untuk menutupi pengeluaranku yang lumayan besar di kota metropolitan ini. Tetapi, saat ini setelah aku menyelesaikan sarjana kependidikanku, ternyata cobaan tak semakin berkurang. Bukan hanya keuangan yang kembang kempis, tapi juga sikap kedua orang tua yang menginginkanku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu tak ingin kembali ke kampungmu, Lita?”&lt;br /&gt;Suara ibu yang semakin renta menghentakku jauh ke dalam lorong jiwa. Suaraku tercekat di kerongkongan. Otakku berputar keras mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Kebisuanku memecah tatkala kudengar ibu memanggil-manggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lita…Lita…kamu masih mendengar suara ibu?”&lt;br /&gt;“Eh, iya, Bu. Masih mendengar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menelan ludah. Membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering. Begitu kuatnya kah wibawa seorang ibu hingga anaknya tak bisa berkata apa-apa, sekedar menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lita, kamu kok diam lagi. Ada apa sebenarnya di sana, yang membuatmu tak ingin kembali ke sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu…” Terdengar aneh rasanya suaraku. Kuusahakan bersikap dan bersuara wajar. Aku tak ingin ketegangan kembali terjadi antara aku dan ibu. “Bu, Lita ingin berkarir di sini dulu. Bukannya apa-apa, tapi Lita merasa sudah menjadi bagian dari kota ini. Lita merasa nyaman di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kamu merasa asing di kota kelahiranmu sendiri. Merasa tidak nyaman di sini, Lita? Ibu tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu. Tidak mengerti, Lita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suara ibu meninggi. Penanda awal ketegangan. Aku harus segera meredakannya. Jika tidak ini seperti angin panas yang sedikit demi sedikit akan membakar diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, kelak saya akan kembali ke sana. Saya mohon kepada ibu untuk memberikan saya kesempatan mengukir karir di sini. Saya ingin sukses, seperti yang ibu harapkan. Saya tidak ingin mengecewakan ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, aku tidak ingin membuat kecewa ibu dan bapak. Mereka sudah bersusah payah menyekolahkan aku hingga mencapai sarjana. Dan aku juga tahu keinginan ibu yang begitu kuat untuk melihatku menjadi pegawai negeri. Ibu memang besar di lingkungan pegawai negeri. Hingga sekarang pun ibu masih setia dengan kepegawaian-negerinya. Menurut ibu, jika menjadi pegawai negeri hidup terjamin. Jaminan itu akan terus mengucur hingga anak cucu. Beda dengan bapak yang memberiku kesempatan penuh untuk menentukan jalan hidup. Bapak bukanlah pegawai negeri. Beliau hanya penjahit baju dan sesekali memberikan ceramah di pengajian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi setidaknya kamu pulang dulu, Lita. Semenjak kamu diwisuda empat bulan yang lalu, kamu belum juga pulang. Biar kamu juga tahu kondisi kampung kita sekarang. Di sini banyak sekolah yang butuh guru. Ibu bisa carikan dari kenalan ibu di sekolah-sekolah biar kamu bisa mengajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia pernyataan ibu yang keluar berkali-kali untuk membujukku pulang. Kemudahan yang didapat ibu dengan mempunyai banyak kenalan di berbagai instansi, memberikan peluang besar untuk ibu mencarikan kerja instant untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, saya belum bisa pulang sekarang. Masih ada urusan yang belum selesai. Saya juga masih punya proyek dengan dosen saya yang belum bisa ditinggal. Jika di sini sudah beres, saya akan segera pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah percakapan semalam tadi. Ibu masih bersikukuh dengan keinginannya. Aku harus pulang dan bekerja di sana. Tiba-tiba aku merasa letih. Sepertinya bulir-bulir oksigen semakin berkurang dalam otak dan tubuhku. Kantuk tak dapat kutahan, apalagi suasana dingin seperti ini nyaman untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kamu pulang dulu, Lita. Kamu utarakan dengan baik keinginanmu kepada ibu dan bapakmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yudi memberikan saran yang berat untukku. Beliulah yang memberikanku kesempatan yang lebih untuk mengembangkan kemampuan menulisku. Proyek buku ajar dan segala macamnya juga beliau yang memberikan. Apalagi saat ini aku sudah bisa mengajar di sekolah lanjutan atas favorit di kota ini, juga berkat beliau. Semua hal itu jadi bagian dari banyak alasan yang mengharuskanku untuk bisa terus di sini. Dan tak ada alasan untuk aku harus segera pulang. Apalagi menghadapi ibu dengan keteguhan pendiriannya. Bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa jika ibu sudah berkehendak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, jujur saya katakan dari dalam hati belum tergerak untuk pulang. Di sini saya bisa berkembang, Pak. Jika di kampung saya merasa tidak terfasilitasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yudi memandangku dari balik kacamatanya yang bertengger di batang hidungnya. Kualihkan pandanganku ke rak buku di belakang beliau. Mataku memang tertuju ke sana, tapi pikiranku berkhayal. Andai saja orang tuaku adalah Pak Yudi dan istrinya, mungkin aku akan lebih terarah dan berkembang lebih awal. Kulihat foto keluarga Pak Yudi yang ada di rak buku itu. Dua putrinya, Mbak Yuli dan Mbak Yuni, yang berdiri di belakang Pak Yudi dan istrinya tersenyum manis. Mereka hampir seumuran denganku tapi mereka lebih dulu bisa merasakan kesuksesan sekolah di negeri orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lita, saya ingin bertanya dan kamu jawab sejujurnya.”&lt;br /&gt;Lamunanku memudar. Kembali aku bersitatap dengan Pak Yudi. Wajah beliau serius, tampak dari dahinya yang berkerut. Selalu Pak Yudi berusaha membantuku memecahkan segala masalah yang kadang aku ceritakan. Sikap terbuka seperti ini tak bisa kulakukan kepada kedua orang tuaku. Semacam ada tembok kebekuan jika aku bersama ibu dan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang apa, Pak?”&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak merindukan kedua orang tuamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg.&lt;br /&gt;Jantungku serasa berhenti. Aku tidak menyangka Pak Yudi akan mengunci mulutku dengan pertanyaan ini. Aku teringat pembicaraanku dengan Avi seminggu yang lalu. Saat itu ia begitu gembiranya karena ingin pulang kampung setelah sebulan tidak bertemu dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Lita, aku pulang…. Akhirnya aku terbebas dari tumpukan diktat kuliah. Aku rindu ayah, rindu mama, rindu semuanya. Mbak Lita tidak ingin pulang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraannya meluap membanjiri diriku. Seketika dia bertanya seperti itu, aku terhempas dalam bisu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum waktunya pulang, Vi. Lagipula tidak ada alasan yang sangat kuat untuk aku pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekedar rindu pada orang tua Mbak?”&lt;br /&gt;Rindu? Satu kata itu terus menghantuiku hingga hari ini. Aku tak bisa jujur pada orang lain bahwa tak ada rindu setitik pun dalam hatiku pada kampung halamanku, pada orang tuaku. Aku berusaha untuk menumbuhkan rindu itu sejak Avi bertanya hal itu kepadaku. Semakin aku berusaha, semakin aku tak ingin pulang. Dan saat ini, Pak Yudi menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Avi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lita, kenapa kamu diam seribu bahasa? Kamu rindu ibu bapak?”&lt;br /&gt;“Begini, Pak. Kerinduan itu mungkin ada, Pak. Tapi jika kerinduan itu bisa disalurkan ke hal yang lebih bermanfaat di sini, mengapa harus bersusah-susah pulang. Saya kira jika saya di sini untuk sementara waktu tentunya akan lebih baik. Dari pada saya harus memaksakan diri untuk pulang. Apalagi dalam kondisi saya yang masih tidak ingin menghadapi ibu saya, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ada dalam pikiran Pak Yudi ketika aku berujar tadi. Selama aku berbicara tadi, kepala beliau manggut-manggut. Mungkin berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutku. Aku sudah tak dapat berkonsentrasi berdiskusi proyek buku ajar di Rumah Pak Yudi. Dengan penuh pengertian, Pak Yudi mengantarkanku hingga gerbang pintu halaman rumah beliau. Sore itu tampak kelabu di mataku. Bukan karena gerimis yang tiba-tiba menghias alam, tapi karena jauh dalam hatiku awan kelabu bersetia mengirimkan gerimisnya ke telaga mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan telah berlalu sejak ibu memintaku untuk pulang. Di luar tampak berjalan lancar dan seperti tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, ada gelombang yang mengirimkan badai ke dalam jiwaku. Ia terus menghantam karang-karang yang perlahan-lahan rapuh lalu hancur. Aku bersusah payah membangunnya kembali agar tampak tegar . Apalagi hal ini kubutuhkan untuk bertahan di kota besar ini. Kota yang penuh persaingan dan rentan akan stres. Tak ada lagi kabar yang kuterima dari rumah. Aku juga tak ingin lebih dulu menghubungi rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kujalani dengan sangat lambat. Kesunyian menyergapku, apalagi Avi, gadis manis yang selalu ceria menghiburku, tak ada lagi di dekatku. Ia pergi bersama mimpinya yang telah terwujud menjadi pengantin kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusibukkan diri dengan aktivitas mengajarku, menulis buku, dan melatih drama. Di sel-sela gerimis September aku berlari menghindar senyap yang mengurungku. Setiba di kamar kosku, aku mengambil diary usang yang kutulis sejak aku duduk di bangku sekolah pertama. Entah dorongan dari mana aku tiba-tiba ingin membacanya kembali. Kubuka satu persatu halaman yang warnanya tak seputih dulu. Seolah luka lama yang kembali luka, begitu perih dan pedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan jadi wanita pemalas, Lita. Jangan jadi wanita lemah. Sakit yang kamu rasa belum seberapa dibanding sakit yang ibu rasakan ketika melahirkanmu. Ayo, berangkat sekolah! Kamu tahu ibu bekerja keras supaya kam bisa sekolah. Bapakmu tidak bisa membiayai hidup kita hanya dengan menjahit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu, Lita lemas, pusing. Lita tidak kuat berangkat sekolah, Bu. Lita mohon, Bu, tuliskan surat ijin untuk Lita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan lemah begitu. Kamu harus menghargai biaya yang sudah ibu keluarkan untuk sekolah kamu. Jangan pernah kalah dengan sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku pun berangkat sekolah dengan kondisi badan yang lemah. Ibu berusaha menguatkan aku, sedangkan bapak hanya diam di ruangan jahitnya. Aku tidak menangis. Juga tidak membangkang. Aku turuti semua yang ibu inginkan. Seperti yang ibu katakan ketika malam hari aku hendak menuliskan kejadian hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu harus rajin belajar. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ibu berusaha keras supaya kamu nanti bisa kuliah. Kelak, setelah kuliah kau harus berupaya untuk bisa dapat kerja. Jangan pernah pulang jika kamu belum berhasil membanggakan dirimu, juga orang tuamu. Jangan lemah terhadap perasaan. Ingat itu, Lita, ingat baik-baik pesan ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhapus air mata yang tak sadar telah membasahi kedua pipi. Kertas halaman buku yang kubaca basah, memudarkan tinta yang tergores di sana. Aku tak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Mungkin aku tak sekuat yang ibu minta sewaktu dulu. Mungkin juga aku terlalu keras dan kuat untuk bisa berdiri sendiri, tanpa butuh orang lain. Aku terisak di antara deras hujan yang menghantam atap kamar, sehingga menenggelamkan suara tangisku. Aku tak mau ada yang tahu aku telah membuat sungai air mata di bawah hujan September. Aku tak akan beranjak sebelum noktah-noktah karbondioksida dalam tubuhku berganti menjadi bulir-bulir oksigen. Hingga tubuhku benar-benar kuat. Dan aku bisa menjalani putaran waktuku yang masih berdetak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2538747636239976946?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2538747636239976946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/rindu-berlumpur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2538747636239976946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2538747636239976946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/rindu-berlumpur.html' title='Rindu Berlumpur'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2775184509743413597</id><published>2010-01-17T16:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T16:39:32.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Harimau Siluman</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen anggih Waluyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin malam berhembus pelan, rintik hujan dari sore hari belum juga berhenti. Suasana kampung Pulo malam itu begitu hening, hanya sesekali terdengar lolongan anjing yang bersahut-sahutan. Dari kejauhan nampak ada satu rumah penduduk yang kelihatan terang, beberapa lampu Petromak memerangi sampai emperan rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak puluhan orang duduk-duduk di atas gelaran tikar sambil bermain kartu, ada yang hanya berbincang-bincang sambil minum teh dan hidangan yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;Rumah tersebut adalah rumah Mbah Joyo yang baru saja meninggal siang tadi. Mbah Joyo adalah seorang sesepuh yang dianggap sebagai “juru kunci” Kampung Pulo. Dan menjadi sebuah tradisi jika ada yang meninggal dunia, maka kewajiban para tetangganya adalah lek-lek’an (Jawa = berjaga-jaga tidak tidur) selama tiga malam di rumah duka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mitos bahwa 3 malam setelah seseorang meninggal dunia, ada harimau yang mendatangi bekas tempat pemandian mayat yang kemudian bisa mengambil mayit yang telah dikuburkan setelah harimau itu mencium tanah yang masih basah oleh air pemandian si mayit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harimau yang diyakini itu bukan hari mau sembarangan. Harimau siluman atau jadi-jadian. Mitos tersebut sangat kuat di kampung Pulo, walaupun memang selama ini belum pernah terjadi dan ditemukan harimaU siluman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pun semakin larut, rintik hujan sudah mulai reda. Sebagian warga masih ada yang masih bermain kartu domino dan beberapa orang sudah terlelap tidur. “Woi, bangun-bangun…” Teriak Pak Rogo, yang terkenal sebagai murid kesayangan mbah Joyo. “Ya..ya, jawab seorang warga sambil menggeliat tidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba,….huk huk huk….huk… Beberapa anjing menggonggong berlari-lari menuju suatu tempat, seolah-olah mengejar sesuatu. Pak Rogo dan beberapa warga pun spontan berlari keluar rumah ingin mencari tahu apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan terdengar keras gonggongan anjing-anjing sambil berlari-lari mengejar sesuatu itu. Wah, jangan-jangan ini harimau siluman itu?” Tegas pak Rogo. “Iya-iya ayo kita dekati”, kata beberapa warga serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar, cegah Pak Rogo yang kemudian bersedekap sambil mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, kita usir jauh-jauh harimau itu, syukur-syukur bisa aku tangkap harimau sialan itu”, Ketus pak Rogo dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belum sempat mereka melangkahkan kaki, suara gerombolan anjing yang sedang mengejar-ngejar sesuatu tadi berlari menuju mereka. Sebagian warga panik dan takut, ada sebagian yang berlari, ada pula yang tetap menghadang bersama Pak Rogo.&lt;br /&gt;Siap-siap hadang harimau itu, bacok atau gebuk saja “komando Pak Rogo”. Sedangkan dia sendiri membawa keris warisan Mbak Joyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat binatang yang dikejar anjing-anjing tersebut, semakin gempar suasana malam itu, dan semakin jelaslah binatang di depan gerombolan anjing-ajing yang mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haaaaaaaaaaaaaahhh !!! Teriak warga serentak. Ternyata binatang tersebut bukan harimau, melainkan seekor kambing jantan coklat milik seorang warga yang terlepas.&lt;br /&gt;Yaaaaaaaaaaah,,, itu mah kambingku !! teriak salah seorang warga. Pak Rogo pun menggelengkan kepala sambil membuang nafas kesalnya. Dan para warga yang berlari tadi akhirnya kembali mendekat, membantu menangkap kambing tersebut sambil tersenyum malu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2775184509743413597?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2775184509743413597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/angin-malam-berhembus-pelan-rintik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2775184509743413597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2775184509743413597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/angin-malam-berhembus-pelan-rintik.html' title='Harimau Siluman'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-311654577344339867</id><published>2010-01-14T23:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T23:29:17.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Akhir Sebuah Kegelisahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Panggih Waluyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://mujahiddesa.blogspot.com/2009/12/akhir-sebuah-kegelisahan.html"&gt;mujahiddesa.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu hanya menundukkan kepala, duduk bersila sambil meletakkan kedua tangannya di atas kakinya yang sedang bersila. Sepuluh jari tangannya semakin erat menyatu seiring derasnya aliran air matanya yang terus menetes membasahi pipi, jenggot dan akhirnya jatuh ke sajadah merah yang sudah nampak tua. sajadah itu ia bawa sepuluh tahun yang lalu dari kampungnya.&lt;br /&gt;Tak ada kata yang terucap selain istighfar, "Astaghfirullah Astaghfirullah…." yang semakin membuat deras air matanya. Dadanya bergemuruh kencang, disaat malam masih pulas tertidur. Lehernya terasa tercekik karena menahan sesenggukan tangis yang belum juga terhenti.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terbayang di matanya kisah sebulan yang lalu. Saat HPnya dapat beberapa miscall dari seseorang. Dia juga masih teringat sekali, dia membalas misscal tersebut dengan sebuah SMS, "Semoga hati selalu terjaga dalam batas-batas yang Dia tentukan". Dan terbalas lagi, "Loh kenapa mas, kan tidak ada salahnya bersilaturahim, asalkan kita bisa menjaganya".&lt;br /&gt;Di saat itulah hatinya mulai guncang, dan di saat itu pulalah di dalam hatinya selalu berkecamuk peperangan antara iman dan keinginan. Sering terjadi debat dalam batinnya. Iman selalu mengatakan bahwa agar selalu berhati-hati terhadap godaan, tapi keinginan dengan sangat sopan dan santun mengatakan bahwa tidak mengapa bersilaturahmi, karena selama ini jarang bersilaturahmi kepada wanita.&lt;br /&gt;Akhirnya sms itu pun tak dia balas-balas lagi, ia hanya menuruti hati kecilnya, bahwa aku harus berhati-hati, namun dia tetap saja dibayangi saat-saat wanita berkerudung panjang itu datang ke rental tempat kerjanya sekaligus tempat tinggalnya. Ada harapan indah yang terus dijanjikan oleh bisik keinginannya….masyaAllah wanita sholehah katanya.&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, hari berganti hari dan peperangan itu terus berkecamuk dalam hatinya. Hingga di suatu petang, saat dia duduk menyaksikan berita di TV, tiba-tiba…."oi…ada yang nyariin…"!! suara teman dari lantai bawah. Dia pun segera turun, dug….", saat dia turun dia lihat wanita berjilbab panjang yang membuatnya gelisah itu datang bersama seorang laki-laki.&lt;br /&gt;“Ada apa mbak? Tegurnya.&lt;br /&gt;"Mau ngedit ketikan skripsi tempo hari mas, sedikit kok.&lt;br /&gt;“Oh ya…,” kemudian ia membuka file dan segera mengedit apa yang diinginkan wanita tersebut. Dan akhirnya selesai juga dia mengeditnya.&lt;br /&gt;"Piro mas?, sahut lelaki yang menemani wanita tadi.&lt;br /&gt;“Sekalian tumbas minyak wangi itu, sembari menunjuk barisan minyak wangi yang terdapat di atas etalase. "Sebelas ribu mawon mas.". Dan akhirnya terjadi perbincangan sesaat,&lt;br /&gt;"Lha jenengan asli pundi mas? (Kamu asli mana mas?). Kulo asli Wonogiri, saya kakaknya Ambar…perkenalkan Warono. Mendengar Wonogiri jantungnya seakan hilang, pikirannya seakan kosong, kaget dan tidak menyangka sama sekali bahwa ternyata wanita yang selama ini menanamkan kegelisahan itu satu kabupaten dengannya. Dia lalu naik ke lantai atas, mematikan TV lalu berbaring menatap atap bangunan rental yang tampak menua itu……., hitam…namun di situ muncul bayangan…saat orang tuanya berpesan bahwa nanti kalau mencari jodoh kalau bisa orang jawa, syukur-syukur jawa tengah atau dekat dengan Wonogiri. Dia masih saja membaringkan tubuhnya,…&lt;br /&gt;”Ya Allah inikah jodohnya, begitu cepatnya dia datang, padahal aku baru akan Sidang Skripsi…beban ini belum lunas ya Allah….mudahkan jalan ini bila dia jodohku…"hatinya berdoa.&lt;br /&gt;Begitulah perasaannya setelah mengetahui bahwa perempuan itu satu kabupaten dengannya. Kegelisahan itu pun akhirnya bercampur harapan. Setiap wanita itu datang, semakin yakin ia bahwa wanita itu adalah jodohnya. Namun hati kecilnya terus memberontak, tidak mau menerima yang selama ini telah terjadi. Karena selama ini dia telah berinteraksi dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dan itu merupakan aibnya yang selama ini ia tutup-tutupi. Padahal di kampus, ia adalah dedengkot rohis. Dan tak jarang ia menegur langsung anggota rohisnya yang agar cair berinteraksi dengan lawan jenis. Lewat tulisan-tulisannya di mading, ia pun sering menuliskan tentang adab pergaulan lawan jenis dalam Islam. Bahkan ada anggota rohis yang sudah tidak aktif lagi gara-gara tidak terima di nasihati agar tidak terlalu cair berinteraksi dengan wanita. Namun apa yang terjadi kini? Dia sendiri pun mengalami terjangkiti virus yang selama ini gencar menyerang para ikhwan.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya ia mengadukan kegelisahannya kepada ustadz yang selama ini mengajarinya mengaji. Ia menceritakan panjang lebar tentang kegelisahannya. Dan akhirnya satu pertanyaan yang muncul dari mulutnya&lt;br /&gt;“Tadz, ini anugerah ataukah musibah bagi ana ya?&lt;br /&gt;Ustadznya pun menjawab, “Begini akh…, setiap permasalahan biasanya mengandung dua sisi kebaikan dan keburukannya. Nah…mendengar cerita dari antum, ane berpendapat bahwa hal ini tergantung dari dari bagaimana kita menyikapinya. Menjadi anugerah jika antum segera mempercepat pernikahan, sehingga antum mendapat separuh din dan juga mendapat ketenangan darinya. Lalu juga menjadi bencana ketika antum mencoba bermain-main dengan masalah ini. Artinya jika antum tidak secepatnya menikah, maka dimana ruh materi yang selama ini kita bahas?”&lt;br /&gt;“Ane setuju ustadz, tapi ane baru mau sidang lalu juga belum mendapat pekerjaan yang cukup menurut ane.&lt;br /&gt;“Ya.. itu akhirnya tergantung pada pilihan antum. Ane, memahami perasaan antum, artinya kriteria akhwat yang antum pesan ka ane sudah antum temui, yaitu orang jawa dan sebagainya. Tapi menurut ane sekali lagi, antum perlu ambil jalan yang tegas. Menikah atau tidak, sebenarnya nikah siri pun bisa agar terjaga dari fitnah. Tapi kalau antum belum siap, maka saran ane, secepatnya antum matikan rasa cinta di dalam hati antum. Antum mengerti kan maksud ane?”&lt;br /&gt;“Iya tadz, ane sangat mengerti. Ane akan pikirkan lagi masalah itu.”&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, maka lelaki itu kemudian mohon pamit pulang.&lt;br /&gt;“Baik Ustadz, sebelumnya syukron atas semua masukannya, ane pamit dulu tadz, mohon doanya. “Assalamu’alaikum……”&lt;br /&gt;Wa’alaikumussalam…”&lt;br /&gt;Dengan wajah muram laki-laki itu melangkahkan kaki meninggalkan rumah usdadznya. Berharap akan mendapat solusi dari ustadnya, namun sekarang malah semakin bingung rasa hatinya. Masih terngiang saran ustadznya, “nikah secepatnya atau matikan rasa cinta itu”. Sepanjang jalan seakan tidak ada yang membuatnya menarik, selain mencari jawaban atas dua pertanyaan : “menikah secepatnya atau mematikan rasa itu?”&lt;br /&gt;Sesampainya di rental, dia langsung menuju lantai atas, hanya sepatah kata salam dan sedikit paksaan senyum ketika melewati teman-teman yang masih ditunggui beberapa konsumen rental. Lalu ia rebahkan tubuhnya, ia memejamkan mata, membayangkan seandainya saat dia sudah bekerja kemudian langsung memutuskan untuk menikah. Lalu tiba-tiba,&lt;br /&gt;“Astaghfirullah…aku sampai lupa, dulu pas kuliah Pak Joko pernah nawarin kerja ya, mungkin aku bisa hubungi dia, jika nanti setelah sidang bisa langsung bekerja di tempatnya”, gumamnya. Pak Joko adalah seorang kontraktor langganannya mengetik surat-surat.&lt;br /&gt;Lalu segera ambil hp, dia tulis sms menanyakan perihal pekerjaan tersebut. Lama sekali tidak dibalas oleh Pak Joko. Tapi tiba-tiba…nada panggil hpnya berbunyi…”Nurkholim”, tertulis nama di HP tersebut. Dia angkat, Halo Assalamu’alaikum pak….&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam, gimana kabar?&lt;br /&gt;“Waduh kabar apa nih…skripsi kan?&lt;br /&gt;“Iya….&lt;br /&gt;“Iya pak…aku tinggal nunggu sidangnya nih…, maklum kampus kita kan nunggu kuota dulu..hehe…&lt;br /&gt;“Wah kebetulan nih….tadi dapat telpon dari Pak Kajur, kita bisa nggak 3 hari lagi Sidang Skripsi.&lt;br /&gt;“Wah InsyaAllah pak…ini juga lagi nunggu-nunggu…perlu dipercepat nih pak.&lt;br /&gt;“Oke berarti kita ada 5 orang yang maju sidang, yang pagi kamu dan yang sore ada 4 satu kelas dengan aku”.&lt;br /&gt;“Oke pak…, jam berapa?”&lt;br /&gt;“Jam 14.00 di Ruang 303, jangan lupa di perbanyak 5 kali ya skripsinya.&lt;br /&gt;“Iya pak ini sudah siap.&lt;br /&gt;“Oke…sampai nanti ya….&lt;br /&gt;“Sip pak…, makasih.&lt;br /&gt;“Sama-sama…Assalamu’alaikum.&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah Allahu Akbar…akhirnya aku sidang juga, teriaknya gembira.&lt;br /&gt;Saat yang ditunggu pun tiba, ia bisa melewati sidang skripsi itu walau ada perbaikan-perbaikan. Dia dinyatakan lulus waktu itu juga. Kemudian ia memberi tahu ibu bapaknya di kampung. Betapa gembiranya kedua orang tuanya mendengar kabar itu, tangis bahagia pun mewarnai percakapan mereka.&lt;br /&gt;Lalu setelah itu ia teringat seorang akhwat yang sampai saat ini membuatnya gelisah, dengan memberanikan diri dia menulis sms…”Alhamdulillah saya sudah lulus sidang skripsi…semoga interaksi yang kurang diridhoiNya selama ini segera berakhir …dengan jalan yang suci ya ukhti”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah…selamat ya mas….namun saya masih menunggu kabar bab 4 dan bab 5 yang masih dibawa pembimbing materi, mudah-mudahan dipercepat, Amin.”.&lt;br /&gt;Dia balas “Amin”.&lt;br /&gt;Di saat itu berkuranglah sedikit kegelisahannya. Dia terus berdoa dan berharap mendapat pertolongan dari Allah secepatnya.&lt;br /&gt;Benar 2 hari setelah sidang dia ditelepon pak Joko, dan akhirnya dia pun bisa mulai kerja hari itu pula. Namun sebelum bekerja dia berniat pulang ke kampung untuk menemui kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sesampai di kampung, dia disambut haru kedua orang tuanya, menangis bahagia melihat anaknya sudah berhasil menyelesaikan kuliah selama 4 tahun di Jakarta. Tiga hari sudah ia menghirup segarnya udara desa, berjibaku dengan rerumputan juga ikut merasa berpesta di sawah, karena memang sudah waktu panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga di suatu malam, usai dia sholat Isya,&lt;br /&gt;"Alhamdulillah ya pak, panen kita melimpah.&lt;br /&gt;Iya, alhamdulillah…padahal dulu sempat hampir mati karena tidak ada hujan. Tapi alhamdulillah, pas hampir mati itu hujan sering turun hingga sekarang.&lt;br /&gt;Iyo le…dulu ibu hampir-hampir putus asa, berdoa nunggu hujan, tapi alhamdulillah Gusti Alloh memang tahu kebutuhan hambaNya.&lt;br /&gt;Nggih…lah bu…janji Gusti pasti ditepati, doa hambaNya pasti dikabulkan.&lt;br /&gt;Iya…le memang betul itu. Oia ngomong-ngomong, kapan kamu mau balik Jakarta, nanti ditunggu sama bosmu lagi. Kalau ibu pinginnya sih kamu agak lama di kampung, lha tapi kan kamu baru mau masuk kerja.&lt;br /&gt;Nggih bu, kemarin ijin 4 hari kok, pak Joko juga bisa memaklumi.&lt;br /&gt;Oh ya sudah kalu begitu.&lt;br /&gt;Setelah hening sesaat….&lt;br /&gt;Pak, bu…&lt;br /&gt;Ya apa le? Jawab bapak ibunya hampir bersamaan.&lt;br /&gt;Anu pak, bu….diam sesaat lagi..&lt;br /&gt;Iya aku tahu, masalah nikah kan? Ibu menjawab dengan nada menerka.&lt;br /&gt;Dugg….ia kaget…, Lho kok ibu tahu? Ia menjadi kelihatan bingung.&lt;br /&gt;"Sebelum sidang kemarin, paklekmu Marjo telepon nanya-nanya kabar kampung, katanya dia minta doa dari saudara-saudara kampung dia mau renovasi rumah. Nah..waktu itu ia bilang bahwa kamu pernah bicara uneg-uneg nikahmu sama dia", jelas Bapaknya.&lt;br /&gt;"Aku sampai dua malam tidak bisa tidur lho le…, hiks, hiks, hikss..," ibunya menimpali sambil menangis.&lt;br /&gt;"Ngapunten bu….maaf&lt;br /&gt;"Bukannya tidak boleh menikah le..ibu hanya khawatir, takut kalau gara-gara kamu sudah mikir untuk nikah kuliahmu jadi berantakan, jadi tidak lulus, kan jadi percuma kamu susah payah kuliah 4 tahun di Jakarta", jelas ibunya lagi sambil menyeka air mata.&lt;br /&gt;Ia hanya diam, di matanya sudah nampak mendung, hatinya merasa salah tak menentu, sembari memaklumi perasaan ibunya yang selama ini terus mendoakan agar dia cepat lulus kuliah.&lt;br /&gt;Bapaknya pun hanya terlihat diam, seperti bingung mau berkata apa. Sementara Iman, adiknya yang paling kecil tak terpengaruh dengan suasana itu, ia masih tetap asyik menonton televisi.&lt;br /&gt;"Mboten kok bu…pak,, sekali lagi mohon maaf, hiks, hiks, hiks…, saya juga tidak mau gagal kuliah, makanya saya berusaha keras untuk cepat menyelesaikan skripsi untuk dapat mengejar dapat kerja, lalu matur ini ke Bapak Ibu.&lt;br /&gt;"Yo wis le, akhirnya bapaknya menyahut.&lt;br /&gt;"Iya, bapak dan ibu sudah sangat bersyukur, kamu sudah lulus, sudah tenang, apalagi kamu sudah langsung dapat bekerja, nanti bapak sama ibu hanya bisa ngasih uang dari jual sapi di belakang rumah itu," jelas ibunya yang mulai tenang.&lt;br /&gt;"MasyaAllah pak, bu…maturnuwun, saya sebenarnya juga berat mengungkapkan ini, tapi..saya tidak mau dan takut banyak dosa, jika tidak segera menikah, saya sudah kenal seorang wanita……&lt;br /&gt;"Iya…paklekmu Marjo juga sudah cerita, alhamdulillah harapan ibu dan bapak agar kamu menikah dengan orang jawa atau sedaerah terpenuhi…" potong ibunya.&lt;br /&gt;"Lalu gimana rencanamu?", Tanya bapaknya sedikit penasaran.&lt;br /&gt;"Begini pak, bu,..sekarang ini kan calon saya juga masih nunggu selesai skripsi, insyaAllah tinggal sebentar lagi.&lt;br /&gt;"Lho belum lulus kuliah?...Ibunya kaget. "Nanti gimana orang tuanya?".&lt;br /&gt;"InsyaAllah tidak apa-apa kok bu..pak, dia juga sudah mencoba memberi pengertian kepada kedua orangtuanya, memberi pemahaman bahwa jika kita terlalu lama berhubungan atau saling kenal, nanti malah jadi musibah, maksud saya pacaran, kan malah membuat dosa dan akibatnya kita jadi menambah dosa bapak ibu juga. Jadi lewat menikah inilah kita ingin jadi anak yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang tua, karena mencoba menjauhi laranganNya Gusti Allah…dan…hiks..hiks…walaupun sebenarnya saya pingin mencari uang dulu secukupnya, biar bisa ngasih ibu bapak…hiks…hiks…hikss….&lt;br /&gt;"Sudahlah le…sudah…" bapak dan ibunya coba menenangkan.&lt;br /&gt;"Ibu bapakmu gak mengharapkan itu semua kok le, asal anak bisa bahagia dan mapan di Jakarta, ibu bapak sudah seneng kok…, tambah ibunya.&lt;br /&gt;"Gih pak bu…maturnuwun, jadi begini pak bu…mudah-mudahan bulan ini calon saya sudah lulus. Kemudian proses lamaran, lalu untuk akad nikahnya pinginnya sebelum ramadhan, nanti penentuan tanggalnya dirembug waktu lamaran itu. Saya coba ingin sampaikan, agar hajatannya tidak usah mewah-mewahan, yang penting sah agama dan Negara, paling ngundang saudara-saudara dekat dan tetangga…"..kira-kira begitu bu..pak… jelasnya, sambil mengucek matanya yang masih terlihat memerah.&lt;br /&gt;"Ya sudah le…kalau begitu rencanamu, mudah-mudahan tidak ada halangan…dan sehabis menikah pun makin banyak rezekimu,&lt;br /&gt;"Iya…sahut Bapak.&lt;br /&gt;Amin…tutupnya terharu.&lt;br /&gt;Akhirnya, malam saat itu pun kembali menyelimuti bumi dengan kelamnya. Namun tampak ia menuliskan sesuatu di buku hariannya..lalu tersenyum dan terharu mendengarkan percakapan itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari sudah ia di kampung, hari terakhir itu suasana hatinya menjadi tak menentu, ada rasa senang, harap untuk segera ke Jakarta, tapi juga ada rasa sedih yang mendalam karena berpisah lagi dengan para kekasih hatinya.&lt;br /&gt;Kebiasaan saling menangis itu pun terulang saat ia berpamitan…&lt;br /&gt;"Bu pak…, saya pamit dulu ya…mohon doanya terus…hiks, hiks..hiks.., ia memeluk bapak ibunya bergantian sambil menangis.&lt;br /&gt;"Iyo le…bapak ibu terus berdoa…ati-ati…&lt;br /&gt;"Sekolah sing pinter ya Man…., dia pamitan sama adiknya.&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum….&lt;br /&gt;Waalaikum ssalam….ati-ati le…&lt;br /&gt;Gih…bu…"&lt;br /&gt;Siang itu pun panas mentari menyaksikan keharuan itu…,&lt;br /&gt;Bis jurusan Jakarta yang ditumpanginya terasa berat membawanya ke kota harapan. Dalam perjalanan terbayang percakapan yang sempat di dengar oleh Sang Purnama kemarin malam, tak terasa kedua mata yang masih memerah itu pun belum habis juga mengeluarkan bulir-bulir air bening…menetes, menyatakan keharuan dan harapan. Dilihatnya pepohonan di sepanjang jalan seakan memberi salam perpisahan, "selamat berjuang di sela-sela bangunan tinggi itu saudaraku…".&lt;br /&gt;Tiba-tiba…., tit…tit…tit…tit…, Bunyi Hpnya membuyarkan suasana hatinya. Buru-buru dia rogoh kantong depan celananya, dia ambil hpnya dan mencoba membuka pesan itu….tertulis..dari Ukthi Wng, "Aslkm, mas, alhamdulillah skripsiku sudah di Acc semua…tinggal maju sidang besok hari Kamis".&lt;br /&gt;Ia memejamkan matanya…nampak tersungging senyum, lalu membalasnya, "alhamdulillah..saya dalam perjalanan balik ke Jakarta, mudah-mudahan ini pertanda ridhoNya…"di kirimnya lalu tak lama kemudian terbalas lagi, "Amin".&lt;br /&gt;Dan bis yang ditumpanginya terasa melaju dengan cepatnya…&lt;br /&gt;Secepat harapan di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Semilir angin malam, masuk perlahan melewati celah jendela kaca nako yang sedikit terbuka, seolah ingin menyeka basah pipi pemuda yang masih terduduk bersila itu…&lt;br /&gt;Allahu Akbar…Allahu…Akbar…, dan adzan shubuh pun berkumandang, menghentikan bayang-bayang di pelupuk matanya, dia tarik nafas dalam seraya mengucapkan hamdalah. Setiap kalimat adzan itu terdengar menggetarkan, menyejukkan, mengalirkan kekuatan di hatinya. Lalu ia pun berdiri, mengerjakan sholat sunnah yang melebihi alam semesta serta isinya itu. Selesai salam ia tengadahkan kedua tangannya,&lt;br /&gt;Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar….hiks…hiks…hiks…&lt;br /&gt;Tangan ini kuangkat sebagai tanda kekerdilanku……&lt;br /&gt;Tangan ini kuangkat tuk meminta ampunan dariMu..&lt;br /&gt;Tangan ini kuangkat karena ku takut adzabMu..&lt;br /&gt;Kurindu kasihMu….kucinta Rasul kekasihMu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb..&lt;br /&gt;Segala puja dan kesyukuran hanya untukMu..&lt;br /&gt;Aku malu…, di saat hati ini condong ke makhlukMu&lt;br /&gt;Engkau tak buru-buru mengadzabku…dan itu yang kutakut dariMu&lt;br /&gt;Engkau mudahkan semua…&lt;br /&gt;Tuk..menggapai cita dan cinta..&lt;br /&gt;Tuk..coba mengikat segala rasa&lt;br /&gt;Pada tautan ridhoMu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..Allah,&lt;br /&gt;Berilah hambaMU kekuatan kembali…&lt;br /&gt;1 bulan ke depan ini….&lt;br /&gt;Tuk menyambut akad suci nanti….&lt;br /&gt;Semoga terampuni segala khilaf…&lt;br /&gt;Semoga terampuni segala dosa hambaMu yang lemah ini ya..Allah…&lt;br /&gt;Hiks…hiks…hiks…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menyeka air matanya, berdiri lalu melangkah menuruni tangga, menuju Musholla…., terlihat Sang Rembulan yang menyaksikan tangis pemuda itu dari celah jendela nako, ia kembali tersenyum juga terharu..melihat penyesalan dan tekad pemuda itu…&lt;br /&gt;Ia bergembira, setelah mendapat kabar dari matahari bahwa pemuda itu tadi siang telah melamar wanita yang selama ini membuatnya gelisah….lalu ia mendoakan…&lt;br /&gt;“Rabb…..semoga bahagia segera mengakhiri kegelisahannya”…Amin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-311654577344339867?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/311654577344339867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/akhir-sebuah-kegelisahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/311654577344339867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/311654577344339867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/akhir-sebuah-kegelisahan.html' title='Akhir Sebuah Kegelisahan'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-7480800277998334519</id><published>2010-01-14T17:31:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T23:47:10.420-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NONFIKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>Taman Baca: Sarana Menumbuhkan Minat Baca Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0_Gw9-ZcpI/AAAAAAAAAH8/YglNs_JpVLU/s1600-h/foto+depan.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 129px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0_Gw9-ZcpI/AAAAAAAAAH8/YglNs_JpVLU/s320/foto+depan.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426774620577034898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esai Dhinny El Fazila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi televisi dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak saat ini, telah dapat dikatakan sangat mengkhawatirkan. Jika orang jepang menonton televisi dalam sehari kurang dari lima jam, maka bandingkan dengan anak-anak Indonesia (dan mungkin para orang tuanya) yang menonton televisi bisa lebih dari sepuluh jam, bahkan bisa mencapai dua puluh jam! Anak-anak sekarang bahkan ada yang jadwal televisinya mengalahkan apapun. Televisi telah menjadi candu bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia pada umumnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi dengan kekuatan audio visualnya tidak sekedar memudahkan anak untuk menangkap apa-apa yang disampaikan. Lebih dari itu, televisi tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mencerna apa yang ada pada acara televisi tersebut. Sifat audio visual televisi sesungguhnya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan televisi. Tidak adanya jeda pada gambar yang bergerak diperkuat dengan suara membuat otak anak tidak sempat mencerna mana yang baik dan buruk pada acara televisi tersebut. Ini menjadi masalah tatkala televisi hanya berorientasi pada rating dan keuntungan sehingga tidak memikirkan bentuk acara seperti apa yang dapat memberi manfaat bagi penontonnya, namun lebih memikirkan acara seperti apa yang laku dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan televisi, buku merupakan media yang hanya bersifat visual saja. Selain itu buku bukan merupakan rangkaian adegan yang bergerak terus-menerus. Sifat buku ini membuat otak anak dapat beristirahat sebentar dan mencerna isi buku tersebut. Orang tua pun dapat dengan mudah mengarahkan pada anak tentang isi buku tersebut. Dilihat dari sifatnya saja, media buku tampaknya lebih ramah bagi anak daripada media televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa buku lebih baik daripada televisi? Ini disebabkan karena kentalnya orientasi profit media televisi. Mahalnya ongkos untuk mendirikan sebuah stasiun televisi dan mahalnya biaya produksi televisi membuat mereka sangat berorientasi pada keuntungan semata. Ini menyebabkan televisi seringkali kehilangan idealismenya. Moral anak-anak Indonesia menjadi taruhannya ketika televisi menyajikan acara-acara yang kurang bermutu, dan itu dengan mudahnya menjadi konsumsi anak-anak yang belum cukup umur bahkan belum bisa mencerna mana yang baik dan mana yang buruk. Ini berbeda dengan buku. Ongkos produksi untuk mencetak buku tidak semahal ongkos produksi untuk membuat sebuah tayangan di televisi. Ini menyebabkan produksi buku tidak pernah kehilangan idealismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku memang menjadi alternatif media yang ramah dan aman bagi anak-anak. Selain karena buku memiliki sifat yang ’ramah’, buku juga memiliki segmen khusus anak-anak yang aman dibaca dan mendidik. Selain itu buku memiliki banyak ragamnya sehingga kita bebas memilih buku seperti apa yang akan kita baca. Ini berbeda dengan acara televisi yang cenderung kurang variatif dan sedikit pilihan. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menumbuhkan minat baca, terutama minat baca anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya minat baca anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kurangnya pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua dapat berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan terhadap membaca seharusnya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika dirumah terdapat perpustakaan, meskipun kecil, ini akan mendorong anak untuk gemar membaca. Atau pembiasaan lain seperti berlangganan majalah anak. Masalahnya seringkali orang tua kurang memiliki kesadaran dalam hal pembiasaan membaca terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi ini sebenarnya juga dapat diambil oleh sekolah. Perpustakaan sebagai sarana yang ada di sekolah seharusnya dapat mengambil fungsi tersebut. Namun sayangnya, saat ini rasanya sekolah belum mampu untuk menangani lemahnya minat baca para siswa. Dapat dilihat, perpustakaan sekolah sangat jarang dikunjungi. Kalaupun ada yang datang, perlu dilihat lagi, buku apa yang dibacanya. Moga-moga memang benar-benar buku yang layak dibaca. Tapi kebanyakan siswa-siswa memilih komik untuk di baca di perpustakaan. Tak salah sebenarnya kalau mereka memilih komik untuk dibaca, karena bagi mereka hanya itu yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana agar buku-buku yang mendidik itu juga menarik untuk mereka baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya rumah-rumah baca atau perpustakaan keliling sepertinya cukup membantu dalam menarik minat baca anak. Sebut saja Forum Lingkar Pena (FLP) yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa, saat ini telah memiliki banyak perpustakaan yang dinamakan Rumah Cahaya yang merupakan kepanjangan dari Rumah Baca Hasilkan Karya. Di rumah ini, anak-anak sekitar dibebaskan untuk membaca buku-buku yang ada disana tanpa dipungut biaya apapun. Buku-buku yang disediakan pun memiliki segmen khusus anak-anak. Mereka bebas membaca sambil bermain di sana. Tempat-tempat baca seperti ini sebenarnya sangat potensial dalam memberikan kontribusi secara informal bagi pendidikan dan minat baca anak. Hanya saja tempat-tempat seperti masih kalah booming sosialisasinya ketimbang pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat rekreasi. Biasanya tempat-tempat seperti inipun terbatas pengunjungnya. Hanya anak-anak yang memang sudah gemar membaca yang sering datang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, selain disediakannya buku-buku yang menarik minat anak, sebenarnya perlu diadakan acara-acara yang menarik minat anak untuk datang ke taman-taman bacaan seperti ini. Dongeng atau lomba mungkin bisa jadi salah satu alternatifnya.&lt;br /&gt;Saat ini, FLP telah memiliki beberapa Rumah Cahaya yang tersebar di berbagai daerah. Sebut saja Aceh, Bandung, Bekasi, Depok, Penjaringan, dan masih banyak lainnya. Bahkan Rumah Cahaya terakhir yang baru diresmikan, yaitu di Depok 2 Timur, memiliki kisah uniknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Cahaya Depok 2 Timur baru saja diresmikan seminggu yang lalu dan dihadiri oleh Helvy Tiana Rosa serta anaknya Abdurrahman Faiz. Rumah Cahaya ini didirikan di rumah seorang anggota FLP Depok. Beliau memiliki seorang anak yang sangat gemar membaca. Seringkali sang ayah harus kerepotan saat membawa anaknya ke toko buku karena di sana anak tersebut baru mau pulang jika sudah membaca sepuluh buku atau lebih. Akhirnya, karena alasan itulah, sang ayah membuatkan Rumah Cahaya di rumahnya agar sang anak bisa membaca sepuasanya dirumahnya. Selain itu agar teman-teman anaknya dan tetangga-tetangganya bisa ikut menikmati bacaan dirumahnya. Menurut ibunya, anak ini memang sudah terbiasa dan bisa membaca sejak kecil sebelum masuk sekolah. Ibu dan ayahnya pun adalah orang-orang yang sangat suka membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua anak gila membaca seperti anak tersebut. Namun adanya pembiasaan, banyaknya buku di rumah, dan kemampuan membaca yang cukup dini dapat merangsang anak untuk gemar membaca. Ini baik untuk perkembangan anak itu ke depan. Sebab buku, hingga saat ini, masih menjadi sumber informasi yang utama bagi kebanyakan masyarakat. Meskipun kini ada media internet sebagai sumber informasi, namun internet belum terlalu akrab dengan seluruh lapisan masyarakat sehingga buku masih menjadi yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Rumah Cahaya FLP sebenarnya tidak berdiri sendiri. Banyak taman-taman bacaan dan perpustakaan yang lain yang juga memiliki visi serupa. Hanya saja masih banyak yang belum tersosialisasikan dengan baik atau masih terbatas dalam pengelolaannya. Padahal membaca adalah salah satu syarat dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, kampanye gemar membaca harus dibunyikan lebih keras lagi. Sebab ini adalah bagian dari pendidikan terhadap generasi bangsa selanjutnya, agar yang tumbuh bukan sekedar generasi yang ingin menjadi kaya dan terkenal dengan cepat seperti yang kita lihat di televisi. Kita tentunya menbgharapkan anak-anak di masa mendatang adalah generasi yang berwawasan luas, bervisi jauh ke depan, serta memiliki koral dan budi pekerti yang baik. Bukan generasi instan ala televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-7480800277998334519?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/7480800277998334519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/taman-baca-sarana-menumbuhkan-minat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7480800277998334519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7480800277998334519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/taman-baca-sarana-menumbuhkan-minat.html' title='Taman Baca: Sarana Menumbuhkan Minat Baca Anak'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0_Gw9-ZcpI/AAAAAAAAAH8/YglNs_JpVLU/s72-c/foto+depan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-1611202382894120400</id><published>2010-01-12T19:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T23:46:27.516-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NONFIKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>Eksploitasi Remaja oleh Media Melalui Ajang Pencarian Bakat di Televisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esai Dhinny el Fazila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa khususnya televisi, merupakan media massa yang memiliki pengaruh sangat besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesi. Ajang-ajang pencarian bakat yang dilakukan oleh banyak stasiun televisi, meski banyak diantaranya yang meniru program luar negeri, namun terlihat sangat diminati oleh para remaja Indonesia. Hal ini dapat kita mengerti mengingat banyaknya remaja yang ingin ”kaya dan terkenal”, apalagi dengan cara cepat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata, dibalik kegembiraan remaja dengan adanya ajang-ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun televisi tersebut, ternyata terdapat unsur eksploitasi remaja oleh media. Remaja sebagai objek ajang tersebut, ternyata telah dieksploitasi dalam bentuk-bentuk yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah bahwa televisi ”menjual” remaja ke pengiklan untuk mendapatkan pemasukan iklan yang berlipat. Ini sepertinya merupakan tambang emas luar biasa bagi pengelola stasiun televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang pencarian bakat seperti ini, sesungguhnya merupakan proses selebritisasi yang sengaja dibuat dalam budaya selebritis media massa Indonesia. Budaya selebritis sesungguhnya telah ada beberapa puluh tahun lalu. Berawal dari teater dan film, muncullah aktor-aktor film yang awalnya kurang diperhatikan secara personal, namun akhirnya dibuat menjadi selebritas dengan diperkenalkannya aktor tersebut secara personal melalui media massa sehingga jadilah aktor tersebut sebagai apa yang disebut selebritas. Proses membuat seseorang menjadi selebritas disebut selebritisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini proses selebritisasi telah dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi pengelola media massa khususnya televisi. Masyarakat Indonesia secara umum sangat suka mengetahui apa-apa yang berhubungan dengan kehidupan orang terkenal. Maka kemudian bermunculanlah artis-artis baru yang kehidupannya senantiasa dipublikasikan kehadapan publik melalui tayangan infotainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya tayangan infotainment yang kebanyakan penontonnya adalah ibu-ibu dan remaja putri, menyebabkan banyaknya remaja yang kemudian bercita-cita menjadi artis. Belum lagi bombardir tayangan MTV untuk remaja, sinetron yang menggambarkan kemewahan, semuanya kebanyakan ditonton oleh para remaja. Tak heran jika kemudian banyak remaja yang terobsesi ingin kaya dan terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang-ajang pencarian bakat yang dipelopori oleh Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dengan sangat sukses , membuat stasiun televisi lain seolah berlomba untuk membuat acara sejenis untuk memenuhi obsesi remaja tersebut. AFI, dulu, dan Mamamia, sekarang, keduanya benar-benar telah membuat rating Indosiar Visual Mandiri (IVM) naik sangat drastis.  Sukses mereka kemudian disusul oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar ajang-ajang tersebut ditujukan untuk para remaja. Ini wajar, sebab tidak hanya televisi yang menjadikan remaja sebagai target pasarnya. Hampir kebanyakan produsen menganggap kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat karakter remaja yang seperti itu, pengelola televisi melihat bahwa program jenis tersebut akan lebih ‘laku’ jika targetnya adalah remaja. Ini terbukti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau melihat sukses AFI, kita dapat melihat bahwa satu spot iklan pada acara AFI mencapai angka 18 juta dan setiap konser AFI disediakan 24 spot iklan.  Belum lagi pendapatan-pendapatan lainnya seperti layanan sms dan premium call dimana pemenang kontes tersebut ditentukan dengan cara voting pemirsa. Sms yang masuk setiap minggunya bisa mencapai 150.000-250.000 sms. Memasuki babak Grand Final, sms yang masuk meningkat hingga 500.000 sms setiap minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau dibuat daftar, maka jenis-jenis keuntungan yang diperoleh stasiun televisi hasil ajang pencarian bakat seperti ini yaitu berasal dari pendaftaran (uang administrasi pendaftaran), proses seleksi yang direkayasa (dipelopori oleh tayangan proses seleksi Indonesian Idol) yang mendapat pemasukan iklan dan juga proses karantina (yang biasanya juga disponsori oleh pengiklan), tayangan konser/ proses eliminasi (contoh: spektakuler show Indonesian Idol, Mamamia Show), sms pemirsa pada saat proses eliminasi, kontrak atas bintang yang dihasilkan dari ajang tersebut yang biasanya bersifat eksploitasi atas artis tersebut , album/ produk yang dibuat dari ajang tersebut, dan acara-acara off air yang diselenggarakan yang biasanya dapat mendatangkan penonton remaja yang begitu banyak. Disamping itu, hal pokok dari acara ini adalah banyaknya remaja yang menonton yang membuat rating acara seperti ini tidak terlalu rendah, bahkan ada yang begitu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya eksploitasi terhadap audiens oleh televisi sesungguhnya merupakan bagian dari sistem kapitalisme. F. Vito mendefinisikan kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dengan karakteristik: 1) adanya kebebasan beraktivitas bagi pelaku ekonomi, 2) adanya hak milik privat dari alat-alat produksi, dan 3) adanya persaingan.  Saat ini, kapitalisme masih menjadi sistem ekonomi yang dominan di dunia pasca runtuhnya komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Teori Marxist, sistem ekonomi menjadi dasar segala sesuatu (base) dan mempengaruhi super structure, yaitu kumpulan institusi yang ada dan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Pada media massa, kapitalisme telah membuat media memiliki tujuan utama untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang dapat dilakukan dengan segala cara, jika melihat kembali karakteristik kapitalisme. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi munculnya eksploitasi yang dilakukan media terhadap audiens/ khalayak, khususnya remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kembali kepada permasalahan di atas, maka ideologi yang disebarkan oleh media yaitu bahwa bintang (star), adalah manusia sempurna yang harus diidolakan. Bintang di media digambarkan sebagai sosok yang mewah, glamour, sempurna, dan menyebabkan ribuan remaja mengangankan untuk menjadi bintang. Media massa jarang mengajarkan bagaimana para bintang itu bekerja keras dari nol hingga berada di puncak kesuksesan. Yang sering digambarkan media mengenai bintang hanyalah kesenangan dan gaya hidup mereka. Penonton remaja tidak tahu dan juga tidak diajarkan bagaimana bintang tersebut mendapatkannya. Akibatnya, muncullah generasi yang menginginkan kesuksesan secara instan. Ini karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana berjuang medapatkan kesuksesan. Yang mereka tahu hanyalah ketika bintang tersebut telah berada di puncak sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk menjadi bintang, kaya dan terkenal, secara instan inilah yang membuat berbondong-bondong antri untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh televisi. Sukses dengan edisi perdana, biasanya televisi tersebut akan membuat yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Contoh-contoh remaja biasa yang sukses dengan mengikuti ajang tersebut kemudian menjadi “heroes” yang menjadi cerminan bagi remaja lainnya, secara umur dan kondisi sosial-psikologis. Kemudian mereka menjadi acuan bagi remaja lainnya untuk mengikuti jejak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori Marxist, kelas penguasa menyebarkan suatu ideologi yang memberi pembenaran pada statusnya, yang menyulitkan kebanyakan orang untuk menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban eksploitasi. Anggapan bahwa jumlah besar orang dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kelas penguasa merupakan salah satu argumen utama dari analisis kultural Marxist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam pandangan Marxist, media merupakan alat (tools) untuk memanipulasi, sebab media massa dan budaya populer berperan penting dalam penyebaran false consciusness dan menjaga hegemoni serta ideologi penguasa.&lt;br /&gt;Namun pertanyaannya, dalam konteks permasalahan di atas, kelompok penguasa mana yang oleh media dipertahankan hegemoni dan ideologinya? Jawabannya adalah kelompok media itu sendiri! Media menggunakan pengaruhnya sendiri untuk mempertahankan kekuasaannya agar tetap dapat mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari pemasukan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai konsep iklan pada masalah ini, berbeda dengan iklan yang dimaksudkan oleh Marxist. Pada teori Marxist, iklan yang dimaksud adalah cara penyampaian pengumuman kepada suatu khalayak dengan menggunakan perantara media massa. Sedangkan pada masalah ini, iklan adalah sebagai satu-satunya sumber dana yang membiayai media massa. Namun persamaannya adalah, iklan memegang peranan penting dalam masyarakat kapitalis terutama dalam industri media saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat lagi dengan cermat, siapa yang diuntungkan dibalik adanya berbagai ajang pencarian bakat tersebut, jawabannya adalah media massa, dalam hal ini stasiun televisi yang bersangkutan. Remaja hanyalah menjadi korban eksploitasi media. Remaja yang merasa bahwa ajang seperti ini adalah salah satu kendaraannya menuju impiannya menjadi bintang/ selebritas merasa senang dengan adanya ajang seperti ini. Namun tanpa dia sadari, ajang ini adalah alat untuk mengeksploitasi mereka. Dalam hal ini media memberikan kesadaran palsu kepada remaja. Kesadaran palsu tersebut dikonstruksi melalui pengaruh media itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, remaja “dijual” oleh media kepada pengiklan. Jadi siapa sebenarnya penguasa disini? Pengiklan atau media? Atau keduanya? Semua saling memengaruhi. Namun yang jelas, satu hal tetap pasti bahwa remaja, tetap merupakan korban eksploitasi mereka.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-1611202382894120400?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/1611202382894120400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/eksploitasi-remaja-oleh-media-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1611202382894120400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1611202382894120400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/eksploitasi-remaja-oleh-media-melalui.html' title='Eksploitasi Remaja oleh Media Melalui Ajang Pencarian Bakat di Televisi'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2152728884545862187</id><published>2010-01-12T17:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T23:46:45.957-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NONFIKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>Ketika Juru Cerita Meninggalkan Buku</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esai Denny Prabowo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritkan padaku tentang kehilangan,” kata Upik pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itupun berkisah tentang bandana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Seno Gumira Ajidarma (SGA) kerap mengawali ceritanya. Apa yang dilakukan SGA mengingatkan kita pada peran penting seorang juru cerita atau tukang cerita di masa lalu, ketika sastra lisan menjadi satu-satunya media dalam penyampaian ajaran atau pesan. SGA seolah ingin mengembalikan peran itu dalam bentuknya yang lain: tulisan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran seorang juru cerita yang tampil sebagai narator di dalam cerpen-cerpen SGA, membuat pembaca seperti ‘mendengar’, walau pada kenyataannya tetap harus membaca. Ini merupakan bentuk kreativitas yang mungkin sekali mampu mengembalikan kegairahan pada sastra tulis seperti di era Hamzah Fansuri dengan Syair Perahunya yang ditulis pada abad ke-17 M, dan Raja Ali Haji dengan Hikayat Abdul Muluk yang ditulis bersama adiknya—Raja Zaleha pada tahun 1846 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, usaha SGA menampilkan ‘suara’ juru cerita di dalam cerpennya, tak cukup membuat kegiatan membaca menjadi lebih mudah daripada mendengar langsung sebuah cerita yang dilisankan. Dan juru cerita pun menemukan eksistensinya dalam bentuk yang lebih mendekati aslinya melalui televisi: iklan, sinetron, telenovela, dan film seri yang mendominasi mata acara TV dapat dijadikan representasi yang pas dari sastra lisan kontemporer ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keberhasilan sastra lisan dalam menyampaikan pesan dan ajaran adalah karena bentuknya yang audio visual. Cerita yang disampaikan melalui mulut dan peragaan sang juru cerita tentunya lebih mudah diterima. Kita hanya perlu duduk melihat dan mendengar juru cerita menyampaikan sebuah kisah. Berbeda halnya dengan sastra tulis yang membutuhkan energi untuk menekuni tiap kata dalam cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran televisi yang menjadi mediator sekaligus narator dalam terbentuknya ‘komunikasi sastra’ yang ditopang simulasi teknologi informasi kian memanjakan kita dalam menerima pesan dan ajaran. TV kemudian menjelma jadi juru cerita yang mendongengkan kisah tanpa harus berjalan door to door, cukup disiarkan melalui pemancar dan juru cerita pun siap menyapa melalui layar kaca di tiap pintu rumah pada waktu yang bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang sesungguhnya memiliki andil besar terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik pada 2003 menunjukkan sekitar 84,94 % penduduk usia 10 tahun lebih suka menonton televisi. Hanya 22,06 % saja yang mengatakan suka membaca koran dan majalah. Jadi, jangan heran jika minat baca masyarakat Indonesia di kawasan Asia Tenggara hanya menempati peringkat ke empat di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Agaknya tidak berlebihan kalau dikatakan penetrasi televisi menjadi biang keladi terbesar  terkikisnya kebiasaan membaca di masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini kian diperparah dengan sistem pendidikan yang tak mambuat siswa menjadi akrab dengan buku. Taufik Ismail dalam makalahnya Budaya Membaca dan Menulis yang disampaikan dalam sebuah seminar sastra yang diadakan oleh Forum Studi Islam FEUI, menyampaikan data, pada tahun antara 1939-1942 Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda) Yogyakarta mewajibkan siswa membaca 25  buku sastra dalam waktu tiga tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hill New York yang mewajibkan siswanya membaca 30 buku pada tahun 1987-1989.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal tahun 1950, ketika pemerintahan telah sepenuhnya berada di tangan Indonesia, wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis! Demi mengejar ketertinggalan pembangunan, pemerintah lebih mengunggulkan dan menyanjung jurusan eksakta, ekonomi, dan hukum. Padahal, menurut Taufiq Ismail sastra merupakan stimulus untuk meletakkan dasar kebiasaan dan kesenangan membaca buku, sehingga menjadi jembatan menuju literasi buku apa pun dalam disiplin ilmu yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kondisi ini dibiarkan tanpa usaha meningkatkan minat baca dari berbagai pihak, maka jangan salahkan jika juru cerita semakin enggan tinggal di dalam buku, dan meninggalakan buku terasing di rak-rak penuh debu. Dengan begitu, penjajahan budaya oleh kaum kapitalis di negeri ini menjadi semakin mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Cahaya FLP, 29.0807&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2152728884545862187?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2152728884545862187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/ketika-juru-cerita-meninggalkan-buku_1691.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2152728884545862187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2152728884545862187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/ketika-juru-cerita-meninggalkan-buku_1691.html' title='Ketika Juru Cerita Meninggalkan Buku'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-1404805829326787780</id><published>2010-01-12T17:40:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T19:05:21.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Seponggah Harapan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Agustiana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brakk!!&lt;br /&gt;Suara itu lagi. Aku sudah cukup bertahan selama seminggu ini. Nomaden dari salon yang satu ke yang lain. Mencari yang paling terjangkau harganya oleh seorang pengangguran. Sécurité sociale yang kudapatkan tidaklah banyak. Apalagi, aku bukan warga negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Aku hampir tak sanggup lagi pindah untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Kali ini aku harus bertahan. Tidak! Aku tidak boleh hanya bertahan. Aku harus melawan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari tempat tidur persegi panjang itu dan membuka pintu yang tak jauh darinya.&lt;br /&gt;“Excusez-moi monsieur.” Kucoba untuk tetap sopan. “Saya mencoba untuk istirahat disini. Bisakah anda berhenti menggedor-gedor pintunya dan langsung saja masuk ke dalam?!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih sangat gelap. Pencahayaan koridor sempit ini begitu redup. Wajahnya terlihat samar. Dia berjalan gontai mendekat. Telunjuknya diarahkan ke wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vous! Apa urusanmu? Aku mau berbuat apa pun, terserah! Kau hanya orang asing disini. Justru kaulah yang harus masuk lagi ke kamarmu dan jangan campuri urusan orang lain!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma wiski begitu menyengat, membuatku ingin muntah. Aku muak. Aku lupa sedang berurusan dengan orang seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ku tutup pintu kamarku.&lt;br /&gt;Dia masih saja berteriak-teriak memanggil istrinya yang tidak mau membuka pintu kamar mereka.&lt;br /&gt;Brakk!!&lt;br /&gt;Lagi2 dia menggebrak pintunya.&lt;br /&gt;“Oh, Mon Dieu!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maryam, bagaimana jawabanmu? Dia sudah menunggu. Bukankah kalian juga sudah saling kenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku tertunduk. Di hadapanku, duduk guru ngajiku di tepi ranjang segi empat dengan seprai motif bunga matahari kesukaanku. Tiga hari yang lalu baru saja proses ta’aruf kujalani dengan kakak kelas di SMPku dan hari ini adalah hari yang kujanjikan. Dibenakku berkecamuk banyak hal. Seandainya saja tawaran itu tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf mbak, aku gak bisa.”&lt;br /&gt;Keputusan itu telah terpatri dalam hatiku. Aku masih muda. Masih banyak yang ingin kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tatap lembar ijazah yang menyatakan bahwa aku adalah fresh graduate 2003, yang baru saja dua minggu ku terima. Aku akan menggapai cita-citaku.&lt;br /&gt;“Sorbonne! Attend-moi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara sore ini begitu dingin. Aku berjalan gontai di la rue callot. Tatapanku nanar melihat aliran air di bawah jembatan besar di Bordeaux. Aku berhenti sejenak dan menyenderkan diriku rapat-rapat ke dinding pinggir jembatan. Aku menghela nafas, berat. Ku keluarkan le croissant et le Perrier yang sempat kubeli tadi pagi sebelum menaiki TGV di Paris. Perutku perih. Dari pagi belum menyentuh apa-apa. Bahkan air sekalipun. Aku sempat heran, kenapa aku masih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak langsung ku suap “sarapan” itu. Aku masih teringat apa yang kulakukan beberapa jam yang lalu. Pagi-pagi telepon berdering mengabarkan bahwa aku mendapat panggilan interview di perusahaan tempat aku melamar kerja. Tempat yang sangat jauh. Paris-Bordeaux. Seperti Jakarta-Bali. Segera kubereskan barang-barang yang kubutuhkan dan segera meluncur ke stasiun kereta Paris. Naik TGV ke Bordeaux menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam. Ketika tiba disana, aku masih harus menunggu selama satu jam dalam antrian dengan beberapa pelamar lainnya. Sekitar jam tiga, aku baru masuk ke ruangan manajer personalia. Hanya lima belas menit semua itu berlangsung ketika manajer itu berkata;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pardon-moi, mademoiselle, tapi perusahaan kami hanya mempekerjakan mereka yang sudah lulus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang mereka pikirkan ketika memanggilku untuk interview. Apa mereka tidak membaca cv ku kalau aku memang tidak lulus dari Sorbonne. Dikeluarkan karena biaya. Beasiswa yang tidak bisa kulanjutkan lagi. Aku tidak bisa lulus tepat waktu karena terlalu asyik bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Perutku kembali terasa perih. Mungkin roti ini bisa mengganjalnya untuk sementara waktu. Uangku menipis. Sangat tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roti itu hampir menyentuh bibirku ketika seseorang menarik-narik jaketku. Aku menoleh, mencari tahu siapa yang melakukannya. Rupanya seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun tengah berdiri di samping kananku. Matanya sayu, terlihat begitu mengiba. Aku jongkok, memperlihatkan rotiku, menawarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vous pouvez?”&lt;br /&gt;Dia menggeleng.&lt;br /&gt;Giliran minuman yang kutawari lagi-lagi dia menggeleng.&lt;br /&gt;“Qu’est-ce qui-ce passé ? Votre maman, où?”&lt;br /&gt;Matanya mengerjap. Bajunya terlihat lusuh.&lt;br /&gt;“Peut-être… elle est à Paris maintenant. Aku tersesat…”&lt;br /&gt;Aku memiringkan kepalaku, bingung.&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam dan menunduk. Seperti tidak mau lagi menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sore. Jam lima. Kuputuskan membawanya ke Paris.&lt;br /&gt;Di TGV, dia sempat menanyakan jam dan meminta rotiku. Aku tidak bisa memberikan semuanya, maka ku bagi dua. Perutku tak lagi mampu bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sarah sudah terlelap di atas ranjangku. Sempat ku tatap lama wajahnya, berfikir kenapa dia menghampiriku. Mungkin karena hijab ini, sama seperti yang dia kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membereskan kasur lipatku di sebelah ranjang. Mengeluarkan dua selimut tebal dan menyelimutkannya satu di atas tubuh Sarah. Udara malam dua kali lebih dingin dibanding sore tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah, hari ini benar-benar lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku berat, sangat berat, tapi pipiku ditepuk-tepuk dan tanganku digoyangkan. Terpaksa membuka mata, aku melihat Sarah duduk di sebelah. Aku bangkit, duduk. Mengucek-kucek mata, mencoba untuk terjaga.&lt;br /&gt;“Qu’est-ce qui-ce passé ma chèrie ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku dengan mata mungilnya. Rambutnya keriting dengan warna kulit yang gelap. Seperti kebanyakan pendatang Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahur” lirihnya pelan.&lt;br /&gt;“Hah… apa?” antara sadar dan tidak, aku mendengarkan.&lt;br /&gt;Dia diam sebentar, lalu bibirnya berucap lagi. “Aku mau sahur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat ku cerna kata-kata yang meluncur cepat itu… tiba-tiba aku tersentak. Sudah lama sekali tidak mendengar orang mengatakan hal itu. Ku ulangi sekali lagi dengan sedikit mengutip kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“K.a.u… mau sahur?!&lt;br /&gt;Dia mengangguk.&lt;br /&gt;Mon Dieu, hari apa ini?. Aku tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit, mencari kalender kecil dari dalam laci lemari dan melihatnya. Souvenir dari sebuah cinema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 31 September. Di Indonesia, tidak, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Ini bulan Ramadhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullahaladzim… Astaghfirullahaladzim…&lt;br /&gt;Sendi-sendi kakiku melemas. Mataku panas. Serasa hatiku dihujam sebilah pisau yang sangat tajam.&lt;br /&gt;Aku terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama, lama sekali aku tidak lagi puasa. Tidak lagi salat. Semua itu diawali dari kedatanganku kesini. Tak ada yang mengingatkanku. Walau orangtuaku sering mengirimi surat. Tapi, itu semua tidak cukup untukku bisa mempertahankan iman di negara orang lain ini. Aku tak kuat. Hijab yang kukenakan kugunakan hanya untuk melindungiku dari dingin yang menyengat. Bahkan saat interview kemarin, jilbab itu kulepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku biarkan linangan itu membasahi wajah yang sudah jarang menangis karena-Nya.&lt;br /&gt;Astaghfirullahaladzim… Astaghfirullahaladzim…&lt;br /&gt;Sarah diam melihatku tertunduk, penuh sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bismillahirrahmanirrahim… alhamdulillahirabbil’alamin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Sarah bermurajaah sehabis salat subuh. Aku sudah tidak ingat lagi dimana dulu kusimpan mushafku. Untuk membelinya, aku sudah tak punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bermurajaah hingga waktu dhuha. Sarah anak yang cerdas. Terlihat dari hapalannya yang cukup membantuku. Ketika kutanya, dia bilang sudah hapal 3 juz. 28,29,30. Setelah itu, kami salat dhuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membawa Sarah jalan-jalan keluar. Kami duduk di bangku taman tak jauh dari tempat tinggalku. Kini aku merasa lebih baik. Lebih optimis, lebih percaya diri, lebih yakin, karena kini aku memiliki Allah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata saat ini Ramadhan sudah memasuki hari-hari akhirnya. Aku baru menyadari setelah kehilangan dua puluh hari. Moga masih belum terlambat untuk beribadah sebanyak-banyaknya dan memohon ampunan atas apa yang sudah kulakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Sarah tertawa-tawa sambil bermain dengan teman sebayanya mengingatkanku pada adik kecilku di Indonesia. Dia pasti sudah masuk SMP sekarang. Bagaimana ya rupanya? Bagaimana kabar Ibu, Ayah? Semenjak dikeluarkan dulu, aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka. Tidak ada satu kabar berita pun yang ku kirim untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, Sarah bilangkan, orang tuanya mungkin ada di Paris. Kenapa aku tidak tanya saja padanya. Aku yakin dia tahu jalan pulang, karena selama ikut denganku, dia sama sekali tidak rewel atau minta di ajak pulang, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri dan mendekati Sarah yang sedang berayun-ayun. Aku jongkok dan menatapnya lembut. Kubenahi jilbabnya yang sedikit berantakan. Dia melakukan hal yang sama padaku sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sarah, tu habite où? Kakak yakin kau tahu alamat rumahmu, n’est ce pas?”&lt;br /&gt;Dia mengangguk.&lt;br /&gt;“J’habite dans la rue poincare…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AirFrance kini tengah melintasi samudera Atlantik. Membawaku kembali ke tanah air tercinta. Kurang lebih lima jam lagi, aku akan menjejakkan kaki setelah enam setengah tahun merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Sarah membantuku untuk bisa kembali ke Indonesia. Balas budi yang sebenarnya tak ingin kuterima atas pertolonganku membawa Sarah kembali kepada mereka. Aku tak ingin menerima balas budi itu karena sebenarnya akulah yang berhutang pada Sarah. Anak sekecil itu membantuku untuk ingat lagi pada Allah. Di saat yang paling tepat. Allah mengirimnya untuk mengingatkanku agar selalu yakin pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, dialah keberkahan Ramadhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomaden:berpindah-pindah; salon:kos-kosan;&lt;br /&gt;Sécurité sociale:jaminan bagi masyarakat Prancis berupa uang dari pemerintah;&lt;br /&gt;Excusez-moi monsieur:permisi tuan; Vous:kamu;&lt;br /&gt;Mon Dieu:tuhanku; Attend-moi:tunggu aku;&lt;br /&gt;la rue callot:jalan callot; le croissant et le Perrier: roti dan air mineral;&lt;br /&gt;TGV:kereta ekspres di Prancis;&lt;br /&gt;Pardon-moi, mademoiselle: maaf nona;&lt;br /&gt;Vous pouvez:kau mau;&lt;br /&gt;Qu’est-ce qui-ce passé ? Votre maman, où:Apa yang terjadi, ibumu mana;&lt;br /&gt;ma chèrie: sayangku;&lt;br /&gt;Peut-être… elle est à Paris maintenant:mungkin dia di Paris sekarang;&lt;br /&gt;Cinema:bioskop;&lt;br /&gt;tu habite où: kau tinggal dimana;&lt;br /&gt;n’est ce pas: iya kan;&lt;br /&gt;J’habite dans la rue poincare: aku tinggal di jalan Poincare&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-1404805829326787780?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/1404805829326787780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/cerpen-agustiana-brakk-suara-itu-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1404805829326787780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/1404805829326787780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2010/01/cerpen-agustiana-brakk-suara-itu-lagi.html' title='Seponggah Harapan'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-6837435678120970504</id><published>2009-12-15T22:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T18:02:35.625-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='JURNAL PARAGRAPH'/><title type='text'>[JP edisi 1] La Révolution Surréaliste</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0KyIEhyvMI/AAAAAAAAADw/D6R4AD46Rm0/s1600-h/kover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 243px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0KyIEhyvMI/AAAAAAAAADw/D6R4AD46Rm0/s320/kover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423092753031675074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOWNLOAD&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Paragraph edisi 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/188564389/c0389e30/Jurnal_Paragraph.html"&gt;Versi PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;untuk baca di &lt;a href="http://get.adobe.com/reader/"&gt;AdobeReader&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/183524651/8a01589e/jurnal_paragraph_edisi_1.html"&gt;Versi DJVU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;untuk baca di &lt;a href="http://www.4shared.com/file/57252306/18b94f03/WinDjView-05.html?s=1"&gt;WinDjview&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surealisme memang bukan barang baru lagi di dunia seni dan kesusastraan. Ia (baca: surealisme) telah menggurita ke seluruh penjuru dunia. Bentuknya yang nyeleneh dan kontra logika itu telah berhasil membuat para pelaku seni begitu terpesona dan membuat orang-orang awam terperangkap dalam labirin enigma. Lukisan-lukisan yang ganjil, narasi-narasi yang berlompatan dengan begitu gaib, dan segala macam hal yang sepertinya tidak berpijak dalam realitas konvensional, telah bermunculan ke permukaan tanpa bisa dibendung lagi dengan cara apa pun. Begitulah. Akhirnya, surealisme pun hadir di sela-sela perbincangan di meja makan, di ruang tunggu rumah sakit, di stasiun kereta, dan di warung rokok pinggir jalan. Surealisme sudah menjadi bahan pergunjingan yang lumayan menyenangkan.&lt;br /&gt;Namun, apakah surealisme itu?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Surealisme adalah gerakan kebudayaan yang menyeru kepada alam bawah sadar. Sebuah usaha untuk merayakan mimpi-mimpi yang semalam hadir di dalam tidur kita. Para Surealis sering membiarkan pikirannya mengalir dengan bebas ke dalam halaman kertas tanpa berusaha mengaturnya, sehingga mimpi yang mereka tulis ulang itu bisa hadir secara jujur dan apa adanya. Seorang pengarang/pelukis surealisme berharap, bahwa setiap mimpi yang mereka tulis/lukis ulang dan menjadi sebuah cerita/lukisan itu mampu menerjemahkan “diri” si pengarangnya atau dapat menjelaskan kondisi sosial di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Singkat Surealisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Surealisme lahir di Paris, Perancis, pada tahun 1924. Dengan diterbitkannya Manifesto Surealisme yang ditulis oleh Andre Breton, penulis sekaligus psikiatri asal Perancis, surealisme resmi menjadi sebuah gerakan kebudayaan baru. Bahkah, secara eksplisit Andre Breton mengatakan bahwa surealisme adalah sebuah gerakan revolusioner. Setelah itu, secara bertahap gerakan surealisme pun menyebar ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan surealisme adalah kelanjutan dan pengembangan dari gerakan Dada, yang lahir ketika Perang Dunia I sedang berkecamuk. Perang Dunia I telah menyebabkan seniman dan penulis yang semula berkumpul di paris berpencar. Selama berada di luar Paris, para seniman dan penulis itu kemudian tergabung dalam gerakan Dada. Gerakan Dada murni bersifat politis. Dada lahir atas dasar kekecewaan terhadap kehancuran besar-besaran yang disebabkan oleh perang. Kaum Dadais percaya bahwa pikiran rasional yang berlebihan bisa mengakibatkan konflik mengerikan di dunia. Kaum Dada mengejek rasionalitas dan mengusung irasionalitas. Menurut mereka, rasionalitas adalah belenggu kebudayaan yang sudah semestinya dibongkar. Sebagai akibatnya, kaum Dada sering terlihat eksentrik dan anti-rasional dalam berkarya. Mereka meracau dengan kata-kata ganjil keras-keras, menyobek kata-kata yang terdapat di koran-koran lantas menyusunnya kembali untuk kemudian disebut sebagai puisi, memberi kumis pada lukisan Monalisa, dan menyatakan ke publik bahwa celana dalam dan tiang listrik adalah sebuah karya seni. Gerakan surealisme adalah pengembangan dari gerakan Dada tersebut, tapi lebih fokus menyorot kepada alam bawah sadar dan mimpi-mimpi yang berasal dari hasrat-hasrat yang terkekang. Bisa juga dikatakan bahwa surealisme adalah tindakan yang bersifat asketis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Wikipedia tertulis bahwa para surealis bertujuan memperbaharui pengalaman manusia, meliputi aspek individu, budaya, sosial dan politik, dengan membebaskan manusia dari apa yang mereka lihat sebagai rasionalitas palsu, kebiasaan (custom) dan pola (structure) terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surealisme dan Freud&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut kontributor Encarta Reference Library, Claude Cernuschi, para surealis secara hebat dipengaruhi oleh Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis dari Austria. Mereka terutama sangat menerima pembedaannya antara ego dan id, yaitu antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego). Sejak tuntutan dan kebutuhan utama kita secara berkala berjalan bersinggungan dengan pengharapan masyarakat, Freud menyimpulkan bahwa kita menekan hasrat asli kita ke dalam bagian bawah sadar pikiran kita. Untuk individu yang ingin menikmati kesehatan kejiwaan, ia rasa, mereka harus membawa hasrat-hasrat itu ke pikiran sadar. Freud percaya bahwa – mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat-hasrat – yang ada di pikiran bawah sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya; dalam mimpi, mitos, corak kelakuan ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan, dan seni. Dalam pencarian untuk mendapatkan akses ke alam pikiran bawah sadar, para surealis menciptakan bentuk dan teknik baru seni yang radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya yang bertajuk Surealisme dalam Prosa, Noor H. Dee menulis begini: “Mimpi yang tidak beraturan, menurut Sigmund Freud, lahir dari hasrat-hasrat terpendam yang bersemayam di dalam alam bawah sadar. Saat menjalani kehidupan, dalam diri manusia memang selalu terjadi pertikaian sengit dan pergulatan seru dalam memperebutkan dominasi antara Id (hasrat/gharizah) dan ego (etika), atau kalau menurut Kierkergard, selalu ada pertarungan antara estetis yang impulsif dan etis yang santun—dan salah satu yang kalah akan menempati ruang di alam bawah sadar. Dengan surealisme, alam bawah sadar yang selama ini terkunci di dalam goa-goa yang pekat nihil cahaya, akan dapat dihadirkan secara terang-terangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Surealisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Barangkali teknik yang sering dipakai dalam karya-karya surealisme adalah teknik otomatisme. Otomatisme adalah menulis dengan cara tanpa melakukan sensor terhadap tulisan. Dalam otomatisme, imaji tidak boleh dibebankan makna dan tujuan. Sebab, menurut Carl Jung, otomatisme bukanlah untuk menghakimi imaji bawah sadar, melainkan menerimanya sebagaimana ia masuk ke dalam kesadaran sehingga dapat dianalisis.&lt;br /&gt;Andre Breton dan Philippe Soupault, penulis asal Perancis, telah menggunakan teknik otomatisme ini dalam karyanya yang berjudul The Magnetic Fields (Les Champs Maqnétiques). The Magnetic Fields bisa dikatakan sebagai karya sastra surealis pertama. Beberapa penulis surealis kemudian mengikutinya. Mereka membuat catatan-catatan dari mimpi, beralih pada teknik otomatisme untuk mengakses alam bawah sadar. Dalam penulisan otomatis para surealis membiarkan pikirannya mengalir dengan bebas ke dalam halaman kertas tanpa mencoba untuk menyunting atau mengaturnya. Hasil aliran kata-kata tersebut seringkali susah dimengerti. Para pembaca sering dibuat bingung karenanya. “Tulisan ini maksudnya apa?” begitulah kira-kira kalimat yang terlontar dari mulut seorang pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dampak Surealisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(di sub-bab ini, penulis merasa kelelahan dan memutuskan untuk mengcopy-paste saja dari Wikipedia tanpa ditambahi sedikit pun tapi dikurangi sedikit saja)&lt;br /&gt;Surealisme memiliki dampak pada politik radikal dan revolusioner, baik langsung—beberapa surealis menggabungkan diri dengan partai, gerakan dan kelompok politik radikal—dan tak langsung—melalui penekanan pada hubungan antara pembebasan imajinasi dan pikiran. Hal ini tampak khususnya dalam Gerakan Kiri Baru tahun 1960-an dan 1970-an serta pemberontakan Prancis Mei 1968 dengan slogan “Kekuatan untuk imajinasi” yang muncul langsung dari pikiran dan praktek surealis Prancis.&lt;br /&gt;Banyak gerakan kesusastraan penting di paruh abad 20 secara langsung dan tak langsung dipengaruhi ide surealisme. Periode ini dikenal sebagai era postmodern. Meskipun tidak ada definisi dasar untuk postmodernisme, banyak tema dan teknik postmodernis yang mirip dengan surealis. Kemungkinan para penulis era postmodern yang memiliki gaya mirip surealis adalah para penulis drama di “Theatre of the Absurd”. Meskipun bukan gerakan terorganisir, kelompok drama ini memiliki banyak kesamaan (dalam tema dan teknik) dengan surealisme sehingga wajar jika mereka disebut mendapat pengaruh dari gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eugene Lonesco secara khusus memuji Surealisme. Dia menyebut Breton sebagai salah satu pemikir penting dalam sejarah. Samuel Beckett juga penggemar surealisme bahkan dia sering menerjemahkan puisi surealis ke dalam Bahasa Inggris. Beckett memiliki hubungan dekat dengan mentor sekaligus rekannya, James Joyce. Philip Lamantia dan Ted Joans sering dikelompokkan sebagai penulis surealis dan Beat. Banyak penulis Beat yang menyebut surealisme memberikan pengaruh penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh adalah Bob Kaufman, Gregory Corso dan Allen Ginsberg. Dalam budaya populer, penulisan lirik bergaya stream of consciousness dari Bob Dylan (1960-an dan 1980-an s.d 2006) memiliki hubungan dan citra surealisme. Realisme Magis (Magic Realism), teknik penulisan populer di paruh abad 20-an—khususnya digunakan oleh para penulis Amerika Latin—menunjukkan pengaruh surealisme dengan adanya kombinasi pengalaman normal dan dunia mimpi. Kepopuleran Realisme Magis di ranah kesusteraan Amerika Latin tertutupi oleh pengaruh surealisme dari para pelukis Amerika Latin sendiri, misalnya Frida Kahlo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. Semoga bermanfaat. Selamat menulis dan selamat merayakan irasionalitas dalam berkarya. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tukangtidur-&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;rexoholic@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;/dari berbagai sumber)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-6837435678120970504?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/6837435678120970504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/12/jp-edisi-1-la-revolution-surrealiste.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6837435678120970504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6837435678120970504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/12/jp-edisi-1-la-revolution-surrealiste.html' title='[JP edisi 1] La Révolution Surréaliste'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/S0KyIEhyvMI/AAAAAAAAADw/D6R4AD46Rm0/s72-c/kover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-9142286794673451698</id><published>2009-11-02T20:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T18:04:09.905-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Seratus Potong Puzzle</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Su-t-I1louI/AAAAAAAAACo/4ECHJfDbv8c/s1600-h/PUZZLE.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Su-t-I1louI/AAAAAAAAACo/4ECHJfDbv8c/s320/PUZZLE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399725761276256994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Vichan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.anekayess-online.com/cerpen/article.php?article_id=1263&amp;_page=0"&gt;www.anekayess-online.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali aja, ini salah satu dari potongan puzzle yang membentuk gambar wajah pengirimnya,” ucap Andi sok detektif. “Di situ nggak ada nama pengirimnya, kan?!” lanjutnya. Rine mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis jurusan Bogor-Depok berhenti di persimpangan Depok. Bis tua yang sudah penuh itu, masih saja menaikkan penumpang yang sudah menunggu sejak lima belas menit lalu. Bis terasa semakin sempit. Pagi yang seharusnya sejuk, ternyata menjadi sangat pengap, ditambah lagi dengan cucuran keringat para penumpang yang menciptakan sensasi aroma asam tubuh manusia. Padahal mereka sudah rapih dan wangi untuk memulai aktivitas hari ini, sejak keluar dari rumah mereka masing-masing.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi suara fals pengamen yang membuat suasana bis makin nggak karuan, “Walau… kumasih mencintaimu, ku harus meninggalkanmu, ku harus melupakanmu. Meski… hatiku menyayangimu, ku harus…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, demikian lagu ketiga dari saya. Mohon jangan tepuk tangan dulu karena masih ada sepuluh lagu lagi yang akan saya mainkan,” ucap pengamen dekil itu ke-pede-an. Para penumpang langsung manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He… he…he… becanda, kok. Baik, cukup sekian dari saya. Sampai berjumpa kapan-kapan. Ikhlas dari anda, halal buat saya. Tapi alangkah baiknya jika anda semua mengeluarkan uang seribuan yang terlalu kecil bagi anda. Sekali lagi, hati-hati di jalan. Bagi yang gak mau ngasih tolong jangan pura-pura tidur, bagi yang pura-pura tidur saya doakan semoga tertidur selamanya.” Pengamen konyol itu mengeluarkan kantong bekas permen dan menyodorkannya pada para penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis yang sesak membuat para penumpang marah-marah karena pengamen itu memaksa jalan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, nggak muat nih sempit. Nggak usah lewat sini..” ucap ibu-ibu yang sedang menggendong anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nih, bikin susah aja,” ujar bapak-bapak berkumis tebal mirip mas Adam, suaminya Inul Daratista. Para penumpang yang lain ikut menyahuti kedua penumpang tadi. Pengamen yang tadi agak mengancam agar dikasih seribuan, jadi ciut. Mukanya asem. Gitar birunya, yang senar duanya lepas, terhimpit di antara penumpang. Dia jadi semakin kikuk. Maju, nggak bisa. Mundur, sudah kepalang tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau! Turun saja kau lah! Gak liat kau, bis penuh kaya’ gini?” Akhirnya kondektur bis turun tangan. Logat bataknya yang kental membuat pengamen itu langsung nurut dan mundur teratur. Pengamen itu akhirnya turun bersama penumpang lainnya di Cibinong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perum! Perum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kiri, bang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hup! Rine melompat dari bis. Ia berlari menuju angkot ngetem berwarna hijau, jurusan Bantarjati. “Yes,” ucapnya dalam hati setelah rebutan dengan pelajar lain, akhirnya ia mendapatkan bangku kosong yang tersisa satu. “Kalo naek angkot yang di belakang pasti ngetemnya lama,” ucapnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot mulai melaju di bibir jalan. Tapi, Rine agak nervous, pasalnya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya, sesekali melirik ke arahnya. Sesekali pula, laki-laki itu tersenyum tipis. Rine jadi ge-er. “Ngapain sih dia ngeliatin gue melulu. Kayaknya dia anak kelas sebelas juga deh. Hmm… tampangnya boleh juga,” bisik Rine dalam hati setelah benaknya melayang mengingat artikel majalah CewekBuanget yang isinya: Tanda-tanda kalau “dia” suka kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine jadi makin ‘PeDas’ alias Pede Dahsyat karena isi artikel itu bilang, kalau ada cowok suka curi-curi pandang ke arah kita lalu tersenyum, kemungkinan dia ada hati sama kita, cukup besar. “PLN nih! Pasaran Lagi Naik” ucapnya dalam hati.&lt;br /&gt;Belakangan ini Rine kalang-kabut. Pasalnya, sampai sekarang dia masih ngejomblo. Padahal Valentine’s Day baru lewat. ”Ini waktunya menumbuhkan jamur di mana-mana,” ucapnya. Rine merasa PasTur banget alias pasaran turun. Kalau dia nggak menumbuhkan jamur di mana-mana dengan TP-nya. Bisa-bisa dia ngejomblo lagi sampai Valentine berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cie..Ririne… suit-suit!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehem... ehem....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine yang baru saja melangkahkan kaki ke kelas langsung dikejutkan teman-teman yang menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apaan sih?” tanyanya sambil terus melangkah ke bangku paling belakang, tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kado. Di atas mejanya ada kado berbentuk hati. Di atas kado itu tertulis: Dear Ririne. Dia membuka isinya. Cokelat dan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meneketehe. Sampah kali,” jawab Andi sambil terus meneliti benda itu. “Oh... ini sih potongan puzzle.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Potongan puzzle?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali aja, ini salah satu dari potongan puzzle yang membentuk gambar wajah pengirimnya,” ucap Andi sok detektif. “Di situ nggak ada nama pengirimnya kan?!” lanjutnya. Rine mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa ya…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, hujan kembali mengguyur kota Bogor. Hujan turun sejak pukul empat pagi tadi. SMA Cahaya masih sepi, mungkin anak-anak lebih memilih meneruskan mimpinya di balik selimut yang hangat dibandingkan harus basah-basahan menuju sekolah yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine melongok ke kelas dari jendela. Hanya ada beberapa murid yang sedang sibuk menyalin tugas rumah. Sementara sang pemilik buku yang sedang diconteki, asyik mendengkur di atas meja dengan ketukan empat per-empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masuk kelas. Seorang anak laki-laki melangkah cepat menuju ruang kelas. Dia gelagapan saat berpapasan dengan Rine. Rine jadi heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho… itu bukannya anak yang satu angkot sama gue waktu itu. Ngapain dia? Jangan-jangan..,” Rine menduga-duga. “Ah, nggak mungkin,” lanjutnya. “Tapi, kalau iya…” lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorr!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi mengagetkan Rine dari belakang. Rine langsung loncat karena kaget.&lt;br /&gt;“Ngapain loe bengong aja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, elu ngagetin aja.” Rine sedikit sewot. Matanya melotot. “Betewe, loe tau gak cowok yang barusan keluar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang tadi itu? Oh, itu namanya Sandy. Kenapa? Waduh, gue jadi curiga,” Andi meledek Rine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mang kenapa? Loe ngegebet dia juga?” tantang Rine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah! Ngapain! Gue sih teteup…Pak Budi idola gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Budi yang nyebelin itu?! Selera loe rendah banget sih, Ndi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, loe jangan maen-maen ya sama gue: Andini. Pak Budi itu orang paling baik se- Jabodetabek tau gak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru ditolongin benerin komputer aja udah ge-er. Dasar perempuan yang mudah jatuh cinta,” Rine gak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarin aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah elu, bukannya bantuin gue malah….” sebelum meneruskan pembicaraannya Rine kembali dikagetkan dengan potongan puzzle di atas mejanya. Lagi! Ini hari ke tiga puluh, tepat setelah ia mendapatkan kado dan potongan puzzle pertama waktu itu. Berarti, ini adalah puzzle ke tiga puluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue makin penasaran Rine, siapa sih mysterious guy itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan nampak Sandy sedang memperhatikan Rine. Dia langsung pergi setelah ke-gap oleh Rine kalau ia sedang memperhatikannya. Rine makin curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, Rine datang lebih awal. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa orang misterius yang mengirimi puzzle itu. Tapi, di tikungan koridor sekolah, ia melangkahkan kakinya ke kanan. Menuju kelas Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia belum datang rupanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine langsung berbalik. Ia harus buru-buru ngumpet di belakang kelasnya untuk memergoki si pengirim puzzle, takut kecolongan oleh mysterious guy itu. Tapi….&lt;br /&gt;Ups!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu! Itu kan Sandy! “Waduh, kecolongan lagi gue,” sesal Rine dalam hati.&lt;br /&gt;Rine berlari secepat kilat di koridor sekolah menuju kelasnya. Anak-anak yang sedang berjalan di depannya berhamburan takut tertabrak oleh Rine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir!!” teriak Rine dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini dia!” Ia kembali mendapatkan potongan puzzle di atas mejanya. “Gak salah lagi, gue yakin. Pasti Sandy. Pasti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Payah, harusnya tadi gue nggak usah ke kelasnya. Lagi-lagi gue kecolongan. Pokoknya nanti siang, gue bakal nemuin dia. Harus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kalian kerjakan soal ulangan di samping kanan monitor kalian masing-masing. Soal ini agak sulit. Makanya, kerjakan dengan teliti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara membosankan Pak Budi masih saja menggelegar. Padahal, bel pulang lima menit lagi. Tapi ia tetap saja memberikan ulangan. Sesekali Rine melirik jam Seiko-nya. Kalau gak cepat keluar, nanti Sandy keburu pulang. Ia makin cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, udah mau pulang nih. Ulangannya buat pe-er aja ya?” protes Riki yang memiliki tubuh kutilang-hitam alias kurus tinggi langsing dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana ada sejarahnya, ulangan dijadikan pe-er. Cepat kerjakan. Kalau protes…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita protes, nanti bapak marah, ya? Nanti kalo bapak marah, bapak gak mau ngajar, kan? Nanti kalo gak mau ngajar, bapak pulang. Terus, kita juga pulang deh! Iya kan?” potong Ade konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush! Kalau kalian protes. Saya akan nambah soal ulangan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, bapak… saya kan harus pulang cepat. Nenek saya ulang tahun…” jawab Ade. Anak yang satu ini memang kelewatan ngeyel-nya. Pak Budi diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak di kelas Rine memang sudah biasa menjaili Pak Budi. Guru komputer ini usianya hanya seperempat abad, makanya anak-anak suka rada nggak sopan sama guru itu. Benar juga sih kata Rine. Pak Budi ini memang agak nyebelin. Suka sok galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam sudah menunjuk angka jam 13.30, kelas Rine masih belum bubar. Rine benar-benar kesal setengah mati. Terutama sama Pak Budi. Dia gak mau harus nunggu hari esok untuk menemui Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Selesai. Waktu sudah habis. Simpan file kalian di folder masing-masing. Jangan lupa turn off komputernya,” ucap Pak Budi tepat pukul 13.45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi, gue duluan, ya.” Rine menyambar tasnya. “Mudah-mudahan saja dia belum pulang”. Rine berlari secepat mungkin. Dari kejauhan ada suara memanggil-manggil namanya. Rine menengok ke belakang sambil setengah berlari. Ia melihat Pak Budi melambaikan tangannya, memanggilnya. Mungkin ia akan menghukum Rine, karena kelas belum dibubarkan, dia sudah ngibrit duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodo’ ah!” ucap Rine sambil mempercepat larinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 06.55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh… kenapa harus kesiangan sih di saat genting kayak gini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pasti potongan puzzle itu udah ada di atas meja. Tuh orang bener-bener udah sukses ngebuat gue penasaran setengah mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Potongan puzzle berikutnya sudah ada di atas meja. Rine berlari menuju kelas Sandy. Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei kamu, hati-hati dong kalau jalan.” Badan tinggi Pak Budi terlihat seperti raksasa oleh Rine yang terjatuh di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine bangkit dari lantai. Seragam putihnya kotor menyapu lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, Pak! Lagian, bapak ngapain berdiri di depan pintu? Ngalangin jalan aja. Kalau ketabrak, kan bukan salah saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu, bukannya minta maaf,” Pak Budi ngomel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, gak kebalik, Pak? Kan saya yang jatuh?” balas Rine makin nyolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buruan minta maaf!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine tak mendengar ucapan Pak Budi setelah teringat kalo dia harus nemuin Sandy. &lt;br /&gt;Rine berlari meninggalkan Pak Budi yang masih ngomel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, minta maaf dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak sempat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa sih tuh guru? Sok galak banget. Sok berwibawa banget. Nyebelin banget. Ngerasa jadi orang paling ganteng banget. Dasar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandy mana?” tanya Rine pada laki-laki berkaca mata yang ia duga sebagai teman sekelasnya Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak masuk,” jawabnya singkat sambil membetulkan kacamata silindernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, tengkyu!” Rine menepuk bahu laki-laki itu lalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial! Kenapa dia gak masuk? Eh, tunggu dulu! Hari ini dia gak masuk, tapi potongan puzzle itu tetap dikirim. Kok bisa? Aduh, gue jadi makin bingung. Jangan-jangan, emang bukan dia lagi. Tapi, feeling gue yakin banget kalo itu dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari keseratus Rine mendapatkan puzzle misterius itu. Tapi, sampai jam istirahat ini, potongan puzzle keseratus itu belum juga datang. Rine dan Andi menyusun potongan-potongan puzzle itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine sudah tidak mengintai Sandy lagi. Dia takut keGeEr-an. Makanya, sebelum dia salah sangka lebih jauh sama Sandy, dia memutuskan untuk berhenti menyelidikinya. Toh, potongan puzzle itu tetap terkirim. “Nanti juga ketahuan siapa pengirimnya,” ucapnya. “Lagi pula, dia juga gak ngasih sinyal pedekate ke gue. Ngapain gue sibuk-sibuk mikirin dia yang gak ketahuan rimbanya, padahal Valentine udah deket, mendingan gue cari yang lain,” ucapnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi, yang itu salah! Di sini nih tempatnya,” ucap Rine sambil mencopot potongan puzzle yang dipasang oleh Andini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye... elu juga salah, yang ini terbalik. Nih, kayak gini.” Andi membetulkan potongan puzzle Rine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, perut gue haus nih!” ujar Rine ngaco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenggorokan gue juga laper!” balas Andi makin ngaco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah elo, ikut-ikut aja! Ke kantin dulu, yuk! Ntar disambung lagi,” usul Rine.&lt;br /&gt;“Ah, jangan! Gimana kalo nanti disambung lagi, sekarang kita ke kantin dulu!”&lt;br /&gt;“Emang susah ngomong sama orang susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine dan Andi melangkahkan kakinya ke kantin. Setelah menghabiskan dua mangkuk bakso dan tiga gelas es teh manis mereka kembali ke kelas. Sepertinya mereka sangat penasaran dengan gambar puzzle yang menyerupai hati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, tunggu! Tunggu! Itu kan Sandy,” telunjuk Andi menunjuk pria pemilik tubuh seratus enam puluh lima senti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elu gak mau nyelidikin dia lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, gara-gara gue sibuk nyelidikin dia, gue gak bisa TP ke mana-mana. Lu liat kan, gue masih jomblo. Padahal Valentine sebentar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine menengok ke sebelahnya. Ternyata yang diajak bicara sudah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi berlari menuju kelas. Ia melihat Sandy sudah ada dekat mejanya, dan meja Rine juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandy!” panggil Andi. Sandy kalang-kabut. Tangannya yang sejak tadi sibuk merogoh saku celana, langsung ia keluarkan. Satu potongan puzzle jatuh dari sakunya. Tapi, ia tidak menyadari. Sandy buru-buru pergi. Andi masih terbengong melihat potongan puzzle itu jatuh dari saku Sandy. Ia meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Rine sibuk mencari-cari Andi. “Kemana sih tuh anak ngilangnya. Ke toilet kali. Ah, masa iya, baru diisi udah keluar lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rine masuk ke kelas. Dia melihat sosok Sandy yang sedang terburu-buru keluar kelas. Sandy hampir saja menabrak Rine. ”Ngapain dia?,” tanya Rine dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rine! Rine! Ke sini!” suara Andi melengking dari bangku paling belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elu dari mana sih, gue cari-cari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, udah deh, gak sempet kasih alasan. Lu liat ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu? Itu kan potongan puzzle”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali! Ini potongan puzzle keseratus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud loe? Jangan bilang Sandy…” ucap Rine sambil mengambil potongan puzzle itu dari tangan Andi lalu memasangnya. Puzzle itu membentuk gambar hati merah jambu bertuliskan LOVE di tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah, ayo kita kejar!” Andi menarik tangan Rine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Males ah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loe nggak mau ngejomblo lagi, kan?” Ancam Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok! Ok! Tapi, nanti aja pulang sekolah,” jawab Rine malas. “Udah, sekarang anterin gue dulu ke Lab Komputer. Flash disk gue ketinggalan di sana.” Gantian, Rine yang menarik tangan Andi. Andi jadi lesu, “Payah, padahal ini episode paling seru,” batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kenapa bisa ketahuan? Saya kan sudah bilang sama kamu, hati-hati, jangan sampai ketahuan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Pak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Budi? Sandy?,” ucap Rine dan Andi dalam hati. Mereka saling memandang. Sepertinya mereka masing-masing sudah tahu jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-9142286794673451698?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/9142286794673451698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/11/seratus-potong-puzzle.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/9142286794673451698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/9142286794673451698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/11/seratus-potong-puzzle.html' title='Seratus Potong Puzzle'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Su-t-I1louI/AAAAAAAAACo/4ECHJfDbv8c/s72-c/PUZZLE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4542437111155605700</id><published>2009-11-02T19:55:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T18:09:47.283-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Guruku Tampan Sekali</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Denny Prabowo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://anekayess-online.com/cerpen/article.php?article_id=3390&amp;_page=0"&gt;anekayess-online.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh cinta itu soal biasa. Tidak haram hukumnya. Yang haram itu kalau kita salah mengekspresikannya. Puasa aja kalaudilaksanakan pas hari raya lebaran jelas-jelas ibadah yang diharamkan! Tapi buat Arinda jadi tidak biasa. Agak sedikit di luar kebiasaan anak-anak remaja seusianya. Pasalnya, dia jatuh cinta sama guru matematikanya! Gila!!! Sebagian orang pasti akan berkata begitu. Begitulah cinta, tidak punya mata. Dia datang begitu saja tanpa diundang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Andi guru matematika yang baru mengajar di sekolah Arinda sejak dua bulan yang lalu—yang kalau dilihat dari tampangnya, usianya tidak lebih tua dari ibunda Arinda itu, punya alis tebal di atas kedua matanya yang memancarkan wibawa. Hidungnya mancung. Kumisnya tipis. Dagunya lancip. Perawakannya tinggi. Berkulit putih bersih. Yah… kalau dijejerin sama Ari Wibowo aja sih, gak kalah-kalah amat. Mungkin itu pula yang menyebabkan nilai matematika siswi-siswi di kelas 3 IPA 2 meningkat pesat. Terutama Arinda. Padahal, waktu mata pelajaran itu dipegang Bu Jamilah yang judesnya nauzubillah, nilai ulangannya selalu tidak lebih dari lima. Tapi setelah dipegang oleh Pak Andi, belum pernah nilai ulangannya mendapatkan nilai di bawah 8. Fantastis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkenang di benak siswi kelas 3 es-em-u itu, ketika pertama kali Pak Andi menjejakkan kaki di kelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gile… gue kira ada artis sinetron yang nyasar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak taunya guru baru!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar semacam itu segera saja berhamburan dari mulut para kaum Hawa di kelas itu. Dan Arinda bukan satu-satunya siswi yang matanya dibuat terbelalak oleh ketampanan guru baru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… kalo sama yang ini mah, nilai ulangan gue bisa dapat 10 terus!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, kesan pertama itu begitu dalam tertanam di dalam lubuk hati Arinda. Ia yang sejak dulu alergi sama matematika, jadi sangat menggemari pelajaran yang banyak dibenci anak-anak sekolah itu (Dengan catatan: Pak Andi yang mengajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih, kiat kamu bisa mendongkrak nilai ulangan-ulangan matematika? Padahal, semua orang juga tau, kalau elo paling alergi sama pelajaran ini,” tanya Rayya, teman sebangkunya ketika melihat lagi-lagi angka sembilan yang menghias lembar ulangan matematika Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua berkat Pak Andi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Andi?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak guru itu mengajar, aku jadi tertarik sama pelajaran matematika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama pelajarannya, atau sama gurunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You know-lah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu naksir sama guru tampan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku naksir kamu, itu baru gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia kan guru kita. Kalo kagum aja sih, aku maklum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aku tanya sama kamu… Apa ada cowok di sekolah ini yang mampu menandingi ketampanan beliau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak ada kan?” potong Arinda, “Kalau begitu, nggak ada alasan buat aku untuk tidak jatuh cinta sama guru tampan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tetap aja, hal itu nggak etis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo Pak Andi sudah menikah, gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi gosipnya dia belum beristri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa aja gosip itu salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rela jadi istri keduanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istighfar, Non!” Rayya mengingatkannya. Tapi Arinda tak menggubris kata-kata teman sebangkunya. Gadis itu sudah terlanjur asyik dengan bayangan wajah tampan guru matematikanya. Rayya hanya bisa geleng-geleng kepala.Suatu hari, Arinda nekat bertandang ke rumah Pak Andi ditemeni Rayya. Pak Andi menerima mereka di ruang tamu. Kebetulan saat itu dia sedang memeriksa hasil ulangan matematika kelas tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada keperluan apa, Rin?” tanya Pak Andi setelah mempersilahkan mereka duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau bantu Pak Andi memeriksa kertas-kertas jawaban,” Arinda memberikan alasan sambil melirik ke arah Rayya. Yang dilirik cuma mesem-mesem saja.Pak Andi tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh kan, Pak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aja. Rayya sekalian bantu juga nggak apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar ya, Bapak ambilkan kalian minuman dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… gak usah repot-repot, Pak,” Arinda berbasa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, nggak kok. Cuma air putih dingin aja.” Pak Andi masuk ke dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebenarnya, kedatangan mereka ke tempat itu, karena ada misi khusus berkaitan dengan pertanyaan Rayya tentang status Pak Andi yang mungkin saja sudah menikah. Arinda datang ke tempat itu untuk mencari tahu jawabannya. Makanya, sejak tiba di rumah itu, Arinda terus saja celingukan meneliti dinding-dinding di ruangan itu. Tapi Arinda tidak menemukan ada foto keluarga yang terpajang di dinding-dinding rumah itu. Berarti gosip kalau guru tampan itu belum bersitri benar adanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sepertinya Pak Andi masih sendiri, deh,” bisik Arinda menyikut ringan lengan Rayya yang mulai konsentrasi dengan kertas-kertas jawaban di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodo, ah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andi keluar dengan membawa dua gelas minuman dan sepiring penuh goreng-gorengan. Dia meletakkan di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istrinya mana, Pak?” ucap Arinda hati-hati, “Kok nggak dikenalin sama kita-kita?”&lt;br /&gt;Rayya langsung menginjak telapak kaki Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adaaauuuww!” Arinda melirik tajam ke arah Rayya yang duduk di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Rin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… nggak apa-apa kok, Pak. Saya cuma ngerasa, tiba-tiba saja kaki saya seperti diinjak sama kaki gajah!” jawab Arinda sambil tersenyum meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu ada-ada aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Bapak belum jawab pertanyaan saya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Rayya bermaksud menginjak kaki temannya yang sudah dibutakan oleh cinta itu. Tapi kali ini Arinda sudah lebih siap. Dan berhasil mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wue… gak kena!” Pak Andi tertawa melihat tingkah kedua muridnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak memang belum menikah, kok. Habis nggak ada yang mau, sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau, Pak! Kalimat itu terlontar di dalam hati Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya gak percaya kalau nggak ada wanita yang mau jadi istri Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja sorot mata Pak Andi seperti menerawang jauh. Entah ke mana. Mungkin ke masa mudanya. Dan Arinda menemukan ada kesedihan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Pak?” tegur Arinda membuyarkan lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, eh… ngg… Bapak lagi teringat dengan masa lalu,” kata Pak Andi agak gugup.&lt;br /&gt;“Cerita dong, Pak!” todong Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tuh lancang banget, deh!” Rayya sudah tidak tahan dengan sikap Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yee… sekedar mau tau gak pa pa, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andi tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu…” guru tampan itu mulai bercerita, “bapak pernah hampir menikah. Tapi gagal.&lt;br /&gt;Orangtua laki-laki calon istri Bapak nggak setuju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alasannya kenapa, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alasannya, Bapak hanya seorang guru yang gak punya masa depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, kok picik amat, sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah… semua orangtua kan selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus… Bapak nggak coba cari lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andi menggelengkan kepala. Lemah. “Sampai sekarang Bapak belum bisa melupakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak cinta banget ya, sama dia?” Arinda kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kok jadi ngomongin masa lalu, sih? Nanti meriksa kertas jawabannya jadi gak selesai-selesai.” Pak Andi berusaha mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kamu tahu di mana Bapak bisa menjahitkan kemeja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… kebetulan,” Arinda girang, “ibu saya seorang penjahit, Pak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… Bapak bisa minta discount , dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang aja, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ayah kamu, kerja di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah saya udah nggak ada, Pak. Sudah meninggal dunia. Saya aja gak pernah sempat melihatnya. Waktu itu saya masih dalam kandungan ibu saya. Setelah kematian ayah saya, ibu saya gak mau menikah lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu kamu pasti sangat mencintai ayah kamu, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau itu saya agak ragu, Pak. Soalnya ibu saya pernah cerita, kalau pernikahannya dengan ayah saya karena dipaksa oleh orang tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andi mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kapan Bapak mau mengantarkan bahan kemeja ke rumah saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arinda jadi sewot berat gara-gara Pak Andi tidak masuk kelas hari itu. Padahal, kemarin Pak Andi mengatakan ingin main ke rumahnya. Sehari saja tidak melihat guru tampannya, rasanya hidup jadi kehilangan gairah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh… sampe segitunya,” goda Rayya, “Baru juga gak ngeliat sehari, udah kehilangan gairah. Apalagi kalo sampai ditinggal menikah sama Pak Andi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan beliau sakit…” Arinda cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo sakit, biasanya dia nitipin tugas ke guru piket. Jangan-jangan, waktu berangkat ke sekolah tadi, dia kecantol sama seorang wanita, dan langsung menikah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, gak lucu tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, bisa aja kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Rayya itu semakin membuat hati Arinda menjadi gelisah. Dan kegelisahannya itu semakin menjadi-jadi tatkala sampai bel pulang berbunyi, Pak Andi tidak juga kunjung datang ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Antar aku ke rumahnya Pak Andi, yuk?” mohon Arinda kepada Rayya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu serius suka sama Pak Andi, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arinda mengangguk lemah. Rayya prihatin melihat temannya yang sedang terjangkit virus cinta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani Rayya, Arinda pergi ke rumah Pak Andi. Tapi pintu rumahnya terkunci. Pak Andi tidak ada di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi pagi berangkat ke sekolah kok,” jawab tetangga di sebelah rumahnya, waktu Arinda menanyakan prihal Pak Andi kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh kan, Rin… jangan-jangan yang aku omongin benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Andi kecantol seorang wanita waktu berangkat ke sekolah, dan…” Rayya urung melanjutkan kalimatnya saat melihat Arinda siap melayangkan cubitan ketubuhnya. Teman sebangkunya itu hanya meringis tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Arinda melangkah pulang ke rumah dengan hati kecewa. Di depan pintu pagar rumahnya langkahnya terhenti. Dari tempatnya berdiri dia mendengar suara tawa seorang pria di dalam rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti suara…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arinda Tersenyum. Dia segera berlari ke dalam rumahnya. Dan menemukan Pak Andi tengah berbincang akrab dengan ibunya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Rinda… kamu sudah pulang, Nak?” tanya ibunya begitu melihat anaknya datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu sepertinya sudah kenal baik sama Pak Andi?” selidik Arinda penuh curiga melihat keakraban mereka. Pak Andi dan ibunya saling bertukar pandang, membuat Arinda semakin curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arinda masih ingat cerita Bapak tempo hari waktu kamu main ke rumah Bapak dengan Rayya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arinda berusaha mengingat-ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lho, tentang wanita yang gagal Bapak nikahi gara-gara orangtuanya nggak setuju karena Bapak hanya seorang guru yang nggak punya masa depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang sudah nggak ada lagi yang mengahalangi kami untuk menikah,” Kata Pak Andi melirik ke arah ibunya Arinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Bapak apa, sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita itu sudah menerima pinangan Bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak mau menikah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sih wanita itu, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibumu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HAH…?!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, Pak Andi resmi menjadi bapak tiri Arinda!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4542437111155605700?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4542437111155605700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/11/guruku-tampan-sekali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4542437111155605700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4542437111155605700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/11/guruku-tampan-sekali.html' title='Guruku Tampan Sekali'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-115960172122116104</id><published>2009-10-28T23:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T23:40:34.718-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Radio Misteri</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTEBING%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="IN"&gt;Cerpen Agustiyana&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Selamat malam, selamat jumpa lagi dengan saya, Melinda di Kisah Misteri radio kesayangan kita Mustang, 102,5 FM Jakarta. Kepada para sobat sekalian, apa kabar? Sudah seminggu tidak berjumpa pasti sudah menanti-nanti kisah-kisah apa lagi yang akan bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Baiklah langsung saja, ditangan saya sudah ada selembar surat yang datang dari Rani di Bogor. Begini ceritanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya Rani, siswi SMAN 1 Bogor. Di samping rumah saya ada rumah kontrakan milik orang tua saya. Biasanya jika keluar rumah, maka saya akan selalu melewatinya. Suatu siang ketika pulang sekolah, saya lewat di depan rumah tersebut dan saya melihat seorang bapak yang memang tinggal disana sedang menyapu halaman. Bapak itu menoleh pada saya dan tersenyum. Saya pun membalas senyumnya dan berlalu pergi. Sore harinya ibu memberitahu saya kalau bapak yang mengontrak pada kami itu meninggal tadi pagi akibat serangan jantung. Saya sangat terkejut. Tiba-tiba saya merinding. Lalu siapa yang saya sapa tadi siang? Ketika saya melewati rumah yang sudah kosong itu, saya merinding sekali. Sampai saat ini, saya tetap tidak tahu siapa yang saya alami siang itu…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Woi, Kinan, serius banget dengerinnya.” Dian menepuk pundakku membuatku terperanjat. Astagfirullah, lirihku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ku tatap dia tajam, dia cuma nyengir seraya duduk di atas tempat tidur. Tega sekali dia mengejutkanku seperti itu. Kupalingkan tatapanku kembali ke radio, ceritanya lagi seru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku heran sama kamu, ngakunya anak Rohis, pake jilbab lebar, rajin ngaji, tapi kok masih suka aja dengerin yang begituan.” Omel Dian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tak menggubrisnya. Sudah biasa. Paling-paling setelah itu dia tidur. Memang untuk kebiasaan yang satu ini dia paling antipati. Mungkin karena dia tidak suka dengan cerita horror. Katanya dia takut kalau-kalau nanti jika dia mendengar atau menonton film horror, ketakutannya pada hantu lebih besar dari ketakutannya pada Allah SWT. Bukankah itu sama saja dengan syirik. Ya, aku juga berfikiran yang sama, tapi aku orang yang tidak takut hal-hal seperti itu. Mungkin karena terbiasa di rumah dulu sering mendengar tawa-tawa aneh setiap malam dari pohon kecapi di dekat rumah. Kata ibu, itu suara salah satu setan, kuntilanak. Aku memang tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi itu bukan masalah. Toh aku tidak mengganggu mereka, jadi mereka pasti tidak akan menggangguku. Untuk mereka dunia mereka, untukku duniaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Eh gimana semalam, seru-seru ya ceritanya!?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku yang baru datang langsung nimbrung pada kerumunan teman-teman yang sehobi denganku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, dari cerita pertama sampai yang terakhir benar-benar membuatku merinding.” Seru Mega seraya mengusap-usap lengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku paling suka sama cerita tukang nasi goreng di komplek perumahan itu lho.” Kata Tyas bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya..iya.. aku tahu, yang pembelinya itu gak balik-balik buat bayarkan. Yang pas dia samperin rumahnya ternyata rumah kosong. Padahal katanya dia ngeliat bener ada banyak orang di depan rumah itu.” Lanjut Indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami terus mengobrol hingga bel masuk berbunyi. Segera aku duduk di sebelah Dian. Pagi ini diawali dengan pelajaran Biologi Pak Burhan. Biasanya beliau akan telat sekitar 15 menit karena harus piket keliling sekolah dulu untuk mengecek barangkali masih ada anak yang berkeliaran di luar kelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kinan, kurasa daripada kamu asyik-asyikkan cerita seram kayak gitu, lebih baik kamu ajak mereka untuk diskusi tentang hal-hal seperti itu. Bukankah mbak Dewi pernah memberikan kita materi tentang hal-hal gaib dan bagaimana cara penyikapannya. Kurasa itu akan lebih bermanfaat untuk mereka ketimbang cuma saling cerita kayak tadi.” Dian menoleh padaku. Alisnya terangkat pertanda menunggu responku.&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, kamu benar juga. Selama ini aku cuma ngeramein obrolan doang. Habis asyik sih. Tapi kalau semua jadi sia-sia kayaknya juga gak bagus. Akukan akan Rohis dan aku ngaji juga, makanya sudah seharusnya aku bagi-bagi ilmu sama yang lain, iyakan?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Yup, bener banget. Kita coba untuk terus berbagi ilmu yang kita dapat. Bukankah Rasulullah saw juga mengajarkan bahwa sampaikanlah ilmu Allah walau hanya satu ayat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Benar! Makasih ya Dian atas pengingatannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami sama-sama tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku beruntung bisa berteman dengan Dian. Sebenarnya kami baru kenal sejak penerimaan siswa baru satu setengah tahun yang lalu. Aku dan dia sama-sama dari daerah dan berniat untuk ngekos disini. Mungkin karena dia keturunan asli Solo, makanya sikapnya dalam menghadapi sesuatu selalu sabar dan lembut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malam ini aku sudah duduk di dekat satu-satunya hiburan kami di kamar yang berbentuk persegi panjang ini. Hanya ada satu tempat tidur di dekat jendela yang berselimutkan sepray warna biru, warna kesukaan kami serta dua bantal. Ada juga lemari kecil tempat kami menyimpan pakaian berhadapan dengan tempat tidur. Tepatnya di samping pintu. Kami juga memiliki meja belajar di samping tempat tidur yang tingginya hanya sampai pinggang kami.Buku-buku pelajaran tertata dengan baik disana. Jika kami sedang belajar, maka suasana luar akan terlihat jelas dan yang paling kami sukai adalah angin sore yang lembut memainkan tirai putih tipis yang menggantung menutupi jendela. Membuat suasana nyaman di kamar kami. Namun malam ini cuaca sedang mendung sehingga angin diluar berhembus dingin sekali. Jadi kami menutup rapat jendela itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lima menit lagi jam sepuluh, artinya acara kesukaanku akan dimulai. Aku duduk dilantai bersender di tembok di samping meja belajar, karena hanya disana stop kontak itu menetap. Radio kuletakkan di atas kursi kecil di depan meja belajar agar aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Ku selonjorkan kakiku hingga masuk ke bawah tempat tidur. Karena kamarnya yang kecil sehingga kakiku pun harus rela berada di bawah tempat tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Selamat malam pendengar radio Mustang yang berbahagia, kembali hadir bersama Melinda di Kisah Misteri radio Mustang, 102,5 FM Jakarta. Wah, pendengar, banyak cerita-cerita menarik yang masuk ke redaksi Mustang. Kami harap cerita-cerita ini bisa menghibur kita semua di malam jum’at yang bertepatan dengan jum’at kliwon ini. Hiiiihhh… makin seram aja ya.” Seru penyiar Mustang itu semangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dian sedang membaca novel di atas kasur. Dia tidak lagi celoteh atas hobiku ini, karena niatku sudah lurus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Cerita-cerita dari Mustang kali ini sedikit lebih menyeramkan dari yang lalu. Ada saja orang yang mengalami hal-hal seperti itu. Tepat pukul 11, tiba-tiba saja suara penyiar yang sedang berkoar-koar tak terdengar dari radio. Ku ketuk-ketuk radionya, siapa tahu radioku rusak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kamu ngapain sih Kin? Kenapa radionya dipukul-pukul seperti itu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dian meletakkan novelnya di atas kasur dan mendekatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku gak tahu kenapa. Tiba-tiba saja suaranya gak ada. Apa radionya rusak ya?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terus kuketuk pelan hingga suaranya muncul lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Alhamdulillah, dah bisa tuh.” Seruku senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dian memanyunkan bibirnya melihat tingkahku. Dia melanjutkan lagi bacaannya, tapi bukan di atas kasur, tapi duduk di sebelahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suara yang keluar dari radio itu begitu lemah. Bukan, bukan suara Melinda, sepertinya ada telepon yang masuk. Tapi dari siapa ya?. Ini pasti karena mati tadi, makanya aku gak tahu siapa yang telpon. Ku dekatkan telinga ke &lt;i&gt;speaker&lt;/i&gt; radio agar bisa lebih jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Saya…saya…hiks…hiks…tolong saya. Saya sendirian disini. Pengap, bau. Saya tidak bisa menggerakkan badan saya. Saya takut sekali. Tolong saya…” suara itu begitu lirih. Sesekali terdengar sesegukannya. Kira-kira siapa wanita ini ya? Kenapa dia minta tolong?. Ku dengarkan lagi dengan seksama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Saya takut sekali. Tolong… saya tidak mau disini. Saya sendirian. Tangan saya tidak bisa digerakkan. Disini dingin. Tubuh saya beku. Tolong saya…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Huusss… tiba-tiba saja angin dingin menyergapi badanku. Entah kenapa. Bulu kudukku berdiri semua. “Astaghfirullah, kenapa ini?” lirihku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kenapa ya Kin, kok tiba-tiba udara jadi dingin gini? Aku merinding nih.” Kata Dian. Tatapannya berkeliling sambil merangkul lengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Padahal jendela kamar ini tertutup rapat. Kipas angin juga tidak menyala, tapi kenapa rasanya dingin sekali. Aku kurang suka jika bulu kudukku merinding. Rasanya seperti…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku juga gak tahu. Aku lagi asyik-asyik dengar orang yang lagi nelpon di radio, tapi tiba-tiba udara jadi dingin gini. Aku juga merinding banget. Tapi anehnya, yang nelpon kali ini malah minta tolong. Memangnya kenapa ya sama dia?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Walau tak fokus, samar-samar aku juga dengar suara di radio itu. Siapa sih dia?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku menggeleng. Kembali kufokuskan telinga pada suara itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tolong…tolong saya. Sore tadi saya baru saja dari mall depok. Ketika saya berjalan pulang, tiba-tiba saja kepala saya dipukul dan saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tolong saya… saya tidak tahu ada dimana sekarang… disini pengap…pengap sekali…hiks… Dingin, dingin sekali… tolong saya, saya takut…hiks…saya takut sekali…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tiba-tiba suasana jadi sunyi sekali. Tak ada lagi suara yang muncul dari radio, tapi bulu kudukku masih berdiri. Ku coba untuk menahannya dengan berdzikir. Jantungku berdetak cepat. Tak lama suasana kembali seperti semula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Alhamdulillah, “dia” sudah pergi.” Kataku. Nafasku kembali lega.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksudmu apa Kin? Dia siapa?” Tanya Dian bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ups, yang kumaksudkan ya “dia”, pokoknya yang membuat kami merinding tadilah. Tapi jika kuberitahu Dian, nanti dia jadi panik lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tersenyum. “Gak kok, gak apa-apa.” Ku fokuskan lagi pendengaranku ke suara yang tiba-tiba hilang itu. “Kenapa suaranya hilang lagi ya?” tanyaku mengalihkan perhatian. Kuketuk lagi radionya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Oya, masa sih.” Dian ikutan mengetuk radio itu. Tak lama ada suara lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aneh ya, biasanya juga radio ini baik-baik saja, kenapa sekarang jadi gak bener gini?!” lanjut Dian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku gak tahu, tapi sekarangkan dah benar lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maaf sobat pendengar Kisah Misteri Radio Mustang. Ada sedikit kerusakan jaringan tadi sekitar 10 menit. Maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi kini kita bisa kembali melanjutkan acara kita. Sepertinya sudah ada telepon, baiklah bagi penelepon pertama ini, nanti kami akan putarkan lagu yang Anda suka. Hallo!!..”penyiar itu berkoar-koar lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku jadi bingung. Kenapa penyiar itu bicara begitu? Lalu yang tadi apa??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Esoknya kelasku heboh, tidak maksudku kumpulan teman Kisah misteriku. Rupanya mereka juga bertanya-tanya sepertiku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku mendekati mereka yang sedang berkumpul di luar kelas setelah meletakkan tas di bangku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Semalam aneh banget ya. Kok bisa begitu?” kata Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku juga gak tahu. Tapi siapa sih yang nelpon? Aku gak dengar lho pas dia nyebutin nama. Radioku tiba-tiba rusak. Padahal baru saja kuganti yang baru.” Seru Indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Jadi radiomu juga rusak, soalnya aku juga.” Kataku menambahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami terus membahas kenapa bisa jadi aneh semalam tadi, sampai-sampai teman-temanku berakhir pada satu kesimpulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Jangan-jangan dia hantu.” Celetuk Mega.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami semua menatapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ah, gak mungkin, masa’ bisa begitu.” Sangkalku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, aku juga berfikir begitu. Pasti itu hantu. Habis aku merinding banget semalam.” Kata Tyas menambahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suasana sedikit menegang. Ketika aku ingin menyangkal lagi, Indah sudah mendahuluiku yang membuat suasana jadi tidak terkendali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, aku yakin itu pasti hantu. Omku yang penyiar itu pernah cerita kalau dia pernah dapat telpon serupa, setelah ditelusuri, penelponnya itu ternyata sudah meninggal dunia.” Jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Eh, jangan ambil kesimpulan seperti itu dulu dong.” Pintaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tapi semua petunjuk mengarah kesana Kinan. Sama seperti yang Omku ceritakan. Dia sangat merinding ketika menerima telepon tersebut.” Sengit Indah tak mau kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya tapikan…” aku ingin menjelaskan lagi, tapi sudah keburu dipotong oleh Tyas dengan ide bodohnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Gimana kalau kita buktiin kebenarannya.” Seru Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksudmu?” Tanya Indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksudku, ntar pas pulang sekolah, kita jangan pulang dulu. Kita sembunyi dulu di kamar mandi atau dimana kek, yang pasti jangan sampai kita ketahuan masih disini. Habis itu kita kumpul lagi dikelas untuk memanggil cewek itu.” Bisik Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku terkejut. Aku sudah tahu maksud Tyas ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksudmu kita main Jelangkung gitu?!” Tanya Mega menegaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sssttt… Iya.” Tyas buru-buru membekap mulut Mega. Kepalanya celingukan takut-takut ada yang mendengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Nggak, nggak boleh!! Kita gak boleh melakukan hal-hal seperti itu.” Tolakku tegas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ah, kamu takut nih. Kamukan berjilbab, sering ngaji pula, masak sama yang beginian aja takut. Bukannya malah hantu takut sama kamu.”kata Tyas sinis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Astaghfirullah, ya Allah. Bukan begitu Tyas. Bukan masalah aku takut atau nggak. Tapi masalahnya jika kita melakukan hal seperti itu maka pasti bisa terjadi hal-hal yang gak kita inginkan. Kita gak boleh main-main sama hal-hal gaib seperti itu. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Kita hanya disuruh untuk meyakininya, bukan untuk menelusurinya. Akibatnya bisa sangat buruk apalagi jika ketahuan sama pihak sekolah.” Jelasku. Kuharap mereka mau mengubah pikiran mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sudahlah Kinan, kalau kamu memang gak setuju, ya sudah gak usah ikut. Biar kita-kita saja yang melakukannya. Biar kita-kita saja yang menemukan kebenarannya.” Kata indah yang membuatku begitu terkejut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masya Allah, teman-temanku. “Tapi Indah…” kata-kataku terpotong oleh bel masuk. Mereka buru-buru masuk meninggalkanku sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku berjalan masuk ke kelas dengan lesu. Segera aku duduk di sebelah Dian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ada apa Kinan?” Dian pasti ingin tahu kenapa aku jadi lesu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak boleh, aku tidak boleh membiarkannya begitu saja. Kuceritakan semuanya kepada Dian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Masya Allah, masa’ sih Kin?!” seru Dian tak percaya. “Kita harus menghentikannya. Gak boleh kita biarkan begitu saja.” Tambahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, aku tahu. Nanti pulang sekolah, jangan pulang dulu ya. Kita lihat mereka dulu. Jika mereka masih nekat, baru kita bertindak.” Seruku mantap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ya Allah, jangan biarkan teman-temanku melakukan hal bodoh seperti itu. Lindungilah mereka, do’aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti rencana kami tadi, aku dan Dian ikut-ikutan bersembunyi. Setelah sekolah benar-benar sepi, baru kami keluar. Kami mencari mereka di kelas kami, tapi mereka tidak ada. Kuharap mereka tidak jadi melaksanakan niat mereka, tapi lalu tiba-tiba Dian menarikku ke kelas yang ada di pojok sekolah. Kelas yang memang tertutup oleh pohon besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perkiraanku meleset. Mereka tetap melaksanakan niatnya. Astagfirullah, apa yang mereka lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku dan Dian segera masuk ke kelas tersebut. Kami melihat Tyas, Indah, dan Mega yang berdiri di depan kelas dan melingkari sebuah meja. Suasana kelas yang sedikit gelap karena cahaya matahari yang sedikit masuk, ditambah waktu yang menunjukkan matahari akan segera tenggelam membuatku sedikit cemas. Ada selusup rasa takut yang bermain dihatiku. Dian menggenggam tanganku. Kurasa dia merasakan hal yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tyas, kamu apa-apaan sih. Ku kira kalian tidak jadi melakukannya.” Kataku sedikit berteriak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mereka tak menggubrisku. Dari mulut mereka keluar lafal-lafal yang aneh. Kulihat di atas meja yang mereka kelilingi ada selembar kertas dengan huruf-huruf abjad yang menghiasinya. Ada koin juga di atasnya dan ketiga jari mereka menempel di atas koin tersebut. Masya Allah, ini sudah syirik namanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Indah, Mega, berhenti!” teriakku. Aku ingin mendekati mereka, tetapi ada rasa enggan menyelimuti kakiku. Rasanya tubuhku terpaku oleh rasa takutku sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Mereka terus melafalkan kalimat-kalimat itu. Tiba-tiba saja kulihat koinnya bergerak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Genggaman Dian semakin erat. Kudengar dia berdo’a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya Allah, lindungilah kami. Jangan biarkan hal-hal yang tak mampu kami atasi terjadi pada kami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hawa tiba-tiba jadi dingin. Sama seperti yang aku rasakan di kamar semalam. Apa yang sesungguhnya terjadi?. Selusup rasa takut itu masih saja menggelayuti hatiku. Bulu kudukku merinding. Rasanya perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang sangat tidak menyenangkan menyelimutiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tyas, aku tidak mau melanjutkannya. Tiba-tiba aku merinding dan aku takut sekali.” Lirih Mega. Wajahnya pucat. Jarinya masih menempel pada koin yang bergerak perlahan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tapi kita sudah setengah jalan Mega. Sudahlah, beranikan dirimu!.” Bentak Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Indah dan Mega terkejut dengan bentakan Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku juga gak mau ngelanjutinnya Tyas. Aku mau udahan aja.” Indah hampir melepaskan jarinya dari koin yang langsung dicegah Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Indah, kamu apa-apaan sih! Jangan dilepas jarinya! Usaha kita hanya akan jadi percuma!” bentak Tyas lagi. Aku dan Dian ikutan terkejut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak lama setelah itu, tiba-tiba Tyas menegang dan pingsan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Astaghfirullah Tyas.” Teriakku. Keberanianku untuk bergerak muncul melihat temanku terkulai lemas seperti itu. Aku menghampirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Indah dan Mega berangkulan. Mereka sangat pucat ketakutan. Dian memeriksa nadi Tyas, karena dia juga anak PMR.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Nadinya pelan. Ayo kita harus mencoba untuk menyadarkannya. Kinan, coba tepuk-tepuk pipi Tyas. Indah, Mega, tolong kami, pijit-pijit tangan dan kaki Tyas. Mungkin saja ada aliran darah yang tidak lancar ke kepalanya. Aku akan mengangkat kakinya agar tidak sejajar dengan badan. Moga tak lama setelah ini Tyas bisa sadar.” Dian melepas sepatu dan kaus kaki Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku, Indah, dan Mega melakukan apa yang diminta Dian. Ku tepuk-tepuk pipinya Tyas seraya memanggil-manggil namanya. Memintanya beristighfar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tyas, bangun Tyas, istighfar Yas. Astaghfirullahaladzim…” lirihku, tapi Tyas tak juga bangun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Dian, kenapa tangan Tyas jadi dingin begini? Apa kalau orang pingsan tubuhnya jadi dingin?” Tanya Indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, kakinya juga.” Tambah Mega.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;begitu. Meskipun dalam keadaan pingsan, suhu tubuh kita tetap tidak akan turun sedrastis ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Tyas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku terus mencoba menyadarkan Tyas sampai tiba-tiba kulihat dia tersenyum. Aneh sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Masya Allah.” Lirihku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak, tidak hanya tersenyum, Tyas juga tertawa, walaw tidak kencang. Padahal matanya masih terpejam. Tubuhnya menggeliat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti orang yang memberontak. Indah dan Mega ketakutan. Mereka menjauh dari tubuh Tyas yang meronta. Aku memegangi pundaknya erat, sedang Dian memegangi kaki Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kinan, kurasa sesuatu terjadi pada Tyas. Kurasa dia kesurupan.” Kata Dian panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Masya Allah. Tyas. Dian, pegangi kaki Tyas. Tekan jempol kakinya kuat-kuat. Jangan lupa terus membaca ayat kursi atau surat Al-Fatihah. Indah, Mega, bantu kami. Tolong kalian bantu pegangi Tyas. Tapi jangan lupa untuk terus baca ayat kursi atau Al-Fatihah atau surat apapun yang kalian hapal. Pokoknya jangan sampai hati kalian kosong.”pintaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masya Allah Tyas. Kenapa bisa begini?. Aku terus memegangi pundak Tyas yang terus meronta. Dia berteriak-teriak dan terus memberontak. Tawanya begitu mengerikan. Aku tak suka mendengarnya. Membuatku sungguh takut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, Allah, tolonglah kami. Tolonglah teman kami ini.” Lirihku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tak tahu harus berbuat apa. Pengetahuanku terbatas untuk hal-hal seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kinan, kurasa kita gak akan bisa mengatasinya sendirian. Kita harus memanggil orang lain. Biar ku panggil Pak Ali agar membantu kita.” Usul Dian. Dia terlihat sangat kepayahan memegangi kaki Tyas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya, kamu benar. Cepat panggil Pak Ali.” Pintaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Mega, tolong gantikan posisiku. Tolong kamu tekan keras-keras jempol kaki Tyas. Jangan sampai lepas dan jangan pernah berhenti untuk berdzikir setakut apapun dirimu. Aku akan memanggil Pak Ali dulu.” Pinta Dian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mega langsung menggantikan posisi Dian. Walaw kulihat dia sangat takut, tapi aku sangat bangga padanya karena dia bisa bertindak cukup tenang dalam kondisi seperti ini. Indah juga. Dian segera keluar untuk mencari pak Ali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;“Tyas, kenapa jadi begini sih? Sadar dong Yas!” Indah menangis. Kulihat Mega juga hampir menangis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Indah, Mega, kita gak boleh lemah. Kita gak boleh nangis. Kita harus kuat. Insyaallah Tyas tidak akan kenapa-kenapa. Kita harus terus mendoakan kebaikan untuknya.” Padahal aku juga tak setegar mereka, tapi jika aku menunjukkan kelemahanku saat ini, maka siapa lagi yang akan menguatkan kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak lama Pak Ali, penjaga sekolah kami dan Dian datang bersamaan. Kulihat raut wajah beliau sangat cemas. Wajah keduanya basah, kurasa mereka sudah berwudhu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kinan, kamu ganti posisi dengan Dian. Dia sudah berwudhu. Biar dia saja yang membantu bapak. Kamu wudhu dulu bergantian dengan temanmu yang lain. Ayo cepat.” Perintah Pak Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku segera bertukaran posisi dengan Dian. Pak Ali memakai sarung tangan dan memegangi kepala Tyas. Beliau membacakan ayat-ayat Al-qur’an untuk membuat Tyas sadar. Tyas semakin memberontak. Aku segera keluar untuk berwudhu. Setelah itu aku langsung bergabung lagi dengan mereka dan bergantian dengan Indah dan Mega untuk berwudhu juga dan kembali kemari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tyas terus memberontak. Dia berteriak kesakitan. Aku tak tega melihatnya, tapi harus bagaimana lagi. Alhamdulillah sepuluh menit kemudian tubuh Tyas melemas dan dia kembali pingsan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sekarang Insyaallah dia sudah tidak apa-apa. Tapi bapak rasa kalian harus siap-siap untuk menjelaskan semua ini di depan kepala sekolah. Tadi bapak meminta istri bapak untuk menghubungi Pak Yanto.” Jela Pak Ali. Wajahnya berkeringat. Beliau tampak kelelahan. Beliau pun duduk di kursi guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Alhamdulillah” lirihku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kulihat wajah Dian, Indah, dan Mega terlihat tenang. Kami sama-sama terduduk lemas. Bukan hanya karena lelah memegangi tubuh Tyas, tetapi juga karena melawan rasa takut yang kuat menyelusup ke hati kami. Tapi Alhamdulillah rasa takut itu berangsur menghilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak lama Tyas sadar. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi. Kenapa kami terlihat sangat kelelahan. Tapi kami semua bungkam. Kami tak ingin membuatnya khawatir karena kejadian tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tidak apa-apa Tyas. Tadi cuma ada sedikit masalah dan kamu pingsan. Sudah, kamu istirahat saja dulu.” Kataku menenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Indah memegang tanganku. “Kinan, maafkan kami ya. Ini semua salah kami. Padahal kamu telah memperingatkan kami. Jika saja kami menurutimu, maka semua ini tidak akan terjadi.” Dia terlihat sangat merasa bersalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya Kinan. Terima kasih ya sudah datang kemari. Terima kasih juga Dian. Jika kalian tidak ada tadi, kami tidak tahu harus bagaimana. Maafkan kami ya.” sesal Mega.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sudahlah, tak apa. bukankah kini semua sudah beres. Walaw kita masih harus menghadapi kepala sekolah dan bersiap menerima hukuman, tapi semua sudah berakhir sekarang dan pasti kini kita sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak bukan?!” jelas Dian seraya tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami bertiga mengangguk meng-iyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak lama Pak Yanto datang beserta supir Tyas yang mengantarkannya pulang. Kami berempat menjelaskan sejelas-jelasnya dan akhirnya Pak Yanto menghukum kami dengan menskors kami sehari serta menyuruh kami menulis surat penyesalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sesungguhnya Allah menciptakan kedua dunia ini dengan maksud yang hanya Dia yang tahu. Kita sebagai manusia seharusnya tidak melanggar batas-batas yang sudah Dia tentukan. Itulah kata-kata Dian untuk mewakili apa yang terjadi pada kami. Setelah itu, aku, Indah, Mega, dan Tyas tidak lagi mendengarkan radio misteri itu. Kami masih belum siap jika suatu hari nanti harus menghadapi hal-hal yang seperti itu lagi. Biarlah semuanya hanya menjadi misteri Ilahi dan kita sebagai manusia cukup hanya mengimaninya sesuai apa yang diperintahkanNya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-115960172122116104?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/115960172122116104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/radio-misteri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/115960172122116104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/115960172122116104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/radio-misteri.html' title='Radio Misteri'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-8896468480358041398</id><published>2009-10-12T01:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T01:18:55.160-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kepada Ytc. Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;puisi Tebing Cakrawala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold;"&gt;KEPADA YTC. KATA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;tak usah kaucemburu pada pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;bukankah sudah ribuan halaman buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;kita lewati berdua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-style: italic;"&gt;Gunung Sahari, 06.03.08&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SINDO&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-8896468480358041398?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/8896468480358041398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/kepada-ytc-kata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8896468480358041398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8896468480358041398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/kepada-ytc-kata.html' title='Kepada Ytc. Kata'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2949206792100493023</id><published>2009-10-12T01:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T01:30:20.810-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kepada Yts. Pena</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;puisi Tebing Cakrawala&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEPADA YTS. PENA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;jangan kautulis perselingkuhan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar saja puisi pusing mencari siapa orangtuanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Gunung Sahari, 06.03.08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SINDO&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2949206792100493023?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2949206792100493023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/puisi-tebing-cakrawala-kepada-yts.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2949206792100493023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2949206792100493023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/puisi-tebing-cakrawala-kepada-yts.html' title='Kepada Yts. Pena'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-753951465263882090</id><published>2009-10-12T01:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T01:30:01.683-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kepada Yth. Puisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;puisi Tebing Cakrawala&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPADA YTH. PUISI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;kapan kau mau tahu diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;tidak datang seenaknya sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gunung Sahari, 06.03.08&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SINDO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-753951465263882090?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/753951465263882090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/kepada-yth-puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/753951465263882090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/753951465263882090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/kepada-yth-puisi.html' title='Kepada Yth. Puisi'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2431193429373345090</id><published>2009-10-12T01:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T01:29:45.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>GELAS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;puisi Tebing Cakrawala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GELAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahkah kauisi dengan puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku haus sekali&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gunung Sahari, 06.03.08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SINDO&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2431193429373345090?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2431193429373345090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/puisi-tebing-cakrawala-gelas-sudahkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2431193429373345090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2431193429373345090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/puisi-tebing-cakrawala-gelas-sudahkah.html' title='GELAS'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-397469045143178282</id><published>2009-10-12T00:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:59:06.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Serbuk Bunga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;puisi Tebing Cakrawala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SERBUK BUNGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serbuk bunga itu bertanya tentang cuaca&lt;br /&gt;dia yang setia pada siut angin&lt;br /&gt;merindui gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis yang jatuh di tanah&lt;br /&gt;mencari akar bunga&lt;br /&gt;di antara bau debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musim kemarau belum mau lalu&lt;br /&gt;dan serbuk bunga itu bertanyatanya&lt;br /&gt;apakah harus jatuh ke bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali ada seruas tanah untuk tumbuh&lt;br /&gt;sebelum akarnya bertemu gerimis&lt;br /&gt;yang jatuh di tanah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lotengrumah, 07.03.08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;sumber: koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seputar Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-397469045143178282?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/397469045143178282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/serbuk-bunga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/397469045143178282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/397469045143178282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/10/serbuk-bunga.html' title='Serbuk Bunga'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4112365857722790215</id><published>2009-09-29T17:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T17:59:58.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NONFIKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>Chairil dalam Sajak Aku</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: left;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.rumahkepompong.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SeKFsgoKCrIAAEbkHVI1/Ilustrasi-Chairil-dalam-Sajak-Aku.jpg?et=Bx1c%2Bpy9Ye%2B09if0fDAz1A&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;esai Hafi Zha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;SAJAK “Aku” pernah mengalami perubahan. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kerikil Tajam&lt;/span&gt; judulnya “Semangat” kemudian judul “Aku” dipakai dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Deru Campur Debu&lt;/span&gt;. Kata-kata dalam sajak “Aku” pun ada yang mengalami perubahan, yaitu kata “ku tahu” pada baris kedua bait pertama, diganti “ku mau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapakah Chairil Anwar mengganti kata-kata itu? Ada beberapa alasan, di antaranya dalam kata “semangat” itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat propagandis atau perasaan yang bombastis (berlebih-lebihan). Sedangkan dalam kata “aku” terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sudut ini, kata “aku” lebih tepat daripada “semangat” untuk judulnya. Selain itu, puisi-puisi Chairil yang bersifat individualis sulit lolos sensor di masa Jepang. Untuk itu, Chairil memakai judul “Semangat” untuk mengelabui sensor. Sedangkan kata “ku tahu” menunjukkan perasaan pesimis dan rasa keterpencilan. Bila sajak itu dideklamasikan maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait berikutnya yang penuh semangat.&lt;br /&gt;Karena itu, kata “ku tahu” tidak tepat dan diganti dengan kata “ku mau” yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak “Aku” menceritakan jika meninggal, si aku ingin tak ada seorang pun yang bersedih (“merayu”). Si aku ini binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya: ia merdeka tak mau terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak peluru menembus kulitnya, si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan­aturan yang mengikat tersebut. Si aku mau hidup seribu tahun lagi sebuah kiasan yang bermakna bahwa yang hidup seribu tahun lagi adalah semangat, pikiran, dan karya­karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si aku, Chairil Anwar, adalah manusia yang terasing. Keterasingannya ini memang disengaja sebagai pertanggungjawaban pribadi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau&lt;/span&gt;. Hal ini karena si aku adalah manusia bebas yang tidak mau terikat kepada orang lain: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang&lt;/span&gt;. Dan si aku ini menentukan “nasibnya” sendiri, tidak mau terikat oleh kekuasaan lain: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi.&lt;/span&gt; Pengakuan dirinya sebagai binatang jalang dan penentuan nasib sendiri: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi &lt;/span&gt;merupakan sikap revolusioner terhadap paham dan sikap atau pandangan para penyair yang mendahuluinya (Pujangga Baru) (Pradopo, 1987: 171).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal /a/ dan /u/. Hiperbola tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ini binatang jalang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tersebut disertai dengan ulangan bunyi /i/ yang lebih menambah intensitas:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hingga hilang pedih peri ... peduli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hiperbola tersebut penonjolan pribadi tampak nyata.&lt;br /&gt;Menurut Pradopo (1987: 173), sajak “Aku” menimbulkan banyak tafsir, bersifat ambigu. Hal ini karena ketidaklangsungan ucapan dengan cara bermacam-macam. Chairil memang ingin menarik perhatian dan untuk menimbulkan pemikiran. Dalan sajak “Aku” dipergunakan penyimpangan arti (distorsing) (Riffaterre dalam Pradopo, 1987: 173): &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau sampai waktuku &lt;/span&gt;dapat berarti kalau aku mati;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tidak perlu sedu sedan itu&lt;/span&gt; dapat berarti tak ada gunanya kesedihan itu;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tidak juga kau &lt;/span&gt;dapat berarti tidak juga engkau anakku, istriku, atau kekasihku. Ambiguitas arti memperkaya makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini juga banyak digunakan metafora penuh dan implisit. Metafora penuh seperti: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ini binatang jalang&lt;/span&gt;, maksudnya si aku seperti binatang jalang yang bebas lepas tidak terikat oleh ikatan apapun (Pradopo, 1987: 172).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora implisit di sini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;peluru, luka dan bisa, pedih peri&lt;/span&gt;. “Peluru” untuk mengiaskan serangan, siksaan, halangan ataupun rintangan. Meskipun si aku tertembus peluru: mendapat siksaan, rintangan, serangan, ataupun halangan­-halangan, ia tetap akan meradang menerjang: melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya. “luka dan bisa” untuk mengiaskan penderitaan yang didapat. “Pedih peri” mengiaskan kesakitan, kesedihan, atau penderitaan akibat tembusan peluru di kulit si aku (halangan, rintangan, serangan, ataupun siksaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyatakan semangat menyala-nyala digunakan kiasan: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ku mau tak seorang kan merayu&lt;/span&gt; (bersedih). Orang lain hendaknya jangan campur tangan terhadap nasib si aku, baik dalam suka maupun duka, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisis di atas, pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aku dalam sajak tersebut adalah Chairil. Menurut Asrul Sani (dalam Ismail, 1999: 8), sajak Aku merupakan sebuah pamitan yang getir oleh Chairil kepada ayahnya yang mencoba membujuknya kembali ke Medan. Memang secara tak langsung sajak Aku menggambarkan seorang Chairil yang berpendirian teguh, yang menolak bujukan dari ayahnya sendiri. Tidak salahlah jika dalam , sajak Aku, tersimpan semangat Chairil Anwar yang penuh vitalitas, menyala-nyala dan membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Sabili No.14 Th.XIV 25 Januari 2007/6 Muharam 1428&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4112365857722790215?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4112365857722790215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/esai-hafi-zha-sajak-aku-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4112365857722790215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4112365857722790215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/esai-hafi-zha-sajak-aku-pernah.html' title='Chairil dalam Sajak Aku'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-3518069793603329964</id><published>2009-09-29T17:55:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T18:02:26.825-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NONFIKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>Sastra, Seni Berbohong yang Indah</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;" class="insertedphoto"  &gt;&lt;a href="http://rumahkepompong.multiply.com/photos/hi-res/upload/SeLekQoKCrIAAGQOB3M1"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.rumahkepompong.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SeLekQoKCrIAAGQOB3M1/Ilustrasi-Sastra-Seni-Berbohong-yang-Indah.jpg?et=PKusuh%2Bnojqc2j0ddCkYSQ&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: left; font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh: Denny Prabowo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;Berita adalah kunci kontak kita menulis, dan “SIM’-nya adalah bahasa, begitu tutur Hamsad Rangkuti yang kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan dari salah seorang peserta workshop, tentang bagaimana mengemas sebuah fakta sensitif menjadi sebuah cerita tanpa membuat pihak-pihak yang terlibat di dalamnya merasa perlu malakukan tekanan sebab cerita yang kita buat—sebuah pertanyaan yang akan langsung terjawab, jika saja kita telah membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jazz, Parfum dan Insiden &lt;/span&gt;karya seno Gumira Ajidarma yang menggabungkan roman metropolitan, esai jazz dan parfum dengan laporan jurnalistik tentang tragedi yang terjadi di Timor Timur (sekarang menjadi Negara Timor Leste). “Sastra adalah seni berbohong yang indah,” begitu kata Hamsad Rangkuti, menjawab pertanyaan itu, mengingatkan saya kembali dengan sebuah cerpen karyanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah betul ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu?  Bukankah itu kebohongan. Saudara telah menciptakan kebohongn. Tetapi, penyair itu menampik dan berkata, semua yang dia tulis adalah kebenaran. Benar adanya. Memang ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu. Aku tidak berbohong, kata penyair itu. Lalu aku bertanya adakah lautan air mata itu? Bagaimana Saudara tega berbohong tentang lautan air mata. Kalian telah terkepung oleh air mata kami, tulis Anda. Bagaimana anda bias meciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung dibalik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi&lt;/span&gt;.1)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;Karya sastra adalah tulisan fiksi berdasarkan imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang merupakan tulisan berdasarkan fakta dan data. Tapi apakah karena alasan itu karya sastra pantas disebut sebagai sebuah kebohongan? Dalam sebuah esainya Seno Gumira Ajidarama mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;"Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran".2) Yang kemudian dikoreksi sendiri oleh penulisnya dalam tulisannya yang lain, sebab dia meragukan apakah di dunia ini ada yang namanya kebenaran. Kebenaran itu memang relatif. Tergantung siapa yang mengatakanya. Bukan kebenaran yang menjadi dasar dari penulisan sebuah karya sastra, tapi realita. Ya, sastra bicara dengan realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu terkadang seseorang bisa larut dalam kesedihan, kemarahan, kebahagiaan ketika membaca sebuah karya sastra, karena bisa jadi sebuah karya yang sedang dibacanya merupakan representasi dari pengalaman hidupnya atau harapan-harapannya. Bukankah hampir seluruh ide-ide cerpen yang ditulis Hamsad Rangkuti berasal dari kejadian-kejadian yang tertangkap mata dan telinganya? Hanya imajinasi yang kemudian membuat pengalaman yang sesungguhnya tidak terlalu menarik untuk diceritakan, menjadi sebuah bacaan yang tak hanya menarik untuk dinikmati, tapi juga memberikan pembelajaran, yang tak jarang menimbulkan efek pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;Bisa jadi tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke salemba sore itu tidak benar-benar ada seperti yang diakui penulisnya. Dan kalau saja berpasang-pasang mata dari seluruh penduduk Indonesia meneteskan air mata terderasnya, tak akan mungkin tercipta telaga air mata. Semua hanya ada dalam imajinasi penulisnya. Apakah karena sebab itu seorang sastrawan sudah bisa dikatakan sebagai seorang pembohong?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;Karya sastra adalah karya fiksi. Disebut fiksi karena tidak sungguh-sungguh terjadi. Dan ketika sastrawan mempublikasikan karyanya sebagai karya fiksi, pembaca tentunya sudah mengetahui sejak awal kalau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya sastra yang dibacanya adalah tidak benar-benar nyata. Tidak kah itu bisa dikatakan sebagai sebuah kejujuran?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;Sementara begitu banyak catatan sejarah dan berita-berita yang dipublikasikan, yang semestinya menjadi karya nonfiksi ternyata tidak sesuai dengan fakta dan data yang sesungguhnya. Dan kita sebagai pembaca, sudah terlanjur menerimanya sebagai karya yang benar-benar terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Loteng Rumah, 2 Pebruari 2005&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;______________&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;1) Hamsad rangkuti."Antena". &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bibir dalam Pispot&lt;/span&gt;: 146-147. Jakarta: Kompas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt;2) Seno Gumira Ajidarma. "Kehidupan Sastra dalam Pikiran". &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara&lt;/span&gt;. Jogjakarta: Bentang Pustaka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:lucida sans unicode,lucida;font-size:100%;"  &gt; Majalah Sabili No. 19 / 6 April 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-3518069793603329964?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/3518069793603329964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/sastra-seni-berbohong-yang-indah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/3518069793603329964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/3518069793603329964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/sastra-seni-berbohong-yang-indah.html' title='Sastra, Seni Berbohong yang Indah'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4268312138174682801</id><published>2009-09-24T00:52:00.001-07:00</published><updated>2009-09-24T01:02:29.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Tinka Menunggu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Cerpen Ulya Amaliya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jam setengah delapan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi Bunda pasti datang! Ya, pasti datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tinka dan Bunda akan pergi ke sekolahnya, mengambil raport. Sepanjang perjalanan mereka akan bercengkrama. Lalu ia akan digandeng menuju selasar kelas. Rambutnya akan dibelai-belai, sesekali Bunda bertanya tentang sekolahnya selama ini,  tentang teman-temannya, tentang semua hal yang berlangsung selama ini, yang tidak pernah Bunda ketahui (atau… salahkah jika ia  berprasangka bahwa Bunda memang tidak pernah ingin mengetahuinya??).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Setengah delapan lebih lima menit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka merapikan kepang duanya. Pembagian raport dimulai jam delapan. Ada sedikit resah di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Bunda pasti datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka trauma sebenarnya. Semester lalu, Ayah yang berjanji mengambilkan raportnya. Bunda sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan sebuah seminar. Jam tujuh lewat ia sudah siap. Menunggu kedatangan Ayah di beranda. Sesekali membayangkan nilai-nilai yang tertera di raport. Jantungnya berdebar, tapi ia yakin nilainya baik semua. Ia telah berjuang keras menjelang ulangan. Kata Bunda, kalau ia mendapat nilai baik pada semester pertamanya di SMP, ia boleh tinggal seminggu dengan Ayah. Betapa ia merindukan Ayah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ayah tak pernah datang. Istrinya melahirkan bayi pertama mereka, anak kedua bagi Ayah. Tinka baru tahu setelah tiba-tiba Mbok `Nem mengguncang tubuhnya, yang ternyata tertidur di beranda dan memberitahukan bahwa ada telepon dari Ayah. Saat itu sudah jam sepuluh. Tinka ingin menangis rasanya. Tinka sudah merasa bahwa Ayah meneleponnya untuk meminta maaf karena tidak bisa mengambil raportnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Tinka salah besar! Ayah malah bercerita dengan sumringah, sesekali diiringi tawa. Berkali-kali Ayah mengucap syukur atas kelahiran anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tinka senang juga kan dapat adik baru? Bilang terima kasih ke mama Vera, dong! Tinka boleh kok main sama adik baru, kalau adik baru sudah agak besar. Oh, ya dikasih nama apa ya adik barunya?? Adik barunya perempuan juga lho! Badannya besar, tingginya lima puluh dua centi. Tinggi banget kan? Tinggi lho untuk ukuran bayi!! Adik barunya Tinka yang kasih nama, deh! Ayah kasih hadiah kalau Tinka bisa dapetin nama yang bagus!! Bener deh! Ha..ha..ha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka ingin membanting gagang telepon saat itu! Perutnya bergolak, rasanya ingin muntah!! Ayah bahkan tak mengungkit pembagian raportnya! Ayah tak meminta maaf karena tak datang! Padahal Tinka telah lama menunggu, bahkan sampai ketiduran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka lari ke kamar. Menangis puas sampai malam. Tak mau makan siang, tak mau keluar kamar barang sedetik. Menangis, lalu tanpa sadar tertidur, lalu menangis lagi dan tanpa sadar kembali tertidur hingga paginya ia mendapati kantung matanya membengkak. Sejak saat itu ia merasa tak percaya pada Ayah. Lebih tepatnya, tak perlu percaya pada apapun yang dikatakan Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raportnya baru diambil tiga hari kemudian oleh Bunda di rumah wali kelasnya. Rangking tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma, ia malas berlibur dengan Ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini, ia belum bertemu Ayah lagi. Walau sering ada rindu yang amat menyeruak ketika memikirkan Ayah. Sudah hampir setahun Tinka tidak bertemu Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka hanya bisa menangis diantara tumpukan bantal dikamarnya, hampir tiap malam. Memandangi posenya bersama Ayah. Memandangi wajah cerah Ayah yang menggendongnya, merangkulnya, menciumnya. Juga foto-foto yang didapatinya dari Pak pos, foto-foto berisi pose Ayah bersama seorang wanita cantik dan bayi merah digendongannya. Foto-foto Ayah itu kadang dikecupnya, kadang juga dirobeknya. Hingga gambar kepala Ayah menjelma menjadi robekan-robekan teramat kecil yang berserakan di sprei tempat tidurnya. Lalu ia tertidur sambil menangis, mengharapkan ada yang memeluknya, memberi kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tinka selalu menemukan Ayah dalam mimpinya. Hanya dalam mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jam sembilan kurang lima belas menit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana Bunda??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda bilang akan pulang dari yayasan tadi shubuh agar bisa mengambil raportnya. Tapi sampai sesiang ini Bunda belum juga datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kirim sebuah sms untuk Bunda: Bunda ga lpa kan klo hri ini pngambln rprtq?&lt;br /&gt;Bunda Tinka seorang aktivis wanita, pendiri yayasan Harapan Kartini. Bunda sibuk membuat seminar tentang peranan wanita, emansipasi wanita dan segala hal yang berbau wanita. Bunda amat memikirkan kedudukan wanita di negera ini. Bagi Bunda wanita harus berpendidikan dan tidak boleh terbelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal-awal Bunda mendirikan yayasan, Bunda sering mengajak Tinka menemani Bunda di acara-acara yang yayasan buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka ingat saat itu Bunda berbicara tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif untuk kesehatan bayi dan kedekatan hati Ibu dan Bayi. Tinka diperbolehkan mengambil kursi dan duduk diatas panggung, diantara moderator dan Bunda sebagai salah satu pembicara. Rambut panjang Tinka yang dihiasi bandana merah jambu dielus-elus Bunda. Bunda menunjukkan bahwa ia begitu dekat dengan Tinka kepada ratusan ibu-ibu yang menghadiri acara itu. Saat itu, Tinka merasa begitu bangga memiliki Bunda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Bunda mana mau mengajak Tinka ke acara-acara seperti itu. Tinka sudah gede, nakal pula. Ketika Tinka masuk SMP, kerjaan Bunda tiap pulang kerja cuma marah-marah. Dari mengeluhkan Tinka yang sama sekali tidak disiplin, sampai memarahi Tinka yang kerjaannya minta duit melulu. Kadang cuma kesalahan kecil, tapi karena di yayasan ada masalah besar, Bunda pasti marah-marahnya ke orang rumah. Lama-lama Tinka malas menyambut Bunda sepulang kerja. Belakangan ini, Bunda dan Tinka malah terkesan saling bungkam. Sama-sama lagi malas ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Tinka jadi kangen sama sosok Bundanya dulu. Pinginnya berduaan sama Bunda, ngobrol-ngobrol, curhat tentang masalah dengan teman-teman seganknya, tentang teman-teman cowok yang suka usil jailin Tinka atau tentang gejolak-gejolak hormon yang bikin Tinka jadi centil belakangan ini. Paling tidak, Tinka ingin Bunda mendengarnya, tidak perlu dijawab dengan solusi-solusi menghibur seperti yang sering dibaca Tinka disebuah rubrik majalah yang diasuh Bunda. Rubrik curhat keluarga, yang rata-rata dikirim ibu-ibu muda yang mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya atau bermasalah dalam berumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka punya mimpi, menghabiskan satu hari yang menyenangkan bersama Bunda. Satu hari saja! Tapi Bunda tidak pernah punya hari libur. Padahal kalau Tinka menghabiskan liburannya dengan jalan bareng sama teman, Bunda pasti ngomel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sih sudah tidak pernah ngomel. Beberapa bulan yang lalu Tinka pernah mengamuk dihadapan Bunda, tidak tahan sama semuanya. Mungkin Bunda sadar kesalahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi.. ya itu tadi. Belakangan ini mereka nggak saling tegur kalau tidak kepepet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau Tinka salah, Bunda diam saja. Kadang Tinka sengaja melakukan hal yang dibenci Bunda. Tinka kangen Bunda. Tepatnya, kangen omelan Bunda. Tidak perlu Bunda menciumi Tinka, menggendongnya, mengelusnya, seperti waktu Tinka kecil, mendengar omelan Bunda saja Tinka rasa sudah cukup. Tapi Bunda orang sibuk, memarahi Tinka saja sekarang sudah tidak ada waktu. (Anggap saja begitu).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jam sembilan lewat lima belas menit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka mulai berbaring di sofa. Bosan. Hampir menangis. Takut kalau-kalau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Bunda pasti datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengecup Tinka sebagai tanda permintaan maaf karena telah terlambat. Lalu di perjalanan menuju sekolah, Tinka bisa bebas bercengkrama dengan Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda pasti datang!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh… Dulu, waktu Tinka SD, tiap pembagian raport Ayah Bunda akan datang bersama ke sekolah. Pasti. Dan tidak perlu acara tunggu-tungguan. Kalau Tinka masuk peringkat tiga besar, mereka bertiga tidak akan langsung pulang. Mereka akan makan siang diluar, lalu Ayah akan membelikannya es krim. Esoknya mereka bertiga jalan-jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka memang lebih dekat ke Ayah (Sebelum Ayah menjelma pengkhianat dan dibawa kabur oleh seorang nenek sihir dan bayi monster di mimpi Tinka). Tiap pulang mengajar Ayah selalu membantunya mengerjakan PR. Ayah seorang guru yang mengajar di SMU, jadi Ayah Tinka jago disemua pelajaran SD. Ayah juga sering membonceng Tinka naik sepeda mengitari komplek tiap sore. Kadang Ayah suka jahil, dengan mengangkat tubuh Tinka tinggi-tinggi ke udara dan menggelitik Tinka sampai Tinka geli setengah mati. Sambil menunggu Bunda memasak makan malam, Ayah suka bermain tebak-tebakan. Tiap kali jalan-jalan, Tinka selalu dibopong Ayah diatas lehernya. Sampai akhirnya Tinka sendiri yang merasa malu karena merasa tubuhnya sudah kelewat berat. Hampir tiap Sabtu Tinka selalu dijemput Ayah sepulang sekolah, naik vespa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Bunda berulang tahun, Ayah dan Tinka pernah membuat sebuah misi rahasia. Sebuah kejutan sederhana. Ayah dan Tinka tidak tahu apa-apa tentang masak memasak. Tapi hari itu mereka berdua nekat membuat kue. Nyatanya, Tinka dan Ayah sukses menyulap dapur menjadi kapal pecah hari itu. Tumpah terigu, gula, pecahan telur, krim yang belepotan dimana-mana. Semua itu diakhiri dengan sebuah bau gosong yang amat menyengat dari oven. Ha..ha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh kue yang rasanya nggak karuan itu tetap saja diberikan kepada Bunda. Dan… tentu saja dimakan bersama. Apa saja akan terasa nikmat kalau hati sedang bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang kelas lima SD, Ayah Bunda jadi sering bertengkar. Bunda yang lulusan psikologi UI mulai tidak betah terus-terusan di rumah dan merasa Tinka sudah cukup besar untuk ditinggal-tinggal. Tapi Ayah tidak suka itu. Ayah tidak suka Bunda pulang larut malam dan cuma punya capek untuk anak semata wayangnya. Ayah bilang tugas seorang istri adalah mengurus dan mengasuh anaknya. Lalu Bunda membawa Tinka ke rumah Nenek. Tinka bolos sekolah hampir dua minggu. Setiap hari Bunda menangis. Satu kalimat yang Tinka ingat: “Mas Heru mengekangku, bu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah hari ke berapa Tinka berada dirumah nenek, Ayah menjemput Bunda dan minta maaf. Bunda boleh melakukan apapun, asal tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu. Bunda kembali menangis, tapi sambil memeluk Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah itu, Bunda kembali pulang larut malam. Tiap kali Ayah bersedia menjemput dengan vespanya, Bunda menolaknya. Minggu berikutnya Bunda sempat dua kali menginap dirumah temannya. Bunda dan teman-temannya sedang sibuk mengurus pembangunan sebuah yayasan. Tiap kali telepon berdering, pasti mencari Bunda dan membicarakan rencana pembuatan yayasan. Siang malam Bunda dipenuhi oleh yayasan, yayasan, yayasan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah protes. Tapi Bunda teramat capek meladeninya, jadi pintu kamar dibantingnya. Mungkin Ayah merasa diacuhkan, jadi kursi makan jadi korban tendangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa saya capek-capek kuliah, kalau ujung-ujungnya cuma ngurus anak! Bisa tua di dapur saya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia amanah bagi kita. Kamu punya tugas untuk mendidik dia sebaik-baiknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tahu itu!! Saya juga ingin ibu-ibu lain tahu akan hal itu! Makanya saya dan teman-teman membuat yayasan yang punya misi menyadarkan wanita akan kedudukannya sebagai seorang ibu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak perlu menyadarkan para ibu itu kalau kamu sendiri belum sadar kedudukanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud mas? Huh, kartini bisa menangis kalau dia tahu di masa semaju ini masih ada orang yang tidak menghargai emansipasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini justru akan lebih menangis jika konsep emansipasinya disalah artikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, mas! Hari gini masih mengekang-ngekang istri! Ini kan bukan hal yang besar. Kalau tidak betah sama  saya, cari saja istri yang rela dikungkung di jeruji dapur! Silahkan cari kalau ada! Lagian mas kira penghasilan mas seorang bisa menyejahterakan kehidupan kita?!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan paginya Mbok ‘Nem sibuk membersihkan pecahan-pecahan piring. Tinka dikamar semalaman. Tidak mengerti apa yang terjadi. Yang Tinka bisa hanya menangis. Takut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hal yang paling tidak bisa Tinka lupakan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik…tak…tik..tak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jam sembilan lewat empat puluh lima menit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka benar-benar menangis. Tangannya memijit tombol handphone dengan gemetar, berusaha merangkai kata walau pikirannya buntu: Bunda mo dtg kn? Dah sampe mana nda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah pikiran Tinka bersugesti apabila Bunda tidak datang, seperti yang telah Ayah lakukan semester lalu. Setengahnya lagi sibuk menenangkan dan menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh… Andai Ayah datang disaat genting seperti ini untuk mengambil raport Tinka, sebagai permintaan maaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka ingin bertemu Ayah, meski di diarynya Tinka menulis bahwa setelah Ayah mengingkari janjinya, Tinka telah merasa yatim. Ayah Tinka sudah milik orang lain! Ayah sudah hidup bahagia bersama seorang bayi berusia hampir enam bulan dan seorang guru TK yang manis. Mereka tinggal di rumah kecil yang dipenuhi bunga, mungkin juga dipenuhi cinta. Setidaknya itu yang Tinka tangkap dari foto-foto yang rutin dikirimi Ayah untuknya. (Ahh.. Tinka iri kepada nenek sihir cantik dan bayi monster lucu yang menculik Ayah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa menit lagi jarum menit menunjukkan angka sepuluh. Batas akhir pengambilan raport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka melepas kuncir duanya dengan kasar. Melempar sepatu yang dikenakannya. Melepas sabuk yang berlambang sekolahnya. Seragam yang dipakainya sudah lecek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik…tak…tik..tak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka jadi ingin tertawa. Tinka satu-satunya murid dikelasnya yang dalam satu tahun ini tidak pernah mengambil raport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka tidak mau dengar apapun alasan Bunda. Tinka sudah tidak mempercayai Bunda, seperti Tinka tidak mempercayai Ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa yatim piatu seutuhnya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik…tak…tik..tak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinka menangis, menangis dan terus menangis hingga tanpa sadar telah tertidur. Dalam mimpinya, Tinka melihat Ayah, Bunda dan dirinya sedang berjalan-jalan naik vespa sambil tertawa bersama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;taMat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4268312138174682801?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4268312138174682801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/tinka-menunggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4268312138174682801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4268312138174682801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/tinka-menunggu.html' title='Tinka Menunggu'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-5489640109667569707</id><published>2009-09-24T00:52:00.000-07:00</published><updated>2010-01-14T19:02:09.004-08:00</updated><title type='text'>FORMULIR PENDAFTARAN ANGGOTA FLP DEPOK</title><content type='html'>&lt;form method="post" action="http://www.emailmeform.com/fid.php?formid=535971" enctype="multipart/form-data" charset="UTF-8"&gt;&lt;table bg="" style="color: rgb(204, 255, 255);" border="0" cellpadding="2" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Silakan isi formulir di bawah ini. Terima kasih.&lt;/span&gt; &lt;div style="" id="mainmsg"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table bg="" style="color: rgb(204, 255, 255);" border="0" cellpadding="2" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Nama Lengkap&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData0" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Tempat/Tanggal Lahir&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData1" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Jenis Kelamin&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData2" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Alamat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData3" size="60" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Telepon/HP&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData4" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Email&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData5" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Hobi&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData6" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Kegiatan Organisasi Saat ini&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData7" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Pendidikan Formal Terakhir&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData8" size="30" type="text"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Organisasi/Kegiatan&lt;br /&gt;yang pernah diikuti&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData9" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;1 bulan membaca&lt;br /&gt;berapa buku&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData10" value="1" id="radio100" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio100"&gt;1&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="2" id="radio101" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio101"&gt;2&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="3" id="radio102" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio102"&gt;3&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="4" id="radio103" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio103"&gt;4&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="5" id="radio104" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio104"&gt;5&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="6" id="radio105" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio105"&gt;6&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="7" id="radio106" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio106"&gt;7&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="8" id="radio107" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio107"&gt;8&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="9" id="radio108" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio108"&gt;9&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData10" value="10" id="radio109" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio109"&gt;10&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Buku yang paling&lt;br /&gt;berkesan (sebutkan 4 buku)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData11" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Antusiasme terhadap&lt;br /&gt;kegiatan FLP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="FieldData12" value="Berperan aktif (ikut dalam kepanitiaan/kepengurusan)" id="radio120" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio120"&gt;Berperan aktif (ikut dalam kepanitiaan/kepengurusan)&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input name="FieldData12" value="Ingin fokus belajar menulis saja" id="radio121" type="radio"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;label for="radio121"&gt;Ingin fokus belajar menulis saja&lt;/label&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Masukan untuk&lt;br /&gt;FLP Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData13" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Kritik untuk&lt;br /&gt;FLP Depok&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData14" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Mengapa kamu tertarik&lt;br /&gt;ingin masuk FLP&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData15" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Apa yang ingin&lt;br /&gt;kamu raih di FLP Depok&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData16" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt; &lt;td nowrap="nowrap"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Bersediakah menjadi&lt;br /&gt;pengurus FLP Depok?&lt;br /&gt;Jelaskan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea name="FieldData17" cols="30" rows="3"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td colspan="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="left"&gt;&lt;input name="hida2" value="" maxlength="100" size="3" style="display: none;" type="text"&gt;&lt;input class="btn" value="Send email" name="Submit" type="submit"&gt;    &lt;input class="btn" value="  Hapus  " name="Clear" type="reset"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;NB: Setelah mengisi semua kolom yang tersedia, klik tombol &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Send email&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;. Formulir yang telah kamu isi ini akan sampai ke dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;inbox&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; email FLP Depok. Setelah itu tunggu konfirmasi dari kami via email atau sms. Terimakasih. Selamat menulis!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/form&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-5489640109667569707?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/5489640109667569707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/formulir-pendaftaran-anggota-flp-depok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/5489640109667569707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/5489640109667569707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/formulir-pendaftaran-anggota-flp-depok.html' title='FORMULIR PENDAFTARAN ANGGOTA FLP DEPOK'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-6602559008910431000</id><published>2009-09-13T20:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:16:04.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Resep Airmata</title><content type='html'>&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-sepasang-mata-untuk-cinta-yang_13.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Noor H. Dee&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Restoran tempat kami mengais rejeki ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pagi, siang, sore, malam, tamu-tamu selalu berdatangan. Mobil-mobil canggih berjajar rapih memenuhi halaman parkir. Setiap hari seluruh table  tidak pernah kosong. Setiap tamu yang baru datang diwajibkan untuk mengisi buku waitinglist terlebih dahulu. Kalau tidak, para tamu yang baru datang itu tidak akan pernah mendapatkan tempat. Bisa dibayangkan betapa ramainya restoran ini dan betapa sibuknya para Waiter dan waitress yang bekerja di sini. Mereka, para waiter dan waitress itu, dituntut untuk harus selalu bergerak lincah dari satu meja ke meja yang lain. Harus selalu gesit seperti pelari estafet setiap kali mengantarkan minuman, makanan, dan lain sebagainya seperti tusuk gigi, keju parmesan, asbak, tisu, garam, merica, garpu, sendok, saus sambal botolan, dan bon tagihan kepada setiap pengunjung yang memesan. Harus selalu tersenyum seperti bintang iklan pasta gigi setiap kali bertatap muka dengan para tamu restoran. Tidak peduli betapa hati mereka saat itu sedang sedih, gelisah, marah, terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitulah. Restoran ini memang tidak pernah sepi dari pengunjung. Tentu, ya, tentu ini semua berkat airmata yang berasal dari sepasang mata kami, yang selalu menetes ke dalam setiap masakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         Kami memasak sambil menangis. kami menangis sambil memasak. Kami memasak dengan menggunakan resep airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Jadi, kami harus memasak sambil menangis?” tanya salah seorang rekan kami kepada si pemilik restoran ini, ketika untuk pertamakalinya ia menyuruh kami memasak sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Ya. Kalian harus memasak sambil menangis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau boleh tahu, alasannya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Tentu saja agar restoran ini laris. Kalian ‘kan tahu sendiri, restoran ini selalu sepi. Kalau sepi terus, bisa-bisa restoran ini bangkrut. Dan kalau restoran ini bangkrut, kalian sendiri yang akan rugi. Bukan begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Tetapi mengapa harus menangis, tuan? Bukankah laris tidaknya sebuah restoran itu dinilai dari cara pelayanan dan rasa masakannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Ah. Selama ini saya lihat pelayanan di restoran ini sudah cukup bagus. Para pelayan di sini selalu bersikap sopan dan ramah kepada setiap tamu yang datang. Dan untuk soal rasa, saya yakin semua rasa makanan di sini tidak kalah dengan restoran-restoran yang lain. Tetapi kenyataanya, restoran ini selalu sepi. Omset restoran ini tidak pernah mencapai target. Itu sebabnya, mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Teteskan airmata kalian ke dalam setiap masakan yang kalian olah. Mulai sekarang semua masakan di restoran ini menggunakan resep airmata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Kalau boleh tahu, resep airmata itu tuan dapat darimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Sudahlah, tidak usah banyak bertanya. Pokoknya mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Tapi, bagaimana kalau kami tidak bisa memasak sambil menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Kalian akan saya pecat. Mengerti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Akhirnya, dengan amat terpaksa karena tidak ingin dipecat, kami pun memasak sambil menangis. Pada mulanya memang agak sulit. Bagaimana mungkin kami bisa menangis kalau perasaan kami tidak menginginkannya? Tetapi, ya, mau bagaimana lagi? Kami harus menangis. Harus. Begitulah. Berbagai macam cara akhirnya kami coba untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Mulai dari berkhayal yang sedih-sedih, mengingat sanak-saudara yang sudah meninggal, sampai membayangkan tentang kehidupan di neraka. Ada salah seorang rekan kami yang kesulitan menangis. Tanpa belas kasih, pemilik restoran ini langsung memecatnya. Karena tidak ingin di perlakukan seperti itu, kami pun berusaha semampus mungkin untuk bisa menangis. Detik demi detik berlalu. Hari demi hari berganti. Akhirnya kami bisa juga menangis sambil memasak. Kami tidak perlu lagi membayangkan yang sedih-sedih untuk bisa meluncurkan tetes demi tetes airmata dari sepasang mata kami. Dan, ternyata memang benar apa yang telah dikatakan oleh si pemilik restoran, restoran ini menjadi ramai. Restoran ini menjadi restoran paling laris di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Saya bilang juga apa, airmata kalian itu bisa membuat restoran ini laris,” ujar si pemilik restoran sambil menepuk-nepuk pundak salah seorang rekan kami yang sedang memasak Aglio Ulio Sphageti untuk lima porsi, tentu saja rekan kami itu memasaknya sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         Dinding dapur kami terdapat sebuah jendela kecil yang menampilkan pemandangan restoran. Dari jendela kecil itulah kami biasa melihat para tamu sedang melahap makanan yang kami buat. Lihatlah, betapa lahapnya mereka. Alangkah rakus! Ah. Kami yakin, mereka yang makan di sini pasti berasal dari kalangan masyarakat yang status sosialnya tinggi. Lihatlah penampilan mereka. Yang lelaki selalu berjas dan berdasi, yang perempuan selalu berblazer dan selalu mengenakan sepatu berhak tinggi, yang kalau berjalan pastilah mengeluarkan suara yang berisik. Ada yang datang sendirian. Banyak pula yang datang secara berkelompok. Sering juga kami melihat beberapa pejabat pemerintah yang gajinya tidak masuk akal itu makan di sini.&lt;br /&gt;  Sebelumnya kami sering bertanya-tanya: apa sih keistimewaan airmata kami, sehingga membuat orang-orang kaya itu senang makan di restoran ini? Apakah airmata kami ini adalah airmata ajaib, sehingga bisa membuat rasa masakan kami menjadi begitu lezat? Atau, adakah alasan yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami pernah menyuruh seorang waitress untuk menanyakan hal itu kepada setiap tamu yang berkunjung. Dan, akhirnya kami pun mendapatkan alasannya, yaitu: mereka yang makan di restoran ini selalu mendapatkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata waitress itu, kebanyakan dari semua pengunjung berkata seperti ini: &lt;br /&gt;    “Saya senang makan di restoran ini. Selain makanannya enak-enak, juga bisa membuat perasaan saya bahagia.” &lt;br /&gt;        “Saya sudah mendatangi semua restoran di kota ini. Dan, hanya restoran ini yang bisa membuat perasaan saya menjadi bahagia.”&lt;br /&gt;        “Setiap kali saya ada masalah, saya selalu datang ke restoran ini. Sebab, setiap habis makan di sini, entah mengapa semua masalah saya langsung hilang begitu saja. Aneh, bukan? Tapi, ya, begitulah yang terjadi. Semua makanan yang tersedia di sini selalu bisa membuat saya bahagia.”&lt;br /&gt;        “Saya senang sekali makan di restoran ini. Sumpah! Tidak tahu kenapa, setiap habis makan di sini, saya selalu merasa bahagia. Kalau boleh saya tahu, resepnya apa, sih?”&lt;br /&gt;        “Setiapkali saya makan di sini, saya selalu mendapatkan kebahagiaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hmm. Kebahagiaan macam apakah itu? Apakah benar kebahagiaan bisa hadir lewat sebuah makanan yang dibumbui dengan airmata? Ah. Sampai sekarang kami masih belum bisa mengerti.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         “Sampai kapan aku harus menangis terus seperti ini?” keluh salah seorang rekan kami yang sedang menyiapkan garnish nasi goreng untuk tujuh porsi. “aku letih harus menangis setiap hari. Aku letih!” Airmatanya menetes membasahi irisan timun, tomat, selembar daun salada, dan acar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Salah seorang rekan kami yang lain ikut menimpali, “Aku juga muak menangis terus. Sepertinya aku harus keluar dari restoran brengsek ini. Harus! Restoran ini selalu ramai setiap hari, tetapi kita tidak pernah mendapatkan kenaikan gaji. Dasar restoran brengsek!” ujarnya sambil meneteskan airmatanya ke salmon  sandwich yang sedang ia buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Memangnya kamu saja yang ingin segera keluar dari sini? Aku juga ingin keluar,” ujar rekan kami yang lain, yang sedang menggratang empat chicken pie di sebuah mesin calamander. “Tapi aku bingung,” ujarnya melanjutkan, “setelah keluar dari sini, aku mau kerja di mana lagi? Kalian tahu sendiri, zaman sekarang cari kerja itu susahnya minta ampun. Aku tidak mau jadi pengangguran. Kredit motorku belum lunas.” Airmatanya meluncur seperti gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Aku juga tidak mau. Anakku baru saja masuk sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Kamu masih untung baru punya anak satu. Anakku sudah tiga. Semuanya sudah pada sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Tapi, sampai kapan kita harus menangis seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Iya. Sampai kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Entahlah. Sampai airmata kita habis, barangkali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Airmata kami masih terus menetes, mengalir, meluncur tiada henti. Tak pernah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Selalu seperti itu dari hari ke hari. Sampai akhirnya, entah mengapa, kami tidak bisa menangis lagi. Ya. Kami tidak bisa lagi mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Apa?! Kalian tidak bisa menangis lagi?!” tanya si pemilik restoran dengan raut wajah yang sangat terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami mengangguk. “Ya, tuan. Sepertinya airmata kami sudah habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Kacau! Kacau!” bentaknya sambil memegang kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mesin print pesanan makanan yang bentuknya seperti kotak tisu itu terus berbunyi.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Selembar kertas menyembul. Pesanan-pesanan makanan terus berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     “Berusahalah kalian untuk menangis! Lihat, tamu-tamu di luar sana membutuhkan airmata kalian! Cepat! Cobalah untuk berpikir yang sedih-sedih, atau apa, kek, yang bisa membuat kalian menangis!” si pemilik restoran panik. Kami juga ikut panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     “Tidak bisa, tuan,” ujar kami mencoba menjelaskan. “Sepertinya airmata kami benar-benar sudah kering!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Saya tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus bisa menangis. Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mau tidak mau, akhirnya kami berusaha mati-matian untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Kami memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.&lt;br /&gt;        “Cepat! Keluarkan airmata kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mesin print pesanan makanan itu kembali berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Tretetetet!&lt;br /&gt;     Tretetetet!&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami semakin memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Cepat! Menangislah kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Tretetetet!&lt;br /&gt;        Tretetetet!&lt;br /&gt;     Tretetetetet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pesanan-pesanan makanan masih terus berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Ayo, menangislah! Cepat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami semakin menguatkan pejaman mata kami. Benar-benar sekuat tenaga. Dan, pada akhirnya, ada sesuatu yang mengalir dari sepasang mata kami. Kami tersenyum dan menarik nafas lega. Akhirnya kami bisa kembali menangis. Dengan segera kami langsung membuka sepasang mata kami. Ah. Betapa tekejutnya kami ketika mengetahui bahwa yang mengalir dari sepasang mata kami bukanlah airmata, melainkan darah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Tuan, lihatlah, tuan. Bukan airmata yang mengalir dari sepasang mata kami, melainkan darah!”&lt;br /&gt;        Si pemilik restoran terdiam sejenak, untuk kemudian segera berkata dengan nada yang tekesan dingin namun penuh harap, “Ya sudah, untuk sementara waktu, teteskan darah itu ke dalam masakan kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Lalu, si pemilik restoran pun berjalan ke luar dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kami saling berpandangan. Tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Kini kami tidak lagi memasak dengan airmata, melainkan dengan darah! Dan, ajaibnya, restoran brengsek ini malah semakin ramai dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Depok, 10-14 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Baca cerpen selanjutnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-6602559008910431000?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/6602559008910431000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/resep-airmata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6602559008910431000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6602559008910431000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/resep-airmata.html' title='Resep Airmata'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2021471041225308942</id><published>2009-09-13T19:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T19:53:49.825-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-sepasang-mata-untuk-cinta-yang_13.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Noor H. Dee&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. Itu sebabnya aku tidak terlalu terkejut ketika menyaksikan perempuan itu merobek sepasang telinganya dan menyerahkannya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berkata, “Ambillah sepasang telingaku ini, sayang. Dengarlah segenap suara yang tersimpan di dalamnya. Suara-suara itu adalah suara-suara yang pernah aku dengar di sepanjang perjalanan hidupku. Tentu saja suara serakmu juga tersimpan di situ. Sebab, bukankah kamu memang sering membisikkan kalimat sayang di telingaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap perempuan itu dengan pikiran yang kacau. Suaraku memang serak, tetapi sungguh mati aku tidak pernah sekalipun membisikkan kalimat sayang kepada perempuan itu. Aku tidak mengenalnya. Jangankan mengenal, melihat wajahnya pun tidak pernah. Wajahnya tampak begitu asing di sepasang mataku. Itu sebabnya, mana mungkin aku membisikkan kalimat sayang di telinga seorang perempuan yang sama sekali tidak pernah aku kenal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lekas, ambillah sepasang telingaku ini, sayang. Aku ingin kamu mendengar suara-suara yang pernah aku dengar. Aku ingin kamu mengetahui lebih banyak tentang diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Baiklah. Apa salahnya mendengar suara-suara di sepasang telinga milik seorang perempuan? Toh, semua ini cuma mimpi. Aku langsung meraih sepasang telinga milik perempuan itu. Tidak ada setetes pun darah yang mengalir. Aku tempelkan telinga kirinya di telinga kananku dan telinga kanannya di telinga kiriku. Setelah itu, aku mendengar suara-suara di telinga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kamu dengar, sayang?” tanya perempuan itu sambil mengulas senyum ke arahku. Aih, manis betul senyumannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar suara-suara,” jawabku sambil membalas senyumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Aku memang mendengar suara-suara di sepasang telinga milik perempuan itu. Semesta suara yang begitu riuh. Aku mendengar suara angin yang bertiup, suara langkah kaki yang berlari, suara gemericik air, suara derit pintu ditutup, suara gemeretak api, suara napas yang memburu, suara jantung berdetak, suara jerit tertahan, suara desah napas perempuan yang amat menggoda, suara tikus berdecit, suara jangkrik berderik, suara orang-orang tertawa, suara percakapan yang berbisik, suara piring dan sendok yang bersentuhan, suara kipas angin, suara, suara, suara, begitu banyak suara-suara yang berasal dari sepasang telinga milik perempuan itu. Dan, ah, bukankah suara serak ini milikku? Aku mendengar suaraku berkata seperti ini, “Aku mencintaimu semenjak matahari masih tertidur. Aku mencintaimu. Selalu. Dari waktu ke waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung tersenyum. Hmm. Betapa gombalnya aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kamu memang seorang penggombal yang mahir. Tetapi, entah mengapa, aku sangat menikmatinya,” ujar perempuan itu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busyet. Ternyata perempuan itu bisa mendengar suara hatiku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku langsung menyerahkan kembali sepasang telinganya itu kepadanya. Tetapi, ia menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Simpan saja untukmu, sayang. Aku ingin menyerahkan sebagian tubuhku kepadamu. Sebagai bukti betapa aku sangat mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tidak mengerti. Mimpi ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana jadinya jika perempuan seperti itu benar-benar ada di dunia nyata? Kalau pun memang ada, apakah aku bisa menghadapinya? Tetapi, baiklah, bukankah semua ini cuma mimpi? Aku segera memasukkan sepasang telinga milik perempuan itu ke dalam saku celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, perkenankanlah aku untuk memiliki tubuhmu,” ujar perempuan itu tiba-tiba, sambil melepas gaun hitamnya. Aku menelan ludah. Meskipun wajahnya sudah tidak lagi bertelinga, ia masih tampak begitu menggoda. Tubuhnya bagus sekali. Aku seperti tersihir akan pesona sepasang payudaranya yang mirip balon berisi air itu. Ia berjalan mendekatiku, mendorong tubuhku, memeluk tubuhku dengan lembut, mencium leherku dengan begitu bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku sudah tidak lagi berpakaian. Aku dan perempuan itu sudah seperti sepasang api yang membara. Saling membakar. Saling terbakar. Saling menyulut. Saling tersulut. Kami pun bercinta di keheningan semesta. Hmm. Mimpi yang model begini adalah mimpi yang tentu saja sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. Itu sebabnya aku berani saja merobek sepasang telingaku untuk kuserahkan kepada lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum melihat sikap lelaki itu. Ia tampak begitu bingung dan kaku. Sorotan matanya penuh dengan tandatanya. Sebenarnya aku ingin tertawa, namun sebisa mungkin aku tahan. Ia bertanya-tanya dalam hati tentang siapa aku sebenarnya. Memang, kami memang tidak saling mengenal. Kami hanyalah sepasang manusia yang terperangkap di alam mimpi. Aku dapat mendengar dengan jelas suara-suara hatinya yang selalu menuntut jawaban akan sebuah kepastian. Dasar lelaki bodoh, sepertinya ia belum betul-betul memahami akan sebuah keajaiban yang selalu bergentayangan di semesta mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyerahkan sepasang telingaku kepada lelaki itu. Sebelumnya ia sempat ragu untuk menerimanya. Tetapi, setelah ia sadar bahwa semua ini hanyalah mimpi, ia pun mau menerimanya dan mau mendengarkan segenap suara yang tersimpan di dalam sepasang telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar suara-suara,” begitu katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku ingin tertawa saja rasanya menyaksikan kepolosan lelaki itu. Seandainya kami berjumpa di dunia nyata, tentu ia sudah aku tinggal dari tadi. Aku adalah seorang perempuan yang tidak menyenangi lelaki polos dan bodoh. Aku menginginkan lelaki yang cerdas, yang pandai beradaptasi dengan keadaan. Tetapi, beginilah dunia mimpi. Dunia yang menihilkan segala ketidakmungkinan. Aku akan terus meladeni lelaki polos dan bodoh yang terlihat sedang asik mendengarkan suara-suara di sepasang telingaku itu. Aku ingin bermain-main dengannya sebentar. Setidaknya, setelah mimpi ini selesai, kami tidak akan pernah bertemu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa mendengar suara-suara yang terucap di dalam hatinya. Ia berkata betapa dirinya gombal sekali. Tentu saja ia berkata seperti itu setelah ia mendengar suara seraknya di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bilang saja kepada lelaki itu betapa ia memanglah seorang penggombal yang mahir dan aku menikmati segala kegombalannya. Dan, sepertinya ia percaya begitu saja akan perkataanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lelaki itu hendak mengembalikan sepasang telingaku, aku langsung menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Simpan saja untukmu, sayang. Aku ingin menyerahkan sebagian tubuhku kepadamu. Sebagai bukti betapa aku sangat mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tampak semakin bingung dan mengatakan bahwa mimpi ini sudah benar-benar keterlaluan baginya. Ia bertanya dalam hati, bagaimana jadinya jika seorang perempuan seperti aku ini benar-benar ada di dunia nyata. Kalau pun memang ada, apakah aku bisa menghadapinya? Begitu tanyanya dalam hati. Aku tertawa mendengarnya. Tentu saja ia tidak akan bisa menghadapinya. Aku tahu itu. Ia hanya seorang lelaki polos yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Sudahlah. Sepertinya aku harus segera menyelesaikan mimpi ini. Aku ingin tahu seperti apa rasanya bercinta dengan lelaki itu. Aku belum pernah bercinta dengan lelaki polos dan bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, perkenankanlah aku untuk memiliki tubuhmu.” Begitu ujarku sambil melepas gaun hitamku. Aku melihat ia menelan ludah. Ia tampak begitu terpesona melihat tubuhku. Sepasang matanya tidak pernah lepas dari sepasang payudaraku. Aku berjalan mendekatinya, mendorong tubuhnya, dan kami pun bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari bercinta, lelaki bodoh,” ujarku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dan perempuan itu terbangun dari tidurnya. Keduanya saling berpandangan dengan tatapan mata bertanya-tanya, dan secara bersamaan mereka langsung melompat dari tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu? Bukankah kamu yang tadi berada di dalam mimpiku?” tanya mereka secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kita bisa berada di sini?” tanya si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa sepasang telingamu masih utuh?” tanya si lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar bodoh! Tentu saja telingaku masih utuh. Yang tadi itu hanya mimpi. Bukan kenyataan. Ternyata di dunia nyata pun kamu tidak berubah. Tetap saja bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ini tidak masuk akal! Mengapa aku bisa tidur bersamamu? Aku sudah memiliki istri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga sudah punya suami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kita telah bersetubuh! Kita telah bersetubuh! Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh! Oh, aku telah mengkhianati istriku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berteriak-teriak seperti itu, lelaki bodoh! Kita tidak pernah bersetubuh! Tidak pernah! Itu hanya terjadi di dalam mimpi! Ingat, di dalam mimpi! Lihatlah, kita masih berpakaian lengkap. Kita tidak sedang telanjang. Lagi pula, aku tidak akan pernah sudi bersetubuh dengan lelaki bodoh macam kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, mengapa kita bisa berada di sini? Mengapa kita bisa tertidur di ranjang yang sama? Apakah semalam kita habis pergi ke suatu pesta, lantas mabuk, dan secara tidak sadar kita berdua tidur di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Lagi pula, kamar siapakah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamar ini bukan milikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan milikku juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun yang rambutnya dikepang dua masuk ke dalam kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, sih, Ayah sama Ibu selalu bertengkar? Hari ini kita jadi kan ke rumah nenek yang di Bogor?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dan perempuan itu langsung saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Depok, 23 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Baca cerpen selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2021471041225308942?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2021471041225308942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/mimpi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2021471041225308942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2021471041225308942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-7807607731776710658</id><published>2009-09-13T19:48:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:18:47.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Kumcer: Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Sq2vgKfRk-I/AAAAAAAAACg/xel7TsNEC8A/s1600-h/spasang-mata.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 189px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Sq2vgKfRk-I/AAAAAAAAACg/xel7TsNEC8A/s320/spasang-mata.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381150096883815394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;Noor H. Dee&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit:&lt;/span&gt; Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cetakan:&lt;/span&gt; Pertama, Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimensi:&lt;/span&gt; 13 X 20,5 cm&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jumlah Hlm.:&lt;/span&gt; viii + 183&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISBN:&lt;/span&gt; 979-136-714-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta tidak pernah tahu seperti apa rupa cahaya. Hanya kegelapan yang selalu menyertai kehidupannya. Pagi, siang, senja, malam, baginya sama saja. Gulita. Tetapi, seiring dengan berjalannya sang waktu, akhirnya Cinta mengerti juga betapa pagi dan malam tidaklah sama. Cinta mengetahui hal itu melalui semesta suara. Suara-suara di pagi hari amatlah berbeda dengan suara-suara yang didengarnya di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang buta, tetapi Cinta masih memiliki kedua telinga untuk mendengar segala jenis suara. Cinta mengetahui banyak hal dengan mendengar. Cinta melihat dunia dengan kedua telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Isi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta&lt;br /&gt;Menunggu, Membaca, dan Pergi&lt;br /&gt;Seorang Perempuan yang Ingin Membunuh&lt;br /&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/mimpi.html"&gt;Mimpi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Bermata Hujan&lt;br /&gt;Ketika malam Terasa Begitu Sunyi&lt;br /&gt;Seorang wanita yang Bercerita di Telepon&lt;br /&gt;Pengemis&lt;br /&gt;Ruang Ganti&lt;br /&gt;Rumah, Pntu, dan Kunci yang Hilang&lt;br /&gt;Semacam Isyarat&lt;br /&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/menunggu.html"&gt;Menunggu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anonymus&lt;br /&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/resep-airmata.html"&gt;Resep Airmata&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengejar Kupu-kupu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-7807607731776710658?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/7807607731776710658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-sepasang-mata-untuk-cinta-yang_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7807607731776710658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7807607731776710658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-sepasang-mata-untuk-cinta-yang_13.html' title='Kumcer: Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/Sq2vgKfRk-I/AAAAAAAAACg/xel7TsNEC8A/s72-c/spasang-mata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-4973550781568595458</id><published>2009-09-13T19:41:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T19:44:58.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Menunggu</title><content type='html'>&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-sepasang-mata-untuk-cinta-yang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Noor H. Dee&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=145691"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Minggu, 4 Juni 2006&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. "Tunggu aku di tempat biasa. Jam setengah lima, setelah aku pulang kerja. Jangan sampai terlambat, ya." Begitulah bunyi pesan pendek yang ia kirimkan ke telepon genggamku. Karena aku mencintainya, tentu saja permintaannya itu langsung aku turuti. Sepulang dari tempatku bekerja, aku langsung bergegas menuju tempat ini dan menunggu kedatangannya. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kami memang biasa bertemu di tempat ini, sebuah tempat yang tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang istimewa. Tempat ini hanyalah sebuah halte. Tempat persinggahan untuk sementara waktu. Seperti sebuah kehidupan, begitu pikirku. Ya, halte memang seperti sebuah kehidupan. Tempat yang cuma disinggahi sebentar. Tidak bisa untuk tetap tinggal abadi. Hanya sementara waktu, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan berikutnya yang entah menuju ke mana dan entah akan berakhir di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap arloji digital yang memeluk pergelangan tangan kananku. Angkanya menunjukkan pukul 16:00. Hmm, rupanya aku datang lebih awal setengah jam. Biarlah. Setidaknya aku tidak datang terlambat. Lagi pula, setengah jam bukanlah waktu yang lama. Cuma tiga puluh menit. Apalagi untuk menunggu seorang wanita seperti dia. Menunggu sampai bertahun-tahun pun akan kujalani. Menunggu sampai menjadi patung pun akan kusanggupi. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Dan menunggu, seperti kita tahu, juga termasuk dari sebuah pengorbanan, bukan? Aku mencintainya. Dia juga, katanya, mencintaiku. Jadi, tak ada salahnya kan jika aku mengorbankan setengah jam hidupku hanya untuk menunggu wanita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jress! Aku menyalakan sebatang rokok yang terselip di antara celah bibirku. Sekepul demi sekepul asap rokok meluncur ke udara dan segera melarut bersama angin sore. Di hadapanku, segala jenis kendaraan berlalu-lalang. Sepeda motor menyalip bis kota. Sedan hitam mendahului taksi. Debu-debu saling berkejaran. Aku mengembuskan asap rokok ke udara. Seorang wanita muda turun dari bus Patas, lantas berjalan perlahan menuju halte ini dan duduk di sampingku. Aku melirik ke arahnya. Wajahnya cantik. Rambutnya yang bergelombang itu dibiarkannya tergerai. Di mataku, ia terlihat seperti seorang wanita yang tahu betul betapa pentingnya arti sebuah penampilan. Aku menarik nafas panjang, dan dengan segera aroma parfum yang meruap dari tubuhnya itu langsung masuk ke dalam hidungku. Hmm. Aku melirik ke arah matanya. Tetapi, hei, mengapa matanya terlihat begitu sedih? Apakah ia sedang terluka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara telepon genggam berbunyi. Nadanya terdengar asing di kedua telingaku. Tentu, tentu suara itu milik telepon genggam wanita itu. Dari ekor mataku, aku melihat wanita itu membuka tasnya yang berukuran kecil, mengambil sebuah telepon genggam yang kecil, lantas didekatkan di telinga kanannya yang tergantung anting-anting yang juga kecil. Aku mendengar ia berbicara.&lt;br /&gt;"Sudahlah, lupakan aku. Selamat tinggal."&lt;br /&gt;Kemudian, aku melihat ia mematikan telepon genggamnya dan menatap kosong ke depan.&lt;br /&gt;"Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?" tanyanya lirih. Entah kepada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab, sebab ia memang tidak bertanya kepadaku. Kalau pun ia memang bertanya kepadaku, tentu aku butuh waktu untuk bisa menjawabnya. Sebab, pertanyaannya itu memang tidak akan cukup jika cuma diberikan jawaban 'iya' atau 'tidak'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap memerhatikan wanita cantik itu. Setelah menaruh telepon genggamnya, ia mengambil sebatang rokok dari dalam tas kecilnya, menyelipkannya di celah bibirnya yang berwarna merah, mambakarnya, menyemburkan asapnya secara sembarang, lantas berdiri dan berjalan meninggalkan halte ini. Ia seperti tidak mempedulikan akan keberadaanku. Ia seperti berada di sebuah dimensi kosong yang tidak ada orang lain lagi kecuali dirinya sendiri. Kedua mataku, entah mengapa, masih terus membututinya. Ia berjalan di atas trotoar, sambil terus merokok, dan melenyap di sebuah kelokan. Ke manakah wanita itu akan pergi? Entahlah. Tentu saja aku tidak akan pernah tahu. Misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mengembuskan asap rokokku ke udara. Terkadang asap itu kupermainkan, agar aku tidak jemu dalam penantian. Aku memonyongkan bibirku, mendesak asap itu dengan lidahku, lantas meluncurlah segumpal asap yang membentuk sebuah lingkaran. Sebuah lingkaran putih, seperti lingkaran yang selalu mengambang di atas kepala malaikat yang sering kulihat di komik-komik. Aku bisa melihat bagaimana asap itu melayang, mengambang, lantas menghilang karena dihapus angin. Segumpal asap, begitulah, meskipun terlihat sepele, ternyata bisa memberikan ketenangan bagi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke manakah wanita itu akan pergi? Aku kembali bertanya tentang wanita yang telah lenyap di kelokan itu. Barangkali ia akan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Namun, di manakah tempat itu berada? Tentu saja cuma wanita itu yang mengetahuinya. Barangkali ia akan mengunjungi sebuah tempat yang dapat menghadirkan kebahagiaan semu. Seperti diskotik, pub, atau pun kafe-kafe yang lampunya selalu remang-remang, yang seperti enggan menghadirkan sebuah kenyataan. Tetapi, ah, sepertinya itu tidak mungkin. Hari masih sore, dan sore bukanlah waktu yang tepat untuk pergi ke tempat-tempat semacam itu. Barangkali ia akan pulang ke rumah. Tidak pergi ke mana-mana. Sebab, ia berpikir, pergi ke mana-mana pun tidak akan mampu menghibur hatinya yang anggap saja sedang terluka itu. Ia akan berdiam diri di dalam kamar. Barangkali ia akan menangis, dan menghabiskan waktunya hanya dalam kesendirian. Dan, ia akan tersadar, betapa di dunia ini tidak ada yang tetap tinggal abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Aku kembali teringat dengan wanita yang saat ini sedang kutunggu-tunggu kehadirannya. Apakah ia juga akan seperti itu jika hatinya sedang terluka? Apakah ia juga akan mengatakan, 'Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?' jika hatinya telah dikhianati? Hmm. Aku jadi semakin tidak sabar dan ingin cepat-cepat bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Aku membuang rokokku yang sudah pendek ke aspal dan membunuh baranya dengan injakan. Fiiuuuh! Segumpal asap terakhir meluncur dari bibirku. Lima belas menit sudah berlalu. Berarti, lima belas menit lagi, ia akan hadir di hadapanku. Aku memang sudah terbiasa menghitung waktu dengan sebatang rokok. Sebatang rokok, bagiku, bisa menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit. Langit di atas sana memperlihatkan pemandangan sore. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala mengikuti ajakan angin. Matahari bersembunyi di balik gedung-gedung kaca. Angin berembus. Daun-daun saling menampar. 'Lima belas menit lagi,' ujarku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang sedang kutunggu-tunggu kehadirannya itu adalah seorang wanita yang menarik. Memang tidak cantik, tetapi menarik. Ah. Cantik. Menarik. Manakah yang lebih menjanjikan untuk sebuah kebahagiaan?&lt;br /&gt;"Aku tidak cantik," ujarnya dulu.&lt;br /&gt;"Lantas, memang kenapa kalau tidak cantik?"&lt;br /&gt;"Iya, mengapa kamu memilih aku? Bukankah masih banyak yang lebih cantik dari aku?"&lt;br /&gt;"Aku memilihmu, sebab kamu adalah wanita yang menarik."&lt;br /&gt;"Menarik?"&lt;br /&gt;"Ya, menarik."&lt;br /&gt;"Tapi, aku tidak cantik."&lt;br /&gt;"Tidak perlu harus menjadi cantik, untuk bisa tampil menarik."&lt;br /&gt;"Kalau begitu, apa yang menarik dariku?"&lt;br /&gt;"Matamu."&lt;br /&gt;"Mataku? Ada apa dengan mataku?"&lt;br /&gt;"Seperti ada tali."&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;"Ya, di dalam matamu seperti ada tali yang telah menarik hatiku sehingga membuatku jatuh cinta kepadamu."&lt;br /&gt;"Uh, gombal!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Gombal. Aku masih belum mengerti mengapa segala bentuk pujian yang dikatakan secara jujur pun masih tetap dikatakan gombal? Apakah setiap kata-kata yang manis, yang diucapkan dengan sebenar-benarnya dari dalam hati, masih juga tetap dikatakan gombal? Hmm. Gombal. Makhluk apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halte ini kebetulan sepi. Hanya aku saja duduk di sini, sendirian, menunggu wanita itu, tanpa ada teman yang mengawani. Menyaksikan pemandangan sekitar. Menyaksikan dunia. Apa boleh buat, ternyata memang benar perkataan orang bijak itu, betapa dunia cuma sebatas mata memandang. Aku melihat sebuah bis kota yang penuh sesak dengan penumpang. Laki-laki. Perempuan. Anak kecil. Orang tua. Mereka yang berada di pintu itu bergelantungan dengan berbagai macam cara, bertahan sekuat mungkin agar tidak sampai terjatuh. Mereka yang berada di dalam sana terlihat lebih memrihatinkan. Tubuh-tubuh mereka saling terhimpit satu sama lain. Aku bisa membayangkan betapa sumpek di dalam sana. Namun, sang kernet dengan wajah tanpa dosa masih terus menawarkan jurusan kepada setiap orang yang sedang berada di pinggir jalan. Seandainya aku juga berada di dalam sana, betapa jengkelnya aku melihat aksi sang kernet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali melirik arloji digitalku. Angkanya menunjukkan pukul 16:20. Berarti, sepuluh menit lagi wanita itu akan hadir di hadapanku. Aku membayangkan apakah kiranya yang akan kami lakukan jika bertemu nanti. Barangkali ia akan langsung mengajakku makan di sebuah tempat. Sama seperti yang biasa kami lakukan setiap kali bertemu. Kalau tidak di restoran Jepang, pastilah ia akan memilih makan di restoran siap saji. Aku juga tidak mengerti mengapa ia suka sekali makan di tempat-tempat semacam itu. Aku pernah mengusulkan untuk sekali-sekali makan di restoran padang. Tetapi ia selalu menolaknya. "Aku tidak mau. Aku lebih suka makan di sini." Begitulah jawabannya selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang benar kami makan, maka kami akan makan secara perlahan, sengaja agar pertemuan terasa lama. Tetapi, entah mengapa, itu tidak pernah berhasil. Aku selalu merasa pertemuan kami selalu cepat berakhir. Setiap kali kami bertemu, aku selalu merasa waktu begitu cepat melesat. Satu hari bersamanya, sama seperti satu jam. Satu jam, terasa satu menit. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa selalu seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kami akan makan sambil bercerita tentang banyak hal. Sebenarnya ia yang lebih banyak bercerita, dan aku yang lebih banyak mendengarkan. Tentang pekerjaannya yang melelahkan. Tentang atasannya yang menjengkelkan. Tentang teman-teman pria di kantornya yang sering menggodanya. Tentang cinta. Tentang harapan. Tentang mimpi-mimpi. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Juga tentang hal-hal yang kelihatannya sepele, namun tetap memiliki daya tarik untuk dibicarakan. Tentang dedaunan, langit malam, sepotong senja, dan lain semacamnya yang sebenarnya memang tidak terlalu penting-penting amat. Biasanya, ia akan bercerita dengan mata berbinar-binar. Semakin berbinar-binar matanya, semakin aku jatuh cinta dibuatnya. Matanya itu, ya, matanya itu seperti sebuah jendela yang menampilkan seribu pemandangan bukit, seribu pemandangan laut, seribu pemandangan semesta, sehingga membuat aku betah untuk berlama-lama menatapnya. Matanya, ya, matanya yang sejernih telaga itulah yang membuat aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matamu indah," ujarku dulu, entah kapan dan di mana, aku sudah lupa. Yang bisa kuingat, saat itu ia cuma mengulas senyum sambil menarik kepalaku mendekati kepalanya. Lantas, ia menjepit bibirku dengan bibirnya sambil berkata, "Aku mencintaimu, laki-laki gombal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Arloji digitalku sudah menunjukkan pukul 16:40. Ia belum juga hadir di hadapanku. Apakah suaminya datang menjemput? Hmm. Terkadang aku lupa betapa ia adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Sekarang ia belum datang. Alasannya apa, aku belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan bergetar di saku celana. Aku meraihnya. Ada pesan yang masuk. Ternyata dari wanita itu. Hmm. Apakah ia ingin membatalkan pertemuan ini? Atau, apakah ia akan datang terlambat, sebab ada sesuatu hal yang mesti ia kerjakan di kantornya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik nafas panjang dan segera membuka kotak pesan di layar telepon genggamku.&lt;br /&gt;Aku membaca sebuah pesan. "TAMAT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca cerpen lainnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-4973550781568595458?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/4973550781568595458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/menunggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4973550781568595458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/4973550781568595458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/menunggu.html' title='Menunggu'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-3066865588533560576</id><published>2009-09-10T17:09:00.000-07:00</published><updated>2009-11-02T20:23:18.865-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Kumcer: Ella &amp; Sepatu Kaca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqmYBcWXuYI/AAAAAAAAACQ/PBCh0f3jLYg/s1600-h/EllaSepetu-Kaca2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqmYBcWXuYI/AAAAAAAAACQ/PBCh0f3jLYg/s320/EllaSepetu-Kaca2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379998380428081538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis :&lt;/strong&gt; Denny Prabowo&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit :&lt;/strong&gt; Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cetakan :&lt;/strong&gt; Pertama, Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dimensi : &lt;/strong&gt;8 x 12 cm&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumlah Hlm.&lt;/strong&gt; :vii + 170 hlm.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Hari gini cerita Cinderella...?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Mimpi kali ye...!&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Tapi ini benar-benar terjadi pada Ella, Gals!&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ada peri gendut yang mau ngubah dia jadi Cinderella,&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ada gaun cantik buat pergi ke pesta,&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ada sepatu kaca yang berkilau indah,&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Bahkan ada Mercy keren plus supirnya yang akan mengantar Ella.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lebih keren dari Kereta Labu Cinderella, kan?&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Terus, pangerannya?&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Tenang, ada Andi yang sedang mencari putri cantik.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Dongeng jadi kenyataan? Hari gini?&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ups, mungkin nggak sih?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Daftar Isi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#01: Ramalan Bintang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#02: Ella dan Sepatu Kaca&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#03: Lili ingin Pakai Jilbab&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#04: Vampir&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#05: Bukan Sitti Nurbaya&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#06: Drama April Mop&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#07: Hantu tak Diundang&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#08: Seraut Wajah Bidadari&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#09: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/11/guruku-tampan-sekali.html"&gt;Guruku Tampan Sekali&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#10: Papaku Banci&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#11: Puisi Cinta di Laci Meja&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen#12: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/jilbab-tami.html"&gt;Jilbab Tami&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-3066865588533560576?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/3066865588533560576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-ella-sepatu-kaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/3066865588533560576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/3066865588533560576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/kumcer-ella-sepatu-kaca.html' title='Kumcer: Ella &amp; Sepatu Kaca'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqmYBcWXuYI/AAAAAAAAACQ/PBCh0f3jLYg/s72-c/EllaSepetu-Kaca2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-7119288912142135860</id><published>2009-09-10T16:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T16:57:30.051-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI ANAK'/><title type='text'>Misteri Rumah Hantu (episode#04)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-misteri-rumah-hantu.html"&gt;Novel Denny Prabowo &amp;amp; Dhinny el Fazila&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gara-gara Ketiduran di Masjid&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Selasai makan sahur di rumahnya masing-masing, Amien, Adji dan Ody pergi ke masjid bersama-sama. Mereka memang selalu salat Subuh berjamaah di masjid Al-Kautsar. Tapi biasanya, selesai salat mereka langsung pulang ke rumah, nerusin bobo, baru bangun kalau pas mau berangkat ke sekolah. Kecuali hari minggu. Soalnya, kalau hari minggu ada tausiah yang disampaikan oleh seorang ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji dan Ody duduk saling bersandar. Sekali-sekali kepala mereka melangut ke depan atau ke samping. Keduanya keliatan sangat mengantuk. Hanya Amien saja yang nampaknya tekun mendengarkan ceramah yang digelar sehabis salat Subuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah mulai terang waktu pak ustadz yang ngasih tausiah turun dari mimbar. Amien tersenyum-senyum melihat kedua sahabatnya sudah terkapar dengan kedua mata terpejam. Mereka tertidur pulas! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien mengguncang-guncang tubuh Adji dan Ody. Tapi keduanya nggak bergeming sama sekali dari posisi tidurnya yang ngelungker mirip uler melinger di atas pager. Amien lalu menepuk-nepuk pipinya Adji. Berhasil! Mata Adji terbuka. Tapi... bocah keling itu kembali memejamkan matanya. Ody ganti menepuk-nepuk pipinya si Ody. Tapi hasilnya sama saja. Anak itu malah sama sekali gak mau ngebuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh... pada susah amat sih dibanguninnya!” Amien keki. Tapi dia nggak kehabisan akal. Buru-buru dia pergi ke tempat wudu. Diambilnya segayung air. Lalu kembali ke dalam masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe... dengan ini mereka berdua pasti bangun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien mencelupkan telapak tangannya ke dalam gayung berisi air. Lalu dia kepretkan ke wajah Adji dan Ody bergantian. Adji hanya mengusap wajahnya yang basah tanpa membuka mata. Sedang si Ody, akhirnya tuh anak mau juga ngebuka matanya setelah 3 kali Amien mencepretkan air ke wajahnya. Anak itu bangkit dari tidur. Membenarkan letak kaca matanya yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerimis ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Gerimis lokal,” jawab Amien sambil menunjukkan gayung berisi air di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh!” Ody sewot, “iseng banget sih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis, bukannya pada dengerin ceramah, eh... malah pada molor!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ody kembali merebahkan tubuhnya di karpet hijau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, mau ngapain lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ceramahnya sudah selesai, bangunin aku ya? Tar kamu ceritain saja ceramahnya ke aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceramah apaan? Sudah selesai dari tadi tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ody melihat ke sekeliling. Hanya tinggal mereka bertiga saja yang ada di dalam masjid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa gak bilang dari tadi kalau ceramahnya sudah selesai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien misuh-misuh. Kalau gak ingat lagi puasa, sudah digatak jidatnya Ody yang nong-nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang yuk!” ajak Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si Adji gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien menepuk jidatnya. Dia kelupaan kalau temannya yang paling jago molor itu belum juga bangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana nih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ody belagak mikir. Tak berapa lama. “Aku tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guyur saja pake air seember!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Sadis amat. Tar karpet masjidnya pada basah semua! Cari yang lain dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm... kita tinggalin saja, gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien senyum-senyum mendengar usul Ody. Tumben banget tuh anak punya ide jail. Biasanya, dia yang sering jadi bulan-bulanan si Adji. Pernah suatu ketika, Adji ngumpetin kaca matanya Ody. Akibatnya, seharian Amien harus jadi penunjuk arah, persis orang yang menuntun  pengemis buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cabut, yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien dan Ody beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun, meninggalkan Adji yang suara ngoroknya sudah saingan sama knalpot-knalpot kendaraan yang berseliweran di jalan depan masjid. Sampai di luar masjid, mereka berdua tertawa cekikikan, membayangkan Adji yang bakal kebingungan mencari-cari mereka pas bagun tidur nanti.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siang itu cuaca memang agak sedikit mendung, setelah puas main game di komputernya si Ody, Amien dan Ody pergi nyamper Adji ke rumahnya. Mereka mau ngajakin Adji salat Zuhur berjamaah di masjid. Tapi waktu mereka tiba di sana, ternyata si Adji nggak ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya pergi sama kalian?” ibunya Adji malah balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak kok, Bu,” jawab Amien, “dari tadi kita berdua gak ngeliat Adji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya Adji nggak bilang mau pergi ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke masjid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dari Subuh tadi dia belum kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?!?” Amien dan Ody saling berpandangan. Lalu keduanya sama-sama berucap, “Jangan-jangan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien dan Ody lalu pamit sama ibunya Adji mau ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, Bang Fadil, marbot masjid Al-kautsar yang biasa jadi muadzin geleng-geleng kepala, waktu melihat ada seorang anak laki-laki yang asyik mendengkur sendiri di dalam masjid. Bang Fadil tersenyum. Sebelum mengambil mikrofon untuk kemudian mengumandangkan azan dengan suaranya yang serek-serek becek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara azan berkumandang, kontan saja si Adji langsung bangkit dari tidurnya. Ngusap ilernya yang berleleran di pipinya. Dia melihat ke arah luar. Wah, sudah azan saja! Batinnya. Mendung memang bikin Adji sulit membedakan hari, masih siang apa sudah sore. Dia berlari ke rumahnya dengan semangat empat lima. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Amien dan Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kalian sudah mau berangkat ke masjid ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang dulu sebentar, nanti nyusul! Aku belum batalin puasa.”           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien dan Ody berpandangan heran. “Batalin puasa?” ucap mereka hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Dji...” belum sempat Amien menyelesaikan ucapannya, Adji sudah keburu lepas landas, berlari meninggalkan keduanya. Amien dan Ody segera mengejarnya sambil terus manggil-manggil Adji. Tapi Adji larinya cepet banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu alaikum!” ucap Adji, sebelum tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dari mana saja, Dji? Tadi dicariin sama teman-temanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tadi juga ketemu di jalan,” kata Adji sambil terus berlari ke ruang makan. Mambuka kulkas. Membaca doa berbuka puasa, terus menenggak air langsung dari botolnya. Glek... glek... glek... “Alhamdulillah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nggak puasa?” tanya ibunya heran melihat Adji minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasa dong, Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenapa minum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, tadi kan sudah azan. Memang ibu nggak dengar ya?””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga tau kalau tadi sudah azan. Tapi tadi itu azan Zuhur, bukannya azan magrib!” terang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah????”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan Amien dan Ody tiba di rumah Adji dengan napas tersengal-sengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan batalain dulu puasanya, Dji!” kata Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang belum magrib!” timpal Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huaaaaaa... terlambat! Aku sudah minum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Amien dan Ody jadi tertawa terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh,” Adji merengut, “bukannya pada prihatin, malah ngetawain! Lagi kenapa sih, kalian ninggalin aku sendirian di masjid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa suruh tidur kayak kebo!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-7119288912142135860?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/7119288912142135860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7119288912142135860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7119288912142135860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode4.html' title='Misteri Rumah Hantu (episode#04)'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-6638764558090593179</id><published>2009-09-10T16:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T16:58:06.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI ANAK'/><title type='text'>Misteri Rumah Hantu (episode#02)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-misteri-rumah-hantu.html"&gt;Novel Denny Prabowo &amp;amp; Dhinny el Fazila&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dompet&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Hari kedua di bulan ramadhan, Adji, Amien dan Ody berniat mengunjungi toko buku terbesar di Kota Depok yang berada di jalan Margonda Raya, setelah kemarin gak jadi pergi gara-gara si Adji kekunci di kamar mandi. Mereka bermaksud menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku-buku yang dijual di tempat itu. Sampai waktu magrib tiba.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Adji, anak kedua yang punya hobi kemping, paling gemar membaca buku-buku seri petualangan dan komik-komik detektif. Bocah tinggi kurus itu bercita-cita menjadi seorang tentara seperti ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Amien, bungsu dari sembilan bersaudara yang sering dijuluki ‘Pak Ustadz’ oleh kedua sahabatnya itu, paling suka membaca buku-buku agama. Bapaknya seorang guru agama di sebuah SMUN ternama di Kota Depok. Jadi nggak heran kalau pengetahuan agamanya di atas rata-rata anak-anak seusianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ody, anak pertama sekaligus terakhir yang nggak pernah melihat bapaknya sejak dilahirkan ke dunia itu doyan banget melahap bacaan-bacaan yang berhubungan dengan komputer. Sejak masih duduk di bangku kelas satu SD, dia sudah akrab sama yang namanya komputer (sampai-sampai dikiraiin kembarannya komputer). Hobinya nongkrong di depan komputer sampai berjam-jam, membuat dia harus menggunakan kaca mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kiri, Bang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir angkot menghentikan laju kendaraannya di depan toko buku Gramedia. Ketiga sahabat itu melompat turun. Melihat kanan-kiri sebelum menyeberang jalan. Di depan pintu masuk Gramedia, kaki Amien menendang sebuah benda berbentuk segi empat, berwarna hitam pekat, yang terbuat dari bahan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dompet!” Amien memungutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan gak banyak orang yang lewat di situ. Jadi gak ada yang ngeliat waktu Amien memungut dompet yang lumayang tebal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punya siapa, ya?” gumam Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaaa… nggak perlu tau siapa yang punya. Kita ambil saja uangnya. Terus dompetnya kita buang ke tong sampah. Lumayan buat beli komik baru,” ujar Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Mien. Buka puasa nanti kita bisa mampir ke KFC. Kita puas-puasin makan ayam goreng di sana!” timpal Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak saja. Dompet ini bukan hak kita. Haram hukumnya mengambil barang yang bukan hak kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dompetnya tebal. Uangnya pasti banyak. Jadi nggak pengaruh kalau kita ambil selembar saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selambar atau dua lembar dosanya sama saja. Kalian mau masuk neraka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus harus kita apain, dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita kembaliin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam dompet ini pasti ada KTP-nya. Kita bisa liat alamat pemiliknya di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain sih, repot-repot ngembaliin dompet itu?” kata Adji, “Kita titipin saja ke Pak Satpam. Bereskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kebetulan Pak Satpam yang ketitipan dompet ini jujur… kalau nggak? Gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus mengembalikan dompet ini langsung ke pemiliknya,” ujar Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu acara baca-baca kita gimana?” protes Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok-besok kita bisa kembali lagi ke sini, liburan kita kan masih ada beberapa hari lagi,” kata Amien lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, deh Pak Ustadz…” Adji dan Ody tak lagi membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien mengambil KTP dari dalam dompet itu. Dia sama sekali nggak tergiur ngeliat lembar-lembar lima puluh ribuan di dalam dompet itu. Kalau diliat dari ATM yang berjumlah tiga dari Bank yang berlainan, dan dua buah kartu kredit, pasti pemiliknya orang kaya, batin Amien. Amien meneliti alamat pemilik yang tertera di KTP-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kompleks Permata Hijau, jalan Lestari Raya no 23 blok B IV.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana, tuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di… Sawangan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tau tempat itu!” seru Ody, “Sepupuku ada yang tinggal di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Permata Hijau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Tapi di desa Pasir Putih, Sawangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau gitu kamu tau dong letak kompleks Permata Hijau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ody menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daripada nanti kita nyasar, mending kita tungguin saja di sini. Nanti kalau dia sadar kehilangan dompet, pasti dia bakalan balik lagi ke sini,” ujar Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada benarnya juga, sih… ya sudah, kita tungguin sampai ba’da Ashar nanti. Kalau orangnya nggak datang juga, kita cari saja alamatnya!” putus Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setuju!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berputar. Banyak orang yang lalu-lalang di tempat itu. Tapi nggak seorang pun yang ngerasa kehilangan dompetnya. Sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar di kejauhan. Ketiga sahabat itu beranjak dari tempatnya menunggu. Mereka turun ke basement. Di area perkir mobil itu ada sebuah ruang kecil untuk karyawan atau pengunjung yang mau menunaikan ibadah lima waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dy, kamu tau ‘kan angkot yang ke Sawangan?” tanya Amien seusai menunaikan salat Ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau. D 03.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kita nggak tau alamat persisnya, Mien,” kata Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa tanya sama Pak Sopir. Mereka pasti tau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, deh! Kalau gitu kita harus berangkat sekarang biar nggak kesorean,” kata Aji lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sahabat yang sudah berteman sejak masih di bangku kelas satu itu melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Angkot D 03 yang mereka tumpangi berhenti.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;“Di sini tempatnya, Bang?” tanya Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Nanti tanya saja sama orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji, Amien dan Ody melompat turun dari angkot. Mata mereka berkeliling, mencari orang untuk ditanyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh ada satpam!” Ody menunjuk seorang pria berusia tiga puluh lima tahunan yang baru saja turun dari angkot. “Kita tanyain saja dia. Siapa tau dia satpam kompleks Permata Hijau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya berlari-lari tergesa menghampiri satpam yang langsung pasang muka manis. Asli jayus banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa adik-adik? Mau minta tanda tangan sama Abang, ya? Kebetulan nih, Abang baru saja pulang dari lokasi suting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji, Amien dan Ody saling berpandangan. Ketiganya mati-matian menahan tawa. Takut nanti satpam yang kege’eran itu bakalan tersinggung dan nggak mau menjawab pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini lho, Pak Satpam yang keren abis,” puji Adji, satpam itu langsung pasang aksi. Gayanya dimirip-miripin sama Arnold waktu main di film Terminator. “Kita bertiga, anak-anak yang manis ini, mau tanya, apa Pak satpam yang keren tau kompleks Permata Hijau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo…” ucap satpam itu agak kecewa, “Tuh, di seberang sana. Kira-kira 100 meteran dari jalan raya,” tunjuknya males-malesan. Kemudian melangkah kaki kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal satpam itu, Aji, Odi dan Amien ketawa terpingkal-pingkal. Gaya satpam yang ngerasa kayak artis sinetron tadi itu bener-bener norak abis! Sebenarnya nggak bagus sih ngetawain orang. Apalagi saat sedang berpuasa. Tapi mau gimana lagi… lucu banget sih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang satpam Permata Hijau menahan langkah mereka saat hendak melintas di depan gerbang masuk kompleks itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana adik-adik?” tanya satpam itu ramah. Yang satu ini cukup menunjukan wibawanya. Nggak pakai bertingkah seperti artis sinetron segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien mengeluarkan KTP pemilik dompet hitam yang mereka temukan di depan pintu masuk Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumahnya Pak Marja. Di blok B IV.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada keperluan apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mau mengembalikan KTP-nya yang tertinggal di toko buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satpam yang ramah itu kemudian mempersilakan mereka lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berputar-putar mencari rumah Pak Marja, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah megah. Pagar rumah itu sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alamatnya betul, Mien?” tanya Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Ini rumahnya!” katanya yakin sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji menekan bel yang menempel di pagar rumah besar itu. Berkali-kali. Tapi tak juga ada yang keluar. Sepertinya bel itu rusak. Gak ada suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana?” Adji putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ody ngeliat pintu kecil di samping gerbang rumah besar itu sedikit terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita masuk saja, yuk!” usul Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak sopan, ah.” Amien nggak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kita harus nunggu sampai orang itu keluar? Keburu magrib, Mien!” ujar Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Kita masuk saja!” timpal Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke deh.” Akhirnya Amien setuju juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekarangan rumah itu sangat luas. Rumput hijau bak permadani dari Turki. Bermacam tumbuhan yang berwarna-warni menyejukkan, melindungi rumah itu dari sengatan sinar matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepi banget…,” gumam Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lagi di belakang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ke belakang saja, yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belum lagi mereka melangkahkan kaki ke pekarangan belakang rumah besar itu, tiba-tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guk… guk… guk… guk…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor anjing dobermen berlari ke arah mereka memamerkan taring tajamnya yang berliur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laaarrrriiiiiii…!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sahabat itu lari lintang-pukang. Untung saja anjing yang besarnya lebih besar dari seekor kambing itu nggak ngejar sampai ke luar pager karena lehernya di rantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah!” ucap Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat… selamat…” Ody mengelus dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar tuh anjing! Dasar binatang! Nggak punya pikiran kali ya?!” maki Adji, “Nggak tau apa kalau kita-kita mau mengembalikan dompet milik majikannya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar makian Adji, kedua sahabatnya saling berpandangan. Lalu keduanya ketawa ngakak. Orang kalau lagi panik memang suka aneh-aneh. Masa’ anjing disuruh mikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang, yuk?” usul Amien, “Sebentar lagi sudah mau magrib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus gimana dengan dompetnya?” tanya Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dompet?” Amien meraba-raba saku bajunya. Dompet itu sudah nggak ada. “Wah… ke mana ya dompetnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin terjatuh waktu dikejar-kejar anjing nggak punya pikiran itu?” kata Adji masih dengan nada sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kebetulan. Jadi kita nggak perlu repot-repot mengembalikan dompet itu. Aku males kalau harus ketemu sama dobermen itu!” kata Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang berbuat baik itu memang gak mudah. Tapi nggak ada salahnya mencoba. Yang penting sudah berusaha. Hasilnya serahkan saja pada Yang Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien, Adji dan Ody melangkah ringan meninggalkan rumah besar itu. Tapi baru beberapa meter mereka melangkah, kaki Amien lagi-lagi menendang sesuatu. Sebuah benda persegi empat berwarna biru muda tergolek di aspal jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dompet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Lalu ketiganya tertawa terbahak-bahak teringat dengan kejadian yang baru saja mereka alami: dikejar-kejar anjing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan, sayup terdengan adzan Magrib menggema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Magrib!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita cari musala dulu, yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siiip!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketiganya melangkahkan kaki sambil berangkulan, dan membiarkan dompet biru muda itu tergolek di aspal sendirian. Mudah-mudahan ada orang jujur yang menemukannya, dan mau ngembaliin dompet itu ke pemiliknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode03.html"&gt;Baca cerita selanjutnya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-6638764558090593179?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/6638764558090593179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6638764558090593179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6638764558090593179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode2.html' title='Misteri Rumah Hantu (episode#02)'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-7672240397526187895</id><published>2009-09-10T00:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T16:59:19.783-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI ANAK'/><title type='text'>Misteri Rumah Hantu (episode#03)</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-misteri-rumah-hantu.html"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Novel Denny Prabowo dan Dhinny el Fazila&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Misteri Rumah Hantu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya. Sudah banyak cerita-cerita yang beredar di lingkungan sekitar rumah itu. Adji sendiri gak berapa tau sejarah rumah itu. Saat dia dilahirkan, rumah itu sudah ada. Dan sudah gak berpenghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi gak ada yang tau ke mana orang-orang yang dulu tinggal di tempat itu?” tanya Ody penasaran. Adji menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokonya, tempat itu syerem banget deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak hantunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi hantu itu kan gak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata bapakku. Hantu itu cuma perasaan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi banyak orang yang pernah ngalamin kejadian-kejadian aneh di tempat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau itu mah, jin kafir yang memang bisa ngerubah wujud jadi apa saja, kecuali jadi Nabi Muhammad. Namanya jin Qorin!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi gak ada ya yang namanya arwah penasaran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, gak ada. Cuma Allah saja yang tau di mana arwah orang yang sudah meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya kamu pernah liat, Dji?” tanya Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Liat sendiri sih, belum,” lanjut Adji, “tapi waktu itu ada orang yang pesan sate dari rumah itu, terus waktu pesanannya sudah selesai, orang itu gak muncul-muncul! Abang aku sendiri yang menyaksikan tukang sate itu kebingungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, harusnya kan tukang sate itu tau kalau rumah itu kosong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di situ letak keanehannya. Malam itu, si tukang sate ngeliat rumah itu terang-benderang. Dan banyak orang. Jadi dia pikir rumah kosong itu sudah ada yang nempatin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiiiyyy...!” Ody merinding mendengar cerita Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian jadi nginep di rumah aku kan?” tanya Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya orangtua kamu ke mana?” Amien balik tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka pergi ke rumah nenekku yang tinggal di Bogor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kakak kamu?” tanya Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia ada acara di sekolahnya. Ikutan pesantren kilat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kakak kamu berani banget!” kata Ody, “Apa gak takut gosong kesaber kilat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji sama Amien tertawa mendengar oecehan Ody barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ody, Ody... yang namanya pesantren kilat itu, maksudnya waktu pelaksanaannya cepat, hanya selama bulan ramadhan berlangsung saja,” terang Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, gitu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti deh, aku minta ijin sama bapakku,” janji Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ikut nginep juga kan, Dy?” tanya Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku takut, ah...” ujar Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sekarang kan bulan ramadhan,” timpal Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus kalau bulan ramadhan kenapa emangnya?” tanya Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama bulan ramadhan, syetan di rantai di neraka sama Allah,” terang Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu penakut banget sih, Dy!” ucap Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, deh... iya,” kata Ody akhirnya, “nanti aku ngomong dulu sama mamaku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gitu dong!” Adji menepuk pundak Ody keras, sampai kaca mata anak itu terjatuh. Ody misuh-misuh. Coba balas menepuk pundak Adji. Tapi Adji cukup sigap berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotib naik ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramah sebelum salat tarawih dilaksanakan. Amien memberi isyarat pada kedua temannya untuk tenang dan mendengarkan ceramah yang akan disampaikan khotib. Ketiganya sudah bersiap dengan buku catatan mereka masing-masing. Mereka medapat tugas dari sekolah untuk mencatat isi ceramah selam bulan ramadhan, dan minta tanda tangan dari penceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah besar itu tampak berdiri sunyi, diapit rumah-rumah lainnya. Gelap. Hanya bagian terasnya saja yang tersiram cahaya, dari lampu jalanan, yang dipasang di depan rumah Adji. Dari jendela kamar Adji, yang terletak di bagian depan rumahnya, rumah besar itu tampak jelas sekali.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;“Kamu kok berani banget, Dji?” kata Ody sambil melirik rumah besar dari jendela kamar Adji, “Apa gak takut kalau-kalau hantu itu ngintipin kamar kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm... sebenarnya sih takut, tapi... malu dong! Masa anak laki penakut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagian, memang syetan gak perlu ditakutin!” timpal Amien, yang sedari tadi asyik rebahan di tempat tidur Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dji, buka sahur nanti kita makan apaan?” tanya Ody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tenang saja, ibuku sudah nyiapin buat makan sahur kita kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siiip dah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hidung mereka mengendus sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayak bau...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemenyan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adji sama Ody langsung lompak ke tempat tidur, menyusul Amien yang memang sudah dari tadi rebahan di sana.    “Kalian apa-apaan, sih?” Amien sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa kamu gak nyium, Mien?” Adji heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien kemudian mengendusi udara. Dia juga mencium bau yang sangat menusuk hidungnya. Bau kemenyan! Kata orang-orang, kalau bau kemenyan, itu tandanya bakalan ada syetan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, nih?” Ody merinding, “Aku pulang saja ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah... kamu gak solider banget sih sama teman!” Adji kesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mata Adji menangkap sesosok tubuh di atap rumah kosong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dy...Mien...” Adji ngomong dengan tampang ketakutan. Ody yang memang penakut jadi tambah ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ap..apaan sih Dji? Jangan...nakutin gitu dong,” Ody makin ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu...itu...” Adji menunjuk bayangan sesosok tubuh di atap kosong rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana sih?” Amien mencari-cari bayangan yang dimaksud Adji. Ody sudah dari tadi mendekap kepalanya dengan bantal. Dia nggak berani lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien berusaha mengamati bayangan itu lebih detail. Sebenarnya dia agak takut juga. Tapi karena dia yakin hantu itu nggak ada, jadinya dia malah penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dji, kamu punya senter nggak?” tanya Amien penasaran karena bayangan itu nggak pindah-pindah dari atas atap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ngapain Mien?” Adji balik nanya sambil mengambil senter di laci mejanya. Lalu memberikannya pada Amien. Amien mengambil senter itu dari tangan Adji, kemudian menyalakannya dan mengarahkannya ke atap rumah kosong itu dari jendela kamar Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja Adji jadi ketakutan. “Mien, Jangan! Nanti hantunya, eh jinnya, liat kita di sini!” Sedang Ody bukan ketakutan lagi. Dia nggak berani buka kepalanya dari bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa dirinya di senter, sosok hitam di atas atap itu kaget dan kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien dan Adji bernafas lega. Tak lama mereka seperti mencium sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm...kayak...bau pesing,” kata Adji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nih,” Amien mengendus-endus. Saat berbalik, mereka berdua mendapati Ody sudah ngompol. Amien tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ody...!!” Teriak Adji. Soalnya itu berarti dia harus ngepel kamarnya dari pipis Ody. &lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Esok harinya mereka membaca koran mengenai ditangkapnya seorang pencurian yang berusaha merampok sebuah rumah di Jl. Anggrek No.89. Sayangnya usaha pencurian tersebut gagal karena diduga ada orang yang mengetahui usahanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Adji yang tidak sengaja membaca koran pagi di tukang koran ujung gang berkerut-kerut jidatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jl. Anggrek No.89... Itu kan... Amien, Ody sini deh!” Adji memanggil Amien yang sudah berjalan duluan di depannya. Amien dan Ody berbalik ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu...” Adji menunjuk headline koran itu. Adji dan Ody membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo... jadi itu maling ya?” kata Ody.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Iya, makanya jangan keburu ngompol dulu. Kan aku jadi susah bersihin kamarku.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Maaf, deh...maaf. Itu kan nggak sengaja.” Ody tertunduk. Malu. Amien cuma ketawa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode4.html"&gt;Baca cerita selanjutnya&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-7672240397526187895?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/7672240397526187895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode03.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7672240397526187895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/7672240397526187895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode03.html' title='Misteri Rumah Hantu (episode#03)'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-8428345352339292887</id><published>2009-09-10T00:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T17:06:40.584-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI ANAK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU'/><title type='text'>Novel: Misteri Rumah Hantu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqixJwTEgJI/AAAAAAAAACI/m2YpiOUIlcY/s1600-h/kover+Misteri+Rumah+Hantu_img_0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqixJwTEgJI/AAAAAAAAACI/m2YpiOUIlcY/s320/kover+Misteri+Rumah+Hantu_img_0.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379744536035885202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis :&lt;/strong&gt; Denny Prabowo &amp;amp; Dhinny el Fazila&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit :&lt;/strong&gt; Mitra Bocah Muslim&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cetakan :&lt;/strong&gt; Pertama, September 2006&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dimensi :&lt;/strong&gt; 8 x 12 cm&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumlah Hlm. :&lt;/strong&gt;104 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam itu, dari jendela kamar, Adji, Ody, dan Amien melihat sesuatu yang mencurigakan di rumah seram itu. Apa yang dilihat mereka? Kejadian seru apa yang akan mereka alami? Yuk, kita baca pengalaman TRIO KOCAK dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR ISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#01: Terkunci di Kamar Mandi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#02: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode2.html"&gt;Dompet&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#03: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode03.html"&gt;Misteri Rumah Hantu&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#04: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/misteri-rumah-hantu-episode4.html"&gt;Gara-Gara Ketiduran di Masjid&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#05: Pencuri Sandal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#06: Ngamen&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#07: Gara-Gara Remot Control&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#08: Berenang di Kali&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#09: Sakit Perut&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;episode#10:Gerimis di Hari Lebaran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-8428345352339292887?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/8428345352339292887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-misteri-rumah-hantu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8428345352339292887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8428345352339292887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-misteri-rumah-hantu.html' title='Novel: Misteri Rumah Hantu'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqixJwTEgJI/AAAAAAAAACI/m2YpiOUIlcY/s72-c/kover+Misteri+Rumah+Hantu_img_0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-8848573911456317121</id><published>2009-09-09T22:13:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T22:33:46.844-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Dilla...?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiPMQp-JOI/AAAAAAAAACA/wHPFYEZpxaQ/s1600-h/dilla.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 277px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiPMQp-JOI/AAAAAAAAACA/wHPFYEZpxaQ/s320/dilla.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379707195686266082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen S. Prihandini&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://www.anekayess-online.com/cerpen/article.php?article_id=3060&amp;amp;_page=0"&gt;www.anekayess-online.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Alkisah di sebuah perpustakaan alias rumah baca yang terletak di bilangan Depok dua, berkumpullah penulis-penulis kenamaan yang biasa mangkal disitu. Rumah itu bernama Rumah Cahaya. Di rumah itulah banyak karya yang diketik, diedit, dan diolah menjadi sebuah buku. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu kali, Rumah Cahaya gempar. Rumah baca warna hijau yang penuh buku berserakan di atas karpet warna-warni tanda sedang atau sudah selesai di baca namun belum dikembalikan, sedang dilanda isu santer nan menggemparkan. Salah seorang penghuninya, sang penulis terkenal sejagad raya, Denny Prabowo, gosipnya sedang jatuh cinta, saudara-saudara!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisahnya berawal ketika seorang penghuni Rumah Cahaya alias Rumcay, Hendra Veejay, penulis kawakan asal Bandung yang tersesat di belantara Depok dan tidak bisa pulang ke Bandung karena tidak punya ongkos, menawari Denny sisa makan siangnya yang tidak habis dimakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny, udah makan siang belom? Tuh ada nasi sama sayur di tempat makan saya, tadi makan nggak abis.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nggak ah, lagi nggak nafsu makan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Apa Mas? Nggak nafsu makan...???” Hendra terbengong-bengong. Tami, Rifa, Lian Kagura (anak FLP Bandung yang lagi jadi musafir di Depok), dan Koko yang sedang asyik membaca novel karyanya sendiri-sendiri juga langsung meletakkan bukunya dan ikutan bengong.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya tidak aneh kalau orang tidak nafsu makan, bisa saja dia sedang tidak enak badan, sedang ada masalah, dan hal-hal tidak enak lainnya. Tapi jadi aneh kalau yang tidak nafsu makan adalah Denny. Bukannya bermaksud berlebihan, tapi sebelum ini seorang Denny Prabowo tidak pernah tidak nafsu makan dalam keadaan apa pun dan di manapun. Meskipun dia sedang tidak enak badan, tapi itu bukan alasan untuk mengurangi nafsu makannya. Apalagi jika ada masalah, justru porsi makannya malah bertambah banyak. Katanya banyak makan bisa menghilangkan stress. Bukan hanya jago makan kelas berat, tapi seringkali jatah makan orang dihabiskannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernah suatu kali, Tami, penunggu Rumcay selama berpuluh-puluh tahun (enggak sih, sebenernya baru satu tahun lebih), yang sudah sangat hapal ukuran setiap sudut Rumcay dan sudah akrab dengan binatang-binatang kecil yang numpang tinggal di rumah baca hijau imut yang terletak di pertigaan di kawasan Depok II Timur itu, marah besar dan ngambek seharian gara-gara nasi plus ayam bakar yang jadi menu makan siangnya kala itu, lenyap dilahap Denny saat ia sedang ke kamar mandi. Padahal ia cuma lima menit di kamar mandi. Tapi ketika ia keluar dari kamar mandi, makanannya hilang tak berbekas. Sepertinya makanan itu tak pernah ada sebelumnya. Lalu tanpa perasaan berdosa dan mimik yang dibuat sepolos-polosnya, dengan enteng Denny mengatakan,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Digondol kucing kali Tam,”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya, Tam. Kucing garong yang gede banget warna item. Sekarang kucingnya juga masih ada di sini.” Sahut Kang Lian tanpa melepaskan pandangannya dari notes kecil berisi puisi tentang pelangi buatannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mana? Mana?” Tanya Tami sewot. Ia sudah berdiri sambil memegang sapu ijuk untuk didaratkan ke tubuh hewan liar yang telah seenaknya menyantap makan siangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kayanya kemaren kucingnya baru launching novel perdananya Pemuda Dalam Mimpi Edelweiss.” Sahut Lian lagi, dan lagi-lagi tanpa melepaskan pandangannya dari puisi tercintanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny...!!!” Walhasil sapu ijuk yang tadi masih bertahta di tangan Tami, sekarang telah mendarat dengan sukses tepat di kaki Denny setelah diterbangkan cukup cepat oleh tangan mungil Tami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Adaoowww...!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hendra dan Koko yang juga ada disitu tak bergeming dengan kejadian itu, mereka asyik saja  dengan aktivitasnya masing-masing. Hendra main game di komputer, dan Koko tidur-tiduran sambil baca buku. Sebab kejadian sejenis itu sudah tak terhitung jumlahnya, jadi mereka biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Balik lagi soal Denny yang tidak nafsu makan, sebenarnya sudah tiga empat hari ini semua penghuni Rumcay merasa aneh. Karena Denny bukan hanya tidak nafsu makan yang membuat penghuni Rumcay bisa tenang meninggalkan makan siangnya sembarangan tanpa takut hilang ditelan bumi (di telan Denny maksudnya), tapi setiap kali datang, ia juga tidak pernah lagi menyunggingkan senyum TPTA alias Tebar Pesona Tiada Akhir yang biasa dilakukannya. Lemah, lesu, lelah, letih, tak ada gairah, seperti orang tidak bisa bayar hutang. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bahkan tidak hanya mogok makan, tapi sejak kemarin Denny juga mogok bicara. Efeknya lebih parah daripada Hendra waktu sakit gigi yang membuat pipinya menggembung satu setengah sentimeter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang setiap kali Denny datang ke Rumcay, kerjanya cuma duduk di depan komputer sambil menekan tuts-tuts di keyboard entah menulis apa. Gara-gara itu Tami sang penungggu Rumcay jadi sering bersungut-sungut karena tidak bisa main game di komputer.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau Denny sudah di depan komputer, tidak ada yang berani mendekat, tidak ada yang berani mengajak bicara. Bukan karena apa-apa, tapi barangsiapa yang mencoba mengajaknya bicara, niscaya pasti dicuekin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua penghuni Rumcay sudah berusaha sudah berlomba membuat Denny buka mulut dengan berbagai cara. Hendra meniru gaya sinchan, Koko bernyanyi dengan suara sembernya, Lian baca puisi keras-keras sampai Pak RT datang marah-marah karena kegaduhan di rumah itu sudah melebihi ambang batas suara normal yang sanggup di dengar oleh manusia biasa. Tami dan Rifa berbaik hati membelikan Edam Burger di seberang Rumcay khusus untuk Denny. Tapi semua finalis gagal. Denny belum mau buka mulut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya semua sepakat pada satu kesimpulan, Denny sedang jatuh cinta!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Cinta tak dapat disembunyikan&lt;br /&gt;Dari mata orang yang sedang jatuh cinta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;– John Crowne –&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Siang yang agak mendung, seperti biasa, Denny sedang menekuni layar kaca komputer sambil menekan-nekan tuts di keyboardnya. Tanpa disadarinya, sesosok makhluk bernama Koko sudah berdiri dibelakangnya sambil menatap lurus ke layar komputer, kemudian membaca keras-keras, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“P-U-I-S-I  C-I-N-T-A  B-U-A-T  D-I-L-L-A...” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sontak semua yang ada di situ menghentikan aktivitasnya sambil berucap, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ooo...namanya Dilla...”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya, sepersekian dari teka-teki itu terjawab sudah. Penulis terkenal sejagad raya, Denny Prabowo, sedang jatuh cinta dengan seseorang bernama Dilla.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny kok nggak mau cerita sih, sama kita-kita kalo lagi jatuh cinta.” Ujar Rifa&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya nih, kaya kita orang lain aja. Kita kan udah kenal lama, masa nggak percaya sih sama kita?” Tambah Koko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Cerita dong, ntar kita bantuin deh.” Tami ikut sumbang suara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang ditanya bukannya menjawab, malah ngeloyor pergi, berjalan keluar pintu, keluar pagar, berdiri sebentar, naik angkot, pulang. Semua bengong.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi itu, Rumah Cahaya heboh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pokoknya sebagai teman, kita harus membantu Mas Denny.” Koko sang ketua FLP Depok bicara dengan semangat berapi-api layaknya orator aksi mahasiswa yang biasa mangkal di depan gedung DPR MPR.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Setuju...!!” Yang lain menjawab dengan tak kalah semangat layaknya mahasiswa peserta aksi kenaikan harga BBM yang beberapa waktu lalu sudah lima kali bolak-balik aksi di depan gedung DPR namun harga BBM nampaknya tak mau turun juga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tapi kita kan nggak tau, Dilla itu siapa. Tanya sama Mas Denny nggak mungkin, trus gimana dong?” Tanya Rifa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kalo gitu, kita harus mulai mencari petunjuk siapa sebenarnya Dilla.” Ujar Koko mulai sok detektif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ada yang punya ide bagaimana mencari petunjuk?” Semua diam berpikir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Coba cari di database FLP Depok. Kali aja ada yang namanya Dilla,” Usul Lian. Kemudian Koko mengobrak-abrik file database anggota FLP Depok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nggak ada tuh, nggak ada nama yang ada dillanya”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nama pena kali,” Sahut Rifa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Yah, kalo gitu mana bisa tau. Di database kan nggak disuruh tulis nama pena.” Mendengar jawaban Koko sang kepala suku FLP Depok, serentak semua bilang, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Yah...” Ditengah kelesuan semua penghuni Rumcay, tiba-tiba seorang penulis yang menulis karena kemampuan komunikasinya kurang alias pendiam, Rifa, mencoba mengkomunikasikan idenya. Untungnya kali ini tidak dalam bentuk tulisan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Aku punya ide!” Teriak Rifa semangat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Gimana kalo kita cari tau no.telponnya di HP Mas Denny, ntar tinggal kita atur strategi untuk kenalan sama Dilla via telpon.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Boleh..boleh..bagus tuh idenya.” Hendra menjawab juga dengan semangat.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny...boleh pinjem HP gak?” Dengan suara dibuat semanis mungkin, Hendra merayu Mas Denny untuk meminjamkan HP-nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian Denny yang dari tadi sibuk menekuri layar komputer tiba-tiba menuliskan sesuatu di layar pada program powerpoint:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAU  NGAPAIN ?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hendra yang tidak memperhatikan layar komputer, masih terus memanggil-manggil, “Mas, Mas Denny...!” Namun sejurus kemudian ia melihat jawaban Denny tertulis di komputer. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mo sms satu kaliiii... aja!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian di layar muncul lagi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;NGGAK BISA NGGAK ADA  PULSA&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat jawaban tidak memuaskan di layar, Hendra mengeluarkan isyarat-isyarat aneh pada Tami yang sejak tadi memperhatikan usaha Hendra mengambil HP Denny. Jika isyarat-isyarat tersebut diterjemahkan kira-kira artinya: “Yah...gimana nih Tam?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas, aku liat HP dong, mo nyatet nomor telponnya Mba Asma. Besok ada proposal yang harus ditandatanganin Mba Asma.” Ujar Tami sigap menutupi kegagalan Hendra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sayangnya, di layar kembali tertulis:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;NGGAK  ADA  NO.MBA ASMA DI HP-KU&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, berbagai usaha telah dilakukan para penghuni Rumcay untuk mencari tahu apa dan siapa Dilla. Seseorang yang telah meluluhkan hati Denny setelah tujuh tahun Denny tidak lagi berpikir tentang itu. Lukanya tujuh tahun silam membuatnya trauma untuk kembali membuka pintu hati bagi seorang hawa untuk masuk ke dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hendra adalah satu-satunya penghuni Rumcay yang tahu tentang masa lalu Denny. Dia belum lupa bagaimana di suatu siang yang panas di Rumcay yang sejuk, kala itu mereka sedang ngobrol-ngobrol. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba Hendra bertanya pada Denny.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny kenapa sampe sekarang belom nikah-nikah?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nggak ada yang mau.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ah, yang bener, masa udah jadi penulis terkenal nggak ada yang mau. Royaltinya aja dalam sebulan udah ngalahin gaji pokok pegawai negeri eselon satu. Ntar deh, Hendra cariin. Mo yang kaya gimana sih?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba Denny terdiam. Mimiknya berubah mendung, dia teringat tentang kisah tiga tahun silam. Andriyani. Perempuan yang dikenalnya di kantor redaksi sebuah majalah remaja tempat Denny biasa menyerahkan cerpen-cerpennya untuk sekedar dimuat di majalah tersebut .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah perkenalan yang tak disengaja, yang membawa mereka pada sebuah pertautan emosi dan jiwa. Dan semuanya berakhir, tragis, ketika sang bidadari yang diharapkan menjadi belahan jiwanya pergi bersama sang pangeran yang lain*. Dan cerita tentang masa lalu yang penuh luka itu mengalir begitu saja dari mulut Denny. Hendra yang dari tadi sibuk menyimak kisah itu kini paham kenapa abangnya yang sudah menjelang kepala tiga itu kini masih saja membujang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mas Denny masih berharap sama dia?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nggak sih, tapi masih belum bisa membuka pintu untuk yang lain. Lagian takut berakhir tragis lagi.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan Hendra cuma manggut-manggut mendengar cerita abangnya yang lima tahun lebih tua darinya. Dan setelah tiga tahun lamanya, Hendra berpikir bahwa sekarang abangnya sudah membuka kembali pintu hatinya untuk seseorang. Dilla.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tam, pokoknya kita harus bantuin Mas Denny. Nggak peduli gimana caranya, kita harus cari tau siapa Dilla. Kita harus bilang sama Dilla tentang perasaan Mas Denny sama dia.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Emangnya dari kemaren kita ngapain? Tapi gimana kita mo tau kalo petunjuknya cuma nama, kemaren Rifa udah nyari di friendsternya Mas Denny, tapi nggak ada temennya yang namanya Dilla.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Si Dilla belom bikin friendster kali.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Terus gimana dong?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba yang diomongin datang, seperti biasa. Datang, langsung duduk di depan komputer tanpa salam atau basa-basi. Tak berapa lama kemudian, sebuah lagu anak-anak yang biasa dipelajari di bangku taman kanak-kanak karya Pak Kasur, Balonku, mengalun dari ringtone polyphonic handphone milik Denny. Dia mengeluarkan HP dari saku jeans-nya, melihat layarnya sebentar, kemudian me-reject-nya. Setelah itu ia meletakkannya di meja sebelah komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pucuk dicinta ulam tiba, begitu kata pepatah. HP yang sejak kemarin diincar oleh sepuluh pasang mata penghuni Rumcay, kini ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Denny berjalan ke kamar mandi tanpa membawa HP-nya. Empat pasang mata yang sejak tadi sudah mengintai HP itu dengan seksama, kini seperti kucing yang belum makan lima hari dan kini didepan matanya disuguhi ikan asin. Tanpa pikir panjang mereka mengambil HP tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Cepet cari Tam!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya, iya. Ini juga lagi dicari.” Tami sibuk mencari sebuah nama di phonebook HP itu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ada, ada nih!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mana? Mana?” Mereka mencatat sebuah nomor yang diincar sejak kemarin. Setelah itu meletakkan kembali HP tersebut tepat pada posisi awalnya. Bahkan tepat hingga kemiringan sudut awalnya. Seolah-olah HP itu tidak pernah disentuh oleh siapapun kecuali pemiliknya.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;****&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siang itu Rumcay kembali dihebohkan oleh suara-suara penghuninya. Mereka akan melancarkan secret mission untuk mencari tahu siapa Dilla.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Gimana nih? Pura-pura salah sambung terus kenalan apa langsung bilang aja temennya Denny?” usul Lian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jangan langsung bilang temennya Denny. Ntar kalo dia nggak suka sama Mas Denny, dia nggak mau ngomong sama kita juga lagi,” timpal Rifa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Udah, bilang aja cari Dilla. Pura-pura dari temen lamanya.” Tambah Koko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Yang mo nelpon siapa?” Tanya Hendra&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rifa aja, kali aja kalo sesama perempuan jadi lebih enak,” kata Lian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat yang ditunggu tiba, akhirnya mereka akan memecahkan misteri siapa Dilla.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Halo,” sapa Rifa kepada suara di seberang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bisa bicara dengan Dilla?” Suara di seberang menjawab dengan suara tenor yang bersih layaknya seorang penyiar radio.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ya saya sendiri,” Jawab suara di seberang. Rifa bingung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Loh, kok ?” Rifa semakin bingung. Yang lain menunggu dengan tidak sabar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ya, saya Ratno Fadilla.” Pemilik suara tenor itu kembali menjawab dengan sopan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belum sempat Rifa memutus jalur selulernya dari nomor seorang bernama Ratno Fadilla, dari luar Denny datang dengan senyumnya yang dibuat semanis mungkin. Ini pertama kalinya dia kembali menyunggingkan senyum TPTA-nya sejak dua minggu lalu ia menyatakan diri tidak nafsu makan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Hello, everybody. Ada yang laper? Saya bawa makanan banyak nih.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Loh? Mas Denny kok tumben ceria amat?” tanya Hendra diikuti tatapan aneh dari seluruh pasang mata yang ada di situ.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya nih, Puisi Cinta saya diterima.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sama Dilla?” Tanya Rifa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sama penerbit. Seminggu lagi jangan lupa pada beli novel kedua saya. Judulnya Puisi Cinta Buat Dilla.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Gubrag!&lt;br /&gt;&lt;p&gt;                                                                         &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;Depok, 5 april 2005&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;tiga hari setelah konser  yang melelahkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-8848573911456317121?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/8848573911456317121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/dilla.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8848573911456317121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8848573911456317121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/dilla.html' title='Dilla...?'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiPMQp-JOI/AAAAAAAAACA/wHPFYEZpxaQ/s72-c/dilla.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-2075662389897414988</id><published>2009-09-09T21:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T21:58:21.979-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><title type='text'>Pemuda dalam mimpi Edelweiss (episode#02)</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-pemuda-dalam-mimpi-edelweiss.html"&gt;Novel Denny Prabowo&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Penggalan-penggalan Kisah Lalu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Edelweiss dan Fajar duduk saling berhadap-hadapan di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakan padaku semua yang Mas tahu tantang Ayah…!” Foto ayahnya yang telah diberi bingkai olehnya tergeletak di atas meja makan, di hadapannya.&lt;br /&gt;“Tak banyak yang aku ingat.”&lt;br /&gt;“Ceritakan sebatas yang Mas Fajar ingat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar mendesah. Dia meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya. Makanan di dalam piringnya masih tersisah setengah. Dipandanginya wajah Edel sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar menarik nafas berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira tujuhbelas tahun yang lalu saat Bunda sedang mengandung dirimu…,” Fajar mulai bercerita…&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Malam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam merangkak perlahan menuju angka sepuluh. Belum ada tanda-tanda suaminya akan datang. Wanita itu membuang pandangannya lurus ke depan membelah tembok gedung-gedung bertingkat di seberang restoran. Dia duduk di dekat jendela yang memungkinkannya menikmati renik-renih hujan.&lt;br /&gt;Ada kecemasan membekap pengap dadanya. Sehingga dia seperti jadi sulit bernafas. Kecemasan yang tak ia mengerti. Ketakmengertian yang membuatnya seperti orang bingung. Kadang ia bangkit dari tempat duduknya, merapat ke jendela, menuliskan kata-kata yang menghabur begitu saja dari alam bawah sadar dengan telunjuk tangannya di atas kaca jendela yang beruap. Kemudian kembali ke mejanya, menyeruput jus jeruk, yang entah sudah gelas ke berapa…ia belum memesan makanan. Wanita itu seperti terjebak dalam putaran waktu yang tak mau menunggu. Padahal, suaminyanya belum juga datang menepati janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan hari ulang tahun pernikahannya. Genab tigabelas tahun mereka mengarungi bahtera rumahtangga bersama. Putra mereka telah berusia 12 tahun. Suaminya telah berjanji untuk pulang hari ini. Sudah sejak lama ia merencanakan makan malam spesial di tempat yang biasa mereka kunjungi setiap akhir pekan. Ada kejutan yang ingin ia sampaikan kepada suaminya tepat di hari jadi pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, Ayah kok belum datang juga?” tanya putranya yang duduk di hadapannya. Bocah itu kelihatan sudah mulai mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu membelai kepala anaknya. Suaminya tak pernah mendustai janji. Apa pun yang diminta istrinya, selalu dia tepati. Tapi malam ini… Wanita itu meraba perutnya yang sedikit membuncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang waktu terusa melahap detik-detik di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelum malam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berhembus sangat kencang, bergemuruh di celah ranting-ranting pepohonan yang terombang-ambing mengikuti gerak angin yang menghempasnya dari segala arah. Keretap kilat menyambar dinding-dinding udara, membentuk rengkahan cahaya di angkasa, melahirkan gelegar yang menggetarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus segera turun ke pos Samyan Rangkah!”&lt;br /&gt;“Tendanya gimana?”&lt;br /&gt;“Tinggal aja!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketiga mahasiswa pendaki itu bergegas mengenakan jas hujannya, mengendong keril, lalu berlari di tengah badai yang membekukan meninggalkan batas vagetasi, Sampyan Jampang, menuju Sampyan Rangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh bangun mereka menyusuri setapak yang menyempit dan licin karena siraman air hujan. Angin seolah mengepung dari segala arah.Petir berkeretap.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tiga hari sebelum malam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengepak perlengkapan mendakinya ke dalam keril di kamar tidur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jadi berangkat?”&lt;br /&gt;“Jadi.”&lt;br /&gt;“Harus?” Wanita itu menatap matanya, seolah berharap lelaki itu akan membatalkan kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tersenyum. Dia berhenti sejenak. Lalu dibelainya kepala istrinya yang berjilbab. Disentuhnya wajah wanita itu dengan jemari tangannya, lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka membutuhkan aku untuk mencari ketiga mahasiswa asal Yogya yang hilang di Gunung Slamet sejak beberapa hari yang lalu. Aku tahu bagaimana rasanya tersesat di belantara di tengah musim hujan seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menunduk. Dia bisa memahami alasan suaminya. Kemampuan yang dimiliki suaminya sedang dibutuhkan untuk membantu tim SAR menemukan ketiga pendaki yang hilang itu. Lelaki itu memiliki reputasi yang luar biasa untuk urusan yang satu itu. Dia merupakan salah satu dari anggota Mapala universitasnya yang menjalani program seven summit. Karena sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya pada hari pertama pendakian dan kedua temannya di hari kedua pendakian dalam sebuah ekspedisi pendakian di Gunung Aconcagua, program itu dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kamu nggak lupa sama janji kamu kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segaris senyum terbit di wajah tampan lelaki bermata elang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan berusaha menepati janjiku!”&lt;br /&gt;“Janji, ya?”&lt;br /&gt;“Insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengangguk. Wanita itu tersenyum, melabuhkan kapalanya di bidang dadanya.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Seminggu sebelum malam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blaaaaarrrr…!!!!&lt;br /&gt;Kraaaakkk….&lt;br /&gt;“Awas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatang pohon tumbang tersambar petir dari arah belakang. Pemuda berwajah tirus itu melompat menerjang kedua temannya yang berjalan di depan, menghindari batang pohon yang tumbang ke arah mereka. Mereka berguling-guling di atas setapak yang berkerikil. Beruntung, pada ketinggian ini, pohon-pohon yang tumbuh tidak terlalu besar. Sehingga mereka terhindar dari terjangan pohon yang tumbang tersambar petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nggak apa-apa?” tanya pemuda itu melihat kondisi temannya yang terlempar tak jauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temannya memegangi sikutnya yang mengeluarkan darah. Pemuda itu langsung membuka slayer di kepalanya, lalu dibebatnya sikut temannya yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh! Pelan-pelan!”&lt;br /&gt;“Beres. Lumayan, bisa menghambat pendarahan.”&lt;br /&gt;“Woi… tolongin aku dong! Kakiku terkilir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mahasiswa itu bertukar pandang. Kemudian mereka segera menghampiri seorang temannya yang masih terduduk di bawah sebatang pohon sambil memegangi kaki kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jalan?”&lt;br /&gt;“Ndak bisa digeraki. Sakit sekali!” Meringis kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda berwajah tirus itu membantunya berdiri. Lalu memapahnya berjalan menuruni lereng terjal.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Satu hari sebelum malam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga mahasiswa asal Yogya itu tak pernah sampai ke Sampyan Rangkah. Badai yang menyelubungi gunung itu membuat segalannya menjadi kabur di mata mereka. Ketiganya tersesat. Keletihan mendera. Seorang teman mereka mulai kehilangan kesadarannya. Pemuda berwajah tirus itu melanjutkan perjalanannya menuruni gunung itu. Sementara seorang temannya menunggui temannya yang lain yang mulai kehilangan kesadarannya. Namun tak cukup jauh dia melangkah, pemuda itu mulai kepayahan. Perlahan, kesadarannya pun mulai menghilang. Seorang temannya yang ditugasi menunggui teman lainnya, menyusulnya. Melihat pemuda berwajah tirus itu terkapar di tanah, di segera bergegas mencari bantuan. Tapi sia-sia. Dia pun akhirnya harus kehilangan kesadarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, tubuh ketiga mahasiswa asal Yogya itu ditemukan lelaki bermata elang sudah tak bernyawa. Dia bersama tim SAR dan beberapa sukarelawan yang ikut melakukan pencarian, segera mengevakuasi jasad ketiga mahasiswa itu. Namun ketika mereka tiba di Sampyan Rangkah, tiba-tiba…&lt;br /&gt;Kratap…&lt;br /&gt;Blaaaaarrrrr…!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu akbaaarrrrrr...!!!!&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wanita itu tersentak dari lamunannya. Restoran berubah menjadi gelap, sesaat setelah guntur menggelegar. Suasana di dalam restoran jadi hiruk pikuk. Beberapa saat kemudian lampu kembali menyala, mereka menggunakan generator untuk menyuplai listrik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pengunjung restoran beranjak ke luar. Mereka ingin mencari tahu penyebab listrik padam. Wanita itu tidak ikut keluar. Ia hanya merapat ke jendela di dekat mejanya. Dari tempat itu ia bisa melihat sebuah tiang listrik yang roboh tersambar petir. Di dekatnya, sebuah sedan hitam hancur bampernya ditabrak mini bus yang tak sempat menghindar saat sedan hitam di depannya tiba-tiba saja menghentikan lajunya. Pemilik sedan hitam marah-marah. Pengendara mini bus tak kalah marah. Terjadi perang mulut. Seorang petugas polisi datang melerai. Orang-orang hanya berdiri mengerumuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kembali ke kursinya. Ia merasakan sebuah keanehan. Gelegar guntur tadi seolah telah menyambar pula kecemasannya. Kecemasannya tiba-tiba saja menguap! Kini ia malah merasakan kehampaan. Seperti ada yang hilang. Entah apa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun tiba-tiba saja begitu meyakini kalau suaminya tak akan pernah datang menemuinya malam itu. Keyakinan yang datang sesaat setelah guntur menggelegar. Seperti sebuah firasat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu memanggil seorang pelayan restoran. Seorang pemuda berseragam pink menghampiri dirinya dengan membawa buku pesanan di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau tambah, Mbak?”&lt;br /&gt;“Saya mau minta tagihannya.”&lt;br /&gt;“Oh, sebentar.” Pelayan itu meninggalkannya.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa kertas tagihan.&lt;br /&gt;“Tujuhpuluhribu rupiah,” katanya seraya menyerahkan kertas tagihan kepada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dopetnya, menyerahkan uang itu kepada pelayan restoran yang tak lepas-lepas menyunggingkan senyum kepadanya. Entah senyuman itu berasal dari ketulusan, atau hanya sebuah perangkat untuk memikat pengunjung restoran itu, ia tak mempedulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau saya panggilkan taksi?”&lt;br /&gt;“Terima kasih. Saya bawa mobil sendiri.” Kemudian wanita itu beranjak keluar meninggalkan restoran yang mulai sepi pengunjung bersama anaknya yang tampak sangat mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sisa malam, wanita itu hanya berputar-putar dengan mobilnya tak tentu arah. Dia berharap menemukan jawaban dari kehampaan yang tiba-tiba saja menyergap. Sebuah perasaan yang mirip rasa kehilangan. Hanya saja ia tak tahu apa yang telah menghilang dari dirinya… Anaknya terlelap di kursi belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba menghubungi ponsel milik suaminya. Suara mesin operator yang menjawab. Berulangkali dia mencoba. Berulangkali mesin operator menyapa. Mobil meluncur membelah gerimis yang mulai mereda, membawa sekeping hati yang hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya menjelang petang, kehampaan yang tiba-tiba saja membekap hatinya sesaat setelah guntur menggelegar tadi malam, terjawab oleh berita di layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin malam, ketiga mahasiswa asal Yogya yang menghilang di Gunung Slamet berhasil diketemukan tak berapa jauh dari pos Sampyan Rangkah. Saat diketemukan, ketiganya sudah tak bernyawa. Badai yang masih belum mereda hingga berita ini diturunkan, juga telah menelan korban seorang anggota tim SAR. Lelaki yang pertama kali berhasil menemukan ketiga mahasiswa itu tewas tersambar petir di pos Sampyan Rangkah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara telepon berdering. Wanita itu segera mengangkatnya. Suara seorang pria di seberang sana terdengar bergetar memeram kesedihan, saat harus menyampaikan berita duka kepada wanita itu. Dia mengatakan kalau jasad suaminya akan tiba di Jakarta besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut berpendar di bolamatanya. Dadanya bergemuruh menyaksikan gambar di televisi, saat tim SAR mengevakuasi jasad suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, Ayah belum pulang ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu mendekap tubuh anak lelakinya erat. Tak berbilang airmata yang retas membanjiri kedua belah pipinya. Tangan kirinya meraba perutnya yang mulai membuncit. Dia sedang mengandung.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;^^^&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fajar menghapus airmata yang melinang di kedua belah bolamatanya. Kenangan tujuhbelas tahun yang lalu membayang-bayang di pelupuk matanya. Saat dia dan Bunda menunggu Ayah di restoran malam itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar cerita itu dari Bunda. Tak banyak yang aku ingat kecuali saat aku dan Bunda menunggu ayah di restoran malam itu.” Suaranya bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Ayah…,” Edelweiss mendekap foto Ayahnya. Baca bab selanjutnya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-2075662389897414988?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/2075662389897414988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/pemuda-dalam-mimpi-edelweiss-episode-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2075662389897414988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/2075662389897414988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/pemuda-dalam-mimpi-edelweiss-episode-2.html' title='Pemuda dalam mimpi Edelweiss (episode#02)'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-5656043610572893982</id><published>2009-09-09T21:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T22:57:13.407-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU'/><title type='text'>Novel: Pemuda dalam Mimpi Edelweiss</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiCRaSDyFI/AAAAAAAAAB4/2DqFYeWrc2I/s1600-h/Pemuda-dlm-Mimpi-Edelweis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiCRaSDyFI/AAAAAAAAAB4/2DqFYeWrc2I/s320/Pemuda-dlm-Mimpi-Edelweis.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379692990518511698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis  &lt;/strong&gt;: Denny Prabowo&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; : Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cetakan&lt;/strong&gt; : Pertama, Januari 2005&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dimensi&lt;/strong&gt; : 8 x 12 cm&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumlah Hlm&lt;/strong&gt;. : vi + 134&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Pemuda menghantui mimpi-mimpi Edelweiss. Membuat gadis itu merasa harus mencari jawaban. Ke gunung!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski semula menentang, Fajar, abang gadis itu belakangan bersedia mendampingi Edelweiss dan Adinda, temannya, dalam sebuah pendakian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara pikiran gadis itu masih disibukan dengan pemuda dalam mimpinya, kejadian-kejadian lain menimpa teman sekelasnya. Bimo bunuh diri karena cintanya ditolak Sisca. Sisca tewas dalam kecelakaan mobil. Lalu seorang gadis lain ditemukan mati tergantung di kamar mandi sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang terjadi? Siapa pula cowok tampan di kelas yang kehadirannya membuat hati Edelweiss tidak tenang? Dan pemuda dalam mimpi-mimpi Edelweiss?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Duh, begitu banyak teka-teki yang harus dijawab, sementara waktu terus berdetak. Ketika menemukan semua jawaban, Edelweiss justru sadar, dia kehabisan waktu!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Daftar Isi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;episode#01: Pemuda dalam mimpi Edelweiss&lt;br /&gt;episode#02: &lt;a href="http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/pemuda-dalam-mimpi-edelweiss-episode-2.html"&gt;PenggalanPenggalan Kisah Masa Lalu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;episode#03: Kabut Mandalawangi 1&lt;br /&gt;episode#04: Kabut Mandalawangi 2&lt;br /&gt;episode#05: Kabut Mandalawangi 3&lt;br /&gt;episode#06: Tragedi inta Bimo&lt;br /&gt;episode#07: Anak Baru di Kelas Edelweiss&lt;br /&gt;episode#08: Elegi Pagi hari&lt;br /&gt;episode#09: Skandal Cinta Abim&lt;br /&gt;episode#10: Pendakian ke Gunung Salak&lt;br /&gt;episode#11: Misteri Kematian Agnes&lt;br /&gt;episode#12: Kabut yang Tersingkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-5656043610572893982?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/5656043610572893982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-pemuda-dalam-mimpi-edelweiss.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/5656043610572893982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/5656043610572893982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/novel-pemuda-dalam-mimpi-edelweiss.html' title='Novel: Pemuda dalam Mimpi Edelweiss'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/SqiCRaSDyFI/AAAAAAAAAB4/2DqFYeWrc2I/s72-c/Pemuda-dlm-Mimpi-Edelweis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-6502785803875765380</id><published>2009-09-09T21:11:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T21:19:49.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><title type='text'>Love Messages</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Novel Dhe Zha Voe&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;#1&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Bruk! &lt;br /&gt; Ups! Argi meringis. Dia tidak sengaja menabrak... Delon! Bukan ding... hanya mirip saja dengan runner up Indonesian Idol pertama itu. Sampai-sampai ia menumpahkan air mineral merek Aquya ke baju cowok tinggi berkulit putih itu&lt;br /&gt; “S-sori... sori?” &lt;br /&gt;Cowok itu mengibas-ngibas pakaiannya yang basah.&lt;br /&gt; Uh, ganteng banget! Sesaat Argi terpaku, memandangi paras tampan di depannya, sebelum dia tersadar dan mengeluarkan handuk kecil dari dalam tasnya. “Gue elapin ya?”&lt;br /&gt; “Udah gak pa-pa kok,” cowok itu tersenyum.&lt;br /&gt; “Duh, gue jadi gak enak nih...”&lt;br /&gt; “Kalo gak enak kasih kucing aja,” seloroh cowok yang bagai pinang dibelah kampak dengan artis pujaan yang namanya dia abadikan untuk ayam jago piaraannya itu.&lt;br /&gt; Argi tertawa mendengar perkataan Delon... eh, maksudnya cowok yang ditabraknya itu.&lt;br /&gt;“Eh, elo liat Arga gak?” &lt;br /&gt; “Arga? Makhluk dari mana, tuh?”&lt;br /&gt; “Haha... lo bisa aja. Yang dari majalah SUKA.”&lt;br /&gt; “Yang rambutnya gondrong itu, ya?”&lt;br /&gt; “Iya, betul. Pokoknya yang ancur banget deh orangnya!”&lt;br /&gt;Cowok itu tersenyum. “Tadi gue liat dia di dekat panggung utama.”&lt;br /&gt; “Oh, makasih, ya!” ucap Argi.&lt;br /&gt; “Kalo elo perlu apa-apa ngomong sama panitia aja, ya.”&lt;br /&gt; “Elo...”&lt;br /&gt; “Gue Dava,” katanya memperkenalkan diri, “ketua OSIS SMU Cakra.”&lt;br /&gt; “Oke deh, Dav! Gue Argi. Argi Dahlia lengkapnya.”&lt;br /&gt; Lagi-lagi cowok berparas serupa Delon itu melempar senyum ke arah Argi, sebelum ia melangkah meninggalkannya sendiri dalam keterpakuan.&lt;br /&gt; Duh, senyumnya... bisik hati Argi. Terpesona. Sebelum kembali celingukan mencari-cari Arga. Ke mana sih anak gokil itu?&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Argi sialaaaaaaan...!!!”  jerit Arga begitu membuka mata dan menemukan jarum jam telah menyentuh angka 7:15 WIB. Perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu setidaknya setengah jam. Lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Terlambat!&lt;br /&gt; Hari ini ada ulangan fisika. Semalaman Arga menekuni rumus-rumus dalam buku pelajaran. Sudah dua kali dia dapat lima. Sampai azan Subuh menggema, Arga baru merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya yang letih. Lumayan, biar cuma satu jam...&lt;br /&gt; Di dalam kelasnya, Argi tersenyum-senyum sendiri membayangkan saudara kembarnya yang ketika dia meninggalkan rumah tadi belum juga membuka matanya. Sebelum Arga tidur, sebenarnya dia sempat mengirimkan pesan ke ponsel Argi, karena pintu kamar anak itu sudah dikunci, waktu dia mau minta dibangunkan. Makanya dia mengirimkan SMS kepada Argi meski kamar mereka bersebelahan. Begini bunyi SMS yang Arga kirimkan sebelum matanya terpejam Subuh tadi: &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TLG BANGUNIN GW 1/2 6 TEPAT! :-)&lt;br /&gt;Sent to: Argi 081802901697&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cara itu pula yang dipakai oleh Argi untuk membangunkan Arga, sebelum dia pergi meninggalkan rumah pagi tadi. Ia me-reply SMS Arga. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ARGA BANGUN! UDH 1/2 6 LWT DIKIT! ;-p&lt;br /&gt; Sent to: Arga 081802901679&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pintu kamar Arga gak terkunci!&lt;br /&gt; Suara bel berbunyi. Pak Saragih masuk ke dalam kelas membagi-bagikan kertas ulangan fisika.&lt;br /&gt; Wajah Arga menyembul dari balik pintu. Napasnya tersengal, seperti habis maraton 10 km. Argi cekikikan melihat tampang kucel saudara kembarnya.&lt;br /&gt; “Permisi, Pak...”&lt;br /&gt; “Silakan masuk!” Suara Pak Saragi serak-serak becek.&lt;br /&gt; Arga melongo. Tumben amat, pikirnya. Biasanya Pak Saragih akan mengatakan, “Silakan keluar!” kepada siapa pun siswa yang datang terlambat saat jam pelajarannya. Gak peduli walau keterlambatannya hanya terjadi 1 menit saja sebelum guru killer itu masuk ke kelas.&lt;br /&gt; “Makasih, Pak.” Arga mengumbar senyum. Sok ramah. Melangkahkan kaki ke kursinya di sebelah Argi.&lt;br /&gt; “Bah,” ucap Pak Saragih, “siapa pula yang suruh kau duduk?!”&lt;br /&gt; “Lho,” Arga bingung, “bukannya tadi Bapak bilang...”&lt;br /&gt; “Aku bilang masuk, bukan duduk! Kuping kau perlu dikorek sama pacul, rupanya!”&lt;br /&gt; Kelas bergemuruh tawa.&lt;br /&gt; “Diam!” bentak lelaki kelahiran Medan itu. Kelas kembali hening.&lt;br /&gt; Tinggal Arga yang berdiri dengan lutut gemetar.&lt;br /&gt; “Kemari kau!”&lt;br /&gt; Arga menyeret langkah, datang mendekat pada Pak Saragih.&lt;br /&gt; “Kenapa kau datang terlambat?”&lt;br /&gt; “A-anu... pak...”&lt;br /&gt; “Macet?” serobot Pak Saragih sebelum Arga sempat menyelesaikan kalimatnya, “Bah! Tiap hari kota Depok selalu macet!”&lt;br /&gt; “Lho, saya kan gak bilang macet, Pak?”&lt;br /&gt; “Kalau bukan macet, apalagi alasan kau?”&lt;br /&gt; “Semalam saya belajar sampai Subuh untuk menghadapi ulangan fisika ini. Jadi... saya bangun kesiangan gara-gara Argi gak mau bangunin saya, Pak.”&lt;br /&gt; “Enak aja!” protes Argi dari bangkunya, “gue kan udh kirim SMS buat ngebangunin elo! Elo juga minta banguninnya lewat SMS.”&lt;br /&gt; “Soalnya waktu gue mau nitip pesen langsung, pintu kamar lo dikunci. Lha, kalo pintu kamar gue kan ngablak, kagak dikunci! Kenapa juga elo bangunin gue lewat SMS?!”&lt;br /&gt; “Kok elo nyalahin gue? Yang suruh elo begadang sampe Subuh siapa?”&lt;br /&gt; “Diaaaammmm! Siapa suruh kalian bertengkar?!”&lt;br /&gt; Kedua saudara kembar itu bungkam.&lt;br /&gt; Argi kembali menekuni kertas ulangannya.&lt;br /&gt; “Ya, sudah,” kata Pak Saragih kemudian, “ini,” menyerahkan kertas soal kepada Arga.&lt;br /&gt; Arga mengambil kertas soal dari tangan Pak Saragih, dan kembali melangkahkan kaki ke kursinya di sebelah Argi.&lt;br /&gt; “Eit,” suara Pak Saragih menghentikan langkah Arga.&lt;br /&gt; “Apalagi, Pak?”&lt;br /&gt; “Siapa yang suruh kau duduk?”&lt;br /&gt; “Habis, saya harus ngerjain soal di mana dong, Pak?”&lt;br /&gt; “Situ,” telunjuk Pak Saragih mengarah ke depan papan tulis.&lt;br /&gt; “Hah? Di depan kelas?”&lt;br /&gt; “Iya. Kenapa? Keberatan?”&lt;br /&gt; Arga menunduk kesal. Dia mengambil kursinya dan menyeretnya ke depan kelas.&lt;br /&gt; “Bah, siapa suruh kau bawa-bawa kursi ke depan kelas?”&lt;br /&gt; “Tadi bapak bilang, saya harus mengerjakan soal ulangan di depan kelas?”&lt;br /&gt; “Betul itu. Tapi Bapak tidak bilang kau boleh bawa-bawa kursi ke depan kelas.”&lt;br /&gt; “Jadi?”&lt;br /&gt; “Berdiri!”&lt;br /&gt; “Tapi, Pak...”&lt;br /&gt; “Apa? Keberatan kau?”&lt;br /&gt; Arga menggelengkan kepala.&lt;br /&gt; Di bangkunya Argi cekikikan.&lt;br /&gt; “Huh!” Arga merengus.&lt;br /&gt; Seisi kelas mengulum senyum, menahan tawa melihat tampang kucel Arga.&lt;br /&gt; Menit-menit berlalu tanpa bisa dicegah. Arga baru berhasil mengerjakan beberapa soal saja. Berulang kali dia berusaha menoleh ke arah Argi. Tapi bukannya membantu, saudara kembarnya itu malah menjulurkan lidah meledeknya. Arga keki. Diambilnya spidol di dekat papan tulis, dilemparnya ke arah Argi.&lt;br /&gt; “Aduh!” Argi meringis memegangi kepalanya yang terkena lemparan spidol Arga. Pak Saragih melihat kejadian itu.&lt;br /&gt; “Bah! Bukannya mengerjakan soal, malah bercanda-canda dengan saudara kembar kau! Sudah selesai?!”&lt;br /&gt; “B-belum, Pak...”&lt;br /&gt; Pak Saragih yang selalu memakai baju safari itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Arga dan Argi yang mirip anjing sama kucing. Heran, kok bisa ya, mereka berbagi tempat duduk?&lt;br /&gt; Hmm... biar begitu-gitu, kalo sudah urusan ngisengin orang, mereka kompakan banget! Hampir semua penghuni kelasnya—termasuk cicak, nyamuk dan kecoa—pernah menjadi korban keisengan mereka. &lt;br /&gt;Si Toing misalnya. Pemuda kurus yang saban ke sekolah mengendarai vespa merah, warisan engkongnya yang meninggal dunia karena serangan jantung akibat terkejut mendengar suara letusan dari knalpot vespa miliknya waktu dia mau berangkat kerja, pernah dibuat kalang kabut ketika hendak pulang sekolah, mendapati vespa kesayangannya tak berknalpot! Baru keesokan paginya, dia menemukan knalpot vespanya tergantung di tiang bendera sekolahan! Mau tau kerjaan siapa?&lt;br /&gt; “Kembaaaarrrrr siaaaallllaaaannnn...!!!”&lt;br /&gt; Arga dan Argi segera angkat kaki, melarikan diri, begitu melihat Toing berlari-lari ke arah mereka seraya mengacung-acungkan knalpot vespanya ke udara.&lt;br /&gt; “Cabuuuttttttt...!!!”&lt;br /&gt; Suara bel tanda usai pelajaran fisika mengudara. Masih ada dua soal yang belum terisi di lembar jawabannya. Arga mengumpulkan lembar jawabannya di meja Pak Saragih. Wajahnya tak bergairah. Percuma dia begadang semalaman. Semua yang telah dia save di memori otaknya gak mau diopen, ngehang!&lt;br /&gt; “Udah boleh duduk, Pak?”&lt;br /&gt; Pak Saragih tersenyum puas menyaksikan dengkul Arga yang gemetaran karena terlalu lelah berdiri sepanjang jam pelajarannya berlangsung.&lt;br /&gt; “Besok-besok, kalau kau terlambat lagi, kusuruh kau berdiri di tengah-tengah lapangan sekolah, mau?”&lt;br /&gt; “Wah, gak janji deh, Pak!”&lt;br /&gt; Arga melangkah gontai ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-6502785803875765380?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/6502785803875765380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/love-messages.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6502785803875765380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6502785803875765380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/love-messages.html' title='Love Messages'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-8285526022742056818</id><published>2009-09-09T18:13:00.001-07:00</published><updated>2009-09-09T18:19:44.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI REMAJA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>28 Februari</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Cerpen Shinta B. Astuti&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;“Mudah-mudahan Rani suka dengan sepatu dan tas ini, biar tambah semangat sekolahnya.” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;“Awas!.....” Bruk!&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;“Aduh! Kepalaku, mengapa sakit sekali? Perutku. Darah. Tidak! Ya Tuhan, Anakku”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendung masih asyik bergelayutan, ragu untuk menumpahkan persediaan airnya ke bumi, di pagi 28 Februari. Gorden putih menari-nari kecil tertiup semilir angin yang dengan gemulai masuk ke kamar ini. Kamar yang sudah dua puluh enam tahun kutempati, menjadi persinggahan saat ingin menyepi, melepaskan segala letih dan penat. Kutatap pantulan diri di cermin, inilah muka di umur dua puluh delapan tahun, krim wajah apapun yang dipakai tidak bisa menghilangkan kerutan-kerutan halus di sekitar mataku. Inilah aku, yang sesekali masih disebut Ibu sebagai anak pelupa. Ya, sesekali, karena dulu Ibu selalu bilang kalau aku anak yang sangat pelupa. Sudah tiga dokter yang didatangi, mulai dari dokter umum, dokter syaraf sampai dokter kejiwaan. Ketiga dokter tetap pada kesimpulan yang sama bahwa tidak ada yang aneh pada badan, jiwa dan isi kepalaku. Namun, Ibu tidak puas dengan penjelasan mereka sehingga didatangi juga “orang pintar” yang katanya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ada beberapa kejadian yang masih kuingat pada saat bertemu dengan “orang pintar” itu, Mbah Tarjo namanya.   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Siapa yang sakit?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Anak saya Mbah.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sakit apa?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Anu… Mbah, anak saya sering lupa.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya juga sering lupa, ini saya sudah sering beli kacamata gara-gara saya lupa taruhnya di mana.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tapi… anu Mbah, anak saya ini puaarah banget lupanya. Masa’ dia lupa adiknya ditinggal di mana.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Begini Mbah, waktu itu saya sama anak ini dan adiknya ke pasar. Karena saya kasihan melihat mereka harus desak-desakan di dalam pasar maka saya titipkan ke tukang soto langganan saya. Eeeehhhhh, waktu saya kembali cuma ada dia disana. Terus kan saya tanya sama tukang sotonya, abang itu bilang kalau anak saya yang pelupa ini tadi jalan-jalan. Terus kan saya tanya sama anak ini, adik kamu mana? Dia cuma geleng-geleng kepala sambil bilang lupa. Saya sudah panik banget mbah, tahu kan sekarang ini banyak penculik anak apalagi ada yang dijadiin penge&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya, Bu…. Iya, Bu….. saya sudah mengerti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku ingat jidat mbah Tarjo sedikit mengkerut mungkin dia heran bagaimana ada orang yang dapat cerita begitu banyak dan cepat hanya dalam satu tarikan napas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nama kamu siapa, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rani”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nama panjang?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rani Trihapsari.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kamu anak ketiga, ya?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada nada sombong dan merasa hebat yang kutangkap dari pertanyaan itu, mungkin dia mengira bahwa tebakannya tepat.   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Begini Mbah, Rani memang anak ketiga, tetapi kedua kakaknya meninggal waktu dilahirkan dulu, katanya sih prematur gitu, Mbah. Jadi bagaimanapun saya dan suami tetap menganggap Rani ini anak kami ketiga dan adiknya kami beri nama Catur Aditya karena anak keempat.” &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Oh… baiklah.” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu mbah Tarjo sudah semakin pusing menghadapi Ibu yang suka sekali bercerita. Lalu dia pun memberikan tindakan yang sekiranya bisa menyembuhkan penyakit lupaku. Segelas air diminum dan pada tegukan terakhir, air itu tidak langsung ditelan melainkan dikumur-kumur lalu disemburkan tepat ke wajahku dan tangan kanannya diusapkan ke wajah yang terlanjur basah tadi sambil mulutnya komat-kamit. Kaget, kesal dan jijik sebenarnya aku diperlakukan seperti itu, tapi aku diam saja. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ini Nak Rani, saya kasih ramuan untuk menyembuhkan penyakit lupanya. Setiap malam Jum’at kliwon jam delapan taburkan ramuan ini dalam air dan mandilah dengan air tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Maaf Mbah, saya harus bayar berapa untuk semuanya ini ya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Delikan mata tidak suka dari mbah Tarjo yang menghujam Ibu dan mulutnya yang merengut tidak bisa kulupa. Sepertinya dia tidak suka dipotong omongannya. Tapi yang membuatku geli adalah sikap cuek Ibu terhadap sikap Mbah Tarjo dan masih terus bicara.   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bukan apa-apa mbah, uang saya pas-pasan.”  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Begini Bu, biaya konsultasi dua puluh ribu sedangkan ramuan ini harganya sembilan puluh sembilan ribu. Terserah Ibu mau bayar yang mana. Bayar untuk konsultasinya dulu, obatnya diambil besok-besok juga tidak apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Aduh bagaimana ya, saya hanya bawa dua puluh ribu. Ongkos pulang buat berdua sepuluh ribu. Udara panas terik begini, apa Mbah tega melihat kami pulang jalan kaki, dua puluh kilometer dari sini Mbah. Kasihan Mbah, apalagi Rani sudah kurus kecil, kena terik matahari tambah hitam saja anak ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Baiklah baiklah… Ibu tidak usah bayar, gratis!”  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Wah terimakasih banyak Mbah.” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu berbohong saat itu karena sebenarnya Ibu membawa uang lebih dari yang diminta mbah Tarjo. Pada saat aku tanyakan mengapa tidak membeli ramuan mbah Tarjo, Ibu hanya menjawab, “Ibu tidak suka anak ibu disembur dengan air kumuran mulut Mbah tadi, jorok. Ambil saputangan ini, bersihkan mukamu lagi” Ibu lalu membantuku menyeka muka yang sebenarnya sudah kering dengan saputangannya, sambil tetap mengomel. “Tadi ibu kira, mbah itu hanya akan memberi kamu obat-obatan herbal dan bukannya mengharuskan kamu mandi pada malam Jum’at kliwon, saran yang aneh.” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada saat itu tanpa malu dilihat banyak orang aku memeluk dan mencium pipi Ibu berkali-kali. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rani sayang Ibu”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kamu kenapa sih Rani?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Terimakasih ya bu, sudah sayang dan sabar membesarkan Rani. Rani sayang Ibu”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya…iya… Ibu sayang sama Rani, sayang sama adikmu juga. Jadi jangan sampai lupa sama adikmu lagi ya.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya bu, Rani tidak akan lupa”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ayo, kita jalan, malu tuh diliatin sama orang-orang”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Biarin, biar semua orang tahu kalau Rani sayang ibu” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu pasti Ibu salah tingkah dan risih dicium-cium pipinya. Pipi yang lima belas tahun kemudian masih terkena bibir jailku, pipi yang sudah banyak kerutan-kerutan dan flek hitam disana-sini. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu memang kurang pandai menunjukan rasa sayangnya dengan kata, pelukan, ciuman. Tapi tidak perlu Ibu melakukan itu semua. Setiap hari Ibu bangun pagi menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga meskipun sudah ada Mbok Iyah yang siap melakukan tugas tersebut. Ibu selalu membuatkan makanan yang kami makan setiap hari. Ibu yang selalu membuatkan susu hangat bila aku harus bergadang karena mengerjakan tugas kuliah, bahkan berniat puasa untuk keberhasilanku mengahadapi sidang skripsi. Mata Ibu yang berbinar bangga melihat laporan IPK ku di setiap semester. Ibu yang selalu membuatkan pakaian yang akan kami kenakan setiap hari raya. Pernah aku protes ke Ayah mengapa kami sekeluarga harus mengenakan pakaian yang motifnya sama setiap hari raya. Namun lambat laun aku tidak mempersoalkan itu lagi, karena aku bahagia melihat muka Ibu yang berseri-seri gembira melihat kami berpakaian seragam, selain itu baju buatannya memang indah. Dan banyak hal lainnya yang sekarang aku sadari merupakan cara Ibu menyayangi kami sekeluarga. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku selalu rindu Ibu, sering aku memerhatikan Ibu bila kami sedang berdua. Saat mulutku hendak menceritakan segala hal tiba-tiba Ibu mengomeli adik, “Lihat kak Rani, pintar, sayang sama Ibu, sama Ayah, dan tidak rewel kalau disuruh makan. Kamu juga harus seperti kak Rani ya.” Aku hanya tersenyum getir melihat tingkah Ibu. Tidak hanya sampai situ perhatian berlebih terhadap adik, suatu waktu setiba dari kantor aku temukan Ibu tertidur di ruang tamu bukan menunggu aku tetapi adik yang katanya belum pulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami tidak berkutik bila Ibu sudah meminta sesuatu atas nama adikku. Pernah aku disuruh untuk membelikan bola basket karena menurutnya adikku sedang senang bermain basket, padahal bola sepak yang dibeli Ayah dua bulan lalu masih teronggok bersih tidak pernah dimainkan di pojok kamar. Ibu pun meminta Ayah membelikan play station 3 sebagai hadiah ulang tahun adik, sebenarnya Ayah tidak setuju tetapi Ibu tetap ngotot. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya kepadaku Ibu bercerita tentang semua tingkah laku adik, Ayah dan mbok Iyah tidak luput dari sasaran ibu. Ayah, meskipun aku tahu capek tapi bersedia mendengarkan cerita ibu. Ayah yang selalu mengelus lembut kepala ibu dan sering kulihat mata Ayah berkaca-kaca haru memperhatikan Ibu yang asyik bercerita. Tidak pernah aku melihat Ayah menghela napas tidak sabar, meskipun yang diceritakan Ibu terkadang hal yang sama. Mbok Iyah─sosok tua yang masih sehat dan kuat, telah ikut keluarga ini sejak Ayah dan Ibu menikah─ sambil memijat pundak Ibu, setia mendengarkan keluh kesahnya. Mungkin bagi ibu, Mbok Iyah adalah pengganti Ibu─nenekku─yang telah meninggal sebelum aku hadir. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mbok Iyah yang mengetahui semua kejadian di keluarga ini, orang yang aku dan Ayah percayai untuk menemani Ibu bila kami tidak di rumah. Mbok Iyah tempatku curhat kalo sedang gundah menghadapi tingkah Ibu. Dulu sekali curhatku kepadanya kebanyakan tentang kekesalanku kepada Ibu yang sepertinya terlalu sering membicarakan dan memperhatikan adik. Kutaruh kepalaku dipangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Non Rani harus sabar dan mengerti kondisi ibu yang seperti itu.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tapi sampai kapan Mbok? Semuanya pasti tentang anak itu, kesal aku Mbok”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jangan ngomong gitu non, ibu juga masih perhatiin non kan.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya sih Mbok tapi….”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ingat janji Non ke Ayah”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Janji, ya aku pernah berjanji ke Ayah dan Mbok Iyah yang selalu menjadi pengingat janji yang terjadi sebulan setelah Ibu melahirkan adik. Aku ingat saat itu Ayah memelukku sambil berucap “Ibu selalu sayang Rani, Rani harus janji untuk sayang Ibu juga, ya. Jangan buat Ibu sedih. Rani harus bikin Ibu bahagia,  tersenyum”. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa tidak mungkin seorang anak berumur enam tahun sudah mengerti apa itu janji. Namun percayalah aku selalu berusaha membuat Ibu bahagia dan tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jam besar di ruang tamu berdentang delapan kali, biasanya saat ini aku sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan di kantor tapi khusus tanggal 28 Februari aku selalu minta ijin untuk tidak masuk bila hari itu adalah hari kerja, seperti sekarang. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rani, sudah siap? Kita berangkat sekarang?” Ketukan pintu dan panggilan Ayah menyadarkanku dari lamunan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya Ayah, Rani sudah siap.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cahaya matahari menyusup masuk agaknya hujan tidak jadi turun sekarang. Angin melayap membawa kumpulan awan mendung tadi ke tempat lain. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti hari kerja di waktu pagi, jalanan dipadati oleh kendaraan bermotor dan mereka yang menunggu angkutan umum. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Benar nih, Ayah tidak capek? Kemarin sampai rumah jam setengah satu, kan?”  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sekarang Ayah yang nyetir, pulangnya biar kamu yang nyetir.” &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kutatap Ayah di sampingku yang menyetir tenang, tidak pernah aku melihat Ayah kesal oleh para pengguna jalan yang bertindak sembarangan, bahkan sangat jarang Ayah memanfaatkan klakson mobil ini. Entah, Tuhan ciptakan dari apa sosok yang kucintai ini sehingga menjadi Ayah yang setia, penyabar, penyayang dan pekerja keras. Segala sesuatunya akan dilakukan untuk membahagiakan Ibu dan aku. Mbok Iyah dan Ibu duduk berdekatan di kursi belakang, tidak terdengar suara mereka sejak meninggalkan rumah tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tidak dimakan rotinya Bu?” Agaknya pertanyaanku mengagetkannya dan aku merasa ada yang aneh dari Ibu hari ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ibu belum lapar.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, ada yang aneh dari Ibu. Seminggu ini aku memang keluar kota dan sore kemarin aku tiba di rumah, tapi baru pagi ini aku jumpa Ibu. Tidak seperti biasa Ibu yang selalu ramai bercerita, Ibu pun tidak menanyakan tujuan kepergian pagi ini seperti yang biasa ditanyakannya setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Non Rani mau makan rotinya sekarang?” Belum sempat aku bertanya lebih lanjut ke Ibu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nggak Mbok, nanti saja. Ayah bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Nanti saja, Ayah juga belum lapar.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejam berlalu dan sekarang kami berada di tempat ini. Sambil merangkul pundak Ibu, Ayah berjalan mendahului aku dan Mbok Iyah memasuki pintu gerbangnya. Kami susuri jalan setapak yang membelah hamparan gundukan-gundukan tanah berumput hijau dengan batu-batu yang tertata rapi di setiap gundukannya. Ada danau kecil disana dengan bangku-bangku taman yang mengelilinginya. Tempat indah untuk menentramkan hati sedih mereka yang datang mengantarkan orang terkasih ke tempat peristirahatan terakhir. Kulihat Ibu membisikan sesuatu ke Ayah, dan dibalas dengan senyum dan ciuman lembut dikening Ibu. Kurasakan angin bertiup semilir dan hening menggelayut menambah syahdu suasana, tidak ada siapa-siapa di pemakaman ini, hanya kami. Mengapa tiba-tiba mata ini seperti danau yang sudah hampir meluap airnya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa saat berjalan sampailah kami di tempat yang dituju, tempat dimana tiga makam dengan tiga nisan sebagai penanda tiga jiwa yang telah meninggalkan kami. Kudengar isakan tertahan Mbok Iyah, kulihat mata Ayah berkaca-kaca memerah dan sesekali diseka dengan telapak tangannya. Kuhela napas panjang agar tidak jatuh pula air mata ini. Dalam diam kami bersihkan ketiga makam ini. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku tidak tahu sejak kapan Ibu berada di sampingku ketika tiba-tiba tangannya memegang tanganku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Maaf… maafkan Ibu,” ujar Ibu lirih.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kutatap wajah Ibu yang iba, lalu wajah Ayah yang tersenyum kecil dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ibu sudah ingat.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Apa maksudnya, Yah?” Bingung, aku mencerna kata-kata Ayah sementara Ibu masih menggenggam tanganku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ibu mulai ingat tentang keadaan Adit yang sebenarnya,” kembali Ayah mencoba menerangkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Maafkan Ibu, Nak?” Berkaca-kaca mata Ibu ketika mengucapkan kata maaf itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih kutatap wajah ibu, ada rasa sesak didada. Kusentuh wajah ibu dengan kedua tangan ini yang bergemetar karena haru terkenang kejadian-kejadian lampau. Kucoba bersuara walau lirih yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Benarkah Bu, ibu sudah tahu di mana Adit?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Iya Nak, Ibu ingat.” Dengan tersekat Ibu berusaha menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak sanggup lagi kutahan air mata ini, kupeluk ibu dan kutumpahkan semua didalam pelukannya. Ibu tidak perlu minta maaf karena Ibu tidak salah, semua terjadi karena kehendak-Nya. Semakin erat kupeluk Ibu saat teringat perjuangan Ibu menjalani terapi dan semua obat yang harus diminum untuk kesembuhan fisik dan jiwanya. Kurasakan kedua tangannya hangat memeluk diriku, pelukan dari orang yang menjadi pengganti Ibu kandungku. Ibu kandung yang kembali ke Ilahi bersamaan dengan kelahiranku. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku memang tidak lahir dari rahim orang yang memelukku sekarang tetapi lahir dari hatinya.  Kurasakan pula pelukan Ayah, pelukan dari orang yang menjadi pengganti Ayah kandungku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini 28 Februari, hari kelahiranku, dan 22 tahun yang lalu pada tanggal yang sama Catur Aditya–Adit, begitu panggilannya, adik yang sering menjadi bahan cerita Ibu─meninggal setelah Ibu melahirkannya. Saat itu ketika hendak pulang dari membelikan hadiah ulang tahun, seorang pengendara motor ceroboh menyerempet dan menyebabkan Ibu terjatuh sehingga kelahiran yang belum waktunya terjadi. Adit hanya bertahan selama tiga jam. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kematian Adit sekaligus matinya harapan Ibu untuk memiliki anak kandung. Trauma dan kesedihan yang mendalam serta cidera otak akibat kecelakaan tersebut menyebabkan Ibu berhalusinasi, berkhayal akan kehadiran Adit. Enam tahun usiaku dan sudah empat tahun aku tinggal bersama mereka saat itu. Iya, empat tahun sebelum peristiwa itu aku telah ditinggal selamanya oleh orang yang seharusnya kupanggil Ayah. Sejak saat itu aku diasuh dan dibesarkan dengan penuh sayang dan cinta oleh mereka yang seharusnya kupanggil Paman dan Bibi dan tiga nisan ini sebagai penanda jasad kedua orang tua kandungku dan Adit, beristirahat abadi di sini. Tiga nisan yang kami kunjungi setiap tanggal 28 Februari. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-8285526022742056818?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/8285526022742056818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/28-februari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8285526022742056818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8285526022742056818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/28-februari.html' title='28 Februari'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-8470475713980709382</id><published>2009-09-09T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T17:59:39.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Surga di Telapak Tangan Ibu</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen Koko Nata&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Surga ada di telapak tanganmu. Kaulah yang mengantar mereka ke surga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Pisau tinggi terangkat. Mata baja berkilat. Gagang kayu tergenggam erat. Sekali terayun, kulit tersayat, darah mengalir hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kenapa? Masakin air panas, dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau jatuh berdenting. Ujung runcing membentur lantai keramik. Tiba-tiba letih meraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa semangat Ani menjerang air permintaan suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kompor gas, Ani terduduk lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar belum merekah ketika suami meminta sambil berkata “aku ingin bocah perkasa.”  Suami terlelap setelah tersenyum puas. Tanpa kata mesra. Tiada cinta atas nikmat surga. Perempuan awal tiga puluh itu tergugu sendiri. Belum empat puluh hari menimang Kiki, menambah ramai suasana selain celoteh Dina dan Wilda. Khawatir. Benih baru tumbuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani tak punya waktu untuk ikut memejamkan mata. Sebelum tiga bocah terjaga, ia bergegas ke dapur, menyisingkan lengan baju. Menjerang Air. Menyeduh teh. Membuat susu. Memanggang roti. Mengoleskan selai. Memarut keju. Menata meja makan. Mengumpulkan baju kotor. Menumpuk pakaian yang harus disetrika. Mengumpulkan serakan mainan. Menyiapkan bekal, seragam TK, dan alat tulis Dina. Semua dikerjakan Ani dengan menahan sesak di dada. Tangis tanpa suara. Sedang suami asyik memeluk bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami muncul di belakangnya. Lehernya berkalung handuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menyodorkan ceret. Belum mendidih benar. Tapi cukuplah untuk membuat badan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan Kiki terdengar bagai alarm. Tadinya Ani berharap Kiki bangun agak siang. Semalaman bocah itu rewel terus. Beberapa kali Ani bangun, menemani. Menggendong sambil mengusap basah di pipi. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat menimang Kiki, Wilda ikut menjerit. Kesibukan baru mulai lagi. Mendekap Kiki. Mendiamkan Wilda. Menuntun Dina ke kamar mandi. Mengawasi Dina mandiri berpakaian rapi dan membereskan kamar. Menjawab pertanyaan-pertanyaan suami; di mana dasi biru? Ikat pinggang? Lihat dompet? Waduh, kertas kerja mana? Rewelnya serupa Kiki. Ani harus mengeluarkan tenaga ekstra kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tujuh, Ani berusaha mengumpulkan energi. Dina sudah dijemput mobil langganannya. Suami telah melambaikan tangan. Kiki menggapai dan mengais udara di kotak bayinya. Wilda belajar makan sendiri. Remah-remah roti bertebaran di lantai. Bocah yang baru lancar bicara itu menghancurkan roti dengan sempurna. Letih itu datang lagi. Hidangan di meja tak disentuh sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah Karti menampakkan wajah. Beban Ani sedikit berkurang. Sampai tengah hari nanti tugas menyapu halaman, belanja, memasak, mencuci, menyetrika, berpindah ke tangan gadis dua puluhan itu. Ia bisa berkonsentrasi mengurus dua anaknya. Setidaknya sampai jam sepuluh. Sebelum Dina pulang dan membuat rumah menjadi serupa kapal pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ti, beresin meja sambil lihatin anak-anak, ya. Saya mau rebahan. Agak pusing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karti mengangguk. Ia tak punya banyak kata untuk dibagi dengan majikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani masuk ke dalam kamar. Kamar tidurnya tak terlalu besar. Tapi cukup lega untuk menampung satu double bed, lemari dua pintu, dan meja rias kayu. Di dindingnya dua foto seukuran tabloid menggantung. Foto ia dan suami. Foto Dina dan Wilda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh subur Ani sedikit memantul-mantul ketika merebahkan diri. Seprei katunnya kusut. Selimut tebal semrawut. Ani tak peduli. Ia meluruskan badan. Untuk beberapa saat, ia menatap foto diri dan suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pigura kayu bercat emas membingkai foto. Pose setengah badan. Suami merangkul erat dari belakang. Tangannya bersilangan di dada Ani, mencium rambut sebahu. Hangat. Nikmat. Seolah helai hitam itu menyimpan saripati lavender. Sedang Ani tersenyum simpul. Malu-malu. Menikah adalah anugerah, ucap batinnya kala berpose waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tahu bungsunya akan menikah, kerut bahagia ikut menghias wajah orangtua. Ani, si manja menemukan penjaga. Biar renta, mereka rela menempuh jalan darat Musi Banyuasin-Jakarta, melihat anak bersanding mesra. Kakak  satu-satunya dari Amerikapun sempat datang. Di alam baka, orangtua suami pasti tersenyum juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama berdua, Ani baru merasakan cinta sebenarnya. Berteduh di bawah naungan seorang laki-laki. Penat kerja seorang karyawati lumer ketika sampai di rumah. Suami punya berjuta puji. Tahu cara melambungkan hati istri. Bibit cinta bertunas. Ani berhenti dari pekerjaannya. Profesi ibu lebih mulia. Suami setuju. Ipar-ipar yang sesekali datang mendukung. Ekspresi bahagia Ani saat tahu hamil, secerah wajah di foto itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, enam tahun berlalu. Rupa sudah berbeda. Dalam foto, wajah Ani dan Suami masih lonjong kwaci, belum bulat bakso. Lemak tertimbun mulai dari perut hingga paha. Menambah bobot berlipat ganda. Tak ada lagi jadwal lari pagi bersama seperti hari-hari pengantin baru. Terlebih Sabtu-Minggu, suaminya sering ke luar kota. Meeting, dinas kantor, atau apalah istilahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itukah suami lupa dengan kata-kata puitis? Bujuk rayu gombal? Perhatian dan ungkapan rasa cinta seperti dulu? Ani kurang paham. Diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam mereka sempat bercakap singkat. Kalimat suamin begitu membekas di benak Ani. “Nda, bulan depan mungkin, Ayah nggak ngantor lagi. Kasus pipa gas bocor mulai berdampak buruk. Rakyat sekitar dan LSM berdemo. Pemda turun tangan. Aktivitas perusahaan menurun. Sekarang, Ayah dan beberapa teman kuliah berencana buka usaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buka usaha sendiri? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani teringat ucapan teman lama yang tak sengaja dijumpainya beberapa hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka usaha sendiri? Bagus kalau untung. Jika rugi? Mau makan apa anak kita? Bagaimana sekolahnya? Biaya hidup makin mahal. Harga-harga melambung tinggi. Pusing!” Sang teman belum lama membuka usaha rumah makan. Baru sebulan sudah gulung tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk tahun-tahun pertama, jangan mimpi untung gede, deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani memijat-mijat kepalanya yang semakin terasa berat. Ia melirik sekaplet obat di meja kecil samping ranjang. Meraihnya. Menegaknya. Sebelum terpejam sempurna, suara itu sayup-sayup bergema:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surga ada di telapak tanganmu. Suami mulai tak mampu. Hari suram tinggal menunggu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran Ani mengangkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tengah Karti berusaha menenangkan Wilda dengan bantuan televisi. Dipilihnya film kartun yang paling menarik hati Wilda. Diseretnya kotak bayi Kiki dekat televisi. &lt;em&gt;Biar Kiki bisa ikut nonton&lt;/em&gt;, pikirnya. Dan ia sibuk bekerja lagi. Berkawan sapu dan kain pel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Da… Bunda!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengan mungil menggoyangkan tubuh Ani. Menyadarkan. Ani membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, mau ikut Mbak. Beli sayul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani mengangguk lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilda berlari. Menuju Karti di bordes pintu kamar. Menggendong Kiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah payah Ani bangkit. Menyambut Kiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lupa telur ayam kampung, Ti!” pesan Ani. Mereka berjalan ke arah ruang  tamu. Akhir-akhir ini ia mulai mengonsumsi kuning telur dan madu seperti kebiasaan ibunya dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wilda mau jajan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, terserah,” ujar Ani lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilda berjalan dengan loncatan kecil di samping Karti. Melewati jalan komplek yang mulai sepi dari lindasan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menatap pohon jambu air setinggi dua kali orang dewasa. Ujung-ujung rantingnya melahirkan putik-putik kecil. Sebentar lagi merekah jadi buah. Di belakang  pohon jambu, bonsai tumbuh menjadi pagar setinggi badan Dina. Ani dan suami tetap patuh pada peraturan developer; rumah tanpa pagar. Seratus lima puluh lebih rumah, eksterior bergaya Amerika. Halaman terbuka. Tapi paranoid orang kota melahirkan pagar besi tinggi. Tetangga jadi enggan datang. Satpam kurang tahu, ada atau tiada orang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok rumah Ani terdiri dari lima rumah. Ia berada di nomor dua. Di depannya sudah beda blok lagi. Setahun bermukim di sana, belum cukup baginya untuk mengenal nama, akrab dengan tetangga kanan, kiri, depan, belakang. Apalagi sampai radius puluhan meter ke depan. Pagi-pagi, setiap rumah mengeluarkan penghuninya. Ibu dan Ayah ke kantor. Anak-anak sekolah. Tinggal balita dan batita bersama &lt;em&gt;baby sitter&lt;/em&gt; serta pembantu yang menguras tenaga untuk ratusan ribu rupiah. Menjelang malam barulah semua di rumah. Sedangkan bagi Ani, malam adalah waktu menanggalkan lelah dari raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga ibu-ibu perumahan itu yang tinggal di rumah. Mereka ibu-ibu trendi dan ibu-ibu pengajian. Untuk bergabung dengan ibu-ibu trendi, Ani rendah diri. Ia tak tahu banyak merek perhiasan, parfum, pakaian, atau butik-butik ternama. Ikut ibu-ibu pengajian, usia jauh terentang. Hampir dua kali lipat usianya. Jadilah Ani membunuh sepi dalam pengasuhan yang tak berkesudahan. Tanpa kawan sepadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau perlu teman bicara. Di surga banyak teman. Tak pernah sepi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki menggeliat. Menangis. Ani mencium aroma tak enak. Popok sekali pakai terasa hangat. Ani mengerti. Ia harus membawa Kiki ke kamar mandi. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini ia malas sekali mengganti popok, membersihkan kotoran Kiki. Ia mual dengan bau pesing dan amis kotoran. Ingin muntah. Kalau saja Kiki tak meraung keras, ia akan membiarkan Kiki tetap begitu sampai Karti kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani membawa Kiki ke belakang. Raut kelelahan menghias wajahnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Ani meletakkan Kiki di kotak bayi. Sudah bersih kembali meskipun tak tercium aroma wangi. Ani duduk di samping kotak bayi, acuh tak acuh memainkan bebek plastik yang mengeluarkan bunyi. Ani menyalakan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Channel 1&lt;/strong&gt;. Berita Kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena butuh biaya sekolah, siswi SMP rela menjual kehormatannya, pada seorang Penjabat… bla… bla…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menyimak dengan telinga lebar-lebar terbuka. Televisi 21 inci itu menayangkan gambar seorang gadis belia. Wajahnya disamarkan. Isak tangisnya mendayu. Nenek si gadis ikut memberikan tanggapan. Pipi rentanya juga basah. Penyiar berwajah lonjong telur, berambut sebahu, mengenakan blazer abu-abu merangkum peristiwa. Teks nama acara melayang-layang. Iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menekan &lt;em&gt;remote&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Channel 2&lt;/strong&gt;. Gosip Selebritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumor perceraian penyanyi X dengan suaminya bukan isapan jempol belaka. Kemarin X menggugat cerai suaminya dengan alasan sang suami tak mampu memberi nafkah lagi. Suami terlalu menggantungkan kebutuhan ekonomi pada X. Akibatnya bla… bla…bla…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menghela napas. Ucapan suaminya tadi malam terngiang lagi, “… Ayah punya rencana bersama beberapa teman untuk buka usaha.” Ani tercenung lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di surga semua tersedia. Tak pusing pikirkan kubutuhan jiwa raga. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon berdering. Dari temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Mbak Ani. Kapan datang ke taman kita. Kiamat sudah dekat. Segera selesaikan urusan dunia. Ratu pilihan sudah dapat bisikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani berjanji akan berkunjung. Sudah berpuluh kali temannya itu memberi alamat.  Sudah ratusan nasehat pula dihembuskan sang teman. “Surga masih lapang.” Ingat si teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menutup telepon. Termenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kiamat sudah dekat. Antar mereka  sebelum terlambat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon berdering lagi. Dari suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu depan, status Ayah bukan karyawan lagi,” ujar sang suami. Nanti malam ia tak pulang. Berkumpul dengan kawan-kawan. Bicara bisnis. Usaha sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani meletakkan gagang telepon dengan hembusan napas keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki menangis. Pelan, sebelum kencang. Lebih berisik daripada mesin bajaj di  telinga Ani. Ia hanya menoleh. Menatap lama. Ikut menangis. Tangannya gemetar meraih Kiki.&lt;br /&gt;Dia tak akan menangis lagi jika di surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis Kiki makin kencang. Mungkin banyinya itu haus. Tapi panyudaranya bengkak. Kiki bagai memiliki gigi, mengunyah rakus  buah dadanya. Ia cuma menggendong Kiki, mengajaknya ke kamar. Belum sempat ranjang itu dirapikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki masih meraung. Wajahnya makin merah. Mulut menganga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani berdiri mematung. Bingung harus berbuat apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di surga dia tak akan rewel lagi. Semua ada. Tinggal minta, terkabul! &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki mengapaikan tangan ke udara. Kaki kecilnya menggesek sprei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surga. Surga. Surga. Ini kesempatanmu. Antar dia ke surga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani teringat pisau di dapur tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis Kiki makin panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surga. Surga. Surga. Kau tak perlu menanggung dosa dewasanya. Sejak dini kau sudah mengirimnya ke surga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani menatap Kiki. Wajahnya datar. Bayangan pisau makin kuat di benaknya. Gagangnya dari kayu. Bilah matanya baja tahan karat. Berkilat ditimpa larik cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis Kiki makin kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani melangkah. Menuju dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah &lt;em&gt;Femina&lt;/em&gt; No.03/XXXV 18-24 Januari 2007 sebagai bonus kumpulan cerpen kriminal (Dari Sanyembara Mengarang Cerpen Femina 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-8470475713980709382?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/8470475713980709382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/surga-di-telapak-tangan-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8470475713980709382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/8470475713980709382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/surga-di-telapak-tangan-ibu.html' title='Surga di Telapak Tangan Ibu'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-6758960272985086105</id><published>2009-09-09T17:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T17:52:02.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Anak, Perempuan, Tetangga Sebelah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerpen koko Nata &lt;/strong&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://kokonata.multiply.com/journal/item/292/Anak_Perempuan_Tetangga_Sebelah"&gt;Sriwijaya Post, edisi 03/02/2003&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak itu lucu. Lebih lucu daripada teddy bear atau boneka mana pun yang dipajang pada toko etalase mainan. Pipinya montok seperti bakpao panas. Matanya hitam berkilau bagai mutiara dari lautan. Dan bibirnya, merah jambu bercahaya. Bila ia tersenyum, sempurna sudah karunia Tuhan yang dianugrahkan kepadanya. Aku suka anak itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Usianya tak lebih dari tengah tahun pertama. Aku sering melihatnya ditimang-timang tiap petang dijalan depan rumah. Demi melihat tawanya, bertingkahlah orang-orang dengan ekspresi kanak-kanak. Jika menarik merekalah bibirnya yang selalu basah. Kata-kata kerap mengajak bayi itu berbicara. Padahal semua orang tahu, satu kalimatpun ia tak punya tapi orang tetap senang mengajaknya bicara, sebab ia lucu, lugu, segar bagai embun pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku ingin mendekatinya, menggendongnya serta memberikan satu kecupan. Aku ingin menimang dan menyanyikan lagu sayang. Biar sumbang, ia tak akan menentang. Ia hanya akan menangis atau tertawa sebagai tanda suka tidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya aku tak bisa. Aku tak bisa menghampiri atau bahkan memeluknya. Ia bagai bintang yang tak dapat dijangkau. Ia seperti sinar suci yang pecah saat kujamah. Ia...ah...mengapa jauh jarak terbentang kalau aku merindukannya. Inikah dera yang harus kuterima akibat perilaku masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpenjara oleh jeruji yang aku dirikan sendiri. Aku tenggelam dalam lautan penyesalan. Aku...Aku harus puas hanya dengan menikmatinya dari sela-sela jendela. Aku telah tersihir oleh kerling lembut pesonanya tapi tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Beberapa bulan yang lalu aku tak acuh dengan percakapan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stt... anaknya Nuning sudah lahir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak haram itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bakalan ngetop lagi kampung kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Kelahiran anaknya ini pasti lebih ramai dibanding peristiwa perkosaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagian, mau-maunya dia mengandung benih lelaki yang tak jelas asal muasalnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya namanya juga musibah, Bu, siapa, sih yang mau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kan, dia bisa saja menggugurkan kandungannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu nggak tahu sama si Nuning, sih. Nyamuk saja enggan dia bunuh apalagi janin dalam rahimnya. Dia memang sempat bilang, anak itu tidak dikehendakinya. Tapi setelah perutnya membesar dia malah jadi sayang. Dia menganggap musibah sebagai takdir, cobaan, cara yang di atas mengasihinya. Siapa tahu anak itu malah membawa berkah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ce...ile...masih sempat ceramah juga dia rupanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah, Bu. Selama tidak merugikan kita. Ya nggak massya... lah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul...betul... Ngapain kita pusing mikiran dia. Dianya sendiri tenang-tenang saja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita mempersiapkan diri. Sekarang kan banyak wartawan yang ingin meliput kejadian ini. Nah kita sebagai tetangganya pasti ikut dimintai keterangan. Kita jadi masuk koran deh. Ikutan ngetop. Siapa tahu ada yang tertarik untuk mengorbitkan kita jadi model”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hi...hi...hi...ibu ini ada-ada saja”&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Dengan mata kulumat habis sosok perempuan itu. Ia tak bisa dikatakan cantik tapi salah jika menilainya tak menarik. Ia punya pesona yang tak bisa diraba dengan indra. Apa namanya, aku tak tahu.Ia perempuan yang hebat menurutku. Ia tak menyesal dengan segala sial yang menghampiri. Ia tak menganggap Tuhan tak berlaku adil padanya. Tabah dan sabar adalah teman yang membuatnya tegar menghadapi bisik-bisik pedas gunjingan. Semua ia jalani dalam syukur baik suka maupun duka. Dia yakin dibalik cobaan maupun musibah pasti tersirat hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh lagi mamam, ya? Mamam apa, cayang?“ seorang perempuan tambun setengah baya menegur anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum seraya menyodorkan sesendok bubur untuk buah hatinya. Aku ingin bertanya bubur apa yang engkau suapkan? Makanan penuh gizi atau sekedar beras yang direbus dengan air berlebih? Susu yang bagaimana pula kau regukkan untuk melepas dahaga bayimu? ASI kaya sempurna atau sekedar air putih encer tiada guna. Aku yakin jawabannya pasti mengecewakan. Kau hanya seorang yatim yang kini bukan janda dan bukan seorang istri pula. Rumah kayu yang berdiri di samping kediamanku sudah cukup menggambarkan keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mengingatnya aku jadi benci sebenci bencinya pada lelaki yang tega menghinakannya. Mengapa ia dan harus ia. Bukankah masih banyak gadis kaya bergaya foya-foya dan hura-hura. Kenapa tidak mereka saja yang jelas hidup tanpa punya arah. Kenapa harus Dia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin memikirkannya semakin gila saja otakku dijejali tanya dan terka. Penyesalan bereaksi hebat dengan kagum yang datang. Hari kemarin senantiasa menjadi senjata yang meneteskan nestapa. Dan aku semakin benci dengan laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;“Kau jadi milikku malam ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak..tidak...jangan... !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah lama kau bercokol dalam alam maya. Sudah lelah dahaga menunggu rengkuh cinta. Mari kita puaskan mari kita tuntaskan sekarang juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan...kau hanya akan menikmati neraka lebih segera. Aku bukan kembang kau bukan kumbang. Hentikan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak...aku tak bisa berhenti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong jangan buat Tuhan dan pengikutnya mengutuk perbuatanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe... Mari kita mulai saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan... Pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Breeet...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaa...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjaga. Aku melihatnya. Lelaki yang kubenci dengan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pelangi melengkung di langit biru. Harum semerbak bunga menebar bau. Alam di mata berwarna-warna indah mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bimbii...Bimbi...ayo sini ikut papa...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa renyah bocah tak berdosa. Riang jenaka anak manusia memulai perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama papa ingin menggendongmu Bimbi. Ayo...kemarilah, Sayang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak manis merentangkan tangan. Dekap bahagia akan segera diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, manisnya. Kua benar-benar anugerah terindah meski tak pernah sengaja terencana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah polos lebarkan bibirnya. Liur menetes basah berpola peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senangnya bisa menggendongmu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diduga si bocah berubah. Badan menghitam tumbuhkan bulu serigala. Taring runcing mencuat siap mengoyak mangsa bersama dengus panas moncong mencari udara. Anak manis menjelma monster buruk rupa. Ia siap menerkam. Menghisap darah. Mencabik tubuh hingga patah tulang jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa...mengapa kau jadi begini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Grrr..Graw...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada jawaban. Hanya kengerian yang disajikan.Kuku tajam mencakar sasaran. Kulit tersayat. Darah membasah. Anak buruk lepas dari pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bimbi...Bimbi... ini papa... ini papa...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Graw..Graw...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka mengaga. Jerit membahana. Malam pecah porak poranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak. Mimpi ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasku turun naik memasok udara. Keringat bergulir bergilir-gilir. Aku sudah tak dapat menghitung lagi sudah berapa kali kengerian itu menghantuiku. Bayang-bayang menakutkan seolah tiada lelah bergentayangan. Aku ketakutan. Aku tertekan.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk kesekian kalinya aku kembali mengamati anak dan ibu tetanggaku. Wajah mereka masih sama. Masih ceria tertawa renyah. Hidup dibiarkan berjalan apa adanya. Yang terjadi terjadilah. Mereka tak peduli dengan suara-suara usil yang melingkupi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sedang aku, lihatlah aku. Makin ringkih menapaki hari makin tersiksa oleh nyeri tersembunyi. Panah-panah maya terus melesat ke arahku. Sebuah kekuatan memaksa dan terus memaksa agar aku mengaku bahwa akulah ayah bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;Palembang, 6 September 2002&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-6758960272985086105?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/6758960272985086105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/anak-perempuan-tetangga-sebelah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6758960272985086105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/6758960272985086105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/anak-perempuan-tetangga-sebelah.html' title='Anak, Perempuan, Tetangga Sebelah'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-433969986924926109</id><published>2009-09-09T17:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T17:36:30.991-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Haji Bawakaraeng</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Cerpen Emil Akbar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.gong.tikar.or.id/?mn=sastra"&gt;Majalah Gong Edisi: 111/X/2009&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Seperti tawaf di Ka’bah, saat itu jamaah yang datang dari berbagai daerah, tengah khusyuk mengitari tugu beton yang pernah dibangun Belanda beberapa waktu silam, sambil mengumandangkan kalimat tauhid dengan tubuh bergoyang laksana ilalang yang menari ditiup angin. Ketika gerombolan itu datang menghujat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;    “Syirik!”&lt;br /&gt;    “Bukan ajaran Islam.”&lt;br /&gt;    “Bubarkan!”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Aku selalu heran. Ibu sering melarangku pergi ke Malino untuk mengisi liburan semenjak masih SMA sampai sekarang, aku kuliah dan menjadi anak pencinta alam. Paling tidak ibu sering menghalang-halangi niatku dengan berbagai alasan. Padahal di sana aku punya warisan peninggalan ayah, berupa tempat penginapan yang dikelola orang lain. Makanya kerap kali aku berangkat diam-diam. Sepulang dari Malino, ibu pasti tahu dan langsung menghukum dengan cara mendiamkanku beberapa hari. Sejak itu aku tahu ibu tidak pernah ke sana.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Ketika ibu bertanya apa saja yang kulakukan setiap aku berkunjung ke sana, kulihat wajahnya harap-harap cemas seperti was-was yang tak semestinya. Bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, kuceritakan semuanya termasuk pengalamanku mendaki puncak gunung Bawakaraeng dan kudapati di sana ada ritual haji. Ibu makin panik dan kian hari mengurung diri di dalam kamar. Saat kutanya kenapa? Ibu bungkam seribu bahasa seperti bertingkah yang tidak kumengerti. Tatkala kini berbaring lemah di rumah sakit, barulah ibu mau bercerita.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Bunga, kamu punya seorang kakak.”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Kapan kita naik haji, Daeng?” tanya Maniah yang sebenarnya tidak perlu Daeng Tata jawab sebab ia tahu istrinya itu hanya mengeluhkan nasib yang tak pernah bisa simpan uang.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Sabarlah dulu, Anriku. Bila tiba waktunya, kita pasti akan ke tanah suci. Untuk itu kita jangan putus berdoa,” nasihatnya itu belum mampu meluluhkan hati Maniah yang punya mau.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Percuma berdoa tanpa usaha, Daeng. Apa yang bisa diandalkan dari sepetak sawah warisan orangtuamu yang tak seberapa itu. Tak cukup bahkan untuk perut kita. Sayuran dan kadang padi yang kita tanam harganya selalu rendah, tidak pernah naik. Kita tinggal di hamparan gunung yang luas tapi milik kita tidak lebih dari secuil. Dan apa pula yang Daeng bisa lakukan selain bertani.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Daeng Tata meredam amarah yang menghantam dada, berusaha maklum akan ucapan istrinya yang begitu tajam menusuk. Barangkali Maniah tidak sadar tengah menyinggungnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Dulu, orangtuanya memang punya banyak tanah. Namun tanah itu dijual murah karena didesak oleh usia mereka untuk naik ke tanah suci sebelum maut menjemput, dan beberapa tanah disita lantaran orangtuanya mengambil pinjaman untuk menambah upah naik haji, sebab uang hasil penjualan tanah belum juga cukup memenuhi ongkos. Juga buat selamatan sebelum dan sesudah naik haji. Harus dilunasi karena sudah menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan untuk membereskan segala hajat yang tertunggak. Beberapa kali Daeng Tata didatangi di dalam mimpi, orangtuanya mengemis memintanya segera membayar utang mereka kepada yang bersangkutan yang memang sering menagih. Padahal sisa tanah yang mereka wariskan adalah biaya hidup Daeng Tata sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Waktu itu, tanah memang seperti tidak ada harganya sebab jarang yang mau beli. Apalagi terletak di daerah puncak. Namun sekarang di tanah itu sudah banyak berdiri Vila, tempat penginapan untuk para pelancong yang berwisata ke Malino yang terkenal dengan air terjun dan udaranya yang sejuk.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Besok saya akan ke atas, Anri. Kamu mau ikut?” bujuknya agak mengalihkan pembicaraan agar perasaan istrinya sedikit lunak, lantaran malam ini lelaki itu membutuhkannya. Ia memegang bahu istrinya pelan yang sedang berbaring membelakanginya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Tidak. Saya tidak percaya lagi, Daeng. Saya capek berangan-angan. Saya tidak mau pahala yang sama dengan naik ke Mekkah di atas gunung Bawakaraeng itu. Apakah Daeng tidak tahu? Banyak yang bilang ibadah ke sana itu keliru.” Maniah menolak secara halus, menggeser pundaknya biar terlepas dari tangan suaminya yang membelai bahunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Ah, tahu apa mereka itu? Mereka tidak tahu apa-apa. Hanya hendak memaksakan ajaran yang katanya murni!” ujarnya seperti mengumpat. Menghempaskan diri karena merasa gagal melelehkan kebekuan istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Sungguh Daeng Tata sangat sulit menakhlukkan tabiat istrinya yang keras hati ketika sedang merajuk. Perempuan yang ia nikahi mati-matian sebab ia punya saingan. Ia rela menghabiskan tanah warisannya yang tersisa buat memenuhi permintaan calon mertuanya yang banyak ulah itu, sebab ada orang lain yang juga hendak melamar. Kepada pemberi yang tertinggi, mereka melepas anak gadisnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Daeng, bagaimana kalau saya ke Makassar mencari kerja?” Tiba-tiba Maniah mengajukan usul yang tentu saja mengejutkan Daeng Tata. I strinya membalikkan badan menatapnya. Berkat pelita minyak yang menyala redup, ia bisa melihat mata istrinya yang berbinar, ada semangat di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Seperti waktu gadis dulu. Saya akan bekerja sebagai buruh pabrik dan bakal menabung,” lanjutnya penuh harap, demikian riang seperti mengejar impian.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Anri, kau akan lama di sana nantinya. Dengan begitu kau tega meninggalkan saya sendirian di sini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Tidak apa, demi masa depan kita. Kelak bila sudah cukup uang dan pengalaman saya akan mengajakmu serta. Kita buka usaha di sana.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Tidak. Saya tidak mengijinkanmu!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Daeng, tenang saja. Sesekali saya akan menjengukmu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Suaminya bungkam yang bukan hanya diam. Maniah juga sejenak membisu sekedar mencari jawaban yang diinginkannya. Namun air muka Daeng Tata tidak berubah, dan istrinya itu sudah mengerti bahwa ia tidak bakal mendapatkan restu untuk pergi. Sambil kembali membalikkan badan, ia tetap menceracau. Tak mau menyerah.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Kakak-kakakku sudah haji semua. Adik lelakiku yang pedagang itu sudah berangkat. Saya saja yang melarat seperti ini,” suaranya lirih menyindir. Namun ia tidak memperoleh tanggapan selain sunyi.&lt;br /&gt;    “Besok, naiklah ke atas supaya diberi gelar Haji Bawakaraeng. Teruslah seperti itu, sampai kapan pun, Daeng tidak akan mampu naik haji.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Maniah diambang putus asa, memadamkan lampu minyak. Tidak peduli lagi dengan suaminya yang malam itu berhasrat bikin anak. Boleh jadi istrinya itu sering uring-uringan lantaran belum melahirkan buah hati. Pernah Daeng Tata dan maniah mendatangi sanro untuk berobat setelah lama menunggu. Namun dukun itu menyurutkan harapan. Katanya, Daeng Tata punya mani yang terlalu panas hingga mematikan indung telur. Lain hari berujar, rahim Maniah telah dingin dan beku. Terakhir menyimpulkan, mereka tidak cocok.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Daeng Tata tidak bisa tidur, memandang nanar gelap yang mengerubungi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Dan Sekarang aku berada di sini untuk menemuinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Di atas gunung Bawakaraeng, angin menampar tubuh ringkih Daeng Tata yang tak goyah, memandang jauh di bawah sana. Bagai di laut, langit merendah begitu dekat sebab puncak bukit itu menjulang seperti hendak menjangkau cakrawala dengan gumpalan mega-mega berarak-arak serupa ombak yang tak surut, bergulung-gulung dengan pekatnya. Tampak megah keemasan pada senja yang bangkit, pertanda malam akan memeluk hari. Dan setiap kali awan itu melintas, bayangannya tampak berkejaran di permukaan bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Deru angin terus menerpanerpa. Hembusan itu bertiup kencang membuat celana kain dan baju lusuh serta sarung yang tersampir di pundaknya berkibar-kibar ke belakang. Kopiah hitam bertengger di kepalanya yang beruban pun telah pudar serupa dirinya yang digerogoti usia.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Lelaki tua itu masih menatap, barangkali nun pada hamparan kota Makassar yang merajalela, tanah daratan yang jauh dari sini dan hidup dengan gemerlap, kelap-kelip yang mengalahkan kedap-kedip bintang yang mulai bermunculan di langit yang sebentar lagi menghitam, seperti perempuan nakal yang main mata.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Aku sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tak dekat. Agak ke bawah, di balik hutan yang dihuni halimun, kabut asap tipis nan dingin yang lalu lalang. Aku melangkah mendekatinya dengan kaki kuseret biar berisik supaya ia berpaling, tapi Daeng Tata tetap bergeming hingga aku berada sejajar dengannya. Dingin kian merasuk mungkin sampai tulang, ngilu yang membeku. Aku menggigil seperti digigit oleh dingin, membuat gigiku ingin bergemelutuk dan akan mengeluarkan uap es ketika aku berbicara dan bibirku kini menjadi kelu. Padahal badanku dibungkus jaket tebal bagai berbalut-balut. Aku seperti hendak meringkus diri pada kedua tanganku yang bersilang di atas dada.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Berbeda sekali dengan Daeng Tata yang santai saja menautkan kedua tangannya di belakang punggung karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku yakin telapak tangannya akan berkeringat dan kulitnya bakal meleleh lantaran peluh, tatkala nanti ia ke Makassar yang teriknya garang dengan niat mencari anaknya yang tak pernah menjenguknya beberapa tahun ini, semenjak pertengkaran yang aku pun tahu. Bagai menunaikan hajat ke tanah suci yang tak pernah terwujud karena uangnya tidak pernah cukup dan tiap tahun biayanya selalu naik.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Sungguh lelaki tua di sampingku ini seakan tidak bisa berpisah dari gunung Bawakaraeng yang ia jaga melebihi dari hidupnya. Ia menanam Mahoni dan jati serta pohon jenis lainnya di lereng bukit, dan di lokasi yang pohonnya terbabat di sekitar gunung. Bibitnya ia semai di pekarangan rumahnya. Sebab jasanya itu ia mendapatkan upah tiap bulan dari pemerintah Gowa yang tidak cukup buat makan berhari-hari. Lembaran uang itu ia tabung dalam kaleng biscuit entah berapa tahun, yang telah penuh. Namun jika dikumpulkan dan diikat dengan karet jumlahnya tak seberapa, tidak sebanding dengan jerih payahnya. Aku mengetahuinya sebab ia bermaksud menitipkan segepok uang itu beberapa hari yang lalu kepadaku buat Amiruddin, anaknya. Uang kuliah untuk temanku itu. Dulu memang anaknya adalah temanku tapi setelah aku tahu semuanya, dia bukan lagi temanku. Lebih dari itu. Aku bilang, Amiruddin memiliki usaha yang tidak tetap.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Bunga, sampaikan salam saya pada Anakku yang masih keras hati. Bilang, saya sangat merindukannya,” ujarnya lembut nan tegas tanpa melepas pandang melihat kota Makassar yang berkilau gemilang serupa lampu senter yang benderang di tengah kegelapan, seperti kumpulan cahaya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Tata, tahu sendiri sikapnya yang tak mau dengar. Dan aku tidak bisa memaksa,” kataku setelah agak lama terdiam, lantaran aku sibuk menghalau dingin yang kian merayap pada hawa yang mulai senyap. Kulihat pelita di rumah penduduk di kaki dan di pinggang gunung sudah mulai berkeliaran bagai percikan sinar yang menyebar, bak kunang-kunang yang saling menjauh mencari tempat hinggap.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Bujuk dia sampai mau. Katakan lagi padanya bahwa saya akan minta maaf, kalau perlu saya akan bersujud di kakinya. Akan kutinggalkan semua kebiasaan yang dimatanya adalah dosa. Hanya dia satu-satunya harapanku, Bunga. Harta warisan peninggalan almarhumah istriku yang ingin kususul di tanah suci. Dialah yang dapat mewujudkannya.” Kali ini ia menjenguk mukaku yang hampir beku, menatap asa begitu memelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Iye, Tata, akan aku usahakan,” ucapku dengan gigi bergeretak. Kendati aku tidak tahu dimana Amiruddin sekarang. Namun aku yakin tidak susah untuk menemukannya. Sebab dia tidak kuliah lagi. Lebih memilih menyeru jalan agama ketimbang menuntut ilmu di fakultas yang katanya tidak dibawa ke akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Aku belum menikah karena belum bisa melupakanmu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu mau, Maniah.” Sungai Jene Berang mengalir deras seperti meluap, menenggelamkan bongkahan batu kali yang terserak. Maniah bagai terseret oleh arusnya, telinganya berdengung mendengar ucapan Andi Baso. Pertemuan di tepi sungai di suatu pagi yang hendak beranjak, ketika Maniah usai membasuh diri dan membersihkan cucian.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Saya sudah punya Daeng Tata!” jawab Maniah bergetar, agak terperangah. Meraba-raba kemauan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Itu bukan masalah jika kamu mau.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Maniah menatap lelaki itu begitu lama seperti hendak menemukan keseriusan. Lelaki yang pernah ditolak sebab tak mampu memenuhi permintaan orangtuanya, sehingga Maniah mengubur cintanya dalam-dalam. Pertemuan itu rutin meski tidak setiap pagi dan kadang di tempat berbeda yang tidak diketahui orang lain, saat sepi. Sampai kesalahan itu diperbuat, yang membuat Daeng Tata senang karena tidak tahu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Kamu hamil, Maniah?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Perempuan itu tidak mampu berterus terang karena didera dosa. Ia gelap mata. Andi Baso sangat sulit diabaikan. Bukan hanya karena ada hati, melainkan menjanjikan hidup layak dan nantinya bisa naik haji. Lelaki itu telah mapan. Kupingnya sudah terlalu panas mendengar segala gunjingan hina akan hidupnya yang tak kunjung membaik.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Maniah merasa tidak dipandang di tengah keluarga dan di setiap pesta yang dikunjunginya. Tidak diperbolehkan berjejer menyambut tamu di ruang depan karena belum haji. Cuma kerap mendapat tempat di dapur dan dianggap serupa asap yang mengepul lalu lenyap tak bersisa dan tak ada yang peduli. Hanya disuruh bantu-bantu memasak. Lantaran malu, ia tak tahan. Ketika kesempatan itu memberi peluang tak mungkin ia tampik kendati meninggalkan aib.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Bayi itu anakku, Maniah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Tidak Andi Baso. Daeng Tata sangat mengharapkannya. Saya akan menyusulmu nanti setelah saya melahirkan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Daeng Tata masih menatapku begitu teduh penuh pancaran kasih seperti menganggap aku adalah anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    “Terima kasih, Bunga. Mari kita turun. Sepertinya kamu sudah tidak tahan dingin. Teman-temanmu juga sudah lama memanggil. Kamu tahu, Bunga? Kamu mirip istriku waktu muda.”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Aku tidak tersipu dengan gurauannya. Aku malah makin merasa bersalah. Ah, seandainya Daeng Tata tahu tentang rahasia yang kubawa, titipan pesan dari ibu yang mesti kusampaikan. Mengenai masa lalu yang tak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin mengatakan, istrimu belum mati dan Amiruddin bukan anakmu. Namun mulutku ini tak sampai hati mengutarakan maksud di setiap kesempatan berdua dengannya seperti tercekat di tenggerokan. Padahal besok aku sudah kembali ke Makassar.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;    Teman-temanku sudah membereskan segala peralatan camping tak terkecuali sisa-sisa berupa sampah. Memastikan tak ada yang ketinggalan, semuanya ada dalam ransel besar di pundak. Setelah berucap syukur, kami siap turun gunung. Di lembah Ramma, di rumah panggung Daeng Tata, kami akan istirahat. Barangkali sampai pagi meninggalkan hari. Semoga kesempatan terakhir itu tidak aku siasiakan untuk membuka mulut, atau tidak sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Sinjai, 29 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Bawakaraeng yang berarti Mulut Tuhan adalah tempat Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah. Ulama sufi yang paling terkenal di seantero Sulawesi, dipercaya masyarakat bagai ditelan lalu hilang dan muncul di tanah suci. Dari sini awal mula ritual haji Bawakaraeng.&lt;br /&gt;Daeng: Panggilan sayang untuk suami yang berarti kakak.&lt;br /&gt;Anri: panggilan sayang untuk istri yang berarti adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/435022464933472625-433969986924926109?l=galerikarya-flpdepok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/feeds/433969986924926109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/haji-bawakaraeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/433969986924926109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/435022464933472625/posts/default/433969986924926109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://galerikarya-flpdepok.blogspot.com/2009/09/haji-bawakaraeng.html' title='Haji Bawakaraeng'/><author><name>Forum Lingkar Pena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15798457771676216451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_sFRLvoEsX24/TGOW0tFEH5I/AAAAAAAAAQw/Ak8sYcnaoXY/S220/logo+flp.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-435022464933472625.post-7887862808096353066</id><published>2009-09-09T16:44:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T17:15:21.530-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI DEWASA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUKILAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NOVEL'/><title type='text'>Limbayung</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;#1&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mentari Pagi di Lembah Mandailing&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Novel Ikhwan al Bayya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Fajar menjelang. Kokok ayam pertama (&lt;em&gt;martahuak manuk parjolo&lt;/em&gt;) terdengar saling bersahutan, seakan ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi malam akan segera berakhir. Namun, suhu yang begitu dingin membuat orang-orang yang sedang tidur menarik kembali selimutnya lebih rapat. Saking dinginnya, seolah-olah mereka tak hendak beranjak dari pembaringan, walau mereka sebagian tahu bahwa akhir dari sepertiga malam itu adalah malam yang mulia untuk menjalankan shalat tahajjud. Waktu yang dikabulkan segala doa-doa. Lagi-lagi hawa dingin telah mengalahkan segalanya, hanya jiwa-jiwa yang dirahmati Tuhannyalah yang sanggup melawan udara dingin itu untuk kemudian larut dalam ruku’ dan sujud yang hidmat dan khusyu’.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tak selang berapa lama, terdengarlah bunyi kokok ayam kedua (&lt;em&gt;martahuak manuk paduahon&lt;/em&gt;), sebuah pertanda tak lama lagi subuh akan tiba. Bunyi kokok ayam itu seakan ingin membangunkan para penduduk yang terlelap tidur untuk bersiap-siap melaksanakan shalat subuh. Saat inilah, &lt;em&gt;bola-bola ijuk&lt;/em&gt;, lembaran-lembaran ijuk pohon enau sudah mulai tampak, menari-menari dihembus angin dingin pagi, menyambut hari dengan penuh sukacita. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara kicauan burung balam dan &lt;em&gt;barobaro &lt;/em&gt;(cucakrawa) terdengar begitu merdu dan indah. Kicauan yang mendendangkan sebuah semangat baru untuk menyambut dan menjalani hari. Sebuah nyanyian alam yang mengambarkan betapa kemahabesaran Allah Sang Pencipta, yang telah menciptakan pagi agar manusia bersiap-siap untuk bertebaran di muka bumi menjemput rizki dan karuniaNya yang agung. Burung-burung itu berkicau dari pohon-pohon dan semak belukar semenjak menjelang subuh hingga terbit matahari. Kicauan yang tiada henti itu seakan ingin mengisyaratkan bahwa mereka adalah burung yang sedang berbicara kepada semesta raya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Udara masih tetap dingin. Para penduduk Banjar Sibaguri sudah mulai keluar rumah menuju &lt;em&gt;paridian&lt;/em&gt;&lt;em&gt;(1)  &lt;/em&gt;di Aekmata. Paridian ini berada di kanan dan kiri sepanjang aliran Aekmata. Mereka hendak berwudlu, mandi dan sekalian melaksanakan shalat subuh di surau tapian mandi. Beberapa ibu tampak menenteng &lt;em&gt;garigit(2)&lt;/em&gt; , untuk membawa air minum. Garigit itu diberi tali ijuk yang diikatkan pada ruas atas dan bawah. Mereka biasanya membawa antara 3-4 garigit air untuk dibawa pulang. Sedangkan ibu-ibu yang lain menenteng ember yang di bawahnya dibolong halus. Ember itu berisi beras yang akan dicuci di sungai. Lubang-lubang itu berfungsi untuk menapis air agar beras yang dicuci tidak jatuh ke sungai. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, &lt;em&gt;torang ari&lt;/em&gt; (terang hari) telah tiba.  Hawa dingin berangsur-angsur berkurang. Badan mulai terasa hangat ketika bincar &lt;em&gt;mataniari&lt;/em&gt; (terbit matahari), menyeruak dari sela-sela gugus Bukit Barisan. Para laki-laki yang hendak pergi ke sawah, usai shalat subuh asyik duduk mengobrol di &lt;em&gt;lopo&lt;/em&gt;(3)  , sambil menikmati secangkir kopi Mandailing yang lezat dan goreng pisang. Demikian juga dengan para &lt;em&gt;ompung godang&lt;/em&gt;  (Kakek) yang hidupnya santai  duduk-duduk mengobrol di warung kopi. Mereka mengenakan peci dan kain sarung. Orang-orang yang akan bekerja sudah datang dan pergi, namun mereka tetap saja bertahan di &lt;em&gt;lopo &lt;/em&gt;menikmati kopi dan makanan kecilnya. Sebegitu lamanya mereka di &lt;em&gt;lopo&lt;/em&gt;, sehingga mereka sudah &lt;em&gt;pitu noli tambu aek milas&lt;/em&gt; (tujuh kali menambah air panas). Hal ini terjadi, karena ketika mereka memesan kopi pertama kali, mereka minta agar kopinya kental dan gulanya agak banyak. Sehingga sekalipun sudah tujuh kali ditambah air panas, tetap saja masih nikmat. Bahkan tidak jarang, ada di antara mereka yang sengaja membawa sedikit gula dari rumah yang disimpan di kantong bajunya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan para remaja putri pun shalat subuh di surau tapian mandi, sekalian mencuci pakaian di sana. Di antara gadis-gadis itu, ada seorang yang wajahnya sangat cantik, rambutnya lurus panjang sampai pinggang, kulitnya bersih, badanya tinggi semampai. Ia memakai kain basahan. Kelihatannya, kali ini cuciannya lumayan banyak. Sehingga ketika gadis-gadis yang lain sudah selesai dan pulang, ia masih di &lt;em&gt;paridian&lt;/em&gt;. Sementara matahari sudah mulai meninggi, sinarnya terlihat memantul ke permukaan air yang menampakkan cahaya kemilauan, menerpa ke wajah gadis itu, semakin menambah pesona kecantikannya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, matahari sudah mulai meninggi. Lembah Mandailing semakin terang benderang. Jika dipandang dari Tor Pangolat, titik tertinggi di kaki Gunung Sorik Marapi, Lembah Mandailing yang subur bagaikan kuali yang memanjang ke arah utara, dikelilingi dua baris gugus Bukit Barisan di timur dan barat, dibelah oleh Sungai Batang Gadis yang selalu mengalirkan air kehidupan. Laksana sepotong taman surga yang jatuh ke bumi. Jika kita menoleh ke kiri, nun di ufuk barat tampak sayup-sayup ombak Samudera Hindia di Pantai Natal. Terkesan ada pengharapan, ada daya tarik yang ghaib, ada cahaya kehidupan yang terpancar dari kawasan itu. Namun, pemandangan yang menakjubkan itu tidak setiap saat dapat dinikmati. Karena cuaca berembun dan berkabut di seputar Tor Pangolat, seolah menjadi tabir yang memisahkan kita dengan pemandangan yang mempesona itu. Keindahan Lembah Mandailing yang luar biasa dan menakjubkan itu takkan mungkin bisa dilukiskan dengan seluruh cat di dunia, dengan seribu satu puisi indah sekalipun. Oleh karena itu, orang Belanda menyebut Tor Pangolat sebagai  &lt;em&gt;Hemelspoort&lt;/em&gt;, Pintu Surga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah selesai mencuci, gadis itu bergegas pulang. Ia melewati jalan setapak yang becek dan licin menuju rumahnya.  Di kanan-kiri jalan, tampak rumah sederhana berderet-deret. Rumah itu jaraknya saling berdekatan dan biasanya menghadap ke jalan. Rumah panggung sederhana yang terbuat dari papan kayu dan beratapkan ijuk. Jarak antara lantai rumah dan tanah sekitar setinggi pinggang orang dewasa. Atau terkadang ada yang lebih tinggi lagi. Di bawah rumah biasa dipakai untuk menyimpan kayu bakar dan kandang ayam. Ia melihat beberapa perempuan sedang menumbuk padi dengan lesung di belakang rumahnya. Ada pula beberapa gadis yang sedang &lt;em&gt;mambayu&lt;/em&gt;  (menganyam) di bawah &lt;em&gt;sopo-sopo eme&lt;/em&gt; (lumbung padi).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesampainya di rumah, gadis harus segera menjemur pakaian-pakaian itu. Kebetulan hari kelihatannya panas, ia yakin pakaiannya akan cepat kering. Ketika hampir selesai ia menjemur, Siti Aminah dan Lobe Mattohar, ibu dan ayahnya datang menghampirinya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;“Limbayung, kami mau berangkat ke sawah sekarang. Nanti kalau kamu sudah selesai masak segera menyusul ke sawah..” &lt;br /&gt;&lt;p&gt;“&lt;em&gt;Olo, Umak&lt;/em&gt;. ”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, mereka berlalu meninggalkan Limbayung. Mereka  menenteng cangkul di pundaknya. Saat ini adalah bulan &lt;em&gt;sipaha sada&lt;/em&gt; (April). Bulan mulai berhembusnya angin yang membawa awan butir-butir hujan sebagai tanda waktu menggarap sawah tiba. Bagi sebagian penduduk kampung, mereka biasanya bertanya kepada &lt;em&gt;datu&lt;/em&gt;(4)  untuk meminta pertimbangan  dalam menentukan &lt;em&gt;parhalaan&lt;/em&gt;, perhitungan mengenai hari baik dan buruk untuk melakukan suatu pekerjaan. Seperti mendirikan rumah, pesta adat, termasuk waktu mulai menggarap sawah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara abang Limbayung, Pandapotan,  sedang membelah kayu bakar di samping rumah. Biasanya ia pergi ke kebun untuk &lt;em&gt;mangguris&lt;/em&gt; (menderes).  Namun, karena sekarang lagi musim tanam padi, hari ini ia harus pergi ke sawah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah selesai menjemur, Limbayung menaruh ember di dapur dan bergegas pergi ke kebun. Ia memetik &lt;em&gt;bulung gadung&lt;/em&gt; (daun singkong), untuk dimasak menjadi gule bulung gadung. Sayur yang menjadi kesukaan ayah dan abangnya, apalagi kalau ditambah ikan asin yang disambalin sebagai lauknya. Ayahnya pasti akan tambah nasi, bahkan sampai dua kali. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Limbayung menyiangi daun singkong itu, mencucinya dan menumbuk bersama &lt;em&gt;rimbang&lt;/em&gt; (tekokak) dan &lt;em&gt;arias &lt;/em&gt;(batang muda siala) sampai lumat memakai alu dan lesung kayu. Satu atau dua batang &lt;em&gt;sangge-sangge&lt;/em&gt; (sereh) dipukul sampai retak dan pipih. Santan dipanaskan, setelah mendidih ia memasukkan daun singkong. Disusul kemudian garam secukupnya, cabe merah, renca berupa &lt;em&gt;aso-aso&lt;/em&gt; (ikan kembung gepeng) dan ikan salai sebagai pengharum.  &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Orang Mandailing sangat suka mengkonsumsi gule bulung gadung. Kebanyakan, mereka memakan sayur ini dengan kerak nasi, apalagi kerak nas
