profil flp depok

keceriaan

ketekunan

kebersamaan
FLP Depok Menerima Anggota Baru Angkatan VIII # mau bergabung klik Form Pendaftaran
Tampilkan postingan dengan label NONFIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NONFIKSI. Tampilkan semua postingan

Taman Baca: Sarana Menumbuhkan Minat Baca Anak

Kamis, 14 Januari 2010


Esai Dhinny El Fazila
Dimuat di Media Indonesia

Dominasi televisi dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak saat ini, telah dapat dikatakan sangat mengkhawatirkan. Jika orang jepang menonton televisi dalam sehari kurang dari lima jam, maka bandingkan dengan anak-anak Indonesia (dan mungkin para orang tuanya) yang menonton televisi bisa lebih dari sepuluh jam, bahkan bisa mencapai dua puluh jam! Anak-anak sekarang bahkan ada yang jadwal televisinya mengalahkan apapun. Televisi telah menjadi candu bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Televisi dengan kekuatan audio visualnya tidak sekedar memudahkan anak untuk menangkap apa-apa yang disampaikan. Lebih dari itu, televisi tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mencerna apa yang ada pada acara televisi tersebut. Sifat audio visual televisi sesungguhnya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan televisi. Tidak adanya jeda pada gambar yang bergerak diperkuat dengan suara membuat otak anak tidak sempat mencerna mana yang baik dan buruk pada acara televisi tersebut. Ini menjadi masalah tatkala televisi hanya berorientasi pada rating dan keuntungan sehingga tidak memikirkan bentuk acara seperti apa yang dapat memberi manfaat bagi penontonnya, namun lebih memikirkan acara seperti apa yang laku dijual.

Berbeda dengan televisi, buku merupakan media yang hanya bersifat visual saja. Selain itu buku bukan merupakan rangkaian adegan yang bergerak terus-menerus. Sifat buku ini membuat otak anak dapat beristirahat sebentar dan mencerna isi buku tersebut. Orang tua pun dapat dengan mudah mengarahkan pada anak tentang isi buku tersebut. Dilihat dari sifatnya saja, media buku tampaknya lebih ramah bagi anak daripada media televisi.

Mengapa buku lebih baik daripada televisi? Ini disebabkan karena kentalnya orientasi profit media televisi. Mahalnya ongkos untuk mendirikan sebuah stasiun televisi dan mahalnya biaya produksi televisi membuat mereka sangat berorientasi pada keuntungan semata. Ini menyebabkan televisi seringkali kehilangan idealismenya. Moral anak-anak Indonesia menjadi taruhannya ketika televisi menyajikan acara-acara yang kurang bermutu, dan itu dengan mudahnya menjadi konsumsi anak-anak yang belum cukup umur bahkan belum bisa mencerna mana yang baik dan mana yang buruk. Ini berbeda dengan buku. Ongkos produksi untuk mencetak buku tidak semahal ongkos produksi untuk membuat sebuah tayangan di televisi. Ini menyebabkan produksi buku tidak pernah kehilangan idealismenya.

Buku memang menjadi alternatif media yang ramah dan aman bagi anak-anak. Selain karena buku memiliki sifat yang ’ramah’, buku juga memiliki segmen khusus anak-anak yang aman dibaca dan mendidik. Selain itu buku memiliki banyak ragamnya sehingga kita bebas memilih buku seperti apa yang akan kita baca. Ini berbeda dengan acara televisi yang cenderung kurang variatif dan sedikit pilihan. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menumbuhkan minat baca, terutama minat baca anak.

Kurangnya minat baca anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kurangnya pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua dapat berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan terhadap membaca seharusnya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika dirumah terdapat perpustakaan, meskipun kecil, ini akan mendorong anak untuk gemar membaca. Atau pembiasaan lain seperti berlangganan majalah anak. Masalahnya seringkali orang tua kurang memiliki kesadaran dalam hal pembiasaan membaca terhadap anak.

Fungsi ini sebenarnya juga dapat diambil oleh sekolah. Perpustakaan sebagai sarana yang ada di sekolah seharusnya dapat mengambil fungsi tersebut. Namun sayangnya, saat ini rasanya sekolah belum mampu untuk menangani lemahnya minat baca para siswa. Dapat dilihat, perpustakaan sekolah sangat jarang dikunjungi. Kalaupun ada yang datang, perlu dilihat lagi, buku apa yang dibacanya. Moga-moga memang benar-benar buku yang layak dibaca. Tapi kebanyakan siswa-siswa memilih komik untuk di baca di perpustakaan. Tak salah sebenarnya kalau mereka memilih komik untuk dibaca, karena bagi mereka hanya itu yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana agar buku-buku yang mendidik itu juga menarik untuk mereka baca.

Hadirnya rumah-rumah baca atau perpustakaan keliling sepertinya cukup membantu dalam menarik minat baca anak. Sebut saja Forum Lingkar Pena (FLP) yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa, saat ini telah memiliki banyak perpustakaan yang dinamakan Rumah Cahaya yang merupakan kepanjangan dari Rumah Baca Hasilkan Karya. Di rumah ini, anak-anak sekitar dibebaskan untuk membaca buku-buku yang ada disana tanpa dipungut biaya apapun. Buku-buku yang disediakan pun memiliki segmen khusus anak-anak. Mereka bebas membaca sambil bermain di sana. Tempat-tempat baca seperti ini sebenarnya sangat potensial dalam memberikan kontribusi secara informal bagi pendidikan dan minat baca anak. Hanya saja tempat-tempat seperti masih kalah booming sosialisasinya ketimbang pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat rekreasi. Biasanya tempat-tempat seperti inipun terbatas pengunjungnya. Hanya anak-anak yang memang sudah gemar membaca yang sering datang berkunjung.

Untuk itu, selain disediakannya buku-buku yang menarik minat anak, sebenarnya perlu diadakan acara-acara yang menarik minat anak untuk datang ke taman-taman bacaan seperti ini. Dongeng atau lomba mungkin bisa jadi salah satu alternatifnya.
Saat ini, FLP telah memiliki beberapa Rumah Cahaya yang tersebar di berbagai daerah. Sebut saja Aceh, Bandung, Bekasi, Depok, Penjaringan, dan masih banyak lainnya. Bahkan Rumah Cahaya terakhir yang baru diresmikan, yaitu di Depok 2 Timur, memiliki kisah uniknya sendiri.

Rumah Cahaya Depok 2 Timur baru saja diresmikan seminggu yang lalu dan dihadiri oleh Helvy Tiana Rosa serta anaknya Abdurrahman Faiz. Rumah Cahaya ini didirikan di rumah seorang anggota FLP Depok. Beliau memiliki seorang anak yang sangat gemar membaca. Seringkali sang ayah harus kerepotan saat membawa anaknya ke toko buku karena di sana anak tersebut baru mau pulang jika sudah membaca sepuluh buku atau lebih. Akhirnya, karena alasan itulah, sang ayah membuatkan Rumah Cahaya di rumahnya agar sang anak bisa membaca sepuasanya dirumahnya. Selain itu agar teman-teman anaknya dan tetangga-tetangganya bisa ikut menikmati bacaan dirumahnya. Menurut ibunya, anak ini memang sudah terbiasa dan bisa membaca sejak kecil sebelum masuk sekolah. Ibu dan ayahnya pun adalah orang-orang yang sangat suka membaca.

Memang tidak semua anak gila membaca seperti anak tersebut. Namun adanya pembiasaan, banyaknya buku di rumah, dan kemampuan membaca yang cukup dini dapat merangsang anak untuk gemar membaca. Ini baik untuk perkembangan anak itu ke depan. Sebab buku, hingga saat ini, masih menjadi sumber informasi yang utama bagi kebanyakan masyarakat. Meskipun kini ada media internet sebagai sumber informasi, namun internet belum terlalu akrab dengan seluruh lapisan masyarakat sehingga buku masih menjadi yang utama.

Fenomena Rumah Cahaya FLP sebenarnya tidak berdiri sendiri. Banyak taman-taman bacaan dan perpustakaan yang lain yang juga memiliki visi serupa. Hanya saja masih banyak yang belum tersosialisasikan dengan baik atau masih terbatas dalam pengelolaannya. Padahal membaca adalah salah satu syarat dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, kampanye gemar membaca harus dibunyikan lebih keras lagi. Sebab ini adalah bagian dari pendidikan terhadap generasi bangsa selanjutnya, agar yang tumbuh bukan sekedar generasi yang ingin menjadi kaya dan terkenal dengan cepat seperti yang kita lihat di televisi. Kita tentunya menbgharapkan anak-anak di masa mendatang adalah generasi yang berwawasan luas, bervisi jauh ke depan, serta memiliki koral dan budi pekerti yang baik. Bukan generasi instan ala televisi.






Eksploitasi Remaja oleh Media Melalui Ajang Pencarian Bakat di Televisi

Selasa, 12 Januari 2010

Esai Dhinny el Fazila


Media massa khususnya televisi, merupakan media massa yang memiliki pengaruh sangat besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesi. Ajang-ajang pencarian bakat yang dilakukan oleh banyak stasiun televisi, meski banyak diantaranya yang meniru program luar negeri, namun terlihat sangat diminati oleh para remaja Indonesia. Hal ini dapat kita mengerti mengingat banyaknya remaja yang ingin ”kaya dan terkenal”, apalagi dengan cara cepat seperti itu.


Namun ternyata, dibalik kegembiraan remaja dengan adanya ajang-ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun televisi tersebut, ternyata terdapat unsur eksploitasi remaja oleh media. Remaja sebagai objek ajang tersebut, ternyata telah dieksploitasi dalam bentuk-bentuk yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah bahwa televisi ”menjual” remaja ke pengiklan untuk mendapatkan pemasukan iklan yang berlipat. Ini sepertinya merupakan tambang emas luar biasa bagi pengelola stasiun televisi.

Ajang pencarian bakat seperti ini, sesungguhnya merupakan proses selebritisasi yang sengaja dibuat dalam budaya selebritis media massa Indonesia. Budaya selebritis sesungguhnya telah ada beberapa puluh tahun lalu. Berawal dari teater dan film, muncullah aktor-aktor film yang awalnya kurang diperhatikan secara personal, namun akhirnya dibuat menjadi selebritas dengan diperkenalkannya aktor tersebut secara personal melalui media massa sehingga jadilah aktor tersebut sebagai apa yang disebut selebritas. Proses membuat seseorang menjadi selebritas disebut selebritisasi.

Saat ini proses selebritisasi telah dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi pengelola media massa khususnya televisi. Masyarakat Indonesia secara umum sangat suka mengetahui apa-apa yang berhubungan dengan kehidupan orang terkenal. Maka kemudian bermunculanlah artis-artis baru yang kehidupannya senantiasa dipublikasikan kehadapan publik melalui tayangan infotainment.

Maraknya tayangan infotainment yang kebanyakan penontonnya adalah ibu-ibu dan remaja putri, menyebabkan banyaknya remaja yang kemudian bercita-cita menjadi artis. Belum lagi bombardir tayangan MTV untuk remaja, sinetron yang menggambarkan kemewahan, semuanya kebanyakan ditonton oleh para remaja. Tak heran jika kemudian banyak remaja yang terobsesi ingin kaya dan terkenal.

Ajang-ajang pencarian bakat yang dipelopori oleh Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dengan sangat sukses , membuat stasiun televisi lain seolah berlomba untuk membuat acara sejenis untuk memenuhi obsesi remaja tersebut. AFI, dulu, dan Mamamia, sekarang, keduanya benar-benar telah membuat rating Indosiar Visual Mandiri (IVM) naik sangat drastis. Sukses mereka kemudian disusul oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.

Sebagian besar ajang-ajang tersebut ditujukan untuk para remaja. Ini wajar, sebab tidak hanya televisi yang menjadikan remaja sebagai target pasarnya. Hampir kebanyakan produsen menganggap kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Melihat karakter remaja yang seperti itu, pengelola televisi melihat bahwa program jenis tersebut akan lebih ‘laku’ jika targetnya adalah remaja. Ini terbukti.

Jika mau melihat sukses AFI, kita dapat melihat bahwa satu spot iklan pada acara AFI mencapai angka 18 juta dan setiap konser AFI disediakan 24 spot iklan. Belum lagi pendapatan-pendapatan lainnya seperti layanan sms dan premium call dimana pemenang kontes tersebut ditentukan dengan cara voting pemirsa. Sms yang masuk setiap minggunya bisa mencapai 150.000-250.000 sms. Memasuki babak Grand Final, sms yang masuk meningkat hingga 500.000 sms setiap minggunya.

Jika mau dibuat daftar, maka jenis-jenis keuntungan yang diperoleh stasiun televisi hasil ajang pencarian bakat seperti ini yaitu berasal dari pendaftaran (uang administrasi pendaftaran), proses seleksi yang direkayasa (dipelopori oleh tayangan proses seleksi Indonesian Idol) yang mendapat pemasukan iklan dan juga proses karantina (yang biasanya juga disponsori oleh pengiklan), tayangan konser/ proses eliminasi (contoh: spektakuler show Indonesian Idol, Mamamia Show), sms pemirsa pada saat proses eliminasi, kontrak atas bintang yang dihasilkan dari ajang tersebut yang biasanya bersifat eksploitasi atas artis tersebut , album/ produk yang dibuat dari ajang tersebut, dan acara-acara off air yang diselenggarakan yang biasanya dapat mendatangkan penonton remaja yang begitu banyak. Disamping itu, hal pokok dari acara ini adalah banyaknya remaja yang menonton yang membuat rating acara seperti ini tidak terlalu rendah, bahkan ada yang begitu tinggi.

Munculnya eksploitasi terhadap audiens oleh televisi sesungguhnya merupakan bagian dari sistem kapitalisme. F. Vito mendefinisikan kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dengan karakteristik: 1) adanya kebebasan beraktivitas bagi pelaku ekonomi, 2) adanya hak milik privat dari alat-alat produksi, dan 3) adanya persaingan. Saat ini, kapitalisme masih menjadi sistem ekonomi yang dominan di dunia pasca runtuhnya komunis.

Berdasarkan Teori Marxist, sistem ekonomi menjadi dasar segala sesuatu (base) dan mempengaruhi super structure, yaitu kumpulan institusi yang ada dan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Pada media massa, kapitalisme telah membuat media memiliki tujuan utama untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang dapat dilakukan dengan segala cara, jika melihat kembali karakteristik kapitalisme. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi munculnya eksploitasi yang dilakukan media terhadap audiens/ khalayak, khususnya remaja.

Jika kita kembali kepada permasalahan di atas, maka ideologi yang disebarkan oleh media yaitu bahwa bintang (star), adalah manusia sempurna yang harus diidolakan. Bintang di media digambarkan sebagai sosok yang mewah, glamour, sempurna, dan menyebabkan ribuan remaja mengangankan untuk menjadi bintang. Media massa jarang mengajarkan bagaimana para bintang itu bekerja keras dari nol hingga berada di puncak kesuksesan. Yang sering digambarkan media mengenai bintang hanyalah kesenangan dan gaya hidup mereka. Penonton remaja tidak tahu dan juga tidak diajarkan bagaimana bintang tersebut mendapatkannya. Akibatnya, muncullah generasi yang menginginkan kesuksesan secara instan. Ini karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana berjuang medapatkan kesuksesan. Yang mereka tahu hanyalah ketika bintang tersebut telah berada di puncak sukses.

Keinginan untuk menjadi bintang, kaya dan terkenal, secara instan inilah yang membuat berbondong-bondong antri untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh televisi. Sukses dengan edisi perdana, biasanya televisi tersebut akan membuat yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Contoh-contoh remaja biasa yang sukses dengan mengikuti ajang tersebut kemudian menjadi “heroes” yang menjadi cerminan bagi remaja lainnya, secara umur dan kondisi sosial-psikologis. Kemudian mereka menjadi acuan bagi remaja lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

Menurut teori Marxist, kelas penguasa menyebarkan suatu ideologi yang memberi pembenaran pada statusnya, yang menyulitkan kebanyakan orang untuk menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban eksploitasi. Anggapan bahwa jumlah besar orang dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kelas penguasa merupakan salah satu argumen utama dari analisis kultural Marxist.

Masih dalam pandangan Marxist, media merupakan alat (tools) untuk memanipulasi, sebab media massa dan budaya populer berperan penting dalam penyebaran false consciusness dan menjaga hegemoni serta ideologi penguasa.
Namun pertanyaannya, dalam konteks permasalahan di atas, kelompok penguasa mana yang oleh media dipertahankan hegemoni dan ideologinya? Jawabannya adalah kelompok media itu sendiri! Media menggunakan pengaruhnya sendiri untuk mempertahankan kekuasaannya agar tetap dapat mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari pemasukan iklan.

Mengenai konsep iklan pada masalah ini, berbeda dengan iklan yang dimaksudkan oleh Marxist. Pada teori Marxist, iklan yang dimaksud adalah cara penyampaian pengumuman kepada suatu khalayak dengan menggunakan perantara media massa. Sedangkan pada masalah ini, iklan adalah sebagai satu-satunya sumber dana yang membiayai media massa. Namun persamaannya adalah, iklan memegang peranan penting dalam masyarakat kapitalis terutama dalam industri media saat ini.

Jika kita melihat lagi dengan cermat, siapa yang diuntungkan dibalik adanya berbagai ajang pencarian bakat tersebut, jawabannya adalah media massa, dalam hal ini stasiun televisi yang bersangkutan. Remaja hanyalah menjadi korban eksploitasi media. Remaja yang merasa bahwa ajang seperti ini adalah salah satu kendaraannya menuju impiannya menjadi bintang/ selebritas merasa senang dengan adanya ajang seperti ini. Namun tanpa dia sadari, ajang ini adalah alat untuk mengeksploitasi mereka. Dalam hal ini media memberikan kesadaran palsu kepada remaja. Kesadaran palsu tersebut dikonstruksi melalui pengaruh media itu sendiri.

Secara tidak langsung, remaja “dijual” oleh media kepada pengiklan. Jadi siapa sebenarnya penguasa disini? Pengiklan atau media? Atau keduanya? Semua saling memengaruhi. Namun yang jelas, satu hal tetap pasti bahwa remaja, tetap merupakan korban eksploitasi mereka.

Ketika Juru Cerita Meninggalkan Buku

Esai Denny Prabowo

“Ceritkan padaku tentang kehilangan,” kata Upik pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itupun berkisah tentang bandana.

Demikianlah, Seno Gumira Ajidarma (SGA) kerap mengawali ceritanya. Apa yang dilakukan SGA mengingatkan kita pada peran penting seorang juru cerita atau tukang cerita di masa lalu, ketika sastra lisan menjadi satu-satunya media dalam penyampaian ajaran atau pesan. SGA seolah ingin mengembalikan peran itu dalam bentuknya yang lain: tulisan.

Kehadiran seorang juru cerita yang tampil sebagai narator di dalam cerpen-cerpen SGA, membuat pembaca seperti ‘mendengar’, walau pada kenyataannya tetap harus membaca. Ini merupakan bentuk kreativitas yang mungkin sekali mampu mengembalikan kegairahan pada sastra tulis seperti di era Hamzah Fansuri dengan Syair Perahunya yang ditulis pada abad ke-17 M, dan Raja Ali Haji dengan Hikayat Abdul Muluk yang ditulis bersama adiknya—Raja Zaleha pada tahun 1846 M.

Namun, usaha SGA menampilkan ‘suara’ juru cerita di dalam cerpennya, tak cukup membuat kegiatan membaca menjadi lebih mudah daripada mendengar langsung sebuah cerita yang dilisankan. Dan juru cerita pun menemukan eksistensinya dalam bentuk yang lebih mendekati aslinya melalui televisi: iklan, sinetron, telenovela, dan film seri yang mendominasi mata acara TV dapat dijadikan representasi yang pas dari sastra lisan kontemporer ini.

Salah satu keberhasilan sastra lisan dalam menyampaikan pesan dan ajaran adalah karena bentuknya yang audio visual. Cerita yang disampaikan melalui mulut dan peragaan sang juru cerita tentunya lebih mudah diterima. Kita hanya perlu duduk melihat dan mendengar juru cerita menyampaikan sebuah kisah. Berbeda halnya dengan sastra tulis yang membutuhkan energi untuk menekuni tiap kata dalam cerita.

Kehadiran televisi yang menjadi mediator sekaligus narator dalam terbentuknya ‘komunikasi sastra’ yang ditopang simulasi teknologi informasi kian memanjakan kita dalam menerima pesan dan ajaran. TV kemudian menjelma jadi juru cerita yang mendongengkan kisah tanpa harus berjalan door to door, cukup disiarkan melalui pemancar dan juru cerita pun siap menyapa melalui layar kaca di tiap pintu rumah pada waktu yang bersamaan.

Inilah yang sesungguhnya memiliki andil besar terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik pada 2003 menunjukkan sekitar 84,94 % penduduk usia 10 tahun lebih suka menonton televisi. Hanya 22,06 % saja yang mengatakan suka membaca koran dan majalah. Jadi, jangan heran jika minat baca masyarakat Indonesia di kawasan Asia Tenggara hanya menempati peringkat ke empat di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Agaknya tidak berlebihan kalau dikatakan penetrasi televisi menjadi biang keladi terbesar terkikisnya kebiasaan membaca di masyarakat kita.

Kondisi ini kian diperparah dengan sistem pendidikan yang tak mambuat siswa menjadi akrab dengan buku. Taufik Ismail dalam makalahnya Budaya Membaca dan Menulis yang disampaikan dalam sebuah seminar sastra yang diadakan oleh Forum Studi Islam FEUI, menyampaikan data, pada tahun antara 1939-1942 Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda) Yogyakarta mewajibkan siswa membaca 25 buku sastra dalam waktu tiga tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hill New York yang mewajibkan siswanya membaca 30 buku pada tahun 1987-1989.

Awal tahun 1950, ketika pemerintahan telah sepenuhnya berada di tangan Indonesia, wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis! Demi mengejar ketertinggalan pembangunan, pemerintah lebih mengunggulkan dan menyanjung jurusan eksakta, ekonomi, dan hukum. Padahal, menurut Taufiq Ismail sastra merupakan stimulus untuk meletakkan dasar kebiasaan dan kesenangan membaca buku, sehingga menjadi jembatan menuju literasi buku apa pun dalam disiplin ilmu yang diambil.

Apabila kondisi ini dibiarkan tanpa usaha meningkatkan minat baca dari berbagai pihak, maka jangan salahkan jika juru cerita semakin enggan tinggal di dalam buku, dan meninggalakan buku terasing di rak-rak penuh debu. Dengan begitu, penjajahan budaya oleh kaum kapitalis di negeri ini menjadi semakin mudah.

Rumah Cahaya FLP, 29.0807

Chairil dalam Sajak Aku

Selasa, 29 September 2009



esai Hafi Zha


SAJAK “Aku” pernah mengalami perubahan. Dalam Kerikil Tajam judulnya “Semangat” kemudian judul “Aku” dipakai dalam Deru Campur Debu. Kata-kata dalam sajak “Aku” pun ada yang mengalami perubahan, yaitu kata “ku tahu” pada baris kedua bait pertama, diganti “ku mau”.

Mengapakah Chairil Anwar mengganti kata-kata itu? Ada beberapa alasan, di antaranya dalam kata “semangat” itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat propagandis atau perasaan yang bombastis (berlebih-lebihan). Sedangkan dalam kata “aku” terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya.

Ditinjau dari sudut ini, kata “aku” lebih tepat daripada “semangat” untuk judulnya. Selain itu, puisi-puisi Chairil yang bersifat individualis sulit lolos sensor di masa Jepang. Untuk itu, Chairil memakai judul “Semangat” untuk mengelabui sensor. Sedangkan kata “ku tahu” menunjukkan perasaan pesimis dan rasa keterpencilan. Bila sajak itu dideklamasikan maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait berikutnya yang penuh semangat.
Karena itu, kata “ku tahu” tidak tepat dan diganti dengan kata “ku mau” yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat.

Sajak “Aku” menceritakan jika meninggal, si aku ingin tak ada seorang pun yang bersedih (“merayu”). Si aku ini binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya: ia merdeka tak mau terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak peluru menembus kulitnya, si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan­aturan yang mengikat tersebut. Si aku mau hidup seribu tahun lagi sebuah kiasan yang bermakna bahwa yang hidup seribu tahun lagi adalah semangat, pikiran, dan karya­karyanya.

Si aku, Chairil Anwar, adalah manusia yang terasing. Keterasingannya ini memang disengaja sebagai pertanggungjawaban pribadi: Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau. Hal ini karena si aku adalah manusia bebas yang tidak mau terikat kepada orang lain: Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang. Dan si aku ini menentukan “nasibnya” sendiri, tidak mau terikat oleh kekuasaan lain: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Pengakuan dirinya sebagai binatang jalang dan penentuan nasib sendiri: Aku mau hidup seribu tahun lagi merupakan sikap revolusioner terhadap paham dan sikap atau pandangan para penyair yang mendahuluinya (Pujangga Baru) (Pradopo, 1987: 171).

Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal /a/ dan /u/. Hiperbola tersebut:

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Gaya tersebut disertai dengan ulangan bunyi /i/ yang lebih menambah intensitas:
Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari
Hingga hilang pedih peri ... peduli
... lagi

Dengan hiperbola tersebut penonjolan pribadi tampak nyata.
Menurut Pradopo (1987: 173), sajak “Aku” menimbulkan banyak tafsir, bersifat ambigu. Hal ini karena ketidaklangsungan ucapan dengan cara bermacam-macam. Chairil memang ingin menarik perhatian dan untuk menimbulkan pemikiran. Dalan sajak “Aku” dipergunakan penyimpangan arti (distorsing) (Riffaterre dalam Pradopo, 1987: 173): kalau sampai waktuku dapat berarti kalau aku mati; tidak perlu sedu sedan itu dapat berarti tak ada gunanya kesedihan itu; tidak juga kau dapat berarti tidak juga engkau anakku, istriku, atau kekasihku. Ambiguitas arti memperkaya makna.

Dalam sajak ini juga banyak digunakan metafora penuh dan implisit. Metafora penuh seperti: Aku ini binatang jalang, maksudnya si aku seperti binatang jalang yang bebas lepas tidak terikat oleh ikatan apapun (Pradopo, 1987: 172).

Metafora implisit di sini: peluru, luka dan bisa, pedih peri. “Peluru” untuk mengiaskan serangan, siksaan, halangan ataupun rintangan. Meskipun si aku tertembus peluru: mendapat siksaan, rintangan, serangan, ataupun halangan­-halangan, ia tetap akan meradang menerjang: melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya. “luka dan bisa” untuk mengiaskan penderitaan yang didapat. “Pedih peri” mengiaskan kesakitan, kesedihan, atau penderitaan akibat tembusan peluru di kulit si aku (halangan, rintangan, serangan, ataupun siksaan).

Untuk menyatakan semangat menyala-nyala digunakan kiasan: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas.

Dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri: Ku mau tak seorang kan merayu (bersedih). Orang lain hendaknya jangan campur tangan terhadap nasib si aku, baik dalam suka maupun duka, maka Tak perlu sedu sedan itu.

Dari analisis di atas, pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aku dalam sajak tersebut adalah Chairil. Menurut Asrul Sani (dalam Ismail, 1999: 8), sajak Aku merupakan sebuah pamitan yang getir oleh Chairil kepada ayahnya yang mencoba membujuknya kembali ke Medan. Memang secara tak langsung sajak Aku menggambarkan seorang Chairil yang berpendirian teguh, yang menolak bujukan dari ayahnya sendiri. Tidak salahlah jika dalam , sajak Aku, tersimpan semangat Chairil Anwar yang penuh vitalitas, menyala-nyala dan membara.


Sumber: Majalah Sabili No.14 Th.XIV 25 Januari 2007/6 Muharam 1428

Sastra, Seni Berbohong yang Indah



Oleh: Denny Prabowo

Berita adalah kunci kontak kita menulis, dan “SIM’-nya adalah bahasa, begitu tutur Hamsad Rangkuti yang kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan dari salah seorang peserta workshop, tentang bagaimana mengemas sebuah fakta sensitif menjadi sebuah cerita tanpa membuat pihak-pihak yang terlibat di dalamnya merasa perlu malakukan tekanan sebab cerita yang kita buat—sebuah pertanyaan yang akan langsung terjawab, jika saja kita telah membaca Jazz, Parfum dan Insiden karya seno Gumira Ajidarma yang menggabungkan roman metropolitan, esai jazz dan parfum dengan laporan jurnalistik tentang tragedi yang terjadi di Timor Timur (sekarang menjadi Negara Timor Leste). “Sastra adalah seni berbohong yang indah,” begitu kata Hamsad Rangkuti, menjawab pertanyaan itu, mengingatkan saya kembali dengan sebuah cerpen karyanya.

Apakah betul ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu? Bukankah itu kebohongan. Saudara telah menciptakan kebohongn. Tetapi, penyair itu menampik dan berkata, semua yang dia tulis adalah kebenaran. Benar adanya. Memang ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu. Aku tidak berbohong, kata penyair itu. Lalu aku bertanya adakah lautan air mata itu? Bagaimana Saudara tega berbohong tentang lautan air mata. Kalian telah terkepung oleh air mata kami, tulis Anda. Bagaimana anda bias meciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung dibalik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi.1)

Karya sastra adalah tulisan fiksi berdasarkan imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang merupakan tulisan berdasarkan fakta dan data. Tapi apakah karena alasan itu karya sastra pantas disebut sebagai sebuah kebohongan? Dalam sebuah esainya Seno Gumira Ajidarama mengatakan, "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran".2) Yang kemudian dikoreksi sendiri oleh penulisnya dalam tulisannya yang lain, sebab dia meragukan apakah di dunia ini ada yang namanya kebenaran. Kebenaran itu memang relatif. Tergantung siapa yang mengatakanya. Bukan kebenaran yang menjadi dasar dari penulisan sebuah karya sastra, tapi realita. Ya, sastra bicara dengan realita.

Oleh sebab itu terkadang seseorang bisa larut dalam kesedihan, kemarahan, kebahagiaan ketika membaca sebuah karya sastra, karena bisa jadi sebuah karya yang sedang dibacanya merupakan representasi dari pengalaman hidupnya atau harapan-harapannya. Bukankah hampir seluruh ide-ide cerpen yang ditulis Hamsad Rangkuti berasal dari kejadian-kejadian yang tertangkap mata dan telinganya? Hanya imajinasi yang kemudian membuat pengalaman yang sesungguhnya tidak terlalu menarik untuk diceritakan, menjadi sebuah bacaan yang tak hanya menarik untuk dinikmati, tapi juga memberikan pembelajaran, yang tak jarang menimbulkan efek pencerahan.


Bisa jadi tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke salemba sore itu tidak benar-benar ada seperti yang diakui penulisnya. Dan kalau saja berpasang-pasang mata dari seluruh penduduk Indonesia meneteskan air mata terderasnya, tak akan mungkin tercipta telaga air mata. Semua hanya ada dalam imajinasi penulisnya. Apakah karena sebab itu seorang sastrawan sudah bisa dikatakan sebagai seorang pembohong?

Karya sastra adalah karya fiksi. Disebut fiksi karena tidak sungguh-sungguh terjadi. Dan ketika sastrawan mempublikasikan karyanya sebagai karya fiksi, pembaca tentunya sudah mengetahui sejak awal kalau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya sastra yang dibacanya adalah tidak benar-benar nyata. Tidak kah itu bisa dikatakan sebagai sebuah kejujuran?

Sementara begitu banyak catatan sejarah dan berita-berita yang dipublikasikan, yang semestinya menjadi karya nonfiksi ternyata tidak sesuai dengan fakta dan data yang sesungguhnya. Dan kita sebagai pembaca, sudah terlanjur menerimanya sebagai karya yang benar-benar terjadi.


Loteng Rumah, 2 Pebruari 2005



______________
1) Hamsad rangkuti."Antena". Bibir dalam Pispot: 146-147. Jakarta: Kompas

2) Seno Gumira Ajidarma. "Kehidupan Sastra dalam Pikiran". Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Jogjakarta: Bentang Pustaka


Sumber: Majalah Sabili No. 19 / 6 April 2006