profil flp depok

keceriaan

ketekunan

kebersamaan
FLP Depok Menerima Anggota Baru Angkatan VIII # mau bergabung klik Form Pendaftaran
Tampilkan postingan dengan label FIKSI ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI ANAK. Tampilkan semua postingan

Misteri Rumah Hantu (episode#04)

Kamis, 10 September 2009

Gara-gara Ketiduran di Masjid

 

Selasai makan sahur di rumahnya masing-masing, Amien, Adji dan Ody pergi ke masjid bersama-sama. Mereka memang selalu salat Subuh berjamaah di masjid Al-Kautsar. Tapi biasanya, selesai salat mereka langsung pulang ke rumah, nerusin bobo, baru bangun kalau pas mau berangkat ke sekolah. Kecuali hari minggu. Soalnya, kalau hari minggu ada tausiah yang disampaikan oleh seorang ustadz.

Adji dan Ody duduk saling bersandar. Sekali-sekali kepala mereka melangut ke depan atau ke samping. Keduanya keliatan sangat mengantuk. Hanya Amien saja yang nampaknya tekun mendengarkan ceramah yang digelar sehabis salat Subuh itu.

Hari sudah mulai terang waktu pak ustadz yang ngasih tausiah turun dari mimbar. Amien tersenyum-senyum melihat kedua sahabatnya sudah terkapar dengan kedua mata terpejam. Mereka tertidur pulas! 

Amien mengguncang-guncang tubuh Adji dan Ody. Tapi keduanya nggak bergeming sama sekali dari posisi tidurnya yang ngelungker mirip uler melinger di atas pager. Amien lalu menepuk-nepuk pipinya Adji. Berhasil! Mata Adji terbuka. Tapi... bocah keling itu kembali memejamkan matanya. Ody ganti menepuk-nepuk pipinya si Ody. Tapi hasilnya sama saja. Anak itu malah sama sekali gak mau ngebuka matanya.

“Duh... pada susah amat sih dibanguninnya!” Amien keki. Tapi dia nggak kehabisan akal. Buru-buru dia pergi ke tempat wudu. Diambilnya segayung air. Lalu kembali ke dalam masjid.

“Hehehe... dengan ini mereka berdua pasti bangun.”

Amien mencelupkan telapak tangannya ke dalam gayung berisi air. Lalu dia kepretkan ke wajah Adji dan Ody bergantian. Adji hanya mengusap wajahnya yang basah tanpa membuka mata. Sedang si Ody, akhirnya tuh anak mau juga ngebuka matanya setelah 3 kali Amien mencepretkan air ke wajahnya. Anak itu bangkit dari tidur. Membenarkan letak kaca matanya yang basah.

“Gerimis ya?”

“Iya. Gerimis lokal,” jawab Amien sambil menunjukkan gayung berisi air di tangannya.

“Huh!” Ody sewot, “iseng banget sih!”

“Habis, bukannya pada dengerin ceramah, eh... malah pada molor!”

Ody kembali merebahkan tubuhnya di karpet hijau itu.

“Eh, mau ngapain lagi?”

“Kalau ceramahnya sudah selesai, bangunin aku ya? Tar kamu ceritain saja ceramahnya ke aku.”

“Ceramah apaan? Sudah selesai dari tadi tau!”

Ody melihat ke sekeliling. Hanya tinggal mereka bertiga saja yang ada di dalam masjid itu.

“Kenapa gak bilang dari tadi kalau ceramahnya sudah selesai?”

Amien misuh-misuh. Kalau gak ingat lagi puasa, sudah digatak jidatnya Ody yang nong-nong.

“Kita pulang yuk!” ajak Amien.

“Si Adji gimana?”

Amien menepuk jidatnya. Dia kelupaan kalau temannya yang paling jago molor itu belum juga bangun dari tidurnya.

“Gimana nih?”

Ody belagak mikir. Tak berapa lama. “Aku tau!”

“Apa?”

“Guyur saja pake air seember!”

“Hah? Sadis amat. Tar karpet masjidnya pada basah semua! Cari yang lain dong.”

“Hmm... kita tinggalin saja, gimana?”

Amien senyum-senyum mendengar usul Ody. Tumben banget tuh anak punya ide jail. Biasanya, dia yang sering jadi bulan-bulanan si Adji. Pernah suatu ketika, Adji ngumpetin kaca matanya Ody. Akibatnya, seharian Amien harus jadi penunjuk arah, persis orang yang menuntun pengemis buta.

“Cabut, yuk!”

Amien dan Ody beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun, meninggalkan Adji yang suara ngoroknya sudah saingan sama knalpot-knalpot kendaraan yang berseliweran di jalan depan masjid. Sampai di luar masjid, mereka berdua tertawa cekikikan, membayangkan Adji yang bakal kebingungan mencari-cari mereka pas bagun tidur nanti.

***

Siang itu cuaca memang agak sedikit mendung, setelah puas main game di komputernya si Ody, Amien dan Ody pergi nyamper Adji ke rumahnya. Mereka mau ngajakin Adji salat Zuhur berjamaah di masjid. Tapi waktu mereka tiba di sana, ternyata si Adji nggak ada di rumah.


“Bukannya pergi sama kalian?” ibunya Adji malah balik bertanya.

“Nggak kok, Bu,” jawab Amien, “dari tadi kita berdua gak ngeliat Adji.”

“Emangnya Adji nggak bilang mau pergi ke mana?”

“Ke masjid.”

“Ke masjid?”

“Iya, dari Subuh tadi dia belum kembali.”

“Hah?!?” Amien dan Ody saling berpandangan. Lalu keduanya sama-sama berucap, “Jangan-jangan...”

Amien dan Ody lalu pamit sama ibunya Adji mau ke masjid.

Di tempat lain, Bang Fadil, marbot masjid Al-kautsar yang biasa jadi muadzin geleng-geleng kepala, waktu melihat ada seorang anak laki-laki yang asyik mendengkur sendiri di dalam masjid. Bang Fadil tersenyum. Sebelum mengambil mikrofon untuk kemudian mengumandangkan azan dengan suaranya yang serek-serek becek.

Mendengar suara azan berkumandang, kontan saja si Adji langsung bangkit dari tidurnya. Ngusap ilernya yang berleleran di pipinya. Dia melihat ke arah luar. Wah, sudah azan saja! Batinnya. Mendung memang bikin Adji sulit membedakan hari, masih siang apa sudah sore. Dia berlari ke rumahnya dengan semangat empat lima. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Amien dan Ody.

“Eh, kalian sudah mau berangkat ke masjid ya?”

“Iya.”

“Aku pulang dulu sebentar, nanti nyusul! Aku belum batalin puasa.”  

Amien dan Ody berpandangan heran. “Batalin puasa?” ucap mereka hampir bersamaan.

“Tapi, Dji...” belum sempat Amien menyelesaikan ucapannya, Adji sudah keburu lepas landas, berlari meninggalkan keduanya. Amien dan Ody segera mengejarnya sambil terus manggil-manggil Adji. Tapi Adji larinya cepet banget. 

“Assalamu alaikum!” ucap Adji, sebelum tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. 

“Kamu dari mana saja, Dji? Tadi dicariin sama teman-temanmu.”

“Iya, tadi juga ketemu di jalan,” kata Adji sambil terus berlari ke ruang makan. Mambuka kulkas. Membaca doa berbuka puasa, terus menenggak air langsung dari botolnya. Glek... glek... glek... “Alhamdulillah!”

“Kamu nggak puasa?” tanya ibunya heran melihat Adji minum.

“Puasa dong, Bu.”

“Tapi kenapa minum?”

“Lho, tadi kan sudah azan. Memang ibu nggak dengar ya?””

“Ibu juga tau kalau tadi sudah azan. Tapi tadi itu azan Zuhur, bukannya azan magrib!” terang ibunya.

“Hah????”

Pada saat yang bersamaan Amien dan Ody tiba di rumah Adji dengan napas tersengal-sengal.

“Jangan batalain dulu puasanya, Dji!” kata Amien.

“Sekarang belum magrib!” timpal Ody.

“Huaaaaaa... terlambat! Aku sudah minum!”

Mendengar itu Amien dan Ody jadi tertawa terpingkal-pingkal.

“Huh,” Adji merengut, “bukannya pada prihatin, malah ngetawain! Lagi kenapa sih, kalian ninggalin aku sendirian di masjid?”

“Siapa suruh tidur kayak kebo!”

Misteri Rumah Hantu (episode#02)

Novel Denny Prabowo & Dhinny el Fazila

Dompet

Hari kedua di bulan ramadhan, Adji, Amien dan Ody berniat mengunjungi toko buku terbesar di Kota Depok yang berada di jalan Margonda Raya, setelah kemarin gak jadi pergi gara-gara si Adji kekunci di kamar mandi. Mereka bermaksud menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku-buku yang dijual di tempat itu. Sampai waktu magrib tiba.


Adji, anak kedua yang punya hobi kemping, paling gemar membaca buku-buku seri petualangan dan komik-komik detektif. Bocah tinggi kurus itu bercita-cita menjadi seorang tentara seperti ayahnya. 

Sementara Amien, bungsu dari sembilan bersaudara yang sering dijuluki ‘Pak Ustadz’ oleh kedua sahabatnya itu, paling suka membaca buku-buku agama. Bapaknya seorang guru agama di sebuah SMUN ternama di Kota Depok. Jadi nggak heran kalau pengetahuan agamanya di atas rata-rata anak-anak seusianya. 

Sedangkan Ody, anak pertama sekaligus terakhir yang nggak pernah melihat bapaknya sejak dilahirkan ke dunia itu doyan banget melahap bacaan-bacaan yang berhubungan dengan komputer. Sejak masih duduk di bangku kelas satu SD, dia sudah akrab sama yang namanya komputer (sampai-sampai dikiraiin kembarannya komputer). Hobinya nongkrong di depan komputer sampai berjam-jam, membuat dia harus menggunakan kaca mata.

“Kiri, Bang!”

Sopir angkot menghentikan laju kendaraannya di depan toko buku Gramedia. Ketiga sahabat itu melompat turun. Melihat kanan-kiri sebelum menyeberang jalan. Di depan pintu masuk Gramedia, kaki Amien menendang sebuah benda berbentuk segi empat, berwarna hitam pekat, yang terbuat dari bahan kulit.

“Dompet!” Amien memungutnya.

Kebetulan gak banyak orang yang lewat di situ. Jadi gak ada yang ngeliat waktu Amien memungut dompet yang lumayang tebal itu.

“Punya siapa, ya?” gumam Amien.

“Alaaa… nggak perlu tau siapa yang punya. Kita ambil saja uangnya. Terus dompetnya kita buang ke tong sampah. Lumayan buat beli komik baru,” ujar Adji.

“Iya, Mien. Buka puasa nanti kita bisa mampir ke KFC. Kita puas-puasin makan ayam goreng di sana!” timpal Ody.

“Enak saja. Dompet ini bukan hak kita. Haram hukumnya mengambil barang yang bukan hak kita!”

“Dompetnya tebal. Uangnya pasti banyak. Jadi nggak pengaruh kalau kita ambil selembar saja.”

“Selambar atau dua lembar dosanya sama saja. Kalian mau masuk neraka?”

“Terus harus kita apain, dong?”

“Kita kembaliin.”

“Ke mana?”

“Di dalam dompet ini pasti ada KTP-nya. Kita bisa liat alamat pemiliknya di sana.”

“Ngapain sih, repot-repot ngembaliin dompet itu?” kata Adji, “Kita titipin saja ke Pak Satpam. Bereskan?”

“Kalau kebetulan Pak Satpam yang ketitipan dompet ini jujur… kalau nggak? Gimana?”

“Jadi?”

“Kita harus mengembalikan dompet ini langsung ke pemiliknya,” ujar Amien.

“Lalu acara baca-baca kita gimana?” protes Ody.

“Besok-besok kita bisa kembali lagi ke sini, liburan kita kan masih ada beberapa hari lagi,” kata Amien lagi.

“Iya, deh Pak Ustadz…” Adji dan Ody tak lagi membantah.

Amien mengambil KTP dari dalam dompet itu. Dia sama sekali nggak tergiur ngeliat lembar-lembar lima puluh ribuan di dalam dompet itu. Kalau diliat dari ATM yang berjumlah tiga dari Bank yang berlainan, dan dua buah kartu kredit, pasti pemiliknya orang kaya, batin Amien. Amien meneliti alamat pemilik yang tertera di KTP-nya.

“Kompleks Permata Hijau, jalan Lestari Raya no 23 blok B IV.”

“Di mana, tuh?”

“Di… Sawangan!”

“Aku tau tempat itu!” seru Ody, “Sepupuku ada yang tinggal di sana.”

“Di Permata Hijau?”

“Bukan. Tapi di desa Pasir Putih, Sawangan.”

“Kalau gitu kamu tau dong letak kompleks Permata Hijau?”

Ody menggelengkan kepala.

“Daripada nanti kita nyasar, mending kita tungguin saja di sini. Nanti kalau dia sadar kehilangan dompet, pasti dia bakalan balik lagi ke sini,” ujar Adji.

“Ada benarnya juga, sih… ya sudah, kita tungguin sampai ba’da Ashar nanti. Kalau orangnya nggak datang juga, kita cari saja alamatnya!” putus Amien.

“Setuju!”

Waktu terus berputar. Banyak orang yang lalu-lalang di tempat itu. Tapi nggak seorang pun yang ngerasa kehilangan dompetnya. Sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar di kejauhan. Ketiga sahabat itu beranjak dari tempatnya menunggu. Mereka turun ke basement. Di area perkir mobil itu ada sebuah ruang kecil untuk karyawan atau pengunjung yang mau menunaikan ibadah lima waktu.

“Dy, kamu tau ‘kan angkot yang ke Sawangan?” tanya Amien seusai menunaikan salat Ashar.

“Tau. D 03.”

“Tapi kita nggak tau alamat persisnya, Mien,” kata Adji.

“Kita bisa tanya sama Pak Sopir. Mereka pasti tau.”

“Oke, deh! Kalau gitu kita harus berangkat sekarang biar nggak kesorean,” kata Aji lagi.

Ketiga sahabat yang sudah berteman sejak masih di bangku kelas satu itu melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan.

***

Angkot D 03 yang mereka tumpangi berhenti.

“Di sini tempatnya, Bang?” tanya Amien.

“Iya. Nanti tanya saja sama orang.”

Adji, Amien dan Ody melompat turun dari angkot. Mata mereka berkeliling, mencari orang untuk ditanyai.

“Tuh ada satpam!” Ody menunjuk seorang pria berusia tiga puluh lima tahunan yang baru saja turun dari angkot. “Kita tanyain saja dia. Siapa tau dia satpam kompleks Permata Hijau.”

Ketiganya berlari-lari tergesa menghampiri satpam yang langsung pasang muka manis. Asli jayus banget!

“Ada apa adik-adik? Mau minta tanda tangan sama Abang, ya? Kebetulan nih, Abang baru saja pulang dari lokasi suting.”

Adji, Amien dan Ody saling berpandangan. Ketiganya mati-matian menahan tawa. Takut nanti satpam yang kege’eran itu bakalan tersinggung dan nggak mau menjawab pertanyaan mereka.

“Begini lho, Pak Satpam yang keren abis,” puji Adji, satpam itu langsung pasang aksi. Gayanya dimirip-miripin sama Arnold waktu main di film Terminator. “Kita bertiga, anak-anak yang manis ini, mau tanya, apa Pak satpam yang keren tau kompleks Permata Hijau?”

“Oo…” ucap satpam itu agak kecewa, “Tuh, di seberang sana. Kira-kira 100 meteran dari jalan raya,” tunjuknya males-malesan. Kemudian melangkah kaki kecewa.

Sepeninggal satpam itu, Aji, Odi dan Amien ketawa terpingkal-pingkal. Gaya satpam yang ngerasa kayak artis sinetron tadi itu bener-bener norak abis! Sebenarnya nggak bagus sih ngetawain orang. Apalagi saat sedang berpuasa. Tapi mau gimana lagi… lucu banget sih!

Seorang satpam Permata Hijau menahan langkah mereka saat hendak melintas di depan gerbang masuk kompleks itu.

“Mau ke mana adik-adik?” tanya satpam itu ramah. Yang satu ini cukup menunjukan wibawanya. Nggak pakai bertingkah seperti artis sinetron segala.

Amien mengeluarkan KTP pemilik dompet hitam yang mereka temukan di depan pintu masuk Gramedia.

“Rumahnya Pak Marja. Di blok B IV.”

“Ada keperluan apa?”

“Kami mau mengembalikan KTP-nya yang tertinggal di toko buku.”

Satpam yang ramah itu kemudian mempersilakan mereka lewat.

Setelah berputar-putar mencari rumah Pak Marja, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah megah. Pagar rumah itu sangat tinggi.

“Alamatnya betul, Mien?” tanya Adji.

“Betul. Ini rumahnya!” katanya yakin sekali.

Adji menekan bel yang menempel di pagar rumah besar itu. Berkali-kali. Tapi tak juga ada yang keluar. Sepertinya bel itu rusak. Gak ada suaranya.

“Gimana?” Adji putus asa.

Ody ngeliat pintu kecil di samping gerbang rumah besar itu sedikit terbuka.

“Kita masuk saja, yuk!” usul Ody.

“Nggak sopan, ah.” Amien nggak setuju.

“Jadi, kita harus nunggu sampai orang itu keluar? Keburu magrib, Mien!” ujar Adji.

“Iya. Kita masuk saja!” timpal Ody.

“Oke deh.” Akhirnya Amien setuju juga.

Pekarangan rumah itu sangat luas. Rumput hijau bak permadani dari Turki. Bermacam tumbuhan yang berwarna-warni menyejukkan, melindungi rumah itu dari sengatan sinar matahari. 

“Sepi banget…,” gumam Ody.

“Mungkin lagi di belakang?”

“Kita ke belakang saja, yuk!”

Tapi belum lagi mereka melangkahkan kaki ke pekarangan belakang rumah besar itu, tiba-tiba…

“Guk… guk… guk… guk…!”

Seekor anjing dobermen berlari ke arah mereka memamerkan taring tajamnya yang berliur.

“Laaarrrriiiiiii…!!!”

Ketiga sahabat itu lari lintang-pukang. Untung saja anjing yang besarnya lebih besar dari seekor kambing itu nggak ngejar sampai ke luar pager karena lehernya di rantai.

“Alhamdulillah!” ucap Amien.

“Selamat… selamat…” Ody mengelus dada.

“Kurang ajar tuh anjing! Dasar binatang! Nggak punya pikiran kali ya?!” maki Adji, “Nggak tau apa kalau kita-kita mau mengembalikan dompet milik majikannya?!”

Mendengar makian Adji, kedua sahabatnya saling berpandangan. Lalu keduanya ketawa ngakak. Orang kalau lagi panik memang suka aneh-aneh. Masa’ anjing disuruh mikir?

“Kita pulang, yuk?” usul Amien, “Sebentar lagi sudah mau magrib.”

“Terus gimana dengan dompetnya?” tanya Ody.

“Dompet?” Amien meraba-raba saku bajunya. Dompet itu sudah nggak ada. “Wah… ke mana ya dompetnya?”

“Mungkin terjatuh waktu dikejar-kejar anjing nggak punya pikiran itu?” kata Adji masih dengan nada sewot.

“Kalau begitu, kebetulan. Jadi kita nggak perlu repot-repot mengembalikan dompet itu. Aku males kalau harus ketemu sama dobermen itu!” kata Ody.

Terkadang berbuat baik itu memang gak mudah. Tapi nggak ada salahnya mencoba. Yang penting sudah berusaha. Hasilnya serahkan saja pada Yang Mahakuasa.

Amien, Adji dan Ody melangkah ringan meninggalkan rumah besar itu. Tapi baru beberapa meter mereka melangkah, kaki Amien lagi-lagi menendang sesuatu. Sebuah benda persegi empat berwarna biru muda tergolek di aspal jalanan.

“Dompet?”

Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Lalu ketiganya tertawa terbahak-bahak teringat dengan kejadian yang baru saja mereka alami: dikejar-kejar anjing!

Di kejauhan, sayup terdengan adzan Magrib menggema.

“Magrib!”

“Alhamdulillah!”

“Kita cari musala dulu, yuk!”

“Siiip!”

Ketiganya melangkahkan kaki sambil berangkulan, dan membiarkan dompet biru muda itu tergolek di aspal sendirian. Mudah-mudahan ada orang jujur yang menemukannya, dan mau ngembaliin dompet itu ke pemiliknya.

Baca cerita selanjutnya

Misteri Rumah Hantu (episode#03)

Novel Denny Prabowo dan Dhinny el Fazila

Misteri Rumah Hantu

Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. 

Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya. Sudah banyak cerita-cerita yang beredar di lingkungan sekitar rumah itu. Adji sendiri gak berapa tau sejarah rumah itu. Saat dia dilahirkan, rumah itu sudah ada. Dan sudah gak berpenghuni.

“Jadi gak ada yang tau ke mana orang-orang yang dulu tinggal di tempat itu?” tanya Ody penasaran. Adji menggelengkan kepala.

“Pokonya, tempat itu syerem banget deh!”

“Banyak hantunya?”

“Iya.”

“Tapi hantu itu kan gak ada.”

“Kata siapa?”

“Kata bapakku. Hantu itu cuma perasaan.” 

“Tapi banyak orang yang pernah ngalamin kejadian-kejadian aneh di tempat itu.”

“Kalau itu mah, jin kafir yang memang bisa ngerubah wujud jadi apa saja, kecuali jadi Nabi Muhammad. Namanya jin Qorin!” 

“Jadi gak ada ya yang namanya arwah penasaran?”

“Ya, gak ada. Cuma Allah saja yang tau di mana arwah orang yang sudah meninggal.”

“Emangnya kamu pernah liat, Dji?” tanya Ody.

“Liat sendiri sih, belum,” lanjut Adji, “tapi waktu itu ada orang yang pesan sate dari rumah itu, terus waktu pesanannya sudah selesai, orang itu gak muncul-muncul! Abang aku sendiri yang menyaksikan tukang sate itu kebingungan.”

“Lho, harusnya kan tukang sate itu tau kalau rumah itu kosong?”

“Di situ letak keanehannya. Malam itu, si tukang sate ngeliat rumah itu terang-benderang. Dan banyak orang. Jadi dia pikir rumah kosong itu sudah ada yang nempatin.”

“Hiiiyyy...!” Ody merinding mendengar cerita Adji.

“Kalian jadi nginep di rumah aku kan?” tanya Adji.

“Emangnya orangtua kamu ke mana?” Amien balik tanya.

“Mereka pergi ke rumah nenekku yang tinggal di Bogor.”

“kakak kamu?” tanya Ody.

“Dia ada acara di sekolahnya. Ikutan pesantren kilat.”

“Wah, kakak kamu berani banget!” kata Ody, “Apa gak takut gosong kesaber kilat?”

Adji sama Amien tertawa mendengar oecehan Ody barusan.

“Ody, Ody... yang namanya pesantren kilat itu, maksudnya waktu pelaksanaannya cepat, hanya selama bulan ramadhan berlangsung saja,” terang Adji.

“Oh, gitu...”

“Nanti deh, aku minta ijin sama bapakku,” janji Amien.

“Kamu ikut nginep juga kan, Dy?” tanya Adji.

“Aku takut, ah...” ujar Ody.

“sekarang kan bulan ramadhan,” timpal Amien.

“Terus kalau bulan ramadhan kenapa emangnya?” tanya Ody.

“Selama bulan ramadhan, syetan di rantai di neraka sama Allah,” terang Amien.

“Kamu penakut banget sih, Dy!” ucap Adji.

“Iya, deh... iya,” kata Ody akhirnya, “nanti aku ngomong dulu sama mamaku...”

“Gitu dong!” Adji menepuk pundak Ody keras, sampai kaca mata anak itu terjatuh. Ody misuh-misuh. Coba balas menepuk pundak Adji. Tapi Adji cukup sigap berkelit.

Khotib naik ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramah sebelum salat tarawih dilaksanakan. Amien memberi isyarat pada kedua temannya untuk tenang dan mendengarkan ceramah yang akan disampaikan khotib. Ketiganya sudah bersiap dengan buku catatan mereka masing-masing. Mereka medapat tugas dari sekolah untuk mencatat isi ceramah selam bulan ramadhan, dan minta tanda tangan dari penceramahnya.

***

Rumah besar itu tampak berdiri sunyi, diapit rumah-rumah lainnya. Gelap. Hanya bagian terasnya saja yang tersiram cahaya, dari lampu jalanan, yang dipasang di depan rumah Adji. Dari jendela kamar Adji, yang terletak di bagian depan rumahnya, rumah besar itu tampak jelas sekali.

“Kamu kok berani banget, Dji?” kata Ody sambil melirik rumah besar dari jendela kamar Adji, “Apa gak takut kalau-kalau hantu itu ngintipin kamar kamu?”

“Hmm... sebenarnya sih takut, tapi... malu dong! Masa anak laki penakut?”

“Lagian, memang syetan gak perlu ditakutin!” timpal Amien, yang sedari tadi asyik rebahan di tempat tidur Adji.

“Dji, buka sahur nanti kita makan apaan?” tanya Ody.

“Kalian tenang saja, ibuku sudah nyiapin buat makan sahur kita kok.”

“Siiip dah!”

Tiba-tiba hidung mereka mengendus sesuatu.

“Kayak bau...”

“Kemenyan!”

Adji sama Ody langsung lompak ke tempat tidur, menyusul Amien yang memang sudah dari tadi rebahan di sana. “Kalian apa-apaan, sih?” Amien sewot.

“Masa kamu gak nyium, Mien?” Adji heran.

Amien kemudian mengendusi udara. Dia juga mencium bau yang sangat menusuk hidungnya. Bau kemenyan! Kata orang-orang, kalau bau kemenyan, itu tandanya bakalan ada syetan!

“Gimana, nih?” Ody merinding, “Aku pulang saja ya?”

“Yah... kamu gak solider banget sih sama teman!” Adji kesel.

Tiba-tiba mata Adji menangkap sesosok tubuh di atap rumah kosong itu.

“Dy...Mien...” Adji ngomong dengan tampang ketakutan. Ody yang memang penakut jadi tambah ketakutan

“Ap..apaan sih Dji? Jangan...nakutin gitu dong,” Ody makin ketakutan.

“Itu...itu...” Adji menunjuk bayangan sesosok tubuh di atap kosong rumah itu.

“Mana sih?” Amien mencari-cari bayangan yang dimaksud Adji. Ody sudah dari tadi mendekap kepalanya dengan bantal. Dia nggak berani lihat.

Amien berusaha mengamati bayangan itu lebih detail. Sebenarnya dia agak takut juga. Tapi karena dia yakin hantu itu nggak ada, jadinya dia malah penasaran.

“Dji, kamu punya senter nggak?” tanya Amien penasaran karena bayangan itu nggak pindah-pindah dari atas atap.

“Mau ngapain Mien?” Adji balik nanya sambil mengambil senter di laci mejanya. Lalu memberikannya pada Amien. Amien mengambil senter itu dari tangan Adji, kemudian menyalakannya dan mengarahkannya ke atap rumah kosong itu dari jendela kamar Adji.

Terang saja Adji jadi ketakutan. “Mien, Jangan! Nanti hantunya, eh jinnya, liat kita di sini!” Sedang Ody bukan ketakutan lagi. Dia nggak berani buka kepalanya dari bantal.

Setelah merasa dirinya di senter, sosok hitam di atas atap itu kaget dan kabur.

Amien dan Adji bernafas lega. Tak lama mereka seperti mencium sesuatu. 

“Ehm...kayak...bau pesing,” kata Adji.

“Iya nih,” Amien mengendus-endus. Saat berbalik, mereka berdua mendapati Ody sudah ngompol. Amien tertawa.

“Ody...!!” Teriak Adji. Soalnya itu berarti dia harus ngepel kamarnya dari pipis Ody. 

***

Esok harinya mereka membaca koran mengenai ditangkapnya seorang pencurian yang berusaha merampok sebuah rumah di Jl. Anggrek No.89. Sayangnya usaha pencurian tersebut gagal karena diduga ada orang yang mengetahui usahanya.


Adji yang tidak sengaja membaca koran pagi di tukang koran ujung gang berkerut-kerut jidatnya.

“Jl. Anggrek No.89... Itu kan... Amien, Ody sini deh!” Adji memanggil Amien yang sudah berjalan duluan di depannya. Amien dan Ody berbalik ke belakang.

“Kenapa?” tanya Amien.

“Itu...” Adji menunjuk headline koran itu. Adji dan Ody membacanya.

“Ooo... jadi itu maling ya?” kata Ody.

“Iya, makanya jangan keburu ngompol dulu. Kan aku jadi susah bersihin kamarku.”

“Maaf, deh...maaf. Itu kan nggak sengaja.” Ody tertunduk. Malu. Amien cuma ketawa.

Baca cerita selanjutnya

Novel: Misteri Rumah Hantu


Penulis : Denny Prabowo & Dhinny el Fazila
Penerbit : Mitra Bocah Muslim
Cetakan : Pertama, September 2006
Dimensi : 8 x 12 cm
Jumlah Hlm. :104 hlm

Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya.

Malam itu, dari jendela kamar, Adji, Ody, dan Amien melihat sesuatu yang mencurigakan di rumah seram itu. Apa yang dilihat mereka? Kejadian seru apa yang akan mereka alami? Yuk, kita baca pengalaman TRIO KOCAK dalam buku ini.

DAFTAR ISI

episode#01: Terkunci di Kamar Mandi

episode#02: Dompet

episode#03: Misteri Rumah Hantu

episode#04: Gara-Gara Ketiduran di Masjid

episode#05: Pencuri Sandal

episode#06: Ngamen

episode#07: Gara-Gara Remot Control

episode#08: Berenang di Kali

episode#09: Sakit Perut

episode#10:Gerimis di Hari Lebaran





Kasih Ibu

Selasa, 08 September 2009


Kak Depo

Atik sedang asyik main lompat karet, saat ibu memanggilnya. “Atik, kemari sebantar, Nak!” Ibu berdiri di ambang pintu rumah. Dari dalam rumah terdengar raunganadik semata wayangnya. Dia segera tahu mengapa Ibu memanggilnya.


  Tapi tanggung. Hanya tinggal beberapa kali lompatan lagi dia memenangkan permainan. Bocah perempuan yang rambutnya selalu dikepang dua itu tidak menghiraukan panggilan ibunya. Dia terus saja bermain lompat tali.

  “Atik… cepat kemari!” suara Ibu kali ini trerdengar lebih keras dari sebelumnya.

  “Sebentar, Bu,” sahut Atik sambil terus melompat-lompat di atas tali karet.

  “ATIK!!!” suara Ibu menggelegar seperti guntur.

  Kalau sudah begitu, Atik tak punya pilihan lain. Dia harus menunda kemenangannya. Teman-temannya gembira karena mereka tidak harus merasa kalah lagi dari Atik. Bocak lincah itu memang paling juara kalau main lompat tali. Atik berlari menghampiri ibunya sambil bersungut-sungut.

  Sambil bersungut-sungut pula Atik menggendong adik bayinya. Ningrum nama adik kecilnya itu. Usianya belum genap 10 bulan. MulanyaAtik sangat bahagia karena memiliki seorang adik perempuan. Tapi sejak adik bayinya mulai belajar merangkak, Ibu sering memintanya menjaga adik bayinya itu. Awalnya sih senang-senang saja. Apalagi adiknya itu sangat lucu. Namun lama ke lamaan, dia mulai merasa terganggu dengan tugas dari ibunya itu. Seperti sekarang, saat dia sedang asyik bermain lompat tali dengan teman-temannya, Ibu yang sedang sibuk memasak di dapur memintanya menjaga adik bayinya.

  “Huh, merepotkan saja!” gerutu Atik, menepuk pantat Ningrum. Adiknya yang sudah mulai berhenti menangis, kembali menangis. Bahkan suara tangisnya lebih keras dari sebelumnya!

  “Atik!” Ibu berteriak dari dapur, “kamu apakan sih adikmu?!”

  “Nggak Atik apa-apakan kok, Bu,” katanya berbohong. Buru-buru dia menggendong adiknya keluar rumah.

^^^

  Sore hari. Atik duduk tenang di depan layar televisi. Dia sedang menonton film kartun. Dia suka sekali nonton film kartun. Daisy Duck merupakan tokoh kartun kegemarannya. Tapi sayang, film kartun produksi Walt Disney itu tak lagi ditayangkan di TV. Satasiun TV lebih suka menayangkan acara infotainment yang isinya seputar gossip para artis dan selebritis. Atik tidak suka tayangan infotainment. Dia tidak suka melihat tayangan yang membicarakan aib seseorang.

  Ibu yang baru kembali dari menghadiri acara arisan bulanan di lingkungan tempat tinggalnya, geleng-geleng kepala melihat daun-daun kering yang berserakan di pekarangan rumahnya. Padahal Ibu sudah sering mengatakan pada Atik, untuk menyapu teras rumah setiap pagi dan petang.

  “Kenapa teras depan belum disapu?” tanya Ibu saat melihat Atik yang sedang asyik menonton televisi.

  “Sebentar, Bu. Atik lagi nonton.”

  “Kalau filemnya sudah habis, segera sapu teras depan!” perintah Ibu kepadanya. Atik mengganggukkan kepalan lemah.

  Setelah filmnya selasai, Atik beranjak ke teras depan dengan membawa sapu dan pengki. Di depan rumah Atik tumbuh sebatang pohon blimbing yang daunnya selalu mengotori pekarangan rumahnya. Setiap hari dia harus menyapu daun-daun yang berserakan mengotori pekarangan rumahnya itu. Sambil menyapu, mata Atik terus mengawasi tanah lapang yang ada di depan rumahnya. Dia melihat teman-teman sebayanya sedang asyik bermain lompat tali. Kalau saja tak takut dimarahi oleh Ibu, dia pasti sudah berlari menyusul teman-temannya itu.

  Teras depannya rumahnya sudah terbebas dari daun-daun blimbing yang mengotorinya. Tugas gadis kecil yang pipinya bulat kemerah-merahan itu sudah selasai. Atik berlari ke dalam rumahnya, menyimpan sapu dan pengki. Kemudian berlari kembali ke luar rumah. Masih ada waktu beberapa menit sebelum adzan Maghrib bergema. Dia ingin selekasnya bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik bermain lompat tali. Tapi belum lagi langkahnya melintasi ambang pintu rumah, terdengar suara Ibu memanggil dari dalam rumah.

  “Atik kemari, Nak!”

  “Ah, apalagi sih?!” sungut Atik kesal. Dia berlari menghampiri ibunya.

  “Tolong belikan Ibu kopi dan gula di warung depan,” pinta Ibu kepadanya, menyerahkan beberapa lembar rupiah ke tangannya.

  Atik menerima uang itu tanpa membantah. Percuma, pikirnya. Nanti malah dimarahi. Dia segara bergegas melangkahkan kakinya ke warung depan. Tapi begitu sampai di sana, warung itu ternyata tutup. Atik bingung. Mau kembali, paling-paling Ibu akan menyuruhnya membeli kopi dan gula di warung lain.

  Akhirnya gadis kecil itu kembali berlari ke warung Bang Saipul yang berada di pinggir jalan raya. Jaraknya lumayan jauh. Oleh sebab itu dia mengayuh langkahnya secepat kilat. Dan secepat itu pula dia kembali berlari ke rumahnya sambil menenteng plastik berisi kopi dan gula.

  Sebelum Atik masuk ke dalam rumah menyerahkan Kopi dan gula kepada Ibu, dia masih melihat teman-temannya bermain lompat tali. Tapi saat dia pergi ke tanah lapang untuk segera bergabung dengan teman-temannya, terdengar suara adzan Maghrib memanggil-manggil dari menara masjid yang letaknya tak jauh dari tanah lapang. Teman-temannya segera menghentikan permainannya. Mereka bergegas kembali ke rumahnya masing-masing. Atik tertunduk lemas. Dia pun melangkahkan kakinya kembali ke rumah.

  Kejadian seperti yang Atik alami hari ini, bukan baru sekali terjadi pada dirinya. Hampir setiap hari waktunya habis dipergunakan untuk membantu ibunya. Atik suka merasa iri dengan teman-temannya. Mereka selalu punya waktu utnuk bermain-main. Sementara dirinya… waktunya habis untuk membantu ibunya. Dari menyapu halaman rumah, menjaga Ningrum, disuruh ke warung, menjemur pakaian, dan masih banyak lagi tugas yang sering dibebankan oleh ibunya kepadanya. Atik ingin seperti teman-temannya yang lain. Bisa bermain-main sesuka hati.

  “Kalau ibuku menyuruh aku ke warung, aku selalu diberinya uang. Jadi aku senang kalu disuruh Ibu pergi ke warung,” kata Tiara, gadis kecil tetangganya yang tinggal di sebelah rumahnya.

  Lain lagi dengan Sheila yang tinggal di belakang rumah Atik.

  “Kalau aku tidak pernah disuruh-suruh sama mamiku. Pembantuku ada tiga. Jadi aku nggak pernah disuruh melakukan pekerjaan apa pun. Kalau aku membutuhkan uang, aku tinggal bilang saja pada Mami atau Papi.”

  Atik hanya mendesah mendengar cerita teman-temannya itu.

  Malam hari di dalam kamarnya, Atik mengambil secarik kertas kosong. Dia ingin membuat daftar pekerjaan yang sudah dilakukannya hari ini. Mulai detik ini, Atik ingin minta bayaran pada Ibu untuk pekerjaan yang dilakukannya.

  Untuk menyapu halaman rumah setiap pagi dan petang, Atik akan meminta Ibu membayarnya Rp 1000. Untuk menjaga adiknya, cukup Rp 500 saja. Menjemur pakaian, Rp 500. Dan untuk sekali pergi ke warung, dia memasang harga Rp 500.

  Ibu sangat terkejut waktu Atik menyerahkan daftar itu kepadanya. Tapi dia tidak marah. Ibu malah tersenyum. Kemudian mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di balik kertas yang Atik berikan. Lalu menyerahkan kembali kertas itu kepada Atik.

  Atik membaca tulisan Ibu di kertas itu.

  “Untuk biaya Atik tinggal di rahim Ibu selama sembilan bulan sembilan hari: gratis. Untuk rasa sakit yang Ibu rasakan waktu melahirkan Atik: gratis. Untuk setiap tetes ASI yang Ibu berikan kepada Atik: gratis. Dan untuk kasih sayang yang Ibu berikan kepada Atik: gratis!”

  Atik memandang ibunya. Dia sadar kalau apa yang selama ini dia perbuat untuk membantu Ibu tidak ada apa-apanya dibandingkan yang telah Ibu berikan selama ini kepadanya. Dan untuk semua yang telah Ibu berikan kepadanya itu, Ibu tidak meminta bayaran sepeser pun kepadanya! Tanpa sadar Atik meneteskan airmata di pipinya yang bulat.

  Ibu merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. Atik segera menghambur ke dalam pelukan ibunya. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga ibunya, “Atik sayang sama Ibu!”

  “Ibu juga sayaaaaang sekali sama Atik!”

  Dan mereka pun berpelukan.

TaMat


Sumber: Majalah Favorit No. 14 Thn. IV 4-17 Juli 2005