profil flp depok

keceriaan

ketekunan

kebersamaan
FLP Depok Menerima Anggota Baru Angkatan VIII # mau bergabung klik Form Pendaftaran
Tampilkan postingan dengan label FIKSI REMAJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI REMAJA. Tampilkan semua postingan

Rindu Berlumpur

Minggu, 17 Januari 2010

Cerpen Hafi Zha
Dimuat di Annida

Hidup seperti putaran waktu yang terus berdetak maju. Tiap yang telah dilewati tak bisa untuk disinggahi kembali. Sekedar membetulkan apa yang keliru atau pun menghapus yang tidak ingin dilanjutkan. Hidup akan terus berjalan hingga waktu berhenti berdetak. Detak yang sangat dekat. Sedekat nafas yang kita hirup dan hembuskan seiring aliran darah dalam tubuh kita. Membawa bulir-bulir oksigen untuk menggantikan noktah-noktah karbondioksida. Seterusnya, tubuh kita akan kembali punya mampu untuk berpikir, berjalan, tertawa, sedih, marah, dan kecewa.

Ah..., pikiranku melantur lagi. Selalu saja seperti ini. Buku yang kubuka ternyata tak bisa mengalihkan perhatianku. Kuedarkan pandangan menembus kaca yang tersiram basah hujan. Di luar sana langit belum juga berhenti menjatuhkan bilah-bilah air. Mereka berkejar-kejaran turun dari langit, membasahi tanah. Beberapa anak berlari-larian di bawah mereka. Wajah mereka riang. Sambil bersenandung, mereka berkecipak-kecipak dengan tangan terangkat ke atas. Seperti para penari yang menarikan tarian hujan menyambut kedatangan dewi hujan, pembawa kesuburan kepada para petani. Kuperhatikan ada bayangan wajah orang di kaca yang berembun. Dia tersenyum sembari memiringkan kepalanya yang berbalut kain putih ke kanan. Manis sekali senyumnya. Hei, itu kan aku!

Aku memukul-mukul kepalaku. Mencoba bercanda dengan diriku yang belakangan hari terlalu kaku dengan urat saraf yang tegang. Betapa tidak, aku menghadapi masalah keuangan yang pelik. Walaupun aku masih berstatus tanggungan orang tua, tapi aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan mereka. Itu kulakukan sejak aku kuliah. Aku memberikan bimbingan belajar sehabis aku menuntut ilmu. Kesukaanku terhadap dunia menulis ternyata mampu membantuku untuk menutupi pengeluaranku yang lumayan besar di kota metropolitan ini. Tetapi, saat ini setelah aku menyelesaikan sarjana kependidikanku, ternyata cobaan tak semakin berkurang. Bukan hanya keuangan yang kembang kempis, tapi juga sikap kedua orang tua yang menginginkanku kembali.

“Kenapa kamu tak ingin kembali ke kampungmu, Lita?”
Suara ibu yang semakin renta menghentakku jauh ke dalam lorong jiwa. Suaraku tercekat di kerongkongan. Otakku berputar keras mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Kebisuanku memecah tatkala kudengar ibu memanggil-manggil namaku.

“Lita…Lita…kamu masih mendengar suara ibu?”
“Eh, iya, Bu. Masih mendengar.”

Aku menelan ludah. Membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering. Begitu kuatnya kah wibawa seorang ibu hingga anaknya tak bisa berkata apa-apa, sekedar menjawab pertanyaannya.

“Lita, kamu kok diam lagi. Ada apa sebenarnya di sana, yang membuatmu tak ingin kembali ke sini?”

“Bu…” Terdengar aneh rasanya suaraku. Kuusahakan bersikap dan bersuara wajar. Aku tak ingin ketegangan kembali terjadi antara aku dan ibu. “Bu, Lita ingin berkarir di sini dulu. Bukannya apa-apa, tapi Lita merasa sudah menjadi bagian dari kota ini. Lita merasa nyaman di sini.”

“Jadi, kamu merasa asing di kota kelahiranmu sendiri. Merasa tidak nyaman di sini, Lita? Ibu tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu. Tidak mengerti, Lita!”

Suara ibu meninggi. Penanda awal ketegangan. Aku harus segera meredakannya. Jika tidak ini seperti angin panas yang sedikit demi sedikit akan membakar diriku.

“Bu, kelak saya akan kembali ke sana. Saya mohon kepada ibu untuk memberikan saya kesempatan mengukir karir di sini. Saya ingin sukses, seperti yang ibu harapkan. Saya tidak ingin mengecewakan ibu.”

Memang, aku tidak ingin membuat kecewa ibu dan bapak. Mereka sudah bersusah payah menyekolahkan aku hingga mencapai sarjana. Dan aku juga tahu keinginan ibu yang begitu kuat untuk melihatku menjadi pegawai negeri. Ibu memang besar di lingkungan pegawai negeri. Hingga sekarang pun ibu masih setia dengan kepegawaian-negerinya. Menurut ibu, jika menjadi pegawai negeri hidup terjamin. Jaminan itu akan terus mengucur hingga anak cucu. Beda dengan bapak yang memberiku kesempatan penuh untuk menentukan jalan hidup. Bapak bukanlah pegawai negeri. Beliau hanya penjahit baju dan sesekali memberikan ceramah di pengajian.

“Tapi setidaknya kamu pulang dulu, Lita. Semenjak kamu diwisuda empat bulan yang lalu, kamu belum juga pulang. Biar kamu juga tahu kondisi kampung kita sekarang. Di sini banyak sekolah yang butuh guru. Ibu bisa carikan dari kenalan ibu di sekolah-sekolah biar kamu bisa mengajar.”

Ini dia pernyataan ibu yang keluar berkali-kali untuk membujukku pulang. Kemudahan yang didapat ibu dengan mempunyai banyak kenalan di berbagai instansi, memberikan peluang besar untuk ibu mencarikan kerja instant untukku.

“Bu, saya belum bisa pulang sekarang. Masih ada urusan yang belum selesai. Saya juga masih punya proyek dengan dosen saya yang belum bisa ditinggal. Jika di sini sudah beres, saya akan segera pulang.”

Itulah percakapan semalam tadi. Ibu masih bersikukuh dengan keinginannya. Aku harus pulang dan bekerja di sana. Tiba-tiba aku merasa letih. Sepertinya bulir-bulir oksigen semakin berkurang dalam otak dan tubuhku. Kantuk tak dapat kutahan, apalagi suasana dingin seperti ini nyaman untuk tidur.

***

“Sebaiknya kamu pulang dulu, Lita. Kamu utarakan dengan baik keinginanmu kepada ibu dan bapakmu.”

Pak Yudi memberikan saran yang berat untukku. Beliulah yang memberikanku kesempatan yang lebih untuk mengembangkan kemampuan menulisku. Proyek buku ajar dan segala macamnya juga beliau yang memberikan. Apalagi saat ini aku sudah bisa mengajar di sekolah lanjutan atas favorit di kota ini, juga berkat beliau. Semua hal itu jadi bagian dari banyak alasan yang mengharuskanku untuk bisa terus di sini. Dan tak ada alasan untuk aku harus segera pulang. Apalagi menghadapi ibu dengan keteguhan pendiriannya. Bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa jika ibu sudah berkehendak.

“Pak, jujur saya katakan dari dalam hati belum tergerak untuk pulang. Di sini saya bisa berkembang, Pak. Jika di kampung saya merasa tidak terfasilitasi.”

Pak Yudi memandangku dari balik kacamatanya yang bertengger di batang hidungnya. Kualihkan pandanganku ke rak buku di belakang beliau. Mataku memang tertuju ke sana, tapi pikiranku berkhayal. Andai saja orang tuaku adalah Pak Yudi dan istrinya, mungkin aku akan lebih terarah dan berkembang lebih awal. Kulihat foto keluarga Pak Yudi yang ada di rak buku itu. Dua putrinya, Mbak Yuli dan Mbak Yuni, yang berdiri di belakang Pak Yudi dan istrinya tersenyum manis. Mereka hampir seumuran denganku tapi mereka lebih dulu bisa merasakan kesuksesan sekolah di negeri orang.

“Lita, saya ingin bertanya dan kamu jawab sejujurnya.”
Lamunanku memudar. Kembali aku bersitatap dengan Pak Yudi. Wajah beliau serius, tampak dari dahinya yang berkerut. Selalu Pak Yudi berusaha membantuku memecahkan segala masalah yang kadang aku ceritakan. Sikap terbuka seperti ini tak bisa kulakukan kepada kedua orang tuaku. Semacam ada tembok kebekuan jika aku bersama ibu dan bapak.

“Tentang apa, Pak?”
“Apa kamu tidak merindukan kedua orang tuamu?”

Deg.
Jantungku serasa berhenti. Aku tidak menyangka Pak Yudi akan mengunci mulutku dengan pertanyaan ini. Aku teringat pembicaraanku dengan Avi seminggu yang lalu. Saat itu ia begitu gembiranya karena ingin pulang kampung setelah sebulan tidak bertemu dengan keluarganya.

“Mbak Lita, aku pulang…. Akhirnya aku terbebas dari tumpukan diktat kuliah. Aku rindu ayah, rindu mama, rindu semuanya. Mbak Lita tidak ingin pulang?”

Kegembiraannya meluap membanjiri diriku. Seketika dia bertanya seperti itu, aku terhempas dalam bisu.

“Belum waktunya pulang, Vi. Lagipula tidak ada alasan yang sangat kuat untuk aku pulang.”

“Sekedar rindu pada orang tua Mbak?”
Rindu? Satu kata itu terus menghantuiku hingga hari ini. Aku tak bisa jujur pada orang lain bahwa tak ada rindu setitik pun dalam hatiku pada kampung halamanku, pada orang tuaku. Aku berusaha untuk menumbuhkan rindu itu sejak Avi bertanya hal itu kepadaku. Semakin aku berusaha, semakin aku tak ingin pulang. Dan saat ini, Pak Yudi menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Avi.

“Lita, kenapa kamu diam seribu bahasa? Kamu rindu ibu bapak?”
“Begini, Pak. Kerinduan itu mungkin ada, Pak. Tapi jika kerinduan itu bisa disalurkan ke hal yang lebih bermanfaat di sini, mengapa harus bersusah-susah pulang. Saya kira jika saya di sini untuk sementara waktu tentunya akan lebih baik. Dari pada saya harus memaksakan diri untuk pulang. Apalagi dalam kondisi saya yang masih tidak ingin menghadapi ibu saya, Pak.”

Entah apa yang ada dalam pikiran Pak Yudi ketika aku berujar tadi. Selama aku berbicara tadi, kepala beliau manggut-manggut. Mungkin berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutku. Aku sudah tak dapat berkonsentrasi berdiskusi proyek buku ajar di Rumah Pak Yudi. Dengan penuh pengertian, Pak Yudi mengantarkanku hingga gerbang pintu halaman rumah beliau. Sore itu tampak kelabu di mataku. Bukan karena gerimis yang tiba-tiba menghias alam, tapi karena jauh dalam hatiku awan kelabu bersetia mengirimkan gerimisnya ke telaga mataku.

***

Sebulan telah berlalu sejak ibu memintaku untuk pulang. Di luar tampak berjalan lancar dan seperti tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, ada gelombang yang mengirimkan badai ke dalam jiwaku. Ia terus menghantam karang-karang yang perlahan-lahan rapuh lalu hancur. Aku bersusah payah membangunnya kembali agar tampak tegar . Apalagi hal ini kubutuhkan untuk bertahan di kota besar ini. Kota yang penuh persaingan dan rentan akan stres. Tak ada lagi kabar yang kuterima dari rumah. Aku juga tak ingin lebih dulu menghubungi rumah.

Hari-hari kujalani dengan sangat lambat. Kesunyian menyergapku, apalagi Avi, gadis manis yang selalu ceria menghiburku, tak ada lagi di dekatku. Ia pergi bersama mimpinya yang telah terwujud menjadi pengantin kecil.

Kusibukkan diri dengan aktivitas mengajarku, menulis buku, dan melatih drama. Di sel-sela gerimis September aku berlari menghindar senyap yang mengurungku. Setiba di kamar kosku, aku mengambil diary usang yang kutulis sejak aku duduk di bangku sekolah pertama. Entah dorongan dari mana aku tiba-tiba ingin membacanya kembali. Kubuka satu persatu halaman yang warnanya tak seputih dulu. Seolah luka lama yang kembali luka, begitu perih dan pedih.

“Kamu jangan jadi wanita pemalas, Lita. Jangan jadi wanita lemah. Sakit yang kamu rasa belum seberapa dibanding sakit yang ibu rasakan ketika melahirkanmu. Ayo, berangkat sekolah! Kamu tahu ibu bekerja keras supaya kam bisa sekolah. Bapakmu tidak bisa membiayai hidup kita hanya dengan menjahit.”

“Tapi, Bu, Lita lemas, pusing. Lita tidak kuat berangkat sekolah, Bu. Lita mohon, Bu, tuliskan surat ijin untuk Lita.”

“Kamu jangan lemah begitu. Kamu harus menghargai biaya yang sudah ibu keluarkan untuk sekolah kamu. Jangan pernah kalah dengan sakit.”

Akhirnya, aku pun berangkat sekolah dengan kondisi badan yang lemah. Ibu berusaha menguatkan aku, sedangkan bapak hanya diam di ruangan jahitnya. Aku tidak menangis. Juga tidak membangkang. Aku turuti semua yang ibu inginkan. Seperti yang ibu katakan ketika malam hari aku hendak menuliskan kejadian hari ini.

“Kamu harus rajin belajar. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ibu berusaha keras supaya kamu nanti bisa kuliah. Kelak, setelah kuliah kau harus berupaya untuk bisa dapat kerja. Jangan pernah pulang jika kamu belum berhasil membanggakan dirimu, juga orang tuamu. Jangan lemah terhadap perasaan. Ingat itu, Lita, ingat baik-baik pesan ibu.”

Kuhapus air mata yang tak sadar telah membasahi kedua pipi. Kertas halaman buku yang kubaca basah, memudarkan tinta yang tergores di sana. Aku tak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Mungkin aku tak sekuat yang ibu minta sewaktu dulu. Mungkin juga aku terlalu keras dan kuat untuk bisa berdiri sendiri, tanpa butuh orang lain. Aku terisak di antara deras hujan yang menghantam atap kamar, sehingga menenggelamkan suara tangisku. Aku tak mau ada yang tahu aku telah membuat sungai air mata di bawah hujan September. Aku tak akan beranjak sebelum noktah-noktah karbondioksida dalam tubuhku berganti menjadi bulir-bulir oksigen. Hingga tubuhku benar-benar kuat. Dan aku bisa menjalani putaran waktuku yang masih berdetak.

***

Harimau Siluman

Cerpen anggih Waluyo

Angin malam berhembus pelan, rintik hujan dari sore hari belum juga berhenti. Suasana kampung Pulo malam itu begitu hening, hanya sesekali terdengar lolongan anjing yang bersahut-sahutan. Dari kejauhan nampak ada satu rumah penduduk yang kelihatan terang, beberapa lampu Petromak memerangi sampai emperan rumah itu.

Nampak puluhan orang duduk-duduk di atas gelaran tikar sambil bermain kartu, ada yang hanya berbincang-bincang sambil minum teh dan hidangan yang telah disiapkan.
Rumah tersebut adalah rumah Mbah Joyo yang baru saja meninggal siang tadi. Mbah Joyo adalah seorang sesepuh yang dianggap sebagai “juru kunci” Kampung Pulo. Dan menjadi sebuah tradisi jika ada yang meninggal dunia, maka kewajiban para tetangganya adalah lek-lek’an (Jawa = berjaga-jaga tidak tidur) selama tiga malam di rumah duka.

Ada mitos bahwa 3 malam setelah seseorang meninggal dunia, ada harimau yang mendatangi bekas tempat pemandian mayat yang kemudian bisa mengambil mayit yang telah dikuburkan setelah harimau itu mencium tanah yang masih basah oleh air pemandian si mayit.

Harimau yang diyakini itu bukan hari mau sembarangan. Harimau siluman atau jadi-jadian. Mitos tersebut sangat kuat di kampung Pulo, walaupun memang selama ini belum pernah terjadi dan ditemukan harimaU siluman itu.

Malam pun semakin larut, rintik hujan sudah mulai reda. Sebagian warga masih ada yang masih bermain kartu domino dan beberapa orang sudah terlelap tidur. “Woi, bangun-bangun…” Teriak Pak Rogo, yang terkenal sebagai murid kesayangan mbah Joyo. “Ya..ya, jawab seorang warga sambil menggeliat tidur lagi.

Namun tiba-tiba,….huk huk huk….huk… Beberapa anjing menggonggong berlari-lari menuju suatu tempat, seolah-olah mengejar sesuatu. Pak Rogo dan beberapa warga pun spontan berlari keluar rumah ingin mencari tahu apa yang terjadi.

Dari kejauhan terdengar keras gonggongan anjing-anjing sambil berlari-lari mengejar sesuatu itu. Wah, jangan-jangan ini harimau siluman itu?” Tegas pak Rogo. “Iya-iya ayo kita dekati”, kata beberapa warga serempak.

“Tunggu sebentar, cegah Pak Rogo yang kemudian bersedekap sambil mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu.

“Ayo, kita usir jauh-jauh harimau itu, syukur-syukur bisa aku tangkap harimau sialan itu”, Ketus pak Rogo dengan bangga.

Tapi belum sempat mereka melangkahkan kaki, suara gerombolan anjing yang sedang mengejar-ngejar sesuatu tadi berlari menuju mereka. Sebagian warga panik dan takut, ada sebagian yang berlari, ada pula yang tetap menghadang bersama Pak Rogo.
Siap-siap hadang harimau itu, bacok atau gebuk saja “komando Pak Rogo”. Sedangkan dia sendiri membawa keris warisan Mbak Joyo.

Semakin dekat binatang yang dikejar anjing-anjing tersebut, semakin gempar suasana malam itu, dan semakin jelaslah binatang di depan gerombolan anjing-ajing yang mengejarnya.

Haaaaaaaaaaaaaahhh !!! Teriak warga serentak. Ternyata binatang tersebut bukan harimau, melainkan seekor kambing jantan coklat milik seorang warga yang terlepas.
Yaaaaaaaaaaah,,, itu mah kambingku !! teriak salah seorang warga. Pak Rogo pun menggelengkan kepala sambil membuang nafas kesalnya. Dan para warga yang berlari tadi akhirnya kembali mendekat, membantu menangkap kambing tersebut sambil tersenyum malu.

Akhir Sebuah Kegelisahan

Kamis, 14 Januari 2010

Cerpen Panggih Waluyo
Sumber: mujahiddesa.blogspot.com

Lelaki itu hanya menundukkan kepala, duduk bersila sambil meletakkan kedua tangannya di atas kakinya yang sedang bersila. Sepuluh jari tangannya semakin erat menyatu seiring derasnya aliran air matanya yang terus menetes membasahi pipi, jenggot dan akhirnya jatuh ke sajadah merah yang sudah nampak tua. sajadah itu ia bawa sepuluh tahun yang lalu dari kampungnya.
Tak ada kata yang terucap selain istighfar, "Astaghfirullah Astaghfirullah…." yang semakin membuat deras air matanya. Dadanya bergemuruh kencang, disaat malam masih pulas tertidur. Lehernya terasa tercekik karena menahan sesenggukan tangis yang belum juga terhenti.
Terbayang di matanya kisah sebulan yang lalu. Saat HPnya dapat beberapa miscall dari seseorang. Dia juga masih teringat sekali, dia membalas misscal tersebut dengan sebuah SMS, "Semoga hati selalu terjaga dalam batas-batas yang Dia tentukan". Dan terbalas lagi, "Loh kenapa mas, kan tidak ada salahnya bersilaturahim, asalkan kita bisa menjaganya".
Di saat itulah hatinya mulai guncang, dan di saat itu pulalah di dalam hatinya selalu berkecamuk peperangan antara iman dan keinginan. Sering terjadi debat dalam batinnya. Iman selalu mengatakan bahwa agar selalu berhati-hati terhadap godaan, tapi keinginan dengan sangat sopan dan santun mengatakan bahwa tidak mengapa bersilaturahmi, karena selama ini jarang bersilaturahmi kepada wanita.
Akhirnya sms itu pun tak dia balas-balas lagi, ia hanya menuruti hati kecilnya, bahwa aku harus berhati-hati, namun dia tetap saja dibayangi saat-saat wanita berkerudung panjang itu datang ke rental tempat kerjanya sekaligus tempat tinggalnya. Ada harapan indah yang terus dijanjikan oleh bisik keinginannya….masyaAllah wanita sholehah katanya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari dan peperangan itu terus berkecamuk dalam hatinya. Hingga di suatu petang, saat dia duduk menyaksikan berita di TV, tiba-tiba…."oi…ada yang nyariin…"!! suara teman dari lantai bawah. Dia pun segera turun, dug….", saat dia turun dia lihat wanita berjilbab panjang yang membuatnya gelisah itu datang bersama seorang laki-laki.
“Ada apa mbak? Tegurnya.
"Mau ngedit ketikan skripsi tempo hari mas, sedikit kok.
“Oh ya…,” kemudian ia membuka file dan segera mengedit apa yang diinginkan wanita tersebut. Dan akhirnya selesai juga dia mengeditnya.
"Piro mas?, sahut lelaki yang menemani wanita tadi.
“Sekalian tumbas minyak wangi itu, sembari menunjuk barisan minyak wangi yang terdapat di atas etalase. "Sebelas ribu mawon mas.". Dan akhirnya terjadi perbincangan sesaat,
"Lha jenengan asli pundi mas? (Kamu asli mana mas?). Kulo asli Wonogiri, saya kakaknya Ambar…perkenalkan Warono. Mendengar Wonogiri jantungnya seakan hilang, pikirannya seakan kosong, kaget dan tidak menyangka sama sekali bahwa ternyata wanita yang selama ini menanamkan kegelisahan itu satu kabupaten dengannya. Dia lalu naik ke lantai atas, mematikan TV lalu berbaring menatap atap bangunan rental yang tampak menua itu……., hitam…namun di situ muncul bayangan…saat orang tuanya berpesan bahwa nanti kalau mencari jodoh kalau bisa orang jawa, syukur-syukur jawa tengah atau dekat dengan Wonogiri. Dia masih saja membaringkan tubuhnya,…
”Ya Allah inikah jodohnya, begitu cepatnya dia datang, padahal aku baru akan Sidang Skripsi…beban ini belum lunas ya Allah….mudahkan jalan ini bila dia jodohku…"hatinya berdoa.
Begitulah perasaannya setelah mengetahui bahwa perempuan itu satu kabupaten dengannya. Kegelisahan itu pun akhirnya bercampur harapan. Setiap wanita itu datang, semakin yakin ia bahwa wanita itu adalah jodohnya. Namun hati kecilnya terus memberontak, tidak mau menerima yang selama ini telah terjadi. Karena selama ini dia telah berinteraksi dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dan itu merupakan aibnya yang selama ini ia tutup-tutupi. Padahal di kampus, ia adalah dedengkot rohis. Dan tak jarang ia menegur langsung anggota rohisnya yang agar cair berinteraksi dengan lawan jenis. Lewat tulisan-tulisannya di mading, ia pun sering menuliskan tentang adab pergaulan lawan jenis dalam Islam. Bahkan ada anggota rohis yang sudah tidak aktif lagi gara-gara tidak terima di nasihati agar tidak terlalu cair berinteraksi dengan wanita. Namun apa yang terjadi kini? Dia sendiri pun mengalami terjangkiti virus yang selama ini gencar menyerang para ikhwan.
Hingga akhirnya ia mengadukan kegelisahannya kepada ustadz yang selama ini mengajarinya mengaji. Ia menceritakan panjang lebar tentang kegelisahannya. Dan akhirnya satu pertanyaan yang muncul dari mulutnya
“Tadz, ini anugerah ataukah musibah bagi ana ya?
Ustadznya pun menjawab, “Begini akh…, setiap permasalahan biasanya mengandung dua sisi kebaikan dan keburukannya. Nah…mendengar cerita dari antum, ane berpendapat bahwa hal ini tergantung dari dari bagaimana kita menyikapinya. Menjadi anugerah jika antum segera mempercepat pernikahan, sehingga antum mendapat separuh din dan juga mendapat ketenangan darinya. Lalu juga menjadi bencana ketika antum mencoba bermain-main dengan masalah ini. Artinya jika antum tidak secepatnya menikah, maka dimana ruh materi yang selama ini kita bahas?”
“Ane setuju ustadz, tapi ane baru mau sidang lalu juga belum mendapat pekerjaan yang cukup menurut ane.
“Ya.. itu akhirnya tergantung pada pilihan antum. Ane, memahami perasaan antum, artinya kriteria akhwat yang antum pesan ka ane sudah antum temui, yaitu orang jawa dan sebagainya. Tapi menurut ane sekali lagi, antum perlu ambil jalan yang tegas. Menikah atau tidak, sebenarnya nikah siri pun bisa agar terjaga dari fitnah. Tapi kalau antum belum siap, maka saran ane, secepatnya antum matikan rasa cinta di dalam hati antum. Antum mengerti kan maksud ane?”
“Iya tadz, ane sangat mengerti. Ane akan pikirkan lagi masalah itu.”
Setelah dirasa cukup, maka lelaki itu kemudian mohon pamit pulang.
“Baik Ustadz, sebelumnya syukron atas semua masukannya, ane pamit dulu tadz, mohon doanya. “Assalamu’alaikum……”
Wa’alaikumussalam…”
Dengan wajah muram laki-laki itu melangkahkan kaki meninggalkan rumah usdadznya. Berharap akan mendapat solusi dari ustadnya, namun sekarang malah semakin bingung rasa hatinya. Masih terngiang saran ustadznya, “nikah secepatnya atau matikan rasa cinta itu”. Sepanjang jalan seakan tidak ada yang membuatnya menarik, selain mencari jawaban atas dua pertanyaan : “menikah secepatnya atau mematikan rasa itu?”
Sesampainya di rental, dia langsung menuju lantai atas, hanya sepatah kata salam dan sedikit paksaan senyum ketika melewati teman-teman yang masih ditunggui beberapa konsumen rental. Lalu ia rebahkan tubuhnya, ia memejamkan mata, membayangkan seandainya saat dia sudah bekerja kemudian langsung memutuskan untuk menikah. Lalu tiba-tiba,
“Astaghfirullah…aku sampai lupa, dulu pas kuliah Pak Joko pernah nawarin kerja ya, mungkin aku bisa hubungi dia, jika nanti setelah sidang bisa langsung bekerja di tempatnya”, gumamnya. Pak Joko adalah seorang kontraktor langganannya mengetik surat-surat.
Lalu segera ambil hp, dia tulis sms menanyakan perihal pekerjaan tersebut. Lama sekali tidak dibalas oleh Pak Joko. Tapi tiba-tiba…nada panggil hpnya berbunyi…”Nurkholim”, tertulis nama di HP tersebut. Dia angkat, Halo Assalamu’alaikum pak….
“Wa’alaikum salam, gimana kabar?
“Waduh kabar apa nih…skripsi kan?
“Iya….
“Iya pak…aku tinggal nunggu sidangnya nih…, maklum kampus kita kan nunggu kuota dulu..hehe…
“Wah kebetulan nih….tadi dapat telpon dari Pak Kajur, kita bisa nggak 3 hari lagi Sidang Skripsi.
“Wah InsyaAllah pak…ini juga lagi nunggu-nunggu…perlu dipercepat nih pak.
“Oke berarti kita ada 5 orang yang maju sidang, yang pagi kamu dan yang sore ada 4 satu kelas dengan aku”.
“Oke pak…, jam berapa?”
“Jam 14.00 di Ruang 303, jangan lupa di perbanyak 5 kali ya skripsinya.
“Iya pak ini sudah siap.
“Oke…sampai nanti ya….
“Sip pak…, makasih.
“Sama-sama…Assalamu’alaikum.
“Wa’alaikum salam.
“Alhamdulillah Allahu Akbar…akhirnya aku sidang juga, teriaknya gembira.
Saat yang ditunggu pun tiba, ia bisa melewati sidang skripsi itu walau ada perbaikan-perbaikan. Dia dinyatakan lulus waktu itu juga. Kemudian ia memberi tahu ibu bapaknya di kampung. Betapa gembiranya kedua orang tuanya mendengar kabar itu, tangis bahagia pun mewarnai percakapan mereka.
Lalu setelah itu ia teringat seorang akhwat yang sampai saat ini membuatnya gelisah, dengan memberanikan diri dia menulis sms…”Alhamdulillah saya sudah lulus sidang skripsi…semoga interaksi yang kurang diridhoiNya selama ini segera berakhir …dengan jalan yang suci ya ukhti”
“Alhamdulillah…selamat ya mas….namun saya masih menunggu kabar bab 4 dan bab 5 yang masih dibawa pembimbing materi, mudah-mudahan dipercepat, Amin.”.
Dia balas “Amin”.
Di saat itu berkuranglah sedikit kegelisahannya. Dia terus berdoa dan berharap mendapat pertolongan dari Allah secepatnya.
Benar 2 hari setelah sidang dia ditelepon pak Joko, dan akhirnya dia pun bisa mulai kerja hari itu pula. Namun sebelum bekerja dia berniat pulang ke kampung untuk menemui kedua orang tuanya.

***
Sesampai di kampung, dia disambut haru kedua orang tuanya, menangis bahagia melihat anaknya sudah berhasil menyelesaikan kuliah selama 4 tahun di Jakarta. Tiga hari sudah ia menghirup segarnya udara desa, berjibaku dengan rerumputan juga ikut merasa berpesta di sawah, karena memang sudah waktu panen.

Hingga di suatu malam, usai dia sholat Isya,
"Alhamdulillah ya pak, panen kita melimpah.
Iya, alhamdulillah…padahal dulu sempat hampir mati karena tidak ada hujan. Tapi alhamdulillah, pas hampir mati itu hujan sering turun hingga sekarang.
Iyo le…dulu ibu hampir-hampir putus asa, berdoa nunggu hujan, tapi alhamdulillah Gusti Alloh memang tahu kebutuhan hambaNya.
Nggih…lah bu…janji Gusti pasti ditepati, doa hambaNya pasti dikabulkan.
Iya…le memang betul itu. Oia ngomong-ngomong, kapan kamu mau balik Jakarta, nanti ditunggu sama bosmu lagi. Kalau ibu pinginnya sih kamu agak lama di kampung, lha tapi kan kamu baru mau masuk kerja.
Nggih bu, kemarin ijin 4 hari kok, pak Joko juga bisa memaklumi.
Oh ya sudah kalu begitu.
Setelah hening sesaat….
Pak, bu…
Ya apa le? Jawab bapak ibunya hampir bersamaan.
Anu pak, bu….diam sesaat lagi..
Iya aku tahu, masalah nikah kan? Ibu menjawab dengan nada menerka.
Dugg….ia kaget…, Lho kok ibu tahu? Ia menjadi kelihatan bingung.
"Sebelum sidang kemarin, paklekmu Marjo telepon nanya-nanya kabar kampung, katanya dia minta doa dari saudara-saudara kampung dia mau renovasi rumah. Nah..waktu itu ia bilang bahwa kamu pernah bicara uneg-uneg nikahmu sama dia", jelas Bapaknya.
"Aku sampai dua malam tidak bisa tidur lho le…, hiks, hiks, hikss..," ibunya menimpali sambil menangis.
"Ngapunten bu….maaf
"Bukannya tidak boleh menikah le..ibu hanya khawatir, takut kalau gara-gara kamu sudah mikir untuk nikah kuliahmu jadi berantakan, jadi tidak lulus, kan jadi percuma kamu susah payah kuliah 4 tahun di Jakarta", jelas ibunya lagi sambil menyeka air mata.
Ia hanya diam, di matanya sudah nampak mendung, hatinya merasa salah tak menentu, sembari memaklumi perasaan ibunya yang selama ini terus mendoakan agar dia cepat lulus kuliah.
Bapaknya pun hanya terlihat diam, seperti bingung mau berkata apa. Sementara Iman, adiknya yang paling kecil tak terpengaruh dengan suasana itu, ia masih tetap asyik menonton televisi.
"Mboten kok bu…pak,, sekali lagi mohon maaf, hiks, hiks, hiks…, saya juga tidak mau gagal kuliah, makanya saya berusaha keras untuk cepat menyelesaikan skripsi untuk dapat mengejar dapat kerja, lalu matur ini ke Bapak Ibu.
"Yo wis le, akhirnya bapaknya menyahut.
"Iya, bapak dan ibu sudah sangat bersyukur, kamu sudah lulus, sudah tenang, apalagi kamu sudah langsung dapat bekerja, nanti bapak sama ibu hanya bisa ngasih uang dari jual sapi di belakang rumah itu," jelas ibunya yang mulai tenang.
"MasyaAllah pak, bu…maturnuwun, saya sebenarnya juga berat mengungkapkan ini, tapi..saya tidak mau dan takut banyak dosa, jika tidak segera menikah, saya sudah kenal seorang wanita……
"Iya…paklekmu Marjo juga sudah cerita, alhamdulillah harapan ibu dan bapak agar kamu menikah dengan orang jawa atau sedaerah terpenuhi…" potong ibunya.
"Lalu gimana rencanamu?", Tanya bapaknya sedikit penasaran.
"Begini pak, bu,..sekarang ini kan calon saya juga masih nunggu selesai skripsi, insyaAllah tinggal sebentar lagi.
"Lho belum lulus kuliah?...Ibunya kaget. "Nanti gimana orang tuanya?".
"InsyaAllah tidak apa-apa kok bu..pak, dia juga sudah mencoba memberi pengertian kepada kedua orangtuanya, memberi pemahaman bahwa jika kita terlalu lama berhubungan atau saling kenal, nanti malah jadi musibah, maksud saya pacaran, kan malah membuat dosa dan akibatnya kita jadi menambah dosa bapak ibu juga. Jadi lewat menikah inilah kita ingin jadi anak yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang tua, karena mencoba menjauhi laranganNya Gusti Allah…dan…hiks..hiks…walaupun sebenarnya saya pingin mencari uang dulu secukupnya, biar bisa ngasih ibu bapak…hiks…hiks…hikss….
"Sudahlah le…sudah…" bapak dan ibunya coba menenangkan.
"Ibu bapakmu gak mengharapkan itu semua kok le, asal anak bisa bahagia dan mapan di Jakarta, ibu bapak sudah seneng kok…, tambah ibunya.
"Gih pak bu…maturnuwun, jadi begini pak bu…mudah-mudahan bulan ini calon saya sudah lulus. Kemudian proses lamaran, lalu untuk akad nikahnya pinginnya sebelum ramadhan, nanti penentuan tanggalnya dirembug waktu lamaran itu. Saya coba ingin sampaikan, agar hajatannya tidak usah mewah-mewahan, yang penting sah agama dan Negara, paling ngundang saudara-saudara dekat dan tetangga…"..kira-kira begitu bu..pak… jelasnya, sambil mengucek matanya yang masih terlihat memerah.
"Ya sudah le…kalau begitu rencanamu, mudah-mudahan tidak ada halangan…dan sehabis menikah pun makin banyak rezekimu,
"Iya…sahut Bapak.
Amin…tutupnya terharu.
Akhirnya, malam saat itu pun kembali menyelimuti bumi dengan kelamnya. Namun tampak ia menuliskan sesuatu di buku hariannya..lalu tersenyum dan terharu mendengarkan percakapan itu.
***

Empat hari sudah ia di kampung, hari terakhir itu suasana hatinya menjadi tak menentu, ada rasa senang, harap untuk segera ke Jakarta, tapi juga ada rasa sedih yang mendalam karena berpisah lagi dengan para kekasih hatinya.
Kebiasaan saling menangis itu pun terulang saat ia berpamitan…
"Bu pak…, saya pamit dulu ya…mohon doanya terus…hiks, hiks..hiks.., ia memeluk bapak ibunya bergantian sambil menangis.
"Iyo le…bapak ibu terus berdoa…ati-ati…
"Sekolah sing pinter ya Man…., dia pamitan sama adiknya.
Assalamu'alaikum….
Waalaikum ssalam….ati-ati le…
Gih…bu…"
Siang itu pun panas mentari menyaksikan keharuan itu…,
Bis jurusan Jakarta yang ditumpanginya terasa berat membawanya ke kota harapan. Dalam perjalanan terbayang percakapan yang sempat di dengar oleh Sang Purnama kemarin malam, tak terasa kedua mata yang masih memerah itu pun belum habis juga mengeluarkan bulir-bulir air bening…menetes, menyatakan keharuan dan harapan. Dilihatnya pepohonan di sepanjang jalan seakan memberi salam perpisahan, "selamat berjuang di sela-sela bangunan tinggi itu saudaraku…".
Tiba-tiba…., tit…tit…tit…tit…, Bunyi Hpnya membuyarkan suasana hatinya. Buru-buru dia rogoh kantong depan celananya, dia ambil hpnya dan mencoba membuka pesan itu….tertulis..dari Ukthi Wng, "Aslkm, mas, alhamdulillah skripsiku sudah di Acc semua…tinggal maju sidang besok hari Kamis".
Ia memejamkan matanya…nampak tersungging senyum, lalu membalasnya, "alhamdulillah..saya dalam perjalanan balik ke Jakarta, mudah-mudahan ini pertanda ridhoNya…"di kirimnya lalu tak lama kemudian terbalas lagi, "Amin".
Dan bis yang ditumpanginya terasa melaju dengan cepatnya…
Secepat harapan di hatinya.


***
Semilir angin malam, masuk perlahan melewati celah jendela kaca nako yang sedikit terbuka, seolah ingin menyeka basah pipi pemuda yang masih terduduk bersila itu…
Allahu Akbar…Allahu…Akbar…, dan adzan shubuh pun berkumandang, menghentikan bayang-bayang di pelupuk matanya, dia tarik nafas dalam seraya mengucapkan hamdalah. Setiap kalimat adzan itu terdengar menggetarkan, menyejukkan, mengalirkan kekuatan di hatinya. Lalu ia pun berdiri, mengerjakan sholat sunnah yang melebihi alam semesta serta isinya itu. Selesai salam ia tengadahkan kedua tangannya,
Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar….hiks…hiks…hiks…
Tangan ini kuangkat sebagai tanda kekerdilanku……
Tangan ini kuangkat tuk meminta ampunan dariMu..
Tangan ini kuangkat karena ku takut adzabMu..
Kurindu kasihMu….kucinta Rasul kekasihMu…


Rabb..
Segala puja dan kesyukuran hanya untukMu..
Aku malu…, di saat hati ini condong ke makhlukMu
Engkau tak buru-buru mengadzabku…dan itu yang kutakut dariMu
Engkau mudahkan semua…
Tuk..menggapai cita dan cinta..
Tuk..coba mengikat segala rasa
Pada tautan ridhoMu….

Ya..Allah,
Berilah hambaMU kekuatan kembali…
1 bulan ke depan ini….
Tuk menyambut akad suci nanti….
Semoga terampuni segala khilaf…
Semoga terampuni segala dosa hambaMu yang lemah ini ya..Allah…
Hiks…hiks…hiks…

Kemudian ia menyeka air matanya, berdiri lalu melangkah menuruni tangga, menuju Musholla…., terlihat Sang Rembulan yang menyaksikan tangis pemuda itu dari celah jendela nako, ia kembali tersenyum juga terharu..melihat penyesalan dan tekad pemuda itu…
Ia bergembira, setelah mendapat kabar dari matahari bahwa pemuda itu tadi siang telah melamar wanita yang selama ini membuatnya gelisah….lalu ia mendoakan…
“Rabb…..semoga bahagia segera mengakhiri kegelisahannya”…Amin.

Seponggah Harapan

Selasa, 12 Januari 2010

Cerpen Agustiana


Brakk!!
Suara itu lagi. Aku sudah cukup bertahan selama seminggu ini. Nomaden dari salon yang satu ke yang lain. Mencari yang paling terjangkau harganya oleh seorang pengangguran. Sécurité sociale yang kudapatkan tidaklah banyak. Apalagi, aku bukan warga negara ini.

Hah! Aku hampir tak sanggup lagi pindah untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Kali ini aku harus bertahan. Tidak! Aku tidak boleh hanya bertahan. Aku harus melawan.

Aku bangkit dari tempat tidur persegi panjang itu dan membuka pintu yang tak jauh darinya.
“Excusez-moi monsieur.” Kucoba untuk tetap sopan. “Saya mencoba untuk istirahat disini. Bisakah anda berhenti menggedor-gedor pintunya dan langsung saja masuk ke dalam?!.”

Hari masih sangat gelap. Pencahayaan koridor sempit ini begitu redup. Wajahnya terlihat samar. Dia berjalan gontai mendekat. Telunjuknya diarahkan ke wajahku.

“Vous! Apa urusanmu? Aku mau berbuat apa pun, terserah! Kau hanya orang asing disini. Justru kaulah yang harus masuk lagi ke kamarmu dan jangan campuri urusan orang lain!”

Aroma wiski begitu menyengat, membuatku ingin muntah. Aku muak. Aku lupa sedang berurusan dengan orang seperti apa.

Segera ku tutup pintu kamarku.
Dia masih saja berteriak-teriak memanggil istrinya yang tidak mau membuka pintu kamar mereka.
Brakk!!
Lagi2 dia menggebrak pintunya.
“Oh, Mon Dieu!!”

***

“Maryam, bagaimana jawabanmu? Dia sudah menunggu. Bukankah kalian juga sudah saling kenal.”

Wajahku tertunduk. Di hadapanku, duduk guru ngajiku di tepi ranjang segi empat dengan seprai motif bunga matahari kesukaanku. Tiga hari yang lalu baru saja proses ta’aruf kujalani dengan kakak kelas di SMPku dan hari ini adalah hari yang kujanjikan. Dibenakku berkecamuk banyak hal. Seandainya saja tawaran itu tidak datang.

“Maaf mbak, aku gak bisa.”
Keputusan itu telah terpatri dalam hatiku. Aku masih muda. Masih banyak yang ingin kulakukan.

Ku tatap lembar ijazah yang menyatakan bahwa aku adalah fresh graduate 2003, yang baru saja dua minggu ku terima. Aku akan menggapai cita-citaku.
“Sorbonne! Attend-moi!”

***

Udara sore ini begitu dingin. Aku berjalan gontai di la rue callot. Tatapanku nanar melihat aliran air di bawah jembatan besar di Bordeaux. Aku berhenti sejenak dan menyenderkan diriku rapat-rapat ke dinding pinggir jembatan. Aku menghela nafas, berat. Ku keluarkan le croissant et le Perrier yang sempat kubeli tadi pagi sebelum menaiki TGV di Paris. Perutku perih. Dari pagi belum menyentuh apa-apa. Bahkan air sekalipun. Aku sempat heran, kenapa aku masih kuat.

Tidak langsung ku suap “sarapan” itu. Aku masih teringat apa yang kulakukan beberapa jam yang lalu. Pagi-pagi telepon berdering mengabarkan bahwa aku mendapat panggilan interview di perusahaan tempat aku melamar kerja. Tempat yang sangat jauh. Paris-Bordeaux. Seperti Jakarta-Bali. Segera kubereskan barang-barang yang kubutuhkan dan segera meluncur ke stasiun kereta Paris. Naik TGV ke Bordeaux menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam. Ketika tiba disana, aku masih harus menunggu selama satu jam dalam antrian dengan beberapa pelamar lainnya. Sekitar jam tiga, aku baru masuk ke ruangan manajer personalia. Hanya lima belas menit semua itu berlangsung ketika manajer itu berkata;

“Pardon-moi, mademoiselle, tapi perusahaan kami hanya mempekerjakan mereka yang sudah lulus.”

Entah apa yang mereka pikirkan ketika memanggilku untuk interview. Apa mereka tidak membaca cv ku kalau aku memang tidak lulus dari Sorbonne. Dikeluarkan karena biaya. Beasiswa yang tidak bisa kulanjutkan lagi. Aku tidak bisa lulus tepat waktu karena terlalu asyik bekerja.

Ah! Perutku kembali terasa perih. Mungkin roti ini bisa mengganjalnya untuk sementara waktu. Uangku menipis. Sangat tipis.

Roti itu hampir menyentuh bibirku ketika seseorang menarik-narik jaketku. Aku menoleh, mencari tahu siapa yang melakukannya. Rupanya seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun tengah berdiri di samping kananku. Matanya sayu, terlihat begitu mengiba. Aku jongkok, memperlihatkan rotiku, menawarinya.

“Vous pouvez?”
Dia menggeleng.
Giliran minuman yang kutawari lagi-lagi dia menggeleng.
“Qu’est-ce qui-ce passé ? Votre maman, où?”
Matanya mengerjap. Bajunya terlihat lusuh.
“Peut-être… elle est à Paris maintenant. Aku tersesat…”
Aku memiringkan kepalaku, bingung.
“Bagaimana bisa?”

Dia diam dan menunduk. Seperti tidak mau lagi menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan.

Sudah sore. Jam lima. Kuputuskan membawanya ke Paris.
Di TGV, dia sempat menanyakan jam dan meminta rotiku. Aku tidak bisa memberikan semuanya, maka ku bagi dua. Perutku tak lagi mampu bertahan.

***
Sarah sudah terlelap di atas ranjangku. Sempat ku tatap lama wajahnya, berfikir kenapa dia menghampiriku. Mungkin karena hijab ini, sama seperti yang dia kenakan.

Aku membereskan kasur lipatku di sebelah ranjang. Mengeluarkan dua selimut tebal dan menyelimutkannya satu di atas tubuh Sarah. Udara malam dua kali lebih dingin dibanding sore tadi.

Aku lelah, hari ini benar-benar lelah.

***

Mataku berat, sangat berat, tapi pipiku ditepuk-tepuk dan tanganku digoyangkan. Terpaksa membuka mata, aku melihat Sarah duduk di sebelah. Aku bangkit, duduk. Mengucek-kucek mata, mencoba untuk terjaga.
“Qu’est-ce qui-ce passé ma chèrie ?

Dia menatapku dengan mata mungilnya. Rambutnya keriting dengan warna kulit yang gelap. Seperti kebanyakan pendatang Afrika.

“Sahur” lirihnya pelan.
“Hah… apa?” antara sadar dan tidak, aku mendengarkan.
Dia diam sebentar, lalu bibirnya berucap lagi. “Aku mau sahur.”

Lamat-lamat ku cerna kata-kata yang meluncur cepat itu… tiba-tiba aku tersentak. Sudah lama sekali tidak mendengar orang mengatakan hal itu. Ku ulangi sekali lagi dengan sedikit mengutip kata-katanya.

“K.a.u… mau sahur?!
Dia mengangguk.
Mon Dieu, hari apa ini?. Aku tercekat.

Aku bangkit, mencari kalender kecil dari dalam laci lemari dan melihatnya. Souvenir dari sebuah cinema.

Tanggal 31 September. Di Indonesia, tidak, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Ini bulan Ramadhan!

Astaghfirullahaladzim… Astaghfirullahaladzim…
Sendi-sendi kakiku melemas. Mataku panas. Serasa hatiku dihujam sebilah pisau yang sangat tajam.
Aku terisak.

Sudah lama, lama sekali aku tidak lagi puasa. Tidak lagi salat. Semua itu diawali dari kedatanganku kesini. Tak ada yang mengingatkanku. Walau orangtuaku sering mengirimi surat. Tapi, itu semua tidak cukup untukku bisa mempertahankan iman di negara orang lain ini. Aku tak kuat. Hijab yang kukenakan kugunakan hanya untuk melindungiku dari dingin yang menyengat. Bahkan saat interview kemarin, jilbab itu kulepas.

Ku biarkan linangan itu membasahi wajah yang sudah jarang menangis karena-Nya.
Astaghfirullahaladzim… Astaghfirullahaladzim…
Sarah diam melihatku tertunduk, penuh sesal.

***

“Bismillahirrahmanirrahim… alhamdulillahirabbil’alamin…”

Aku dan Sarah bermurajaah sehabis salat subuh. Aku sudah tidak ingat lagi dimana dulu kusimpan mushafku. Untuk membelinya, aku sudah tak punya uang.

Kami bermurajaah hingga waktu dhuha. Sarah anak yang cerdas. Terlihat dari hapalannya yang cukup membantuku. Ketika kutanya, dia bilang sudah hapal 3 juz. 28,29,30. Setelah itu, kami salat dhuha.

Aku membawa Sarah jalan-jalan keluar. Kami duduk di bangku taman tak jauh dari tempat tinggalku. Kini aku merasa lebih baik. Lebih optimis, lebih percaya diri, lebih yakin, karena kini aku memiliki Allah lagi.

Ternyata saat ini Ramadhan sudah memasuki hari-hari akhirnya. Aku baru menyadari setelah kehilangan dua puluh hari. Moga masih belum terlambat untuk beribadah sebanyak-banyaknya dan memohon ampunan atas apa yang sudah kulakukan selama ini.

Melihat Sarah tertawa-tawa sambil bermain dengan teman sebayanya mengingatkanku pada adik kecilku di Indonesia. Dia pasti sudah masuk SMP sekarang. Bagaimana ya rupanya? Bagaimana kabar Ibu, Ayah? Semenjak dikeluarkan dulu, aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka. Tidak ada satu kabar berita pun yang ku kirim untuk mereka.

Oya, Sarah bilangkan, orang tuanya mungkin ada di Paris. Kenapa aku tidak tanya saja padanya. Aku yakin dia tahu jalan pulang, karena selama ikut denganku, dia sama sekali tidak rewel atau minta di ajak pulang, pikirku.

Aku berdiri dan mendekati Sarah yang sedang berayun-ayun. Aku jongkok dan menatapnya lembut. Kubenahi jilbabnya yang sedikit berantakan. Dia melakukan hal yang sama padaku sambil tertawa.

“Sarah, tu habite où? Kakak yakin kau tahu alamat rumahmu, n’est ce pas?”
Dia mengangguk.
“J’habite dans la rue poincare…”

***

AirFrance kini tengah melintasi samudera Atlantik. Membawaku kembali ke tanah air tercinta. Kurang lebih lima jam lagi, aku akan menjejakkan kaki setelah enam setengah tahun merantau.

Orang tua Sarah membantuku untuk bisa kembali ke Indonesia. Balas budi yang sebenarnya tak ingin kuterima atas pertolonganku membawa Sarah kembali kepada mereka. Aku tak ingin menerima balas budi itu karena sebenarnya akulah yang berhutang pada Sarah. Anak sekecil itu membantuku untuk ingat lagi pada Allah. Di saat yang paling tepat. Allah mengirimnya untuk mengingatkanku agar selalu yakin pada-Nya.

Bagiku, dialah keberkahan Ramadhanku.

Keterangan:

Nomaden:berpindah-pindah; salon:kos-kosan;
Sécurité sociale:jaminan bagi masyarakat Prancis berupa uang dari pemerintah;
Excusez-moi monsieur:permisi tuan; Vous:kamu;
Mon Dieu:tuhanku; Attend-moi:tunggu aku;
la rue callot:jalan callot; le croissant et le Perrier: roti dan air mineral;
TGV:kereta ekspres di Prancis;
Pardon-moi, mademoiselle: maaf nona;
Vous pouvez:kau mau;
Qu’est-ce qui-ce passé ? Votre maman, où:Apa yang terjadi, ibumu mana;
ma chèrie: sayangku;
Peut-être… elle est à Paris maintenant:mungkin dia di Paris sekarang;
Cinema:bioskop;
tu habite où: kau tinggal dimana;
n’est ce pas: iya kan;
J’habite dans la rue poincare: aku tinggal di jalan Poincare

Seratus Potong Puzzle

Senin, 02 November 2009



Cerpen Vichan
Sumber: www.anekayess-online.com

“Kali aja, ini salah satu dari potongan puzzle yang membentuk gambar wajah pengirimnya,” ucap Andi sok detektif. “Di situ nggak ada nama pengirimnya, kan?!” lanjutnya. Rine mengangguk.

Bis jurusan Bogor-Depok berhenti di persimpangan Depok. Bis tua yang sudah penuh itu, masih saja menaikkan penumpang yang sudah menunggu sejak lima belas menit lalu. Bis terasa semakin sempit. Pagi yang seharusnya sejuk, ternyata menjadi sangat pengap, ditambah lagi dengan cucuran keringat para penumpang yang menciptakan sensasi aroma asam tubuh manusia. Padahal mereka sudah rapih dan wangi untuk memulai aktivitas hari ini, sejak keluar dari rumah mereka masing-masing.

Belum lagi suara fals pengamen yang membuat suasana bis makin nggak karuan, “Walau… kumasih mencintaimu, ku harus meninggalkanmu, ku harus melupakanmu. Meski… hatiku menyayangimu, ku harus…”

“Ya, demikian lagu ketiga dari saya. Mohon jangan tepuk tangan dulu karena masih ada sepuluh lagu lagi yang akan saya mainkan,” ucap pengamen dekil itu ke-pede-an. Para penumpang langsung manyun.

“He… he…he… becanda, kok. Baik, cukup sekian dari saya. Sampai berjumpa kapan-kapan. Ikhlas dari anda, halal buat saya. Tapi alangkah baiknya jika anda semua mengeluarkan uang seribuan yang terlalu kecil bagi anda. Sekali lagi, hati-hati di jalan. Bagi yang gak mau ngasih tolong jangan pura-pura tidur, bagi yang pura-pura tidur saya doakan semoga tertidur selamanya.” Pengamen konyol itu mengeluarkan kantong bekas permen dan menyodorkannya pada para penumpang.

Bis yang sesak membuat para penumpang marah-marah karena pengamen itu memaksa jalan di antara mereka.

“Bang, nggak muat nih sempit. Nggak usah lewat sini..” ucap ibu-ibu yang sedang menggendong anak.

“Iya nih, bikin susah aja,” ujar bapak-bapak berkumis tebal mirip mas Adam, suaminya Inul Daratista. Para penumpang yang lain ikut menyahuti kedua penumpang tadi. Pengamen yang tadi agak mengancam agar dikasih seribuan, jadi ciut. Mukanya asem. Gitar birunya, yang senar duanya lepas, terhimpit di antara penumpang. Dia jadi semakin kikuk. Maju, nggak bisa. Mundur, sudah kepalang tanggung.

“Hei, kau! Turun saja kau lah! Gak liat kau, bis penuh kaya’ gini?” Akhirnya kondektur bis turun tangan. Logat bataknya yang kental membuat pengamen itu langsung nurut dan mundur teratur. Pengamen itu akhirnya turun bersama penumpang lainnya di Cibinong.

“Perum! Perum!”

“Kiri, bang!”

Hup! Rine melompat dari bis. Ia berlari menuju angkot ngetem berwarna hijau, jurusan Bantarjati. “Yes,” ucapnya dalam hati setelah rebutan dengan pelajar lain, akhirnya ia mendapatkan bangku kosong yang tersisa satu. “Kalo naek angkot yang di belakang pasti ngetemnya lama,” ucapnya lagi.

Angkot mulai melaju di bibir jalan. Tapi, Rine agak nervous, pasalnya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya, sesekali melirik ke arahnya. Sesekali pula, laki-laki itu tersenyum tipis. Rine jadi ge-er. “Ngapain sih dia ngeliatin gue melulu. Kayaknya dia anak kelas sebelas juga deh. Hmm… tampangnya boleh juga,” bisik Rine dalam hati setelah benaknya melayang mengingat artikel majalah CewekBuanget yang isinya: Tanda-tanda kalau “dia” suka kamu.

Rine jadi makin ‘PeDas’ alias Pede Dahsyat karena isi artikel itu bilang, kalau ada cowok suka curi-curi pandang ke arah kita lalu tersenyum, kemungkinan dia ada hati sama kita, cukup besar. “PLN nih! Pasaran Lagi Naik” ucapnya dalam hati.
Belakangan ini Rine kalang-kabut. Pasalnya, sampai sekarang dia masih ngejomblo. Padahal Valentine’s Day baru lewat. ”Ini waktunya menumbuhkan jamur di mana-mana,” ucapnya. Rine merasa PasTur banget alias pasaran turun. Kalau dia nggak menumbuhkan jamur di mana-mana dengan TP-nya. Bisa-bisa dia ngejomblo lagi sampai Valentine berikutnya.

***

“Cie..Ririne… suit-suit!!”

“Ehem... ehem....”

“Akhirnya...”

Rine yang baru saja melangkahkan kaki ke kelas langsung dikejutkan teman-teman yang menggodanya.

“Ada apaan sih?” tanyanya sambil terus melangkah ke bangku paling belakang, tempat duduknya.

Kado. Di atas mejanya ada kado berbentuk hati. Di atas kado itu tertulis: Dear Ririne. Dia membuka isinya. Cokelat dan….

“Apaan ini?”

“Meneketehe. Sampah kali,” jawab Andi sambil terus meneliti benda itu. “Oh... ini sih potongan puzzle.”

“Potongan puzzle?”

“Kali aja, ini salah satu dari potongan puzzle yang membentuk gambar wajah pengirimnya,” ucap Andi sok detektif. “Di situ nggak ada nama pengirimnya kan?!” lanjutnya. Rine mengangguk.

“Siapa ya…?”

***

Pagi ini, hujan kembali mengguyur kota Bogor. Hujan turun sejak pukul empat pagi tadi. SMA Cahaya masih sepi, mungkin anak-anak lebih memilih meneruskan mimpinya di balik selimut yang hangat dibandingkan harus basah-basahan menuju sekolah yang membosankan.

Rine melongok ke kelas dari jendela. Hanya ada beberapa murid yang sedang sibuk menyalin tugas rumah. Sementara sang pemilik buku yang sedang diconteki, asyik mendengkur di atas meja dengan ketukan empat per-empat.

Saat masuk kelas. Seorang anak laki-laki melangkah cepat menuju ruang kelas. Dia gelagapan saat berpapasan dengan Rine. Rine jadi heran.

“Lho… itu bukannya anak yang satu angkot sama gue waktu itu. Ngapain dia? Jangan-jangan..,” Rine menduga-duga. “Ah, nggak mungkin,” lanjutnya. “Tapi, kalau iya…” lanjutnya lagi.

Dorr!!

Andi mengagetkan Rine dari belakang. Rine langsung loncat karena kaget.
“Ngapain loe bengong aja?”

“Ah, elu ngagetin aja.” Rine sedikit sewot. Matanya melotot. “Betewe, loe tau gak cowok yang barusan keluar?”

“Yang tadi itu? Oh, itu namanya Sandy. Kenapa? Waduh, gue jadi curiga,” Andi meledek Rine.

“Mang kenapa? Loe ngegebet dia juga?” tantang Rine.

“Yeah! Ngapain! Gue sih teteup…Pak Budi idola gue.”

“Pak Budi yang nyebelin itu?! Selera loe rendah banget sih, Ndi”

“Eh, loe jangan maen-maen ya sama gue: Andini. Pak Budi itu orang paling baik se- Jabodetabek tau gak?”

“Baru ditolongin benerin komputer aja udah ge-er. Dasar perempuan yang mudah jatuh cinta,” Rine gak mau kalah.

“Biarin aja.”

“Ah elu, bukannya bantuin gue malah….” sebelum meneruskan pembicaraannya Rine kembali dikagetkan dengan potongan puzzle di atas mejanya. Lagi! Ini hari ke tiga puluh, tepat setelah ia mendapatkan kado dan potongan puzzle pertama waktu itu. Berarti, ini adalah puzzle ke tiga puluh.

“Gue makin penasaran Rine, siapa sih mysterious guy itu.”

Dari kejauhan nampak Sandy sedang memperhatikan Rine. Dia langsung pergi setelah ke-gap oleh Rine kalau ia sedang memperhatikannya. Rine makin curiga.

***

Esoknya, Rine datang lebih awal. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa orang misterius yang mengirimi puzzle itu. Tapi, di tikungan koridor sekolah, ia melangkahkan kakinya ke kanan. Menuju kelas Sandy.

“Dia belum datang rupanya”

Rine langsung berbalik. Ia harus buru-buru ngumpet di belakang kelasnya untuk memergoki si pengirim puzzle, takut kecolongan oleh mysterious guy itu. Tapi….
Ups!!

Tunggu! Itu kan Sandy! “Waduh, kecolongan lagi gue,” sesal Rine dalam hati.
Rine berlari secepat kilat di koridor sekolah menuju kelasnya. Anak-anak yang sedang berjalan di depannya berhamburan takut tertabrak oleh Rine.

“Minggir!!” teriak Rine dari belakang.

“Ini dia!” Ia kembali mendapatkan potongan puzzle di atas mejanya. “Gak salah lagi, gue yakin. Pasti Sandy. Pasti.”

”Payah, harusnya tadi gue nggak usah ke kelasnya. Lagi-lagi gue kecolongan. Pokoknya nanti siang, gue bakal nemuin dia. Harus.”

“Coba kalian kerjakan soal ulangan di samping kanan monitor kalian masing-masing. Soal ini agak sulit. Makanya, kerjakan dengan teliti.”

Suara membosankan Pak Budi masih saja menggelegar. Padahal, bel pulang lima menit lagi. Tapi ia tetap saja memberikan ulangan. Sesekali Rine melirik jam Seiko-nya. Kalau gak cepat keluar, nanti Sandy keburu pulang. Ia makin cemas.

“Pak, udah mau pulang nih. Ulangannya buat pe-er aja ya?” protes Riki yang memiliki tubuh kutilang-hitam alias kurus tinggi langsing dan hitam.

“Mana ada sejarahnya, ulangan dijadikan pe-er. Cepat kerjakan. Kalau protes…”

“Kalau kita protes, nanti bapak marah, ya? Nanti kalo bapak marah, bapak gak mau ngajar, kan? Nanti kalo gak mau ngajar, bapak pulang. Terus, kita juga pulang deh! Iya kan?” potong Ade konyol.

“Hush! Kalau kalian protes. Saya akan nambah soal ulangan!”

“Yah, bapak… saya kan harus pulang cepat. Nenek saya ulang tahun…” jawab Ade. Anak yang satu ini memang kelewatan ngeyel-nya. Pak Budi diam saja.

Anak-anak di kelas Rine memang sudah biasa menjaili Pak Budi. Guru komputer ini usianya hanya seperempat abad, makanya anak-anak suka rada nggak sopan sama guru itu. Benar juga sih kata Rine. Pak Budi ini memang agak nyebelin. Suka sok galak.

Jarum jam sudah menunjuk angka jam 13.30, kelas Rine masih belum bubar. Rine benar-benar kesal setengah mati. Terutama sama Pak Budi. Dia gak mau harus nunggu hari esok untuk menemui Sandy.

“Ya! Selesai. Waktu sudah habis. Simpan file kalian di folder masing-masing. Jangan lupa turn off komputernya,” ucap Pak Budi tepat pukul 13.45.

“Ndi, gue duluan, ya.” Rine menyambar tasnya. “Mudah-mudahan saja dia belum pulang”. Rine berlari secepat mungkin. Dari kejauhan ada suara memanggil-manggil namanya. Rine menengok ke belakang sambil setengah berlari. Ia melihat Pak Budi melambaikan tangannya, memanggilnya. Mungkin ia akan menghukum Rine, karena kelas belum dibubarkan, dia sudah ngibrit duluan.

“Bodo’ ah!” ucap Rine sambil mempercepat larinya.

Jam 06.55

“Aduh… kenapa harus kesiangan sih di saat genting kayak gini?”

”Pasti potongan puzzle itu udah ada di atas meja. Tuh orang bener-bener udah sukses ngebuat gue penasaran setengah mati.”

Benar saja. Potongan puzzle berikutnya sudah ada di atas meja. Rine berlari menuju kelas Sandy. Tapi…

Bruk!!

Aduh!

“Hei kamu, hati-hati dong kalau jalan.” Badan tinggi Pak Budi terlihat seperti raksasa oleh Rine yang terjatuh di lantai.

Rine bangkit dari lantai. Seragam putihnya kotor menyapu lantai.

“Sorry, Pak! Lagian, bapak ngapain berdiri di depan pintu? Ngalangin jalan aja. Kalau ketabrak, kan bukan salah saya?”

“Kamu, bukannya minta maaf,” Pak Budi ngomel.

“Lho, gak kebalik, Pak? Kan saya yang jatuh?” balas Rine makin nyolot.

“Buruan minta maaf!”

Rine tak mendengar ucapan Pak Budi setelah teringat kalo dia harus nemuin Sandy.
Rine berlari meninggalkan Pak Budi yang masih ngomel.

“Hei, minta maaf dulu!”

“Gak sempat!”

”Kenapa sih tuh guru? Sok galak banget. Sok berwibawa banget. Nyebelin banget. Ngerasa jadi orang paling ganteng banget. Dasar!”

“Sandy mana?” tanya Rine pada laki-laki berkaca mata yang ia duga sebagai teman sekelasnya Sandy.

“Gak masuk,” jawabnya singkat sambil membetulkan kacamata silindernya.

“Ok, tengkyu!” Rine menepuk bahu laki-laki itu lalu pergi.

“Sial! Kenapa dia gak masuk? Eh, tunggu dulu! Hari ini dia gak masuk, tapi potongan puzzle itu tetap dikirim. Kok bisa? Aduh, gue jadi makin bingung. Jangan-jangan, emang bukan dia lagi. Tapi, feeling gue yakin banget kalo itu dia.”

***

Hari ini adalah hari keseratus Rine mendapatkan puzzle misterius itu. Tapi, sampai jam istirahat ini, potongan puzzle keseratus itu belum juga datang. Rine dan Andi menyusun potongan-potongan puzzle itu.

Rine sudah tidak mengintai Sandy lagi. Dia takut keGeEr-an. Makanya, sebelum dia salah sangka lebih jauh sama Sandy, dia memutuskan untuk berhenti menyelidikinya. Toh, potongan puzzle itu tetap terkirim. “Nanti juga ketahuan siapa pengirimnya,” ucapnya. “Lagi pula, dia juga gak ngasih sinyal pedekate ke gue. Ngapain gue sibuk-sibuk mikirin dia yang gak ketahuan rimbanya, padahal Valentine udah deket, mendingan gue cari yang lain,” ucapnya lagi.

“Ndi, yang itu salah! Di sini nih tempatnya,” ucap Rine sambil mencopot potongan puzzle yang dipasang oleh Andini.

“Ye... elu juga salah, yang ini terbalik. Nih, kayak gini.” Andi membetulkan potongan puzzle Rine.

“Aduh, perut gue haus nih!” ujar Rine ngaco.

“Tenggorokan gue juga laper!” balas Andi makin ngaco.

“Ah elo, ikut-ikut aja! Ke kantin dulu, yuk! Ntar disambung lagi,” usul Rine.
“Ah, jangan! Gimana kalo nanti disambung lagi, sekarang kita ke kantin dulu!”
“Emang susah ngomong sama orang susah.”

Rine dan Andi melangkahkan kakinya ke kantin. Setelah menghabiskan dua mangkuk bakso dan tiga gelas es teh manis mereka kembali ke kelas. Sepertinya mereka sangat penasaran dengan gambar puzzle yang menyerupai hati itu.

“Eh, tunggu! Tunggu! Itu kan Sandy,” telunjuk Andi menunjuk pria pemilik tubuh seratus enam puluh lima senti itu.

“Terus kenapa?”

“Elu gak mau nyelidikin dia lagi?”

“Ah, gara-gara gue sibuk nyelidikin dia, gue gak bisa TP ke mana-mana. Lu liat kan, gue masih jomblo. Padahal Valentine sebentar lagi.”

Rine menengok ke sebelahnya. Ternyata yang diajak bicara sudah tidak ada.

“Dasar!”

Andi berlari menuju kelas. Ia melihat Sandy sudah ada dekat mejanya, dan meja Rine juga.

“Sandy!” panggil Andi. Sandy kalang-kabut. Tangannya yang sejak tadi sibuk merogoh saku celana, langsung ia keluarkan. Satu potongan puzzle jatuh dari sakunya. Tapi, ia tidak menyadari. Sandy buru-buru pergi. Andi masih terbengong melihat potongan puzzle itu jatuh dari saku Sandy. Ia meraihnya.

Sementara Rine sibuk mencari-cari Andi. “Kemana sih tuh anak ngilangnya. Ke toilet kali. Ah, masa iya, baru diisi udah keluar lagi?”

Rine masuk ke kelas. Dia melihat sosok Sandy yang sedang terburu-buru keluar kelas. Sandy hampir saja menabrak Rine. ”Ngapain dia?,” tanya Rine dalam hati.

“Rine! Rine! Ke sini!” suara Andi melengking dari bangku paling belakang.

“Elu dari mana sih, gue cari-cari?”

“Aduh, udah deh, gak sempet kasih alasan. Lu liat ini!”

“Itu? Itu kan potongan puzzle”

“Tepat sekali! Ini potongan puzzle keseratus.”

“Maksud loe? Jangan bilang Sandy…” ucap Rine sambil mengambil potongan puzzle itu dari tangan Andi lalu memasangnya. Puzzle itu membentuk gambar hati merah jambu bertuliskan LOVE di tengahnya.

“Udah, ayo kita kejar!” Andi menarik tangan Rine.

“Males ah!”

“Loe nggak mau ngejomblo lagi, kan?” Ancam Andi.

“Ok! Ok! Tapi, nanti aja pulang sekolah,” jawab Rine malas. “Udah, sekarang anterin gue dulu ke Lab Komputer. Flash disk gue ketinggalan di sana.” Gantian, Rine yang menarik tangan Andi. Andi jadi lesu, “Payah, padahal ini episode paling seru,” batinnya.

“Aduh, kenapa bisa ketahuan? Saya kan sudah bilang sama kamu, hati-hati, jangan sampai ketahuan!”

“Maaf, Pak!”

“Pak Budi? Sandy?,” ucap Rine dan Andi dalam hati. Mereka saling memandang. Sepertinya mereka masing-masing sudah tahu jawabannya.

Guruku Tampan Sekali

Cerpen Denny Prabowo
Sumber: anekayess-online.com


“Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”

Jatuh cinta itu soal biasa. Tidak haram hukumnya. Yang haram itu kalau kita salah mengekspresikannya. Puasa aja kalaudilaksanakan pas hari raya lebaran jelas-jelas ibadah yang diharamkan! Tapi buat Arinda jadi tidak biasa. Agak sedikit di luar kebiasaan anak-anak remaja seusianya. Pasalnya, dia jatuh cinta sama guru matematikanya! Gila!!! Sebagian orang pasti akan berkata begitu. Begitulah cinta, tidak punya mata. Dia datang begitu saja tanpa diundang.

Kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja!

Pak Andi guru matematika yang baru mengajar di sekolah Arinda sejak dua bulan yang lalu—yang kalau dilihat dari tampangnya, usianya tidak lebih tua dari ibunda Arinda itu, punya alis tebal di atas kedua matanya yang memancarkan wibawa. Hidungnya mancung. Kumisnya tipis. Dagunya lancip. Perawakannya tinggi. Berkulit putih bersih. Yah… kalau dijejerin sama Ari Wibowo aja sih, gak kalah-kalah amat. Mungkin itu pula yang menyebabkan nilai matematika siswi-siswi di kelas 3 IPA 2 meningkat pesat. Terutama Arinda. Padahal, waktu mata pelajaran itu dipegang Bu Jamilah yang judesnya nauzubillah, nilai ulangannya selalu tidak lebih dari lima. Tapi setelah dipegang oleh Pak Andi, belum pernah nilai ulangannya mendapatkan nilai di bawah 8. Fantastis!

Masih terkenang di benak siswi kelas 3 es-em-u itu, ketika pertama kali Pak Andi menjejakkan kaki di kelasnya.

“Gile… gue kira ada artis sinetron yang nyasar…”

“Nggak taunya guru baru!”

Komentar semacam itu segera saja berhamburan dari mulut para kaum Hawa di kelas itu. Dan Arinda bukan satu-satunya siswi yang matanya dibuat terbelalak oleh ketampanan guru baru itu.

“Wah… kalo sama yang ini mah, nilai ulangan gue bisa dapat 10 terus!”

Rupanya, kesan pertama itu begitu dalam tertanam di dalam lubuk hati Arinda. Ia yang sejak dulu alergi sama matematika, jadi sangat menggemari pelajaran yang banyak dibenci anak-anak sekolah itu (Dengan catatan: Pak Andi yang mengajar).

“Apa sih, kiat kamu bisa mendongkrak nilai ulangan-ulangan matematika? Padahal, semua orang juga tau, kalau elo paling alergi sama pelajaran ini,” tanya Rayya, teman sebangkunya ketika melihat lagi-lagi angka sembilan yang menghias lembar ulangan matematika Arinda.

“Semua berkat Pak Andi.”

“Pak Andi?”

“Sejak guru itu mengajar, aku jadi tertarik sama pelajaran matematika.”

“Sama pelajarannya, atau sama gurunya?”

“You know-lah….”

“Kamu naksir sama guru tampan itu?”

“Yap!”

“Gila!”

“Kalau aku naksir kamu, itu baru gila.”

“Tapi dia kan guru kita. Kalo kagum aja sih, aku maklum.”

“Sekarang aku tanya sama kamu… Apa ada cowok di sekolah ini yang mampu menandingi ketampanan beliau?”

“Yah…”

“Gak ada kan?” potong Arinda, “Kalau begitu, nggak ada alasan buat aku untuk tidak jatuh cinta sama guru tampan itu.”

“Tapi tetap aja, hal itu nggak etis.”

“Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”

“Kalo Pak Andi sudah menikah, gimana?”

“Tapi gosipnya dia belum beristri.”

“Bisa aja gosip itu salah.”

“Aku rela jadi istri keduanya!”

“Istighfar, Non!” Rayya mengingatkannya. Tapi Arinda tak menggubris kata-kata teman sebangkunya. Gadis itu sudah terlanjur asyik dengan bayangan wajah tampan guru matematikanya. Rayya hanya bisa geleng-geleng kepala.Suatu hari, Arinda nekat bertandang ke rumah Pak Andi ditemeni Rayya. Pak Andi menerima mereka di ruang tamu. Kebetulan saat itu dia sedang memeriksa hasil ulangan matematika kelas tetangga.

“Ada keperluan apa, Rin?” tanya Pak Andi setelah mempersilahkan mereka duduk.

“Mau bantu Pak Andi memeriksa kertas-kertas jawaban,” Arinda memberikan alasan sambil melirik ke arah Rayya. Yang dilirik cuma mesem-mesem saja.Pak Andi tersenyum.

“Boleh kan, Pak?”

“Boleh aja. Rayya sekalian bantu juga nggak apa-apa.”

“Baik, Pak.”

“Sebentar ya, Bapak ambilkan kalian minuman dulu.”

“Wah… gak usah repot-repot, Pak,” Arinda berbasa-basi.

“Ah, nggak kok. Cuma air putih dingin aja.” Pak Andi masuk ke dalam.

Sebenarnya, kedatangan mereka ke tempat itu, karena ada misi khusus berkaitan dengan pertanyaan Rayya tentang status Pak Andi yang mungkin saja sudah menikah. Arinda datang ke tempat itu untuk mencari tahu jawabannya. Makanya, sejak tiba di rumah itu, Arinda terus saja celingukan meneliti dinding-dinding di ruangan itu. Tapi Arinda tidak menemukan ada foto keluarga yang terpajang di dinding-dinding rumah itu. Berarti gosip kalau guru tampan itu belum bersitri benar adanya.

“Sepertinya Pak Andi masih sendiri, deh,” bisik Arinda menyikut ringan lengan Rayya yang mulai konsentrasi dengan kertas-kertas jawaban di tangannya.

“Bodo, ah!”

Pak Andi keluar dengan membawa dua gelas minuman dan sepiring penuh goreng-gorengan. Dia meletakkan di atas meja.

“Istrinya mana, Pak?” ucap Arinda hati-hati, “Kok nggak dikenalin sama kita-kita?”
Rayya langsung menginjak telapak kaki Arinda.

“Adaaauuuww!” Arinda melirik tajam ke arah Rayya yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa, Rin?”

“Ah… nggak apa-apa kok, Pak. Saya cuma ngerasa, tiba-tiba saja kaki saya seperti diinjak sama kaki gajah!” jawab Arinda sambil tersenyum meringis.

“Ah, kamu ada-ada aja.”

“Eh, Bapak belum jawab pertanyaan saya…”

“Yang mana?”

“Soal…”

Lagi-lagi Rayya bermaksud menginjak kaki temannya yang sudah dibutakan oleh cinta itu. Tapi kali ini Arinda sudah lebih siap. Dan berhasil mengelak.

“Wue… gak kena!” Pak Andi tertawa melihat tingkah kedua muridnya itu.

“Bapak memang belum menikah, kok. Habis nggak ada yang mau, sih.”

Saya mau, Pak! Kalimat itu terlontar di dalam hati Arinda.

“Saya gak percaya kalau nggak ada wanita yang mau jadi istri Bapak.”

Tiba-tiba saja sorot mata Pak Andi seperti menerawang jauh. Entah ke mana. Mungkin ke masa mudanya. Dan Arinda menemukan ada kesedihan di sana.

“Ada apa, Pak?” tegur Arinda membuyarkan lamunannya.

“Oh, eh… ngg… Bapak lagi teringat dengan masa lalu,” kata Pak Andi agak gugup.
“Cerita dong, Pak!” todong Arinda.

“Kamu tuh lancang banget, deh!” Rayya sudah tidak tahan dengan sikap Arinda.

“Yee… sekedar mau tau gak pa pa, kan?”

Pak Andi tersenyum.

“Dulu…” guru tampan itu mulai bercerita, “bapak pernah hampir menikah. Tapi gagal.
Orangtua laki-laki calon istri Bapak nggak setuju.”

“Alasannya kenapa, Pak?”

“Alasannya, Bapak hanya seorang guru yang gak punya masa depan.”

“Ih, kok picik amat, sih?”

“Yah… semua orangtua kan selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya.”

“Terus… Bapak nggak coba cari lagi?”

Pak Andi menggelengkan kepala. Lemah. “Sampai sekarang Bapak belum bisa melupakannya.”

“Bapak cinta banget ya, sama dia?” Arinda kecewa.

“Eh, kok jadi ngomongin masa lalu, sih? Nanti meriksa kertas jawabannya jadi gak selesai-selesai.” Pak Andi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Eh, kamu tahu di mana Bapak bisa menjahitkan kemeja?”

“Wah… kebetulan,” Arinda girang, “ibu saya seorang penjahit, Pak!”

“Wah… Bapak bisa minta discount , dong?”

“Tenang aja, Pak.”

“Kalau ayah kamu, kerja di mana?”

“Ayah saya udah nggak ada, Pak. Sudah meninggal dunia. Saya aja gak pernah sempat melihatnya. Waktu itu saya masih dalam kandungan ibu saya. Setelah kematian ayah saya, ibu saya gak mau menikah lagi.”

“Ibu kamu pasti sangat mencintai ayah kamu, ya?”

“Kalau itu saya agak ragu, Pak. Soalnya ibu saya pernah cerita, kalau pernikahannya dengan ayah saya karena dipaksa oleh orang tua.”

Pak Andi mengangguk-angguk.

“Jadi, kapan Bapak mau mengantarkan bahan kemeja ke rumah saya?”

“Kapan ya…”

Arinda jadi sewot berat gara-gara Pak Andi tidak masuk kelas hari itu. Padahal, kemarin Pak Andi mengatakan ingin main ke rumahnya. Sehari saja tidak melihat guru tampannya, rasanya hidup jadi kehilangan gairah.

“Duh… sampe segitunya,” goda Rayya, “Baru juga gak ngeliat sehari, udah kehilangan gairah. Apalagi kalo sampai ditinggal menikah sama Pak Andi…”

“Jangan-jangan beliau sakit…” Arinda cemas.

“Kalo sakit, biasanya dia nitipin tugas ke guru piket. Jangan-jangan, waktu berangkat ke sekolah tadi, dia kecantol sama seorang wanita, dan langsung menikah…”

“Ah, gak lucu tau!”

“Lho, bisa aja kan?”

Kata-kata Rayya itu semakin membuat hati Arinda menjadi gelisah. Dan kegelisahannya itu semakin menjadi-jadi tatkala sampai bel pulang berbunyi, Pak Andi tidak juga kunjung datang ke sekolah.

“Antar aku ke rumahnya Pak Andi, yuk?” mohon Arinda kepada Rayya.

“Kamu serius suka sama Pak Andi, ya?”

Arinda mengangguk lemah. Rayya prihatin melihat temannya yang sedang terjangkit virus cinta itu.

Ditemani Rayya, Arinda pergi ke rumah Pak Andi. Tapi pintu rumahnya terkunci. Pak Andi tidak ada di rumahnya.

“Tadi pagi berangkat ke sekolah kok,” jawab tetangga di sebelah rumahnya, waktu Arinda menanyakan prihal Pak Andi kepadanya.

“Tuh kan, Rin… jangan-jangan yang aku omongin benar.”

“Yang mana?”

“Pak Andi kecantol seorang wanita waktu berangkat ke sekolah, dan…” Rayya urung melanjutkan kalimatnya saat melihat Arinda siap melayangkan cubitan ketubuhnya. Teman sebangkunya itu hanya meringis tertawa.

Akhirnya Arinda melangkah pulang ke rumah dengan hati kecewa. Di depan pintu pagar rumahnya langkahnya terhenti. Dari tempatnya berdiri dia mendengar suara tawa seorang pria di dalam rumahnya.

Seperti suara…

Arinda Tersenyum. Dia segera berlari ke dalam rumahnya. Dan menemukan Pak Andi tengah berbincang akrab dengan ibunya di sana.

“Eh, Rinda… kamu sudah pulang, Nak?” tanya ibunya begitu melihat anaknya datang.

“Ibu sepertinya sudah kenal baik sama Pak Andi?” selidik Arinda penuh curiga melihat keakraban mereka. Pak Andi dan ibunya saling bertukar pandang, membuat Arinda semakin curiga.

“Arinda masih ingat cerita Bapak tempo hari waktu kamu main ke rumah Bapak dengan Rayya?”

Arinda berusaha mengingat-ingat.

“Itu lho, tentang wanita yang gagal Bapak nikahi gara-gara orangtuanya nggak setuju karena Bapak hanya seorang guru yang nggak punya masa depan.”

“Terus?”

“Sekarang sudah nggak ada lagi yang mengahalangi kami untuk menikah,” Kata Pak Andi melirik ke arah ibunya Arinda.

“Maksud Bapak apa, sih?”

“Wanita itu sudah menerima pinangan Bapak?”

“Bapak mau menikah?!”

“Iya.”

“Siapa sih wanita itu, Pak?”

“Ibumu!”

“HAH…?!?”

Sebulan kemudian, Pak Andi resmi menjadi bapak tiri Arinda!

Radio Misteri

Rabu, 28 Oktober 2009

Cerpen Agustiyana

“Selamat malam, selamat jumpa lagi dengan saya, Melinda di Kisah Misteri radio kesayangan kita Mustang, 102,5 FM Jakarta. Kepada para sobat sekalian, apa kabar? Sudah seminggu tidak berjumpa pasti sudah menanti-nanti kisah-kisah apa lagi yang akan bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Baiklah langsung saja, ditangan saya sudah ada selembar surat yang datang dari Rani di Bogor. Begini ceritanya:

Saya Rani, siswi SMAN 1 Bogor. Di samping rumah saya ada rumah kontrakan milik orang tua saya. Biasanya jika keluar rumah, maka saya akan selalu melewatinya. Suatu siang ketika pulang sekolah, saya lewat di depan rumah tersebut dan saya melihat seorang bapak yang memang tinggal disana sedang menyapu halaman. Bapak itu menoleh pada saya dan tersenyum. Saya pun membalas senyumnya dan berlalu pergi. Sore harinya ibu memberitahu saya kalau bapak yang mengontrak pada kami itu meninggal tadi pagi akibat serangan jantung. Saya sangat terkejut. Tiba-tiba saya merinding. Lalu siapa yang saya sapa tadi siang? Ketika saya melewati rumah yang sudah kosong itu, saya merinding sekali. Sampai saat ini, saya tetap tidak tahu siapa yang saya alami siang itu…”

“Woi, Kinan, serius banget dengerinnya.” Dian menepuk pundakku membuatku terperanjat. Astagfirullah, lirihku.

Ku tatap dia tajam, dia cuma nyengir seraya duduk di atas tempat tidur. Tega sekali dia mengejutkanku seperti itu. Kupalingkan tatapanku kembali ke radio, ceritanya lagi seru.

“Aku heran sama kamu, ngakunya anak Rohis, pake jilbab lebar, rajin ngaji, tapi kok masih suka aja dengerin yang begituan.” Omel Dian.

Aku tak menggubrisnya. Sudah biasa. Paling-paling setelah itu dia tidur. Memang untuk kebiasaan yang satu ini dia paling antipati. Mungkin karena dia tidak suka dengan cerita horror. Katanya dia takut kalau-kalau nanti jika dia mendengar atau menonton film horror, ketakutannya pada hantu lebih besar dari ketakutannya pada Allah SWT. Bukankah itu sama saja dengan syirik. Ya, aku juga berfikiran yang sama, tapi aku orang yang tidak takut hal-hal seperti itu. Mungkin karena terbiasa di rumah dulu sering mendengar tawa-tawa aneh setiap malam dari pohon kecapi di dekat rumah. Kata ibu, itu suara salah satu setan, kuntilanak. Aku memang tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi itu bukan masalah. Toh aku tidak mengganggu mereka, jadi mereka pasti tidak akan menggangguku. Untuk mereka dunia mereka, untukku duniaku.

***

“Eh gimana semalam, seru-seru ya ceritanya!?”

Aku yang baru datang langsung nimbrung pada kerumunan teman-teman yang sehobi denganku.

“Iya, dari cerita pertama sampai yang terakhir benar-benar membuatku merinding.” Seru Mega seraya mengusap-usap lengannya.

“Aku paling suka sama cerita tukang nasi goreng di komplek perumahan itu lho.” Kata Tyas bersemangat.

“Iya..iya.. aku tahu, yang pembelinya itu gak balik-balik buat bayarkan. Yang pas dia samperin rumahnya ternyata rumah kosong. Padahal katanya dia ngeliat bener ada banyak orang di depan rumah itu.” Lanjut Indah.

Kami terus mengobrol hingga bel masuk berbunyi. Segera aku duduk di sebelah Dian. Pagi ini diawali dengan pelajaran Biologi Pak Burhan. Biasanya beliau akan telat sekitar 15 menit karena harus piket keliling sekolah dulu untuk mengecek barangkali masih ada anak yang berkeliaran di luar kelas.

“Kinan, kurasa daripada kamu asyik-asyikkan cerita seram kayak gitu, lebih baik kamu ajak mereka untuk diskusi tentang hal-hal seperti itu. Bukankah mbak Dewi pernah memberikan kita materi tentang hal-hal gaib dan bagaimana cara penyikapannya. Kurasa itu akan lebih bermanfaat untuk mereka ketimbang cuma saling cerita kayak tadi.” Dian menoleh padaku. Alisnya terangkat pertanda menunggu responku.

Aku tersenyum.

“Ya, kamu benar juga. Selama ini aku cuma ngeramein obrolan doang. Habis asyik sih. Tapi kalau semua jadi sia-sia kayaknya juga gak bagus. Akukan akan Rohis dan aku ngaji juga, makanya sudah seharusnya aku bagi-bagi ilmu sama yang lain, iyakan?!”

“Yup, bener banget. Kita coba untuk terus berbagi ilmu yang kita dapat. Bukankah Rasulullah saw juga mengajarkan bahwa sampaikanlah ilmu Allah walau hanya satu ayat.”

“Benar! Makasih ya Dian atas pengingatannya.”

“Sama-sama.”
Kami sama-sama tersenyum.

Aku beruntung bisa berteman dengan Dian. Sebenarnya kami baru kenal sejak penerimaan siswa baru satu setengah tahun yang lalu. Aku dan dia sama-sama dari daerah dan berniat untuk ngekos disini. Mungkin karena dia keturunan asli Solo, makanya sikapnya dalam menghadapi sesuatu selalu sabar dan lembut.

***

Malam ini aku sudah duduk di dekat satu-satunya hiburan kami di kamar yang berbentuk persegi panjang ini. Hanya ada satu tempat tidur di dekat jendela yang berselimutkan sepray warna biru, warna kesukaan kami serta dua bantal. Ada juga lemari kecil tempat kami menyimpan pakaian berhadapan dengan tempat tidur. Tepatnya di samping pintu. Kami juga memiliki meja belajar di samping tempat tidur yang tingginya hanya sampai pinggang kami.Buku-buku pelajaran tertata dengan baik disana. Jika kami sedang belajar, maka suasana luar akan terlihat jelas dan yang paling kami sukai adalah angin sore yang lembut memainkan tirai putih tipis yang menggantung menutupi jendela. Membuat suasana nyaman di kamar kami. Namun malam ini cuaca sedang mendung sehingga angin diluar berhembus dingin sekali. Jadi kami menutup rapat jendela itu.

Lima menit lagi jam sepuluh, artinya acara kesukaanku akan dimulai. Aku duduk dilantai bersender di tembok di samping meja belajar, karena hanya disana stop kontak itu menetap. Radio kuletakkan di atas kursi kecil di depan meja belajar agar aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Ku selonjorkan kakiku hingga masuk ke bawah tempat tidur. Karena kamarnya yang kecil sehingga kakiku pun harus rela berada di bawah tempat tidur.

“Selamat malam pendengar radio Mustang yang berbahagia, kembali hadir bersama Melinda di Kisah Misteri radio Mustang, 102,5 FM Jakarta. Wah, pendengar, banyak cerita-cerita menarik yang masuk ke redaksi Mustang. Kami harap cerita-cerita ini bisa menghibur kita semua di malam jum’at yang bertepatan dengan jum’at kliwon ini. Hiiiihhh… makin seram aja ya.” Seru penyiar Mustang itu semangat.

Dian sedang membaca novel di atas kasur. Dia tidak lagi celoteh atas hobiku ini, karena niatku sudah lurus.

Cerita-cerita dari Mustang kali ini sedikit lebih menyeramkan dari yang lalu. Ada saja orang yang mengalami hal-hal seperti itu. Tepat pukul 11, tiba-tiba saja suara penyiar yang sedang berkoar-koar tak terdengar dari radio. Ku ketuk-ketuk radionya, siapa tahu radioku rusak.

“Kamu ngapain sih Kin? Kenapa radionya dipukul-pukul seperti itu?”

Dian meletakkan novelnya di atas kasur dan mendekatiku.

“Aku gak tahu kenapa. Tiba-tiba saja suaranya gak ada. Apa radionya rusak ya?!”

Terus kuketuk pelan hingga suaranya muncul lagi.

“Alhamdulillah, dah bisa tuh.” Seruku senang.

Dian memanyunkan bibirnya melihat tingkahku. Dia melanjutkan lagi bacaannya, tapi bukan di atas kasur, tapi duduk di sebelahku.

Suara yang keluar dari radio itu begitu lemah. Bukan, bukan suara Melinda, sepertinya ada telepon yang masuk. Tapi dari siapa ya?. Ini pasti karena mati tadi, makanya aku gak tahu siapa yang telpon. Ku dekatkan telinga ke speaker radio agar bisa lebih jelas.

“Saya…saya…hiks…hiks…tolong saya. Saya sendirian disini. Pengap, bau. Saya tidak bisa menggerakkan badan saya. Saya takut sekali. Tolong saya…” suara itu begitu lirih. Sesekali terdengar sesegukannya. Kira-kira siapa wanita ini ya? Kenapa dia minta tolong?. Ku dengarkan lagi dengan seksama.

“Saya takut sekali. Tolong… saya tidak mau disini. Saya sendirian. Tangan saya tidak bisa digerakkan. Disini dingin. Tubuh saya beku. Tolong saya…”

Huusss… tiba-tiba saja angin dingin menyergapi badanku. Entah kenapa. Bulu kudukku berdiri semua. “Astaghfirullah, kenapa ini?” lirihku.

“Kenapa ya Kin, kok tiba-tiba udara jadi dingin gini? Aku merinding nih.” Kata Dian. Tatapannya berkeliling sambil merangkul lengannya.

Padahal jendela kamar ini tertutup rapat. Kipas angin juga tidak menyala, tapi kenapa rasanya dingin sekali. Aku kurang suka jika bulu kudukku merinding. Rasanya seperti…

“Aku juga gak tahu. Aku lagi asyik-asyik dengar orang yang lagi nelpon di radio, tapi tiba-tiba udara jadi dingin gini. Aku juga merinding banget. Tapi anehnya, yang nelpon kali ini malah minta tolong. Memangnya kenapa ya sama dia?”

“Walau tak fokus, samar-samar aku juga dengar suara di radio itu. Siapa sih dia?”

Aku menggeleng. Kembali kufokuskan telinga pada suara itu.

“Tolong…tolong saya. Sore tadi saya baru saja dari mall depok. Ketika saya berjalan pulang, tiba-tiba saja kepala saya dipukul dan saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tolong saya… saya tidak tahu ada dimana sekarang… disini pengap…pengap sekali…hiks… Dingin, dingin sekali… tolong saya, saya takut…hiks…saya takut sekali…”

Tiba-tiba suasana jadi sunyi sekali. Tak ada lagi suara yang muncul dari radio, tapi bulu kudukku masih berdiri. Ku coba untuk menahannya dengan berdzikir. Jantungku berdetak cepat. Tak lama suasana kembali seperti semula.

“Alhamdulillah, “dia” sudah pergi.” Kataku. Nafasku kembali lega.

“Maksudmu apa Kin? Dia siapa?” Tanya Dian bingung.

Ups, yang kumaksudkan ya “dia”, pokoknya yang membuat kami merinding tadilah. Tapi jika kuberitahu Dian, nanti dia jadi panik lagi.

Aku tersenyum. “Gak kok, gak apa-apa.” Ku fokuskan lagi pendengaranku ke suara yang tiba-tiba hilang itu. “Kenapa suaranya hilang lagi ya?” tanyaku mengalihkan perhatian. Kuketuk lagi radionya.

“Oya, masa sih.” Dian ikutan mengetuk radio itu. Tak lama ada suara lagi.

“Aneh ya, biasanya juga radio ini baik-baik saja, kenapa sekarang jadi gak bener gini?!” lanjut Dian.

“Aku gak tahu, tapi sekarangkan dah benar lagi.”

“Maaf sobat pendengar Kisah Misteri Radio Mustang. Ada sedikit kerusakan jaringan tadi sekitar 10 menit. Maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi kini kita bisa kembali melanjutkan acara kita. Sepertinya sudah ada telepon, baiklah bagi penelepon pertama ini, nanti kami akan putarkan lagu yang Anda suka. Hallo!!..”penyiar itu berkoar-koar lagi.

Aku jadi bingung. Kenapa penyiar itu bicara begitu? Lalu yang tadi apa??

***

Esoknya kelasku heboh, tidak maksudku kumpulan teman Kisah misteriku. Rupanya mereka juga bertanya-tanya sepertiku.

Aku mendekati mereka yang sedang berkumpul di luar kelas setelah meletakkan tas di bangku.

“Semalam aneh banget ya. Kok bisa begitu?” kata Tyas.

“Aku juga gak tahu. Tapi siapa sih yang nelpon? Aku gak dengar lho pas dia nyebutin nama. Radioku tiba-tiba rusak. Padahal baru saja kuganti yang baru.” Seru Indah.

“Jadi radiomu juga rusak, soalnya aku juga.” Kataku menambahkan.

Kami terus membahas kenapa bisa jadi aneh semalam tadi, sampai-sampai teman-temanku berakhir pada satu kesimpulan.

“Jangan-jangan dia hantu.” Celetuk Mega.

Kami semua menatapnya.

“Ah, gak mungkin, masa’ bisa begitu.” Sangkalku.

“Iya, aku juga berfikir begitu. Pasti itu hantu. Habis aku merinding banget semalam.” Kata Tyas menambahkan.

Suasana sedikit menegang. Ketika aku ingin menyangkal lagi, Indah sudah mendahuluiku yang membuat suasana jadi tidak terkendali.

“Iya, aku yakin itu pasti hantu. Omku yang penyiar itu pernah cerita kalau dia pernah dapat telpon serupa, setelah ditelusuri, penelponnya itu ternyata sudah meninggal dunia.” Jelasnya.

“Eh, jangan ambil kesimpulan seperti itu dulu dong.” Pintaku.

“Tapi semua petunjuk mengarah kesana Kinan. Sama seperti yang Omku ceritakan. Dia sangat merinding ketika menerima telepon tersebut.” Sengit Indah tak mau kalah.

“Ya tapikan…” aku ingin menjelaskan lagi, tapi sudah keburu dipotong oleh Tyas dengan ide bodohnya.

“Gimana kalau kita buktiin kebenarannya.” Seru Tyas.

“Maksudmu?” Tanya Indah.

“Maksudku, ntar pas pulang sekolah, kita jangan pulang dulu. Kita sembunyi dulu di kamar mandi atau dimana kek, yang pasti jangan sampai kita ketahuan masih disini. Habis itu kita kumpul lagi dikelas untuk memanggil cewek itu.” Bisik Tyas.

Aku terkejut. Aku sudah tahu maksud Tyas ini.

“Maksudmu kita main Jelangkung gitu?!” Tanya Mega menegaskan.

“Sssttt… Iya.” Tyas buru-buru membekap mulut Mega. Kepalanya celingukan takut-takut ada yang mendengar.

“Nggak, nggak boleh!! Kita gak boleh melakukan hal-hal seperti itu.” Tolakku tegas.

“Ah, kamu takut nih. Kamukan berjilbab, sering ngaji pula, masak sama yang beginian aja takut. Bukannya malah hantu takut sama kamu.”kata Tyas sinis.

“Astaghfirullah, ya Allah. Bukan begitu Tyas. Bukan masalah aku takut atau nggak. Tapi masalahnya jika kita melakukan hal seperti itu maka pasti bisa terjadi hal-hal yang gak kita inginkan. Kita gak boleh main-main sama hal-hal gaib seperti itu. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Kita hanya disuruh untuk meyakininya, bukan untuk menelusurinya. Akibatnya bisa sangat buruk apalagi jika ketahuan sama pihak sekolah.” Jelasku. Kuharap mereka mau mengubah pikiran mereka.

“Sudahlah Kinan, kalau kamu memang gak setuju, ya sudah gak usah ikut. Biar kita-kita saja yang melakukannya. Biar kita-kita saja yang menemukan kebenarannya.” Kata indah yang membuatku begitu terkejut.

Masya Allah, teman-temanku. “Tapi Indah…” kata-kataku terpotong oleh bel masuk. Mereka buru-buru masuk meninggalkanku sendiri.

Aku berjalan masuk ke kelas dengan lesu. Segera aku duduk di sebelah Dian.

“Ada apa Kinan?” Dian pasti ingin tahu kenapa aku jadi lesu.

Tidak boleh, aku tidak boleh membiarkannya begitu saja. Kuceritakan semuanya kepada Dian.

“Masya Allah, masa’ sih Kin?!” seru Dian tak percaya. “Kita harus menghentikannya. Gak boleh kita biarkan begitu saja.” Tambahnya.

“Iya, aku tahu. Nanti pulang sekolah, jangan pulang dulu ya. Kita lihat mereka dulu. Jika mereka masih nekat, baru kita bertindak.” Seruku mantap.

Ya Allah, jangan biarkan teman-temanku melakukan hal bodoh seperti itu. Lindungilah mereka, do’aku.

Seperti rencana kami tadi, aku dan Dian ikut-ikutan bersembunyi. Setelah sekolah benar-benar sepi, baru kami keluar. Kami mencari mereka di kelas kami, tapi mereka tidak ada. Kuharap mereka tidak jadi melaksanakan niat mereka, tapi lalu tiba-tiba Dian menarikku ke kelas yang ada di pojok sekolah. Kelas yang memang tertutup oleh pohon besar.

Perkiraanku meleset. Mereka tetap melaksanakan niatnya. Astagfirullah, apa yang mereka lakukan.

Aku dan Dian segera masuk ke kelas tersebut. Kami melihat Tyas, Indah, dan Mega yang berdiri di depan kelas dan melingkari sebuah meja. Suasana kelas yang sedikit gelap karena cahaya matahari yang sedikit masuk, ditambah waktu yang menunjukkan matahari akan segera tenggelam membuatku sedikit cemas. Ada selusup rasa takut yang bermain dihatiku. Dian menggenggam tanganku. Kurasa dia merasakan hal yang sama.

“Tyas, kamu apa-apaan sih. Ku kira kalian tidak jadi melakukannya.” Kataku sedikit berteriak.

Mereka tak menggubrisku. Dari mulut mereka keluar lafal-lafal yang aneh. Kulihat di atas meja yang mereka kelilingi ada selembar kertas dengan huruf-huruf abjad yang menghiasinya. Ada koin juga di atasnya dan ketiga jari mereka menempel di atas koin tersebut. Masya Allah, ini sudah syirik namanya.

“Indah, Mega, berhenti!” teriakku. Aku ingin mendekati mereka, tetapi ada rasa enggan menyelimuti kakiku. Rasanya tubuhku terpaku oleh rasa takutku sendiri.

Mereka terus melafalkan kalimat-kalimat itu. Tiba-tiba saja kulihat koinnya bergerak.

Genggaman Dian semakin erat. Kudengar dia berdo’a.

“Ya Allah, lindungilah kami. Jangan biarkan hal-hal yang tak mampu kami atasi terjadi pada kami.”

Hawa tiba-tiba jadi dingin. Sama seperti yang aku rasakan di kamar semalam. Apa yang sesungguhnya terjadi?. Selusup rasa takut itu masih saja menggelayuti hatiku. Bulu kudukku merinding. Rasanya perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang sangat tidak menyenangkan menyelimutiku.

“Tyas, aku tidak mau melanjutkannya. Tiba-tiba aku merinding dan aku takut sekali.” Lirih Mega. Wajahnya pucat. Jarinya masih menempel pada koin yang bergerak perlahan itu.

“Tapi kita sudah setengah jalan Mega. Sudahlah, beranikan dirimu!.” Bentak Tyas.

Indah dan Mega terkejut dengan bentakan Tyas.

“Aku juga gak mau ngelanjutinnya Tyas. Aku mau udahan aja.” Indah hampir melepaskan jarinya dari koin yang langsung dicegah Tyas.

“Indah, kamu apa-apaan sih! Jangan dilepas jarinya! Usaha kita hanya akan jadi percuma!” bentak Tyas lagi. Aku dan Dian ikutan terkejut.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba Tyas menegang dan pingsan.

“Astaghfirullah Tyas.” Teriakku. Keberanianku untuk bergerak muncul melihat temanku terkulai lemas seperti itu. Aku menghampirinya.

Indah dan Mega berangkulan. Mereka sangat pucat ketakutan. Dian memeriksa nadi Tyas, karena dia juga anak PMR.

“Nadinya pelan. Ayo kita harus mencoba untuk menyadarkannya. Kinan, coba tepuk-tepuk pipi Tyas. Indah, Mega, tolong kami, pijit-pijit tangan dan kaki Tyas. Mungkin saja ada aliran darah yang tidak lancar ke kepalanya. Aku akan mengangkat kakinya agar tidak sejajar dengan badan. Moga tak lama setelah ini Tyas bisa sadar.” Dian melepas sepatu dan kaus kaki Tyas.

Aku, Indah, dan Mega melakukan apa yang diminta Dian. Ku tepuk-tepuk pipinya Tyas seraya memanggil-manggil namanya. Memintanya beristighfar.

“Tyas, bangun Tyas, istighfar Yas. Astaghfirullahaladzim…” lirihku, tapi Tyas tak juga bangun.

“Dian, kenapa tangan Tyas jadi dingin begini? Apa kalau orang pingsan tubuhnya jadi dingin?” Tanya Indah.

“Iya, kakinya juga.” Tambah Mega.

“Tidak begitu. Meskipun dalam keadaan pingsan, suhu tubuh kita tetap tidak akan turun sedrastis ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Tyas.”

Aku terus mencoba menyadarkan Tyas sampai tiba-tiba kulihat dia tersenyum. Aneh sekali.

“Masya Allah.” Lirihku.

Tidak, tidak hanya tersenyum, Tyas juga tertawa, walaw tidak kencang. Padahal matanya masih terpejam. Tubuhnya menggeliat seperti orang yang memberontak. Indah dan Mega ketakutan. Mereka menjauh dari tubuh Tyas yang meronta. Aku memegangi pundaknya erat, sedang Dian memegangi kaki Tyas.

“Kinan, kurasa sesuatu terjadi pada Tyas. Kurasa dia kesurupan.” Kata Dian panik.

“Masya Allah. Tyas. Dian, pegangi kaki Tyas. Tekan jempol kakinya kuat-kuat. Jangan lupa terus membaca ayat kursi atau surat Al-Fatihah. Indah, Mega, bantu kami. Tolong kalian bantu pegangi Tyas. Tapi jangan lupa untuk terus baca ayat kursi atau Al-Fatihah atau surat apapun yang kalian hapal. Pokoknya jangan sampai hati kalian kosong.”pintaku.

Masya Allah Tyas. Kenapa bisa begini?. Aku terus memegangi pundak Tyas yang terus meronta. Dia berteriak-teriak dan terus memberontak. Tawanya begitu mengerikan. Aku tak suka mendengarnya. Membuatku sungguh takut.

“Ya, Allah, tolonglah kami. Tolonglah teman kami ini.” Lirihku.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Pengetahuanku terbatas untuk hal-hal seperti ini.

“Kinan, kurasa kita gak akan bisa mengatasinya sendirian. Kita harus memanggil orang lain. Biar ku panggil Pak Ali agar membantu kita.” Usul Dian. Dia terlihat sangat kepayahan memegangi kaki Tyas.

“Iya, kamu benar. Cepat panggil Pak Ali.” Pintaku.

“Mega, tolong gantikan posisiku. Tolong kamu tekan keras-keras jempol kaki Tyas. Jangan sampai lepas dan jangan pernah berhenti untuk berdzikir setakut apapun dirimu. Aku akan memanggil Pak Ali dulu.” Pinta Dian.

Mega langsung menggantikan posisi Dian. Walaw kulihat dia sangat takut, tapi aku sangat bangga padanya karena dia bisa bertindak cukup tenang dalam kondisi seperti ini. Indah juga. Dian segera keluar untuk mencari pak Ali.

“Tyas, kenapa jadi begini sih? Sadar dong Yas!” Indah menangis. Kulihat Mega juga hampir menangis.

“Indah, Mega, kita gak boleh lemah. Kita gak boleh nangis. Kita harus kuat. Insyaallah Tyas tidak akan kenapa-kenapa. Kita harus terus mendoakan kebaikan untuknya.” Padahal aku juga tak setegar mereka, tapi jika aku menunjukkan kelemahanku saat ini, maka siapa lagi yang akan menguatkan kami.

Tak lama Pak Ali, penjaga sekolah kami dan Dian datang bersamaan. Kulihat raut wajah beliau sangat cemas. Wajah keduanya basah, kurasa mereka sudah berwudhu.

“Kinan, kamu ganti posisi dengan Dian. Dia sudah berwudhu. Biar dia saja yang membantu bapak. Kamu wudhu dulu bergantian dengan temanmu yang lain. Ayo cepat.” Perintah Pak Ali.

Aku segera bertukaran posisi dengan Dian. Pak Ali memakai sarung tangan dan memegangi kepala Tyas. Beliau membacakan ayat-ayat Al-qur’an untuk membuat Tyas sadar. Tyas semakin memberontak. Aku segera keluar untuk berwudhu. Setelah itu aku langsung bergabung lagi dengan mereka dan bergantian dengan Indah dan Mega untuk berwudhu juga dan kembali kemari.

Tyas terus memberontak. Dia berteriak kesakitan. Aku tak tega melihatnya, tapi harus bagaimana lagi. Alhamdulillah sepuluh menit kemudian tubuh Tyas melemas dan dia kembali pingsan.

“Sekarang Insyaallah dia sudah tidak apa-apa. Tapi bapak rasa kalian harus siap-siap untuk menjelaskan semua ini di depan kepala sekolah. Tadi bapak meminta istri bapak untuk menghubungi Pak Yanto.” Jela Pak Ali. Wajahnya berkeringat. Beliau tampak kelelahan. Beliau pun duduk di kursi guru.

“Alhamdulillah” lirihku.

Kulihat wajah Dian, Indah, dan Mega terlihat tenang. Kami sama-sama terduduk lemas. Bukan hanya karena lelah memegangi tubuh Tyas, tetapi juga karena melawan rasa takut yang kuat menyelusup ke hati kami. Tapi Alhamdulillah rasa takut itu berangsur menghilang.

Tak lama Tyas sadar. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi. Kenapa kami terlihat sangat kelelahan. Tapi kami semua bungkam. Kami tak ingin membuatnya khawatir karena kejadian tadi.

“Tidak apa-apa Tyas. Tadi cuma ada sedikit masalah dan kamu pingsan. Sudah, kamu istirahat saja dulu.” Kataku menenangkan.

Indah memegang tanganku. “Kinan, maafkan kami ya. Ini semua salah kami. Padahal kamu telah memperingatkan kami. Jika saja kami menurutimu, maka semua ini tidak akan terjadi.” Dia terlihat sangat merasa bersalah.

“Iya Kinan. Terima kasih ya sudah datang kemari. Terima kasih juga Dian. Jika kalian tidak ada tadi, kami tidak tahu harus bagaimana. Maafkan kami ya.” sesal Mega.

“Sudahlah, tak apa. bukankah kini semua sudah beres. Walaw kita masih harus menghadapi kepala sekolah dan bersiap menerima hukuman, tapi semua sudah berakhir sekarang dan pasti kini kita sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak bukan?!” jelas Dian seraya tersenyum.

Kami bertiga mengangguk meng-iyakan.

Tak lama Pak Yanto datang beserta supir Tyas yang mengantarkannya pulang. Kami berempat menjelaskan sejelas-jelasnya dan akhirnya Pak Yanto menghukum kami dengan menskors kami sehari serta menyuruh kami menulis surat penyesalan.

Sesungguhnya Allah menciptakan kedua dunia ini dengan maksud yang hanya Dia yang tahu. Kita sebagai manusia seharusnya tidak melanggar batas-batas yang sudah Dia tentukan. Itulah kata-kata Dian untuk mewakili apa yang terjadi pada kami. Setelah itu, aku, Indah, Mega, dan Tyas tidak lagi mendengarkan radio misteri itu. Kami masih belum siap jika suatu hari nanti harus menghadapi hal-hal yang seperti itu lagi. Biarlah semuanya hanya menjadi misteri Ilahi dan kita sebagai manusia cukup hanya mengimaninya sesuai apa yang diperintahkanNya.