profil flp depok

keceriaan

ketekunan

kebersamaan
FLP Depok Menerima Anggota Baru Angkatan VIII # mau bergabung klik Form Pendaftaran
Tampilkan postingan dengan label NOVEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NOVEL. Tampilkan semua postingan

Misteri Rumah Hantu (episode#04)

Kamis, 10 September 2009

Gara-gara Ketiduran di Masjid

 

Selasai makan sahur di rumahnya masing-masing, Amien, Adji dan Ody pergi ke masjid bersama-sama. Mereka memang selalu salat Subuh berjamaah di masjid Al-Kautsar. Tapi biasanya, selesai salat mereka langsung pulang ke rumah, nerusin bobo, baru bangun kalau pas mau berangkat ke sekolah. Kecuali hari minggu. Soalnya, kalau hari minggu ada tausiah yang disampaikan oleh seorang ustadz.

Adji dan Ody duduk saling bersandar. Sekali-sekali kepala mereka melangut ke depan atau ke samping. Keduanya keliatan sangat mengantuk. Hanya Amien saja yang nampaknya tekun mendengarkan ceramah yang digelar sehabis salat Subuh itu.

Hari sudah mulai terang waktu pak ustadz yang ngasih tausiah turun dari mimbar. Amien tersenyum-senyum melihat kedua sahabatnya sudah terkapar dengan kedua mata terpejam. Mereka tertidur pulas! 

Amien mengguncang-guncang tubuh Adji dan Ody. Tapi keduanya nggak bergeming sama sekali dari posisi tidurnya yang ngelungker mirip uler melinger di atas pager. Amien lalu menepuk-nepuk pipinya Adji. Berhasil! Mata Adji terbuka. Tapi... bocah keling itu kembali memejamkan matanya. Ody ganti menepuk-nepuk pipinya si Ody. Tapi hasilnya sama saja. Anak itu malah sama sekali gak mau ngebuka matanya.

“Duh... pada susah amat sih dibanguninnya!” Amien keki. Tapi dia nggak kehabisan akal. Buru-buru dia pergi ke tempat wudu. Diambilnya segayung air. Lalu kembali ke dalam masjid.

“Hehehe... dengan ini mereka berdua pasti bangun.”

Amien mencelupkan telapak tangannya ke dalam gayung berisi air. Lalu dia kepretkan ke wajah Adji dan Ody bergantian. Adji hanya mengusap wajahnya yang basah tanpa membuka mata. Sedang si Ody, akhirnya tuh anak mau juga ngebuka matanya setelah 3 kali Amien mencepretkan air ke wajahnya. Anak itu bangkit dari tidur. Membenarkan letak kaca matanya yang basah.

“Gerimis ya?”

“Iya. Gerimis lokal,” jawab Amien sambil menunjukkan gayung berisi air di tangannya.

“Huh!” Ody sewot, “iseng banget sih!”

“Habis, bukannya pada dengerin ceramah, eh... malah pada molor!”

Ody kembali merebahkan tubuhnya di karpet hijau itu.

“Eh, mau ngapain lagi?”

“Kalau ceramahnya sudah selesai, bangunin aku ya? Tar kamu ceritain saja ceramahnya ke aku.”

“Ceramah apaan? Sudah selesai dari tadi tau!”

Ody melihat ke sekeliling. Hanya tinggal mereka bertiga saja yang ada di dalam masjid itu.

“Kenapa gak bilang dari tadi kalau ceramahnya sudah selesai?”

Amien misuh-misuh. Kalau gak ingat lagi puasa, sudah digatak jidatnya Ody yang nong-nong.

“Kita pulang yuk!” ajak Amien.

“Si Adji gimana?”

Amien menepuk jidatnya. Dia kelupaan kalau temannya yang paling jago molor itu belum juga bangun dari tidurnya.

“Gimana nih?”

Ody belagak mikir. Tak berapa lama. “Aku tau!”

“Apa?”

“Guyur saja pake air seember!”

“Hah? Sadis amat. Tar karpet masjidnya pada basah semua! Cari yang lain dong.”

“Hmm... kita tinggalin saja, gimana?”

Amien senyum-senyum mendengar usul Ody. Tumben banget tuh anak punya ide jail. Biasanya, dia yang sering jadi bulan-bulanan si Adji. Pernah suatu ketika, Adji ngumpetin kaca matanya Ody. Akibatnya, seharian Amien harus jadi penunjuk arah, persis orang yang menuntun pengemis buta.

“Cabut, yuk!”

Amien dan Ody beranjak tanpa menimbulkan suara sedikit pun, meninggalkan Adji yang suara ngoroknya sudah saingan sama knalpot-knalpot kendaraan yang berseliweran di jalan depan masjid. Sampai di luar masjid, mereka berdua tertawa cekikikan, membayangkan Adji yang bakal kebingungan mencari-cari mereka pas bagun tidur nanti.

***

Siang itu cuaca memang agak sedikit mendung, setelah puas main game di komputernya si Ody, Amien dan Ody pergi nyamper Adji ke rumahnya. Mereka mau ngajakin Adji salat Zuhur berjamaah di masjid. Tapi waktu mereka tiba di sana, ternyata si Adji nggak ada di rumah.


“Bukannya pergi sama kalian?” ibunya Adji malah balik bertanya.

“Nggak kok, Bu,” jawab Amien, “dari tadi kita berdua gak ngeliat Adji.”

“Emangnya Adji nggak bilang mau pergi ke mana?”

“Ke masjid.”

“Ke masjid?”

“Iya, dari Subuh tadi dia belum kembali.”

“Hah?!?” Amien dan Ody saling berpandangan. Lalu keduanya sama-sama berucap, “Jangan-jangan...”

Amien dan Ody lalu pamit sama ibunya Adji mau ke masjid.

Di tempat lain, Bang Fadil, marbot masjid Al-kautsar yang biasa jadi muadzin geleng-geleng kepala, waktu melihat ada seorang anak laki-laki yang asyik mendengkur sendiri di dalam masjid. Bang Fadil tersenyum. Sebelum mengambil mikrofon untuk kemudian mengumandangkan azan dengan suaranya yang serek-serek becek.

Mendengar suara azan berkumandang, kontan saja si Adji langsung bangkit dari tidurnya. Ngusap ilernya yang berleleran di pipinya. Dia melihat ke arah luar. Wah, sudah azan saja! Batinnya. Mendung memang bikin Adji sulit membedakan hari, masih siang apa sudah sore. Dia berlari ke rumahnya dengan semangat empat lima. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Amien dan Ody.

“Eh, kalian sudah mau berangkat ke masjid ya?”

“Iya.”

“Aku pulang dulu sebentar, nanti nyusul! Aku belum batalin puasa.”  

Amien dan Ody berpandangan heran. “Batalin puasa?” ucap mereka hampir bersamaan.

“Tapi, Dji...” belum sempat Amien menyelesaikan ucapannya, Adji sudah keburu lepas landas, berlari meninggalkan keduanya. Amien dan Ody segera mengejarnya sambil terus manggil-manggil Adji. Tapi Adji larinya cepet banget. 

“Assalamu alaikum!” ucap Adji, sebelum tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. 

“Kamu dari mana saja, Dji? Tadi dicariin sama teman-temanmu.”

“Iya, tadi juga ketemu di jalan,” kata Adji sambil terus berlari ke ruang makan. Mambuka kulkas. Membaca doa berbuka puasa, terus menenggak air langsung dari botolnya. Glek... glek... glek... “Alhamdulillah!”

“Kamu nggak puasa?” tanya ibunya heran melihat Adji minum.

“Puasa dong, Bu.”

“Tapi kenapa minum?”

“Lho, tadi kan sudah azan. Memang ibu nggak dengar ya?””

“Ibu juga tau kalau tadi sudah azan. Tapi tadi itu azan Zuhur, bukannya azan magrib!” terang ibunya.

“Hah????”

Pada saat yang bersamaan Amien dan Ody tiba di rumah Adji dengan napas tersengal-sengal.

“Jangan batalain dulu puasanya, Dji!” kata Amien.

“Sekarang belum magrib!” timpal Ody.

“Huaaaaaa... terlambat! Aku sudah minum!”

Mendengar itu Amien dan Ody jadi tertawa terpingkal-pingkal.

“Huh,” Adji merengut, “bukannya pada prihatin, malah ngetawain! Lagi kenapa sih, kalian ninggalin aku sendirian di masjid?”

“Siapa suruh tidur kayak kebo!”

Misteri Rumah Hantu (episode#02)

Novel Denny Prabowo & Dhinny el Fazila

Dompet

Hari kedua di bulan ramadhan, Adji, Amien dan Ody berniat mengunjungi toko buku terbesar di Kota Depok yang berada di jalan Margonda Raya, setelah kemarin gak jadi pergi gara-gara si Adji kekunci di kamar mandi. Mereka bermaksud menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku-buku yang dijual di tempat itu. Sampai waktu magrib tiba.


Adji, anak kedua yang punya hobi kemping, paling gemar membaca buku-buku seri petualangan dan komik-komik detektif. Bocah tinggi kurus itu bercita-cita menjadi seorang tentara seperti ayahnya. 

Sementara Amien, bungsu dari sembilan bersaudara yang sering dijuluki ‘Pak Ustadz’ oleh kedua sahabatnya itu, paling suka membaca buku-buku agama. Bapaknya seorang guru agama di sebuah SMUN ternama di Kota Depok. Jadi nggak heran kalau pengetahuan agamanya di atas rata-rata anak-anak seusianya. 

Sedangkan Ody, anak pertama sekaligus terakhir yang nggak pernah melihat bapaknya sejak dilahirkan ke dunia itu doyan banget melahap bacaan-bacaan yang berhubungan dengan komputer. Sejak masih duduk di bangku kelas satu SD, dia sudah akrab sama yang namanya komputer (sampai-sampai dikiraiin kembarannya komputer). Hobinya nongkrong di depan komputer sampai berjam-jam, membuat dia harus menggunakan kaca mata.

“Kiri, Bang!”

Sopir angkot menghentikan laju kendaraannya di depan toko buku Gramedia. Ketiga sahabat itu melompat turun. Melihat kanan-kiri sebelum menyeberang jalan. Di depan pintu masuk Gramedia, kaki Amien menendang sebuah benda berbentuk segi empat, berwarna hitam pekat, yang terbuat dari bahan kulit.

“Dompet!” Amien memungutnya.

Kebetulan gak banyak orang yang lewat di situ. Jadi gak ada yang ngeliat waktu Amien memungut dompet yang lumayang tebal itu.

“Punya siapa, ya?” gumam Amien.

“Alaaa… nggak perlu tau siapa yang punya. Kita ambil saja uangnya. Terus dompetnya kita buang ke tong sampah. Lumayan buat beli komik baru,” ujar Adji.

“Iya, Mien. Buka puasa nanti kita bisa mampir ke KFC. Kita puas-puasin makan ayam goreng di sana!” timpal Ody.

“Enak saja. Dompet ini bukan hak kita. Haram hukumnya mengambil barang yang bukan hak kita!”

“Dompetnya tebal. Uangnya pasti banyak. Jadi nggak pengaruh kalau kita ambil selembar saja.”

“Selambar atau dua lembar dosanya sama saja. Kalian mau masuk neraka?”

“Terus harus kita apain, dong?”

“Kita kembaliin.”

“Ke mana?”

“Di dalam dompet ini pasti ada KTP-nya. Kita bisa liat alamat pemiliknya di sana.”

“Ngapain sih, repot-repot ngembaliin dompet itu?” kata Adji, “Kita titipin saja ke Pak Satpam. Bereskan?”

“Kalau kebetulan Pak Satpam yang ketitipan dompet ini jujur… kalau nggak? Gimana?”

“Jadi?”

“Kita harus mengembalikan dompet ini langsung ke pemiliknya,” ujar Amien.

“Lalu acara baca-baca kita gimana?” protes Ody.

“Besok-besok kita bisa kembali lagi ke sini, liburan kita kan masih ada beberapa hari lagi,” kata Amien lagi.

“Iya, deh Pak Ustadz…” Adji dan Ody tak lagi membantah.

Amien mengambil KTP dari dalam dompet itu. Dia sama sekali nggak tergiur ngeliat lembar-lembar lima puluh ribuan di dalam dompet itu. Kalau diliat dari ATM yang berjumlah tiga dari Bank yang berlainan, dan dua buah kartu kredit, pasti pemiliknya orang kaya, batin Amien. Amien meneliti alamat pemilik yang tertera di KTP-nya.

“Kompleks Permata Hijau, jalan Lestari Raya no 23 blok B IV.”

“Di mana, tuh?”

“Di… Sawangan!”

“Aku tau tempat itu!” seru Ody, “Sepupuku ada yang tinggal di sana.”

“Di Permata Hijau?”

“Bukan. Tapi di desa Pasir Putih, Sawangan.”

“Kalau gitu kamu tau dong letak kompleks Permata Hijau?”

Ody menggelengkan kepala.

“Daripada nanti kita nyasar, mending kita tungguin saja di sini. Nanti kalau dia sadar kehilangan dompet, pasti dia bakalan balik lagi ke sini,” ujar Adji.

“Ada benarnya juga, sih… ya sudah, kita tungguin sampai ba’da Ashar nanti. Kalau orangnya nggak datang juga, kita cari saja alamatnya!” putus Amien.

“Setuju!”

Waktu terus berputar. Banyak orang yang lalu-lalang di tempat itu. Tapi nggak seorang pun yang ngerasa kehilangan dompetnya. Sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar di kejauhan. Ketiga sahabat itu beranjak dari tempatnya menunggu. Mereka turun ke basement. Di area perkir mobil itu ada sebuah ruang kecil untuk karyawan atau pengunjung yang mau menunaikan ibadah lima waktu.

“Dy, kamu tau ‘kan angkot yang ke Sawangan?” tanya Amien seusai menunaikan salat Ashar.

“Tau. D 03.”

“Tapi kita nggak tau alamat persisnya, Mien,” kata Adji.

“Kita bisa tanya sama Pak Sopir. Mereka pasti tau.”

“Oke, deh! Kalau gitu kita harus berangkat sekarang biar nggak kesorean,” kata Aji lagi.

Ketiga sahabat yang sudah berteman sejak masih di bangku kelas satu itu melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan.

***

Angkot D 03 yang mereka tumpangi berhenti.

“Di sini tempatnya, Bang?” tanya Amien.

“Iya. Nanti tanya saja sama orang.”

Adji, Amien dan Ody melompat turun dari angkot. Mata mereka berkeliling, mencari orang untuk ditanyai.

“Tuh ada satpam!” Ody menunjuk seorang pria berusia tiga puluh lima tahunan yang baru saja turun dari angkot. “Kita tanyain saja dia. Siapa tau dia satpam kompleks Permata Hijau.”

Ketiganya berlari-lari tergesa menghampiri satpam yang langsung pasang muka manis. Asli jayus banget!

“Ada apa adik-adik? Mau minta tanda tangan sama Abang, ya? Kebetulan nih, Abang baru saja pulang dari lokasi suting.”

Adji, Amien dan Ody saling berpandangan. Ketiganya mati-matian menahan tawa. Takut nanti satpam yang kege’eran itu bakalan tersinggung dan nggak mau menjawab pertanyaan mereka.

“Begini lho, Pak Satpam yang keren abis,” puji Adji, satpam itu langsung pasang aksi. Gayanya dimirip-miripin sama Arnold waktu main di film Terminator. “Kita bertiga, anak-anak yang manis ini, mau tanya, apa Pak satpam yang keren tau kompleks Permata Hijau?”

“Oo…” ucap satpam itu agak kecewa, “Tuh, di seberang sana. Kira-kira 100 meteran dari jalan raya,” tunjuknya males-malesan. Kemudian melangkah kaki kecewa.

Sepeninggal satpam itu, Aji, Odi dan Amien ketawa terpingkal-pingkal. Gaya satpam yang ngerasa kayak artis sinetron tadi itu bener-bener norak abis! Sebenarnya nggak bagus sih ngetawain orang. Apalagi saat sedang berpuasa. Tapi mau gimana lagi… lucu banget sih!

Seorang satpam Permata Hijau menahan langkah mereka saat hendak melintas di depan gerbang masuk kompleks itu.

“Mau ke mana adik-adik?” tanya satpam itu ramah. Yang satu ini cukup menunjukan wibawanya. Nggak pakai bertingkah seperti artis sinetron segala.

Amien mengeluarkan KTP pemilik dompet hitam yang mereka temukan di depan pintu masuk Gramedia.

“Rumahnya Pak Marja. Di blok B IV.”

“Ada keperluan apa?”

“Kami mau mengembalikan KTP-nya yang tertinggal di toko buku.”

Satpam yang ramah itu kemudian mempersilakan mereka lewat.

Setelah berputar-putar mencari rumah Pak Marja, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah megah. Pagar rumah itu sangat tinggi.

“Alamatnya betul, Mien?” tanya Adji.

“Betul. Ini rumahnya!” katanya yakin sekali.

Adji menekan bel yang menempel di pagar rumah besar itu. Berkali-kali. Tapi tak juga ada yang keluar. Sepertinya bel itu rusak. Gak ada suaranya.

“Gimana?” Adji putus asa.

Ody ngeliat pintu kecil di samping gerbang rumah besar itu sedikit terbuka.

“Kita masuk saja, yuk!” usul Ody.

“Nggak sopan, ah.” Amien nggak setuju.

“Jadi, kita harus nunggu sampai orang itu keluar? Keburu magrib, Mien!” ujar Adji.

“Iya. Kita masuk saja!” timpal Ody.

“Oke deh.” Akhirnya Amien setuju juga.

Pekarangan rumah itu sangat luas. Rumput hijau bak permadani dari Turki. Bermacam tumbuhan yang berwarna-warni menyejukkan, melindungi rumah itu dari sengatan sinar matahari. 

“Sepi banget…,” gumam Ody.

“Mungkin lagi di belakang?”

“Kita ke belakang saja, yuk!”

Tapi belum lagi mereka melangkahkan kaki ke pekarangan belakang rumah besar itu, tiba-tiba…

“Guk… guk… guk… guk…!”

Seekor anjing dobermen berlari ke arah mereka memamerkan taring tajamnya yang berliur.

“Laaarrrriiiiiii…!!!”

Ketiga sahabat itu lari lintang-pukang. Untung saja anjing yang besarnya lebih besar dari seekor kambing itu nggak ngejar sampai ke luar pager karena lehernya di rantai.

“Alhamdulillah!” ucap Amien.

“Selamat… selamat…” Ody mengelus dada.

“Kurang ajar tuh anjing! Dasar binatang! Nggak punya pikiran kali ya?!” maki Adji, “Nggak tau apa kalau kita-kita mau mengembalikan dompet milik majikannya?!”

Mendengar makian Adji, kedua sahabatnya saling berpandangan. Lalu keduanya ketawa ngakak. Orang kalau lagi panik memang suka aneh-aneh. Masa’ anjing disuruh mikir?

“Kita pulang, yuk?” usul Amien, “Sebentar lagi sudah mau magrib.”

“Terus gimana dengan dompetnya?” tanya Ody.

“Dompet?” Amien meraba-raba saku bajunya. Dompet itu sudah nggak ada. “Wah… ke mana ya dompetnya?”

“Mungkin terjatuh waktu dikejar-kejar anjing nggak punya pikiran itu?” kata Adji masih dengan nada sewot.

“Kalau begitu, kebetulan. Jadi kita nggak perlu repot-repot mengembalikan dompet itu. Aku males kalau harus ketemu sama dobermen itu!” kata Ody.

Terkadang berbuat baik itu memang gak mudah. Tapi nggak ada salahnya mencoba. Yang penting sudah berusaha. Hasilnya serahkan saja pada Yang Mahakuasa.

Amien, Adji dan Ody melangkah ringan meninggalkan rumah besar itu. Tapi baru beberapa meter mereka melangkah, kaki Amien lagi-lagi menendang sesuatu. Sebuah benda persegi empat berwarna biru muda tergolek di aspal jalanan.

“Dompet?”

Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Lalu ketiganya tertawa terbahak-bahak teringat dengan kejadian yang baru saja mereka alami: dikejar-kejar anjing!

Di kejauhan, sayup terdengan adzan Magrib menggema.

“Magrib!”

“Alhamdulillah!”

“Kita cari musala dulu, yuk!”

“Siiip!”

Ketiganya melangkahkan kaki sambil berangkulan, dan membiarkan dompet biru muda itu tergolek di aspal sendirian. Mudah-mudahan ada orang jujur yang menemukannya, dan mau ngembaliin dompet itu ke pemiliknya.

Baca cerita selanjutnya

Misteri Rumah Hantu (episode#03)

Novel Denny Prabowo dan Dhinny el Fazila

Misteri Rumah Hantu

Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. 

Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya. Sudah banyak cerita-cerita yang beredar di lingkungan sekitar rumah itu. Adji sendiri gak berapa tau sejarah rumah itu. Saat dia dilahirkan, rumah itu sudah ada. Dan sudah gak berpenghuni.

“Jadi gak ada yang tau ke mana orang-orang yang dulu tinggal di tempat itu?” tanya Ody penasaran. Adji menggelengkan kepala.

“Pokonya, tempat itu syerem banget deh!”

“Banyak hantunya?”

“Iya.”

“Tapi hantu itu kan gak ada.”

“Kata siapa?”

“Kata bapakku. Hantu itu cuma perasaan.” 

“Tapi banyak orang yang pernah ngalamin kejadian-kejadian aneh di tempat itu.”

“Kalau itu mah, jin kafir yang memang bisa ngerubah wujud jadi apa saja, kecuali jadi Nabi Muhammad. Namanya jin Qorin!” 

“Jadi gak ada ya yang namanya arwah penasaran?”

“Ya, gak ada. Cuma Allah saja yang tau di mana arwah orang yang sudah meninggal.”

“Emangnya kamu pernah liat, Dji?” tanya Ody.

“Liat sendiri sih, belum,” lanjut Adji, “tapi waktu itu ada orang yang pesan sate dari rumah itu, terus waktu pesanannya sudah selesai, orang itu gak muncul-muncul! Abang aku sendiri yang menyaksikan tukang sate itu kebingungan.”

“Lho, harusnya kan tukang sate itu tau kalau rumah itu kosong?”

“Di situ letak keanehannya. Malam itu, si tukang sate ngeliat rumah itu terang-benderang. Dan banyak orang. Jadi dia pikir rumah kosong itu sudah ada yang nempatin.”

“Hiiiyyy...!” Ody merinding mendengar cerita Adji.

“Kalian jadi nginep di rumah aku kan?” tanya Adji.

“Emangnya orangtua kamu ke mana?” Amien balik tanya.

“Mereka pergi ke rumah nenekku yang tinggal di Bogor.”

“kakak kamu?” tanya Ody.

“Dia ada acara di sekolahnya. Ikutan pesantren kilat.”

“Wah, kakak kamu berani banget!” kata Ody, “Apa gak takut gosong kesaber kilat?”

Adji sama Amien tertawa mendengar oecehan Ody barusan.

“Ody, Ody... yang namanya pesantren kilat itu, maksudnya waktu pelaksanaannya cepat, hanya selama bulan ramadhan berlangsung saja,” terang Adji.

“Oh, gitu...”

“Nanti deh, aku minta ijin sama bapakku,” janji Amien.

“Kamu ikut nginep juga kan, Dy?” tanya Adji.

“Aku takut, ah...” ujar Ody.

“sekarang kan bulan ramadhan,” timpal Amien.

“Terus kalau bulan ramadhan kenapa emangnya?” tanya Ody.

“Selama bulan ramadhan, syetan di rantai di neraka sama Allah,” terang Amien.

“Kamu penakut banget sih, Dy!” ucap Adji.

“Iya, deh... iya,” kata Ody akhirnya, “nanti aku ngomong dulu sama mamaku...”

“Gitu dong!” Adji menepuk pundak Ody keras, sampai kaca mata anak itu terjatuh. Ody misuh-misuh. Coba balas menepuk pundak Adji. Tapi Adji cukup sigap berkelit.

Khotib naik ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramah sebelum salat tarawih dilaksanakan. Amien memberi isyarat pada kedua temannya untuk tenang dan mendengarkan ceramah yang akan disampaikan khotib. Ketiganya sudah bersiap dengan buku catatan mereka masing-masing. Mereka medapat tugas dari sekolah untuk mencatat isi ceramah selam bulan ramadhan, dan minta tanda tangan dari penceramahnya.

***

Rumah besar itu tampak berdiri sunyi, diapit rumah-rumah lainnya. Gelap. Hanya bagian terasnya saja yang tersiram cahaya, dari lampu jalanan, yang dipasang di depan rumah Adji. Dari jendela kamar Adji, yang terletak di bagian depan rumahnya, rumah besar itu tampak jelas sekali.

“Kamu kok berani banget, Dji?” kata Ody sambil melirik rumah besar dari jendela kamar Adji, “Apa gak takut kalau-kalau hantu itu ngintipin kamar kamu?”

“Hmm... sebenarnya sih takut, tapi... malu dong! Masa anak laki penakut?”

“Lagian, memang syetan gak perlu ditakutin!” timpal Amien, yang sedari tadi asyik rebahan di tempat tidur Adji.

“Dji, buka sahur nanti kita makan apaan?” tanya Ody.

“Kalian tenang saja, ibuku sudah nyiapin buat makan sahur kita kok.”

“Siiip dah!”

Tiba-tiba hidung mereka mengendus sesuatu.

“Kayak bau...”

“Kemenyan!”

Adji sama Ody langsung lompak ke tempat tidur, menyusul Amien yang memang sudah dari tadi rebahan di sana. “Kalian apa-apaan, sih?” Amien sewot.

“Masa kamu gak nyium, Mien?” Adji heran.

Amien kemudian mengendusi udara. Dia juga mencium bau yang sangat menusuk hidungnya. Bau kemenyan! Kata orang-orang, kalau bau kemenyan, itu tandanya bakalan ada syetan!

“Gimana, nih?” Ody merinding, “Aku pulang saja ya?”

“Yah... kamu gak solider banget sih sama teman!” Adji kesel.

Tiba-tiba mata Adji menangkap sesosok tubuh di atap rumah kosong itu.

“Dy...Mien...” Adji ngomong dengan tampang ketakutan. Ody yang memang penakut jadi tambah ketakutan

“Ap..apaan sih Dji? Jangan...nakutin gitu dong,” Ody makin ketakutan.

“Itu...itu...” Adji menunjuk bayangan sesosok tubuh di atap kosong rumah itu.

“Mana sih?” Amien mencari-cari bayangan yang dimaksud Adji. Ody sudah dari tadi mendekap kepalanya dengan bantal. Dia nggak berani lihat.

Amien berusaha mengamati bayangan itu lebih detail. Sebenarnya dia agak takut juga. Tapi karena dia yakin hantu itu nggak ada, jadinya dia malah penasaran.

“Dji, kamu punya senter nggak?” tanya Amien penasaran karena bayangan itu nggak pindah-pindah dari atas atap.

“Mau ngapain Mien?” Adji balik nanya sambil mengambil senter di laci mejanya. Lalu memberikannya pada Amien. Amien mengambil senter itu dari tangan Adji, kemudian menyalakannya dan mengarahkannya ke atap rumah kosong itu dari jendela kamar Adji.

Terang saja Adji jadi ketakutan. “Mien, Jangan! Nanti hantunya, eh jinnya, liat kita di sini!” Sedang Ody bukan ketakutan lagi. Dia nggak berani buka kepalanya dari bantal.

Setelah merasa dirinya di senter, sosok hitam di atas atap itu kaget dan kabur.

Amien dan Adji bernafas lega. Tak lama mereka seperti mencium sesuatu. 

“Ehm...kayak...bau pesing,” kata Adji.

“Iya nih,” Amien mengendus-endus. Saat berbalik, mereka berdua mendapati Ody sudah ngompol. Amien tertawa.

“Ody...!!” Teriak Adji. Soalnya itu berarti dia harus ngepel kamarnya dari pipis Ody. 

***

Esok harinya mereka membaca koran mengenai ditangkapnya seorang pencurian yang berusaha merampok sebuah rumah di Jl. Anggrek No.89. Sayangnya usaha pencurian tersebut gagal karena diduga ada orang yang mengetahui usahanya.


Adji yang tidak sengaja membaca koran pagi di tukang koran ujung gang berkerut-kerut jidatnya.

“Jl. Anggrek No.89... Itu kan... Amien, Ody sini deh!” Adji memanggil Amien yang sudah berjalan duluan di depannya. Amien dan Ody berbalik ke belakang.

“Kenapa?” tanya Amien.

“Itu...” Adji menunjuk headline koran itu. Adji dan Ody membacanya.

“Ooo... jadi itu maling ya?” kata Ody.

“Iya, makanya jangan keburu ngompol dulu. Kan aku jadi susah bersihin kamarku.”

“Maaf, deh...maaf. Itu kan nggak sengaja.” Ody tertunduk. Malu. Amien cuma ketawa.

Baca cerita selanjutnya

Novel: Misteri Rumah Hantu


Penulis : Denny Prabowo & Dhinny el Fazila
Penerbit : Mitra Bocah Muslim
Cetakan : Pertama, September 2006
Dimensi : 8 x 12 cm
Jumlah Hlm. :104 hlm

Rumah besar itu berdiri persis di depan rumah Adji. Sudah bertahun-tahun nggak ada yang menempati. Oleh pemiliknya ditinggalkan begitu saja. Nggak ada yang tau pasti ke mana penguni rumah itu. Tapi dari cerita orang-orang sekitar, pemilik rumah itu ditangkap oleh polisi karena kasus penipuan. Isterinya yang ngerasa malu, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. Makanya banyak yang percaya, kalau di rumah itu ada hantunya.

Malam itu, dari jendela kamar, Adji, Ody, dan Amien melihat sesuatu yang mencurigakan di rumah seram itu. Apa yang dilihat mereka? Kejadian seru apa yang akan mereka alami? Yuk, kita baca pengalaman TRIO KOCAK dalam buku ini.

DAFTAR ISI

episode#01: Terkunci di Kamar Mandi

episode#02: Dompet

episode#03: Misteri Rumah Hantu

episode#04: Gara-Gara Ketiduran di Masjid

episode#05: Pencuri Sandal

episode#06: Ngamen

episode#07: Gara-Gara Remot Control

episode#08: Berenang di Kali

episode#09: Sakit Perut

episode#10:Gerimis di Hari Lebaran





Pemuda dalam mimpi Edelweiss (episode#02)

Rabu, 09 September 2009

Novel Denny Prabowo

Penggalan-penggalan Kisah Lalu


Malam itu, Edelweiss dan Fajar duduk saling berhadap-hadapan di meja makan.

“Ceritakan padaku semua yang Mas tahu tantang Ayah…!” Foto ayahnya yang telah diberi bingkai olehnya tergeletak di atas meja makan, di hadapannya.
“Tak banyak yang aku ingat.”
“Ceritakan sebatas yang Mas Fajar ingat.”

Fajar mendesah. Dia meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya. Makanan di dalam piringnya masih tersisah setengah. Dipandanginya wajah Edel sendu.

“Baiklah.”

Fajar menarik nafas berat.

“Kira-kira tujuhbelas tahun yang lalu saat Bunda sedang mengandung dirimu…,” Fajar mulai bercerita…

^^^

Malam itu…

Jarum jam merangkak perlahan menuju angka sepuluh. Belum ada tanda-tanda suaminya akan datang. Wanita itu membuang pandangannya lurus ke depan membelah tembok gedung-gedung bertingkat di seberang restoran. Dia duduk di dekat jendela yang memungkinkannya menikmati renik-renih hujan.
Ada kecemasan membekap pengap dadanya. Sehingga dia seperti jadi sulit bernafas. Kecemasan yang tak ia mengerti. Ketakmengertian yang membuatnya seperti orang bingung. Kadang ia bangkit dari tempat duduknya, merapat ke jendela, menuliskan kata-kata yang menghabur begitu saja dari alam bawah sadar dengan telunjuk tangannya di atas kaca jendela yang beruap. Kemudian kembali ke mejanya, menyeruput jus jeruk, yang entah sudah gelas ke berapa…ia belum memesan makanan. Wanita itu seperti terjebak dalam putaran waktu yang tak mau menunggu. Padahal, suaminyanya belum juga datang menepati janjinya.

Hari ini merupakan hari ulang tahun pernikahannya. Genab tigabelas tahun mereka mengarungi bahtera rumahtangga bersama. Putra mereka telah berusia 12 tahun. Suaminya telah berjanji untuk pulang hari ini. Sudah sejak lama ia merencanakan makan malam spesial di tempat yang biasa mereka kunjungi setiap akhir pekan. Ada kejutan yang ingin ia sampaikan kepada suaminya tepat di hari jadi pernikahannya.

“Bunda, Ayah kok belum datang juga?” tanya putranya yang duduk di hadapannya. Bocah itu kelihatan sudah mulai mengantuk.

Wanita itu membelai kepala anaknya. Suaminya tak pernah mendustai janji. Apa pun yang diminta istrinya, selalu dia tepati. Tapi malam ini… Wanita itu meraba perutnya yang sedikit membuncit.

Sang waktu terusa melahap detik-detik di hadapannya.

^^^


Seminggu sebelum malam itu…

Angin berhembus sangat kencang, bergemuruh di celah ranting-ranting pepohonan yang terombang-ambing mengikuti gerak angin yang menghempasnya dari segala arah. Keretap kilat menyambar dinding-dinding udara, membentuk rengkahan cahaya di angkasa, melahirkan gelegar yang menggetarkan.

“Kita harus segera turun ke pos Samyan Rangkah!”
“Tendanya gimana?”
“Tinggal aja!!”

Kemudian ketiga mahasiswa pendaki itu bergegas mengenakan jas hujannya, mengendong keril, lalu berlari di tengah badai yang membekukan meninggalkan batas vagetasi, Sampyan Jampang, menuju Sampyan Rangkah.

Jatuh bangun mereka menyusuri setapak yang menyempit dan licin karena siraman air hujan. Angin seolah mengepung dari segala arah.Petir berkeretap.

^^^

Tiga hari sebelum malam itu…

Lelaki itu mengepak perlengkapan mendakinya ke dalam keril di kamar tidur mereka.

“Kamu jadi berangkat?”
“Jadi.”
“Harus?” Wanita itu menatap matanya, seolah berharap lelaki itu akan membatalkan kepergiannya.

Lelaki itu tersenyum. Dia berhenti sejenak. Lalu dibelainya kepala istrinya yang berjilbab. Disentuhnya wajah wanita itu dengan jemari tangannya, lembut.

“Mereka membutuhkan aku untuk mencari ketiga mahasiswa asal Yogya yang hilang di Gunung Slamet sejak beberapa hari yang lalu. Aku tahu bagaimana rasanya tersesat di belantara di tengah musim hujan seperti ini.”

Wanita itu menunduk. Dia bisa memahami alasan suaminya. Kemampuan yang dimiliki suaminya sedang dibutuhkan untuk membantu tim SAR menemukan ketiga pendaki yang hilang itu. Lelaki itu memiliki reputasi yang luar biasa untuk urusan yang satu itu. Dia merupakan salah satu dari anggota Mapala universitasnya yang menjalani program seven summit. Karena sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya pada hari pertama pendakian dan kedua temannya di hari kedua pendakian dalam sebuah ekspedisi pendakian di Gunung Aconcagua, program itu dihentikan.

“Tapi kamu nggak lupa sama janji kamu kan?”

Segaris senyum terbit di wajah tampan lelaki bermata elang itu.

“Aku akan berusaha menepati janjiku!”
“Janji, ya?”
“Insya Allah.”

Lelaki itu mengangguk. Wanita itu tersenyum, melabuhkan kapalanya di bidang dadanya.

^^^

Seminggu sebelum malam itu…

Blaaaaarrrr…!!!!
Kraaaakkk….
“Awas!"

Sebatang pohon tumbang tersambar petir dari arah belakang. Pemuda berwajah tirus itu melompat menerjang kedua temannya yang berjalan di depan, menghindari batang pohon yang tumbang ke arah mereka. Mereka berguling-guling di atas setapak yang berkerikil. Beruntung, pada ketinggian ini, pohon-pohon yang tumbuh tidak terlalu besar. Sehingga mereka terhindar dari terjangan pohon yang tumbang tersambar petir.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya pemuda itu melihat kondisi temannya yang terlempar tak jauh darinya.

Temannya memegangi sikutnya yang mengeluarkan darah. Pemuda itu langsung membuka slayer di kepalanya, lalu dibebatnya sikut temannya yang terluka.

“Akh! Pelan-pelan!”
“Beres. Lumayan, bisa menghambat pendarahan.”
“Woi… tolongin aku dong! Kakiku terkilir!”

Kedua mahasiswa itu bertukar pandang. Kemudian mereka segera menghampiri seorang temannya yang masih terduduk di bawah sebatang pohon sambil memegangi kaki kanannya.

“Bisa jalan?”
“Ndak bisa digeraki. Sakit sekali!” Meringis kesakitan.

Pemuda berwajah tirus itu membantunya berdiri. Lalu memapahnya berjalan menuruni lereng terjal.

^^^

Satu hari sebelum malam itu…

Ketiga mahasiswa asal Yogya itu tak pernah sampai ke Sampyan Rangkah. Badai yang menyelubungi gunung itu membuat segalannya menjadi kabur di mata mereka. Ketiganya tersesat. Keletihan mendera. Seorang teman mereka mulai kehilangan kesadarannya. Pemuda berwajah tirus itu melanjutkan perjalanannya menuruni gunung itu. Sementara seorang temannya menunggui temannya yang lain yang mulai kehilangan kesadarannya. Namun tak cukup jauh dia melangkah, pemuda itu mulai kepayahan. Perlahan, kesadarannya pun mulai menghilang. Seorang temannya yang ditugasi menunggui teman lainnya, menyusulnya. Melihat pemuda berwajah tirus itu terkapar di tanah, di segera bergegas mencari bantuan. Tapi sia-sia. Dia pun akhirnya harus kehilangan kesadarannya.

Keesokan harinya, tubuh ketiga mahasiswa asal Yogya itu ditemukan lelaki bermata elang sudah tak bernyawa. Dia bersama tim SAR dan beberapa sukarelawan yang ikut melakukan pencarian, segera mengevakuasi jasad ketiga mahasiswa itu. Namun ketika mereka tiba di Sampyan Rangkah, tiba-tiba…
Kratap…
Blaaaaarrrrr…!!!!

“Allahu akbaaarrrrrr...!!!!

^^^

Wanita itu tersentak dari lamunannya. Restoran berubah menjadi gelap, sesaat setelah guntur menggelegar. Suasana di dalam restoran jadi hiruk pikuk. Beberapa saat kemudian lampu kembali menyala, mereka menggunakan generator untuk menyuplai listrik.


Beberapa pengunjung restoran beranjak ke luar. Mereka ingin mencari tahu penyebab listrik padam. Wanita itu tidak ikut keluar. Ia hanya merapat ke jendela di dekat mejanya. Dari tempat itu ia bisa melihat sebuah tiang listrik yang roboh tersambar petir. Di dekatnya, sebuah sedan hitam hancur bampernya ditabrak mini bus yang tak sempat menghindar saat sedan hitam di depannya tiba-tiba saja menghentikan lajunya. Pemilik sedan hitam marah-marah. Pengendara mini bus tak kalah marah. Terjadi perang mulut. Seorang petugas polisi datang melerai. Orang-orang hanya berdiri mengerumuni.

Wanita itu kembali ke kursinya. Ia merasakan sebuah keanehan. Gelegar guntur tadi seolah telah menyambar pula kecemasannya. Kecemasannya tiba-tiba saja menguap! Kini ia malah merasakan kehampaan. Seperti ada yang hilang. Entah apa…

Dan ia pun tiba-tiba saja begitu meyakini kalau suaminya tak akan pernah datang menemuinya malam itu. Keyakinan yang datang sesaat setelah guntur menggelegar. Seperti sebuah firasat.

Wanita itu memanggil seorang pelayan restoran. Seorang pemuda berseragam pink menghampiri dirinya dengan membawa buku pesanan di tangannya.

“Mau tambah, Mbak?”
“Saya mau minta tagihannya.”
“Oh, sebentar.” Pelayan itu meninggalkannya.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa kertas tagihan.
“Tujuhpuluhribu rupiah,” katanya seraya menyerahkan kertas tagihan kepada wanita itu.

Wanita itu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dopetnya, menyerahkan uang itu kepada pelayan restoran yang tak lepas-lepas menyunggingkan senyum kepadanya. Entah senyuman itu berasal dari ketulusan, atau hanya sebuah perangkat untuk memikat pengunjung restoran itu, ia tak mempedulikannya.

“Mau saya panggilkan taksi?”
“Terima kasih. Saya bawa mobil sendiri.” Kemudian wanita itu beranjak keluar meninggalkan restoran yang mulai sepi pengunjung bersama anaknya yang tampak sangat mengantuk.

Sepanjang sisa malam, wanita itu hanya berputar-putar dengan mobilnya tak tentu arah. Dia berharap menemukan jawaban dari kehampaan yang tiba-tiba saja menyergap. Sebuah perasaan yang mirip rasa kehilangan. Hanya saja ia tak tahu apa yang telah menghilang dari dirinya… Anaknya terlelap di kursi belakang.

Dia mencoba menghubungi ponsel milik suaminya. Suara mesin operator yang menjawab. Berulangkali dia mencoba. Berulangkali mesin operator menyapa. Mobil meluncur membelah gerimis yang mulai mereda, membawa sekeping hati yang hampa.

Keesokan harinya menjelang petang, kehampaan yang tiba-tiba saja membekap hatinya sesaat setelah guntur menggelegar tadi malam, terjawab oleh berita di layar kaca.

"Kemarin malam, ketiga mahasiswa asal Yogya yang menghilang di Gunung Slamet berhasil diketemukan tak berapa jauh dari pos Sampyan Rangkah. Saat diketemukan, ketiganya sudah tak bernyawa. Badai yang masih belum mereda hingga berita ini diturunkan, juga telah menelan korban seorang anggota tim SAR. Lelaki yang pertama kali berhasil menemukan ketiga mahasiswa itu tewas tersambar petir di pos Sampyan Rangkah."

Suara telepon berdering. Wanita itu segera mengangkatnya. Suara seorang pria di seberang sana terdengar bergetar memeram kesedihan, saat harus menyampaikan berita duka kepada wanita itu. Dia mengatakan kalau jasad suaminya akan tiba di Jakarta besok pagi.

Kabut berpendar di bolamatanya. Dadanya bergemuruh menyaksikan gambar di televisi, saat tim SAR mengevakuasi jasad suaminya.

“Bunda, Ayah belum pulang ya?”

Wanita itu mendekap tubuh anak lelakinya erat. Tak berbilang airmata yang retas membanjiri kedua belah pipinya. Tangan kirinya meraba perutnya yang mulai membuncit. Dia sedang mengandung.

^^^

Fajar menghapus airmata yang melinang di kedua belah bolamatanya. Kenangan tujuhbelas tahun yang lalu membayang-bayang di pelupuk matanya. Saat dia dan Bunda menunggu Ayah di restoran malam itu.


“Aku mendengar cerita itu dari Bunda. Tak banyak yang aku ingat kecuali saat aku dan Bunda menunggu ayah di restoran malam itu.” Suaranya bergetar.

“Ayah…,” Edelweiss mendekap foto Ayahnya. Baca bab selanjutnya


Novel: Pemuda dalam Mimpi Edelweiss


Penulis : Denny Prabowo
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Pertama, Januari 2005
Dimensi : 8 x 12 cm
Jumlah Hlm. : vi + 134

Seorang Pemuda menghantui mimpi-mimpi Edelweiss. Membuat gadis itu merasa harus mencari jawaban. Ke gunung!

Meski semula menentang, Fajar, abang gadis itu belakangan bersedia mendampingi Edelweiss dan Adinda, temannya, dalam sebuah pendakian.

Sementara pikiran gadis itu masih disibukan dengan pemuda dalam mimpinya, kejadian-kejadian lain menimpa teman sekelasnya. Bimo bunuh diri karena cintanya ditolak Sisca. Sisca tewas dalam kecelakaan mobil. Lalu seorang gadis lain ditemukan mati tergantung di kamar mandi sekolah.

Apa yang terjadi? Siapa pula cowok tampan di kelas yang kehadirannya membuat hati Edelweiss tidak tenang? Dan pemuda dalam mimpi-mimpi Edelweiss?

Duh, begitu banyak teka-teki yang harus dijawab, sementara waktu terus berdetak. Ketika menemukan semua jawaban, Edelweiss justru sadar, dia kehabisan waktu!

Daftar Isi


episode#01: Pemuda dalam mimpi Edelweiss
episode#02: PenggalanPenggalan Kisah Masa Lalu
episode#03: Kabut Mandalawangi 1
episode#04: Kabut Mandalawangi 2
episode#05: Kabut Mandalawangi 3
episode#06: Tragedi inta Bimo
episode#07: Anak Baru di Kelas Edelweiss
episode#08: Elegi Pagi hari
episode#09: Skandal Cinta Abim
episode#10: Pendakian ke Gunung Salak
episode#11: Misteri Kematian Agnes
episode#12: Kabut yang Tersingkap


Love Messages

Novel Dhe Zha Voe
#1

 Bruk! 
 Ups! Argi meringis. Dia tidak sengaja menabrak... Delon! Bukan ding... hanya mirip saja dengan runner up Indonesian Idol pertama itu. Sampai-sampai ia menumpahkan air mineral merek Aquya ke baju cowok tinggi berkulit putih itu
 “S-sori... sori?” 
Cowok itu mengibas-ngibas pakaiannya yang basah.
 Uh, ganteng banget! Sesaat Argi terpaku, memandangi paras tampan di depannya, sebelum dia tersadar dan mengeluarkan handuk kecil dari dalam tasnya. “Gue elapin ya?”
 “Udah gak pa-pa kok,” cowok itu tersenyum.
 “Duh, gue jadi gak enak nih...”
 “Kalo gak enak kasih kucing aja,” seloroh cowok yang bagai pinang dibelah kampak dengan artis pujaan yang namanya dia abadikan untuk ayam jago piaraannya itu.
 Argi tertawa mendengar perkataan Delon... eh, maksudnya cowok yang ditabraknya itu.
“Eh, elo liat Arga gak?” 
 “Arga? Makhluk dari mana, tuh?”
 “Haha... lo bisa aja. Yang dari majalah SUKA.”
 “Yang rambutnya gondrong itu, ya?”
 “Iya, betul. Pokoknya yang ancur banget deh orangnya!”
Cowok itu tersenyum. “Tadi gue liat dia di dekat panggung utama.”
 “Oh, makasih, ya!” ucap Argi.
 “Kalo elo perlu apa-apa ngomong sama panitia aja, ya.”
 “Elo...”
 “Gue Dava,” katanya memperkenalkan diri, “ketua OSIS SMU Cakra.”
 “Oke deh, Dav! Gue Argi. Argi Dahlia lengkapnya.”
 Lagi-lagi cowok berparas serupa Delon itu melempar senyum ke arah Argi, sebelum ia melangkah meninggalkannya sendiri dalam keterpakuan.
 Duh, senyumnya... bisik hati Argi. Terpesona. Sebelum kembali celingukan mencari-cari Arga. Ke mana sih anak gokil itu?

***

“Argi sialaaaaaaan...!!!” jerit Arga begitu membuka mata dan menemukan jarum jam telah menyentuh angka 7:15 WIB. Perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu setidaknya setengah jam. Lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Terlambat!
 Hari ini ada ulangan fisika. Semalaman Arga menekuni rumus-rumus dalam buku pelajaran. Sudah dua kali dia dapat lima. Sampai azan Subuh menggema, Arga baru merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya yang letih. Lumayan, biar cuma satu jam...
 Di dalam kelasnya, Argi tersenyum-senyum sendiri membayangkan saudara kembarnya yang ketika dia meninggalkan rumah tadi belum juga membuka matanya. Sebelum Arga tidur, sebenarnya dia sempat mengirimkan pesan ke ponsel Argi, karena pintu kamar anak itu sudah dikunci, waktu dia mau minta dibangunkan. Makanya dia mengirimkan SMS kepada Argi meski kamar mereka bersebelahan. Begini bunyi SMS yang Arga kirimkan sebelum matanya terpejam Subuh tadi: 

TLG BANGUNIN GW 1/2 6 TEPAT! :-)
Sent to: Argi 081802901697


Dan cara itu pula yang dipakai oleh Argi untuk membangunkan Arga, sebelum dia pergi meninggalkan rumah pagi tadi. Ia me-reply SMS Arga. 

ARGA BANGUN! UDH 1/2 6 LWT DIKIT! ;-p
 Sent to: Arga 081802901679


Padahal pintu kamar Arga gak terkunci!
 Suara bel berbunyi. Pak Saragih masuk ke dalam kelas membagi-bagikan kertas ulangan fisika.
 Wajah Arga menyembul dari balik pintu. Napasnya tersengal, seperti habis maraton 10 km. Argi cekikikan melihat tampang kucel saudara kembarnya.
 “Permisi, Pak...”
 “Silakan masuk!” Suara Pak Saragi serak-serak becek.
 Arga melongo. Tumben amat, pikirnya. Biasanya Pak Saragih akan mengatakan, “Silakan keluar!” kepada siapa pun siswa yang datang terlambat saat jam pelajarannya. Gak peduli walau keterlambatannya hanya terjadi 1 menit saja sebelum guru killer itu masuk ke kelas.
 “Makasih, Pak.” Arga mengumbar senyum. Sok ramah. Melangkahkan kaki ke kursinya di sebelah Argi.
 “Bah,” ucap Pak Saragih, “siapa pula yang suruh kau duduk?!”
 “Lho,” Arga bingung, “bukannya tadi Bapak bilang...”
 “Aku bilang masuk, bukan duduk! Kuping kau perlu dikorek sama pacul, rupanya!”
 Kelas bergemuruh tawa.
 “Diam!” bentak lelaki kelahiran Medan itu. Kelas kembali hening.
 Tinggal Arga yang berdiri dengan lutut gemetar.
 “Kemari kau!”
 Arga menyeret langkah, datang mendekat pada Pak Saragih.
 “Kenapa kau datang terlambat?”
 “A-anu... pak...”
 “Macet?” serobot Pak Saragih sebelum Arga sempat menyelesaikan kalimatnya, “Bah! Tiap hari kota Depok selalu macet!”
 “Lho, saya kan gak bilang macet, Pak?”
 “Kalau bukan macet, apalagi alasan kau?”
 “Semalam saya belajar sampai Subuh untuk menghadapi ulangan fisika ini. Jadi... saya bangun kesiangan gara-gara Argi gak mau bangunin saya, Pak.”
 “Enak aja!” protes Argi dari bangkunya, “gue kan udh kirim SMS buat ngebangunin elo! Elo juga minta banguninnya lewat SMS.”
 “Soalnya waktu gue mau nitip pesen langsung, pintu kamar lo dikunci. Lha, kalo pintu kamar gue kan ngablak, kagak dikunci! Kenapa juga elo bangunin gue lewat SMS?!”
 “Kok elo nyalahin gue? Yang suruh elo begadang sampe Subuh siapa?”
 “Diaaaammmm! Siapa suruh kalian bertengkar?!”
 Kedua saudara kembar itu bungkam.
 Argi kembali menekuni kertas ulangannya.
 “Ya, sudah,” kata Pak Saragih kemudian, “ini,” menyerahkan kertas soal kepada Arga.
 Arga mengambil kertas soal dari tangan Pak Saragih, dan kembali melangkahkan kaki ke kursinya di sebelah Argi.
 “Eit,” suara Pak Saragih menghentikan langkah Arga.
 “Apalagi, Pak?”
 “Siapa yang suruh kau duduk?”
 “Habis, saya harus ngerjain soal di mana dong, Pak?”
 “Situ,” telunjuk Pak Saragih mengarah ke depan papan tulis.
 “Hah? Di depan kelas?”
 “Iya. Kenapa? Keberatan?”
 Arga menunduk kesal. Dia mengambil kursinya dan menyeretnya ke depan kelas.
 “Bah, siapa suruh kau bawa-bawa kursi ke depan kelas?”
 “Tadi bapak bilang, saya harus mengerjakan soal ulangan di depan kelas?”
 “Betul itu. Tapi Bapak tidak bilang kau boleh bawa-bawa kursi ke depan kelas.”
 “Jadi?”
 “Berdiri!”
 “Tapi, Pak...”
 “Apa? Keberatan kau?”
 Arga menggelengkan kepala.
 Di bangkunya Argi cekikikan.
 “Huh!” Arga merengus.
 Seisi kelas mengulum senyum, menahan tawa melihat tampang kucel Arga.
 Menit-menit berlalu tanpa bisa dicegah. Arga baru berhasil mengerjakan beberapa soal saja. Berulang kali dia berusaha menoleh ke arah Argi. Tapi bukannya membantu, saudara kembarnya itu malah menjulurkan lidah meledeknya. Arga keki. Diambilnya spidol di dekat papan tulis, dilemparnya ke arah Argi.
 “Aduh!” Argi meringis memegangi kepalanya yang terkena lemparan spidol Arga. Pak Saragih melihat kejadian itu.
 “Bah! Bukannya mengerjakan soal, malah bercanda-canda dengan saudara kembar kau! Sudah selesai?!”
 “B-belum, Pak...”
 Pak Saragih yang selalu memakai baju safari itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Arga dan Argi yang mirip anjing sama kucing. Heran, kok bisa ya, mereka berbagi tempat duduk?
 Hmm... biar begitu-gitu, kalo sudah urusan ngisengin orang, mereka kompakan banget! Hampir semua penghuni kelasnya—termasuk cicak, nyamuk dan kecoa—pernah menjadi korban keisengan mereka. 
Si Toing misalnya. Pemuda kurus yang saban ke sekolah mengendarai vespa merah, warisan engkongnya yang meninggal dunia karena serangan jantung akibat terkejut mendengar suara letusan dari knalpot vespa miliknya waktu dia mau berangkat kerja, pernah dibuat kalang kabut ketika hendak pulang sekolah, mendapati vespa kesayangannya tak berknalpot! Baru keesokan paginya, dia menemukan knalpot vespanya tergantung di tiang bendera sekolahan! Mau tau kerjaan siapa?
 “Kembaaaarrrrr siaaaallllaaaannnn...!!!”
 Arga dan Argi segera angkat kaki, melarikan diri, begitu melihat Toing berlari-lari ke arah mereka seraya mengacung-acungkan knalpot vespanya ke udara.
 “Cabuuuttttttt...!!!”
 Suara bel tanda usai pelajaran fisika mengudara. Masih ada dua soal yang belum terisi di lembar jawabannya. Arga mengumpulkan lembar jawabannya di meja Pak Saragih. Wajahnya tak bergairah. Percuma dia begadang semalaman. Semua yang telah dia save di memori otaknya gak mau diopen, ngehang!
 “Udah boleh duduk, Pak?”
 Pak Saragih tersenyum puas menyaksikan dengkul Arga yang gemetaran karena terlalu lelah berdiri sepanjang jam pelajarannya berlangsung.
 “Besok-besok, kalau kau terlambat lagi, kusuruh kau berdiri di tengah-tengah lapangan sekolah, mau?”
 “Wah, gak janji deh, Pak!”
 Arga melangkah gontai ke tempat duduknya.

***


Limbayung

#1

Mentari Pagi di Lembah Mandailing

Novel Ikhwan al Bayya


Fajar menjelang. Kokok ayam pertama (martahuak manuk parjolo) terdengar saling bersahutan, seakan ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi malam akan segera berakhir. Namun, suhu yang begitu dingin membuat orang-orang yang sedang tidur menarik kembali selimutnya lebih rapat. Saking dinginnya, seolah-olah mereka tak hendak beranjak dari pembaringan, walau mereka sebagian tahu bahwa akhir dari sepertiga malam itu adalah malam yang mulia untuk menjalankan shalat tahajjud. Waktu yang dikabulkan segala doa-doa. Lagi-lagi hawa dingin telah mengalahkan segalanya, hanya jiwa-jiwa yang dirahmati Tuhannyalah yang sanggup melawan udara dingin itu untuk kemudian larut dalam ruku’ dan sujud yang hidmat dan khusyu’.

Tak selang berapa lama, terdengarlah bunyi kokok ayam kedua (martahuak manuk paduahon), sebuah pertanda tak lama lagi subuh akan tiba. Bunyi kokok ayam itu seakan ingin membangunkan para penduduk yang terlelap tidur untuk bersiap-siap melaksanakan shalat subuh. Saat inilah, bola-bola ijuk, lembaran-lembaran ijuk pohon enau sudah mulai tampak, menari-menari dihembus angin dingin pagi, menyambut hari dengan penuh sukacita. 

Sementara kicauan burung balam dan barobaro (cucakrawa) terdengar begitu merdu dan indah. Kicauan yang mendendangkan sebuah semangat baru untuk menyambut dan menjalani hari. Sebuah nyanyian alam yang mengambarkan betapa kemahabesaran Allah Sang Pencipta, yang telah menciptakan pagi agar manusia bersiap-siap untuk bertebaran di muka bumi menjemput rizki dan karuniaNya yang agung. Burung-burung itu berkicau dari pohon-pohon dan semak belukar semenjak menjelang subuh hingga terbit matahari. Kicauan yang tiada henti itu seakan ingin mengisyaratkan bahwa mereka adalah burung yang sedang berbicara kepada semesta raya.

Udara masih tetap dingin. Para penduduk Banjar Sibaguri sudah mulai keluar rumah menuju paridian(1) di Aekmata. Paridian ini berada di kanan dan kiri sepanjang aliran Aekmata. Mereka hendak berwudlu, mandi dan sekalian melaksanakan shalat subuh di surau tapian mandi. Beberapa ibu tampak menenteng garigit(2) , untuk membawa air minum. Garigit itu diberi tali ijuk yang diikatkan pada ruas atas dan bawah. Mereka biasanya membawa antara 3-4 garigit air untuk dibawa pulang. Sedangkan ibu-ibu yang lain menenteng ember yang di bawahnya dibolong halus. Ember itu berisi beras yang akan dicuci di sungai. Lubang-lubang itu berfungsi untuk menapis air agar beras yang dicuci tidak jatuh ke sungai. 

Kini, torang ari (terang hari) telah tiba. Hawa dingin berangsur-angsur berkurang. Badan mulai terasa hangat ketika bincar mataniari (terbit matahari), menyeruak dari sela-sela gugus Bukit Barisan. Para laki-laki yang hendak pergi ke sawah, usai shalat subuh asyik duduk mengobrol di lopo(3) , sambil menikmati secangkir kopi Mandailing yang lezat dan goreng pisang. Demikian juga dengan para ompung godang (Kakek) yang hidupnya santai duduk-duduk mengobrol di warung kopi. Mereka mengenakan peci dan kain sarung. Orang-orang yang akan bekerja sudah datang dan pergi, namun mereka tetap saja bertahan di lopo menikmati kopi dan makanan kecilnya. Sebegitu lamanya mereka di lopo, sehingga mereka sudah pitu noli tambu aek milas (tujuh kali menambah air panas). Hal ini terjadi, karena ketika mereka memesan kopi pertama kali, mereka minta agar kopinya kental dan gulanya agak banyak. Sehingga sekalipun sudah tujuh kali ditambah air panas, tetap saja masih nikmat. Bahkan tidak jarang, ada di antara mereka yang sengaja membawa sedikit gula dari rumah yang disimpan di kantong bajunya. 

Sedangkan para remaja putri pun shalat subuh di surau tapian mandi, sekalian mencuci pakaian di sana. Di antara gadis-gadis itu, ada seorang yang wajahnya sangat cantik, rambutnya lurus panjang sampai pinggang, kulitnya bersih, badanya tinggi semampai. Ia memakai kain basahan. Kelihatannya, kali ini cuciannya lumayan banyak. Sehingga ketika gadis-gadis yang lain sudah selesai dan pulang, ia masih di paridian. Sementara matahari sudah mulai meninggi, sinarnya terlihat memantul ke permukaan air yang menampakkan cahaya kemilauan, menerpa ke wajah gadis itu, semakin menambah pesona kecantikannya.

Sementara itu, matahari sudah mulai meninggi. Lembah Mandailing semakin terang benderang. Jika dipandang dari Tor Pangolat, titik tertinggi di kaki Gunung Sorik Marapi, Lembah Mandailing yang subur bagaikan kuali yang memanjang ke arah utara, dikelilingi dua baris gugus Bukit Barisan di timur dan barat, dibelah oleh Sungai Batang Gadis yang selalu mengalirkan air kehidupan. Laksana sepotong taman surga yang jatuh ke bumi. Jika kita menoleh ke kiri, nun di ufuk barat tampak sayup-sayup ombak Samudera Hindia di Pantai Natal. Terkesan ada pengharapan, ada daya tarik yang ghaib, ada cahaya kehidupan yang terpancar dari kawasan itu. Namun, pemandangan yang menakjubkan itu tidak setiap saat dapat dinikmati. Karena cuaca berembun dan berkabut di seputar Tor Pangolat, seolah menjadi tabir yang memisahkan kita dengan pemandangan yang mempesona itu. Keindahan Lembah Mandailing yang luar biasa dan menakjubkan itu takkan mungkin bisa dilukiskan dengan seluruh cat di dunia, dengan seribu satu puisi indah sekalipun. Oleh karena itu, orang Belanda menyebut Tor Pangolat sebagai Hemelspoort, Pintu Surga.

Setelah selesai mencuci, gadis itu bergegas pulang. Ia melewati jalan setapak yang becek dan licin menuju rumahnya. Di kanan-kiri jalan, tampak rumah sederhana berderet-deret. Rumah itu jaraknya saling berdekatan dan biasanya menghadap ke jalan. Rumah panggung sederhana yang terbuat dari papan kayu dan beratapkan ijuk. Jarak antara lantai rumah dan tanah sekitar setinggi pinggang orang dewasa. Atau terkadang ada yang lebih tinggi lagi. Di bawah rumah biasa dipakai untuk menyimpan kayu bakar dan kandang ayam. Ia melihat beberapa perempuan sedang menumbuk padi dengan lesung di belakang rumahnya. Ada pula beberapa gadis yang sedang mambayu (menganyam) di bawah sopo-sopo eme (lumbung padi).

Sesampainya di rumah, gadis harus segera menjemur pakaian-pakaian itu. Kebetulan hari kelihatannya panas, ia yakin pakaiannya akan cepat kering. Ketika hampir selesai ia menjemur, Siti Aminah dan Lobe Mattohar, ibu dan ayahnya datang menghampirinya. 

“Limbayung, kami mau berangkat ke sawah sekarang. Nanti kalau kamu sudah selesai masak segera menyusul ke sawah..” 

Olo, Umak. ”

Lalu, mereka berlalu meninggalkan Limbayung. Mereka menenteng cangkul di pundaknya. Saat ini adalah bulan sipaha sada (April). Bulan mulai berhembusnya angin yang membawa awan butir-butir hujan sebagai tanda waktu menggarap sawah tiba. Bagi sebagian penduduk kampung, mereka biasanya bertanya kepada datu(4) untuk meminta pertimbangan dalam menentukan parhalaan, perhitungan mengenai hari baik dan buruk untuk melakukan suatu pekerjaan. Seperti mendirikan rumah, pesta adat, termasuk waktu mulai menggarap sawah.

Sementara abang Limbayung, Pandapotan, sedang membelah kayu bakar di samping rumah. Biasanya ia pergi ke kebun untuk mangguris (menderes). Namun, karena sekarang lagi musim tanam padi, hari ini ia harus pergi ke sawah.

Setelah selesai menjemur, Limbayung menaruh ember di dapur dan bergegas pergi ke kebun. Ia memetik bulung gadung (daun singkong), untuk dimasak menjadi gule bulung gadung. Sayur yang menjadi kesukaan ayah dan abangnya, apalagi kalau ditambah ikan asin yang disambalin sebagai lauknya. Ayahnya pasti akan tambah nasi, bahkan sampai dua kali. 

Limbayung menyiangi daun singkong itu, mencucinya dan menumbuk bersama rimbang (tekokak) dan arias (batang muda siala) sampai lumat memakai alu dan lesung kayu. Satu atau dua batang sangge-sangge (sereh) dipukul sampai retak dan pipih. Santan dipanaskan, setelah mendidih ia memasukkan daun singkong. Disusul kemudian garam secukupnya, cabe merah, renca berupa aso-aso (ikan kembung gepeng) dan ikan salai sebagai pengharum.  

Orang Mandailing sangat suka mengkonsumsi gule bulung gadung. Kebanyakan, mereka memakan sayur ini dengan kerak nasi, apalagi kerak nasi itu tipis dan garing biasanya menjadi rebutan di dalam keluarga ketika makan bersama. Sehingga, sampai-sampai ada ungkapan na nipagodang ni bulung gadung (yang dibesarkan oleh daun singkong).

Sementara adik Limbayung, Masra dan Mardhatillah masih kecil. Mereka sedang sibuk mengisi balangka dengan air yang terletak di kolong rumah. Ayam dan itik ramai mengerubungi balangka itu, setelah mereka kenyang menyantap makanan sebelumnya. Setelah Limbayung selesai memasak, mereka akan ikut ke sawah.

*** 

“Abang, mangan jolo(6)!” kata Siti Aminah kepada suaminya ketika melihat Limbayung sudah menapaki pematang sawah yang menuju ke arahnya. 

Sesampainya di sopo saba(7) , Limbayung meletakkan tentengan yang dibawanya. Lalu ia membuka tempat itu. Mengeluarkan piring, sayur dan lauknya. Ketika hidangan sudah siap disantap, ayah dan umaknya telah selesai membersihkan diri untuk menikmati makan siang. 

Lalu mereka bertiga menikmati masakan Limbayung yang memang pandai memasak. Selain enak, bumbunya terasa pas. Umaknya merasa bangga dan sering memujinya. Makan sayur bulung gadung dipadu dengan sambal ikan asin di sawah sungguh nikmat. Apalagi ditambah hawa segar alam yang semakin menambah selera. Ayah Limbayung kelihatan lahap sekali makan siang itu.

”Sudah, jangan terlalu banyak makan. Nanti malah tidak bisa bekerja!” kata umak kepada ayah.

”Habis masakan Limbayung sangat enak, apalagi aku sudah lapar sekali!” 

Selesai makan, mereka beristirahat dulu sejenak sebelum kembali bekerja sembari menikmati pemandangan alam yang begitu indah dan mempesona. Seperti biasa, Masra dan Mardha sudah menceburkan diri di rawa-rawa, mereka memangkap ikan-ikan kecil untuk dibawa pulang sebagai mainan. Saking gembiranya, mereka tidak memperdulikan lagi pakaian mereka yang basah dan kotor terkena lumpur. Betapa senang dan bahagianya mereka.

Pada waktu itu, di sekitar areal persawahan masih banyak rawa-rawa yang terdapat ikan-ikan beraneka rupa yang hidup secara alami. Ada ikan gabus, gurame, limbat, mas, sidat dan udang kecil. Hampir setiap ke sawah, Pandapotan pasti tak lupa membawa pancing. Saking banyaknya ikan liar di rawa-rawa itu, biasanya Pandapotan dengan mudah memancing ikan-ikan itu. Ia hanya menempatkan pancing-pancing itu di pagi hari, dan sorenya ketika akan pulang tinggal mengambilnya saja.

Limbayung menatap ke arah sebelah timur, Gunung Sorik Marapi tampak tegak menjulang tinggi dan semakin memesona oleh awan tipis berarak yang menyelimutinya. Gugusan Bukit Barisan yang mengelilingi lembah Mandailing Godang terlihat begitu kokoh dan anggun, seakan memancarkan aura magis dan pesona alam yang penuh misteri.

Sedangkan di sebelah utara dan barat, hamparan sawah yang luas laksana permadani berwarna hijau kekuning-kuningan. Di setiap pematang tumbuhlah pohon kelapa, tebu, singkong atau enau. Di sebelah selatan, ada sungai kecil tempat keluarga Limbayung membersihkan diri untuk mandi atau mengambil wudlu ketika kotu luhur tiba. Air mengalir dengan derasnya di setiap jengkal tanah, dan akan terus mengalir hingga para petani lelah mengayunkan cangkul mereka. Setiap ranting pohon yang jatuh, akan bertunas seketika. Dan setiap benih yang jatuh, bersemilah ia hingga menghasilkan buah-buahan yang membuat sedap setiap mata yang memandang.  

Para laki-laki dan perempuan sibuk mengurus sawah mereka. Air yang mengalir di setiap jengkal tanah sangat memudahkan mereka untuk mencangkul sawah mereka. Bahkan, bagi mereka yang memiliki bayi, biasanya membawa serta bayi mereka ke sawah. Tak jauh dari keluarga Limbayung beristriahat, tampak seorang ibu sedang marbue-bue (menidurkan bayi) bayinya. Ia membuat anggunan (Ayunan) di sopo dengan mengikat kedua ujung kain pada tiang sopo. Sayup-sayup terdengar ibu itu berdendang. Nada yang merdu dan lambat dilantunkan sang ibu dengan penuh penghayatan. 

Urro! Modom ma inang modom!
Aha dope anso laing rimas?
Anso na marilu na lomlom!
Ngada ho nian manguas
Ngada ro marsak ni roa tu anggunan
Ulang be robak ilumu song ‘udan
(8)  
(Urro! Tidur nak, tidur!
Mengapa masih gelisah?
Mengapa berurai air mata si hitam sayang?
Engkau tak haus
Tak datang keresahan ke ayunan
Jangan lagi bercucur air mata bagaikan hujan)

Ketika hari sudah sore, sebelum pulang Pandapotan memeriksa pancing yang telah dipasang di rawa-rawa dan parit kecil sejak pagi sebelum bekerja di sawah. Ternyata hari ini ia mendapat ikan yang lumayan banyak. Ada ikan mas, ikan gabus, tikkalang dan limbat. Sebagian ikan-ikan itu malamnya dimasak gulai bersama daun singkong, atau dimasak sale (diasap) dan dimakan bersama raum-rauman(9). Sebagian lagi akan dijual ke pasar oleh Siti Aminah.

Catatan

1) sungai tempat mandi

2) Tabung-tabung yang terbuat dari bambu besar satu ruas

3) Ya, Bu.

4) Semacam orang pintar, dukun, tabib.

5) Tempat minum ayam dan itik, terbuat dari 1-2 ruas bambu besar yang dibelah.

6) Makan dulu

7) Gubuk kecil terbuat dari kayu dan bambu, biasanya bertingkat. Lantai atas untuk beristirahat dan shalat, sedangkan di bawahnya tempat untuk memasak air atau menaruh alat-alat pertanian/barang.

8) Syair Olo-olo (Willem Iskandar)

9) Rebusan dari bermacam-macam sayuran